
------
Hagen POV
------
Sialan! Kenapa semua jadi begini?!
Terbangun karena suara hantaman yang menggelegar, aku mengintip ke luar jendela dan terbelalak mendapati serigala raksasa yang menyerang kediamanku. Sudah bertahun-tahun aku tinggal di tempat ini, tapi baru kali ini aku tau masih ada monster yang tinggal di sekitar sini.
“Bandit keparat.”
Bukannya bersyukur karena telah kupekerjakan sebagai penjaga. Mereka pasti bermalas-malasan dan sengaja tidak mengabariku tentang adanya monster ini. Tapi tak apa, tak masalah. Karena biar bagaimana, barrier anti-mana yang kubeli dengan separuh kekayaanku pasti bisa melindungiku dari makhluk buas ini.
Aku tersenyum mencemooh makhluk bodoh yang berani menyerang kediamanku, tapi senyum itupun sirna saat melihat sebuah retakan muncul di barrierku.
“Apa...?”
Seakan semua itu belum cukup, sebagian besar penjaga yang seharusnya melindungi kediaman ini justru berkoar dan lari mengejar monster itu ke dalam hutan.
“Bodoh! Kenapa kalian bisa tertipu?!”
Setelah melihat gerak-gerik serigala ini, orang buta pun pasti tau kalau monster itu punya kecerdasan. Tapi mana mungkin monster biasa punya kecerdasan? Satu-satunya alasan yang mungkin adalah karena serigala itu bukan monster biasa, tapi makhluk panggilan seorang summoner! Kenapa kalian tidak menyadari hal itu? Bagaimana jika teman-temannya berhasil menyelinap karena kebodohan kalian?!
Jika saja yang kupekerjakan adalah orang berpendidikan dan bukan bandit-bandit sialan, mereka pasti tidak akan tertipu seperti ini. Tapi aku tidak bisa mempekerjakan mereka yang berasal dari Mercenary Guild, atau mereka yang mengabdi kepada Asosiasi Pahlawan. Tidak saat aku tau rumah ini adalah tempat aku menyimpan barang curian dan perbudakan ilegal.
Aku memerintahkan para penjaga untuk menyebar dan menangkap semua orang yang terlihat mencurigakan. Tapi karena tak seorangpun dari mereka melapor kembali, aku sadar bahwa para penyusup telah berhasil melewati gerbang dan menyinggirkan mereka sepenuhnya.
Menyadari besarnya kekuatan penyusup ini, aku mulai serius menanggapi masalah ini. Tapi kenapa semua jadi begini? Apa akhirnya Asosiasi Pahlawan memutuskan untuk menangkapku?
“...Tidak.”
Aku punya banyak orang di Asosiasi Pahlawan. Mustahil mereka mengkhianatiku saat nyawa anak-istrinya masih berada di tanganku, dan orang-orang yang memerintah di bangku tertinggi selalu menutup mata selama aku menyuap mereka dengan harta-benda. Mercenary Guild juga mustahil melibatkan diri karena bukti apapun yang mereka dapatkan akan dihancurkan oleh anak buahku sebelum sampai ke tangan ketua guild keparat itu.
Satu-satunya kemungkinan yang tersisa adalah, orang-orang yang menyerangku kali ini merupakan teman dan kerabat dari gadis-gadis yang kuculik. Merasa resah dengan semua, aku menggeledah ruang kerjaku untuk menyinggirkan semua barang yang menunjukkan keterlibatanku dengan kasus ini. Tapi jangankan barang bukti, aku bahkan tidak menemukan apapun selain brankas utama yang telah terbuka.
Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak pernah menulis apalagi mengucapkan kode sandi brankas ini selama aku hidup. Tapi apa ini? Kenapa ada yang bisa membuka brankas ini selain aku? Kecuali orang itu bisa membaca pikiran atau datang dari masa depan, mustahil semua ini bisa terjadi.
