
Ariel POV
---
Aku menghunuskan gunblade dan mengerahkan seluruh mana yang kupunya untuk menembakkan peluru petir terbesar, terkuat, dan tercepat yang pernah kubuat. Seketika, Room of Zeroth dipenuhi oleh percikan listrik yang memporak-porandakan segala. Baik itu lantai, dinding, maupun langit-langit ruangan, semua hancur bersama sebuah ledakan yang menggelegar menggetarkan seisi ruangan.
Merasa ini saja masih belum cukup, aku kembali menembakkan peluru ke jantung yang berada di altar itu. Tiap peluru lebih kuat dari peluru sebelumnya. Tanganku gemetar, tubuhku protes minta rehat, tapi aku terus menyerang tanpa peduli efek recoil yang berdatangan tanpa henti.
Apa ini cukup untuk membunuhnya? Apa aku berhasil melukainya? Penasaran dengan jawaban itu, aku menurunkan tangan dengan nafas terengah, menunggu asap dan debu yang menghalangi pandangan untuk hilang sepenuhnya. Nampaknya peluru petir yang kutembakkan telah menghancurkan altar tempat jantung Baal berada. Tak satupun tempat di ruang bawah tanah ini yang masih utuh setelah dilalui olehnya.
Melihat puing-puing Room of Zeroth yang hancur berserakan, aku terkejut dengan kekuatanku sendiri. Kuantitas dan kualitas mana seseorang umumnya sangat dipengaruhi oleh kekuatan jiwa dan emosi yang ia miliki. Mungkin karena jiwaku telah ditempa ribuan kali untuk menghancurkan dunia ilusi yang Baal ciptakan, aku merasa tubuhku saat ini dibanjiri dengan mana. Ditambah kebencian dan amarah yang tengah kurasa, wajar jika peluru kali ini jauh lebih kuat dari semua peluru yang pernah kutembakkan sebelumnya.
Saat asap dan debu telah sirna sepenuhnya, aku mendapati jantung Baal yang masih berdenyut tergeletak di tanah. Menyadari tak satupun luka terlihat padanya, nafasku berhenti tak mengerti apa yang terjadi.
Melihat ekspresiku yang membeku, Baal tertawa dan menjelaskan.
“Dunia ini dilandasi hukum sebab-akibat. Agar sesuatu bisa mati, maka sesuatu itu harus ‘hidup’ terlebih dulu di dunia. Dan agar sesuatu bisa hancur, sesuatu itu harus ‘ada’ lebih dulu di dunia. Jantung ini memang terhubung dengan jiwaku di alam iblis, tapi bagaimana mungkin jantung yang hanya merupakan perantara antara tubuh asliku dan realita bisa dihancurkan, sedangkan dunia ini tidak menganggap bahwa jantung ini 'ada' atau Baal 'hidup' di dunia?”
Mengerti apa yang ia maksud, aku memicingkan mata dan berkata.
“Jadi jika aku ingin membunuhmu, satu-satunya cara adalah--”
“Dengan membunuhku saat aku turun ke dunia. Tepat saat aku ‘ada’ dan ‘hidup’ 10 tahun dari sekarang.”
Aku mendecak lidah, tak bisa menyangkal apa yang baru saja kusaksikan dengan mata kepala sendiri. Akhirnya aku sadar kenapa protagonis tidak bisa membunuh Baal saat keduanya bertemu untuk kali pertama 5 tahun dari sekarang. Semua itu karena betapa kuat pun serangan yang protagonis lancarkan, dan betapa keraspun usaha semua orang yang membantunya, hukum sebab-akibat di dunia ini melindungi Baal dari semua serangan. Aku tau kekuatannya tersegel sebagai balasan, tapi tidakkah itu curang? Bagaimana mungkin aku bisa membunuh sesuatu yang nyaris immortal?
Nampak puas dengan apa yang tengah kurasa, Baal tertawa dan berkata.
“Bagaimana? Rasanya menjadi orang lemah untuk kedua kalinya?”
“Diam.”
“Baik dulu maupun sekarang, kelihatannya kau masih tetap menjadi orang tidak berdaya. Orang lemah yang tidak berguna dan tidak mampu berbuat apa-apa.”
“Diam.”
“Kau ingin membunuhku? Heh. Apa kau pikir setelah merasuki tubuh lelaki ini dan mendapatkan kekuatan, kau telah berubah dari dirimu yang dulu?”
“Kubilang diam!”