Aku menyinggirkan pikiran konyol itu dan menggemeretakkan gigi.
“PELAYAN!”
Mendengar nada suaraku yang tinggi, pelayan utama kediaman ini segera memasuki ruangan dan membungkuk dengan tubuh gemetar.
“Katakan. Siapa yang terakhir masuk ruangan ini.”
“T-Tuan, anak-anak yang Anda tempatkan di pasarlah yang terakhir memasuki ruang ini.”
“Apa? Bukankah ada penjaga yang bertugas?”
“Benar. Benar sekali, Tuan. T-Tapi saya dengar penjaga ini adalah kerabat salah satu anak-anak itu. M-Mungkin ia sengaja membiarkannya masuk dan...”
“Cukup. Berhenti cari alasan dan katakan, siapa orangnya?”
“Kepala Penjaga.”
“Siapa?”
“Dia adalah Kepala Penjaga.”
“...”
Melihat ekspresiku yang membeku, pelayan tadi nampak pucat dan semakin menunduk.
Keparat sialan! Apa dia sengaja memancing penjaga lain ke dalam hutan karena ini? Apa pria keparat itu yang merencanakan semua ini? Tidak, dia terlalu bodoh untuk merencanakan semua ini. Pasti ada orang lain yang mendorongnya dari belakang.
Aku mendecak lidah dan mengambil sebilah pedang di pinggir ruangan.
“Aku mengerti, biar aku yang urus para pengkhianat. Kau boleh pergi.“
Merasa seakan nyawanya diampuni, pelayan itu membungkuk untuk terakhir kali dan segera berbalik. Tapi sebelum ia bisa mengambil langkah, pedangku telah melesat menembus jantungnya. Pelayan itu memandangku dengan mata terbelalak.
“Kau tau semua ini, tapi mendiamkan mereka dan tidak segera mengabariku. Bukankah itu juga pengkhianatan?”
Pelayan itu membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi aku segera mencabut pedangku dan membiarkannya terjatuh ke lantai. Layaknya ikan yang terdampar di pantai, pelayan itu kejang-kejang untuk beberapa waktu hingga akhirnya, ia berhenti bergerak sepenuhnya. Aku memerintahkan penjaga yang tersisa untuk menyinggirkan mayatnya dan melindungi rumah ini sementara aku pergi meninggalkan mereka.
Mana mungkin orang-orang bodoh seperti kalian bisa menghentikan penyusup sekuat ini? Hah! Bukankah aku telah memberikan harta, gadis, dan tempat tinggal kepada kalian? Tetaplah di sana jadilah perisai untuk mengulur waktu.
Aku menyeringai dan memasuki lorong di balik lift lantai dasar. Lorong ini adalah labirin yang penuh perangkap dan laboratorium tempat aku melakukan percobaan. Lorong bawah tanah ini juga terhubung langsung dengan kediamanku yang utama.
Jika aku bisa lari ke sana dan pura-pura tidak tau atas apa yang terjadi, aku bisa memutus keterlibatanku dan menumpahkan semua tuduhan atas tindak kriminal yang kulakukan kepada para bandit di tempat ini. Aku bahkan memberikan dua penjaga setiaku dengan pakaian dan perlengkapan mahal agar mereka terlihat seperti saudagar kaya yang bisa kujadikan kambing hitam di pengadilan nanti.
Bukankah aku cerdas?
Takjub atas kepintaranku sendiri, aku lari melalui jalan yang, meski agak memutar, tidak memiliki perangkap mematikan. Setelah merasa bahwa aku telah aman, aku duduk sejenak di ruang kosong dan segera mengatur nafas. Sudah lama aku tidak lari sejauh ini. Jika aku menggunakan karuniaku atau bisa menggunakan mana, aku pasti tidak akan merasa lelah seperti ini. Tapi karuniaku punya efek samping yang menyebalkan, karena itu aku tidak ingin menggunakannya sebisa mungkin.
Aku memandang cincin di jari tengahku. Jika saja aku tidak percaya pada omong kosong demon yang menjual artifak barrier anti-mana ini padaku, aku pasti bisa membunuh para penyusup itu dengan karuniaku.
Apanya yang mustahil ditembus? Apanya yang tidak bisa hancur? Bukankah serangan fisik dari monster tadi bisa meretakkannya? Jika aku bertemu demon itu lagi, akan kubuat ia menyesal karena berani membohongiku.
Aku memandang smartwatch di tangan untuk melihat situasi dari cctv dan kamera drone yang menyelimuti seisi rumah.
“...Huh?”
Tapi jangankan melihat situasi, smartwatchku hanya dipenuhi oleh gambar statis. Apa cctv dan kamera droneku juga mereka hancurkan? Semuanya? Yang benar saja! Pasti ada yang salah dengan smartwatch ini.
Aku merewind pemandangan terakhir yang terekam dan melihat dua pria turun dari truk. Keduanya memandang ke arah kamera, tapi memutuskan untuk mengacuhkannya dan berjalan memasuki kediaman. Seketika semua AI kamera drone dan cctv mengetahui bahwa mereka adalah wajah asing. AI ini pun bergerak untuk mematai dua pria itu dari segala arah, tapi sebelum satupun kamera ini berhasil melakukan itu.
“...”
Semua kamera hancur seketika. Semuanya. Bahkan kamera yang berada di lantai dua dan tiga kediamanku.
“Apa yang terjadi? Bukankah dua tikus itu masih di lantai satu?”
Kenapa mereka bisa menghancurkan kameraku? Aku merewind rekaman di smartwatch dan menyadari sesuatu yang ganjal.
“...Es?”
Untuk sesaat, aku melihat lapisan es di dalam truk yang mereka gunakan. Apa ada penyusup ketiga? Aku mengernyitkan dahi dan mencoba memastikan sekali lagi, tapi sebelum aku sempat melakukannya.
DUAR!
Suara ledakan yang menggelegar terdengar di lorong bawah tanah. Ini adalah suara salah satu jebakan yang kusiapkan jika ada penyusup yang datang.
“Mustahil! Sekalipun mereka memegang kunci, bagaimana mungkin mereka tau lorong rahasia ini?
Aku panik dan segera berlari, tapi saat menyadari dahsyatnya ledakan itu. Aku menertawakan kegelisahanku sendiri dan menggelengkan kepala. Betapa kuatnya pun mereka, manusia tetaplah manusia. Mana mungkin mereka masih hidup setelah bertemu ledakan itu?
Aku menertawakan kebodohan mereka dan melanjutkan perjalanan. Tapi belum lama aku melangkah, aku kembali mendengar ledakan kedua, ketiga, dan keempat di kejauhan. Beserta suara senapan dan laser yang sangat kukenal. Seiring dengan suara ledakan yang terus menggelegar, aku terbelalak dengan jantung berdebar .
Mungkinkah?
Mungkinkah?
Seakan menjawab pertanyaan itu, suara langkah kaki terdengar dari lorong tempat aku datang. Suara itu terus mendekat hingga akhirnya, aku melihatnya.
“Wow. Kerikilmu benar-benar berguna. Tapi bisakah bilang dulu sebelum melemparnya di lorong tadi?”
Seorang pria dengan rambut dan mata hitam yang lebih gelap dari malam.
“Kalo kamu takut, kamu tak perlu ikut. Kamu pikir ledakan sekecil itu bisa menghentikanku?”
Dan gadis elf bermata biru dengan rambut hijau mint yang tergerai sebahu.
“”...Ah!””
Keduanya menemukan sosokku yang hanya diam membatu. Di ruang kosong yang jauh dari pandangan mata, tiga insan saling pandang untuk beberapa waktu lamanya. Yang satu menyeringai, yang satu menghela nafas panjang, sedangkan aku--
“…!”
--Hanya mematung karena mengenali sang pria.