Peluru petir melesat ke arah Baal. Bersama peluru kegelapan yang sesekali kubuat. Jika petir tidak mampu melukainya mungkin elemen ini bisa melakukannya. Tapi seakan menertawakan perlawananku yang tiada guna, Baal terkekeh dan memandangku layaknya serangga.
Melihat sosok yang paling kubenci menertawakanku seperti ini, aku mengepal tangan dan bergumam.
Baal berhenti tertawa.
“Aku akan membunuhmu dalam 10 tahun.”
Aku mengepal tangan sampai-sampai aku merasa darah segar akan menetes darinya. Seakan baru mendengar hal paling konyol di dunia, Baal kembali tertawa dan berkata.
“Bicara apa kau? Kenapa aku harus menunggu 10 tahun sedangkan aku bisa menghancurkanmu dan dunia ini dalam 5 tahun? Ahahaha!”
“Karena kau akan kukurung selama itu.”
“… Apa?”
“Aku punya karunia yang cukup unik, kau tau?”
Aku meletakkan gunblade di lantai, membiarkan bayanganku yang menggeliat-liat menelannya hingga lenyap sepenuhnya. Baal tercengang melihat semua itu dan berhenti tertawa.
“Aku tidak bisa merasakan keberadaan senjata itu lagi di dunia. Huh? Kau mampu memutus tali yang menghubungkan 2 dunia?!”
“Mhm. Anggap ini sebagai salah satu efek karuniaku. Semua yang ditelan bayanganku akan tetap berada di sana hingga aku mengeluarkannya atau mati. Baik itu 10 tahun, 50 tahun, ataupun 100 tahun lamanya. Sekarang, apa yang akan terjadi jika kau kutelan seperti ini?”
Seakan menyadari apa yang hendak kulakukan, Baal terbelalak dan mencoba lari. Tapi aku telah memprediksi hal ini dan bergerak lebih cepat. Melihat bayangan yang terus menggeliat ke arahnya, Baal memandangku dan berkata.
“Tunggu! Apa kau gila? Kau tau dunia di balik bayangan itu terhubung ke alam bawah sadarmu kan? Apa kau tidak takut aku akan mengambil alih tubuhmu saat lengah?!”
Aku mendengus mendengarnya.
“Kau telah gagal melakukannya sekali, kenapa aku harus takut meski kau coba lagi?”
Bayanganku berubah menjadi tangan-tangan kegelapan yang menarik Baal ke jurang tak berdasar. Baal nampak enggan menerima penghinaan ini dan memelototiku di saat-saat terakhir.
“Akan kuingat ini … Berhati-hatilah. Karena aku akan terus mengamati dan menanti hari di mana kau lengah. Dan saat hari itu tiba, akan kurenggut semua yang kau miliki dari hidupmu! Baik itu harta, wanita, ataupun anak-anak dan semua yang kau cinta! Ahaha-AHAHAHAHA--”
Suara tawa Baal terputus dan berhenti terdengar. Tapi aku tau bahwa saat ini pun, ia ada di sana, mengamatiku dari dunia yang seluruhnya terbuat dari kegelapan. Sekarang aku mungkin masih lebih kuat dari Baal dan bisa mengurungnya untuk beberapa tahun ke depan. Tapi semakin segel Baal terlepas, semakin besar kemungkinan Baal akan mengambil alih kegelapan yang aku gunakan, sama seperti bagaimana aku mengambil alih kegelapannya di dunia ilusi. Karena itu, hanya ada satu cara yang bisa kulakukan untuk tetap mengurungnya di sana dan membunuhnya di waktu yang telah kujanjikan.
“Aku harus menjadi lebih kuat.”
Cukup untuk mengalahkan Raja Iblis terkuat yang ada di alam semesta. Mengingat sosok adikku yang begitu menderita di ribuan mimpi yang kualami, aku mengepal tangan dan bersumpah.
“Aku pasti akan membunuhnya!”
Aku mungkin gagal mencapai tujuan awalku untuk pergi ke tempat ini, baik itu meminjam kekuatan Baal maupun membunuhnya. Tapi berkat pengalaman di dunia ilusi dan jiwaku yang telah ribuan kali ditempa, aku bisa berkata dengan yakin bahwa aku telah berubah menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dengan amarah dan kebencian yang menggelegar di hati, aku mengeluarkan gunblade dan berjalan menuju pintu, bersiap menghadapi para assassin dan instruktur yang telah menanti di luar ruangan.