
------
Rose POV
------
Setelah penjaga itu jatuh ke tanah, aku mengangkat wajah dan hanya memandang punggung Arel untuk beberapa waktu lamanya. Punggung yang terlihat lebar untuk pria seusianya. Beban berat seperti apa yang ia pikul sampai punggunya terlihat begitu lebar? Terlihat begitu kuat? Dan terlihat begitu… rapuh?
Ia memandangku dengan mata hitamnya.
Kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa? Tak satupun kata keluar dari mulutnya. Tidak, ia hanya mengeluarkan jaket hitam yang entah dari mana datangnya. Lalu mendekat dan menyelimuti tubuhku dengannya.
Mungkin menyadari bahwa tubuhku tidak lagi gemetar saat memandangnya seperti kali pertama, pria itu tersenyum kecil dan berbalik menuju hutan.
“Ariel?”
Merasa bahwa ia akan menghilang dari sisiku, dan kali ini, untuk selamanya, aku memberanikan diri untuk memanggil namanya.
“Apa yang terjadi?”
Ia berhenti melangkah dan hanya terdiam untuk beberapa lama. Seakan merasa ragu apa ia harus mengatakannya atau tidak. Hingga akhirnya, ia berbalik memandangku dan--
“Bukan apa-apa.”
--Berkata demikian dengan senyum di wajah.
“Kau sendiri tak apa? Kau tidak luka?”
Lalu menanyakan kabarku seakan ingin mengalihkan pembicaraan. Aku menundukkan wajah, merasa sedikit sedih karena ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa padaku. Apa aku benar-benar tidak bisa dipercaya? Tapi mengingat bahwa hubungan kami memang hanya sebatas rekan kerja, aku menghela nafas pasrah karena sikapnya memang tidaklah salah.
“Aku baik. Lihat? Tak satupun luka terlihat.”
Berusaha untuk mencerahkan suasana, aku berputar untuk menunjukkan hal itu padanya. Tapi jangankan meyakinkan dirinya, aku justru kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke tanah.
“Ah…!”
Untungnya, Ariel segera menangkapku ke dalam pelukannya. Dadanya begitu bidang dan membuatku merasa aman saat ada di dekatnya. Apa yang berdegup kencang ini suara jantungnya? Aku mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya.
“Dasar.”
Tapi menyadari bahwa ekspresinya terlihat biasa. Aku mengelus dadaku dan menemukan jawabannya.
“Kau jelas-jelas terluka.”
Ia mengelus pipiku. Pipi yang tertusuk bebatuan di tanah. Mungkin karena melihatku mendesis menutup mata, Ariel berhenti dan perlahan menarik tangannya. Apa cairan merah di tangan itu adalah darahnya? Aku mengelus pipiku sendiri dan sadar bahwa bukan begitulah adanya.
“Ambillah.”
Ia memberikan sebuah hi-potion kepadaku.
“Terimakasih, tapi... Ini hanya luka kecil.”
“Setidaknya gunakan untuk obati luka dalammu.”
“Eh? Darimana kamu--”
Sebelum aku mampu menyelesaikan kalimatku, ia menuangkan larutan itu ke mulutku. Aku terkejut dan terbelalak memandangnya.
Biar begini, aku adalah seorang putri, tau?! Ingin rasanya aku berkata begitu, tapi saat melihat senyum lembut di wajahnya--
“Cepatlah sembuh.”
--Segala bentuk perlawanan yang hendak kuberi segera lenyap sepenuhnya.
“Dan jangan ceroboh lagi.”
Aku hanya menutup mata dan membiarkan ia berbuat sesukanya. Setelah memastikan bahwa denyut nadiku telah kembali seperti semula, dan tubuhku telah pulih sepenuhnya, ia menjauhkan dirinya dariku.
“...”
Aku masih tidak mengerti dengan pria ini. Ia membuatku takut saat tengah menghadapi musuhnya, tapi begitu lembut saat kami tengah berdua. Apa yang sebenarnya ia pikirkan?
“Ariel,”
Penasaran dengan maksud tujuannya, aku memberanikan diri dan bertanya.
“Kenapa kamu sebaik ini padaku?”
Ini pertama kalinya kami bertemu, tapi bukan hanya telah dua kali menyelamatkanku, ia tidak menaruh sedikitpun rasa curiga atau khawatir kalau aku akan mengkhianatinya atau menusuknya dari belakang. Ariel memandang ke langit untuk beberapa waktu lama, seakan mengingat sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu.
“Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu.”
“Sejak dulu, aku selalu mengamatimu, Rose.”
Jantungku berdegup setiap kali ia memanggil namaku.
“Dari semua gadis yang ada, hanya kau lah yang selalu ada di mataku.”
“…!”
Apa ia baru saja menyatakan cintanya padaku? Wajahku terasa panas dan jantungku terus berdebar tak karuan. Apa yang terjadi? Kenapa semua jadi begini?
“T-Tunggu, jangan mendekat!”
Tapi seakan tak ingin memberiku waktu berpikir, Ia berjalan mendekat. Aku tersentak melihat hal itu dan mulai melangkah mundur. Tapi ketika punggungku bersentuhan dengan sebuah pohon, aku sadar bahwa aku tidak bisa lari lagi. Ia berhenti tepat di depanku. Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dariku.
Aku sering didekati saat menggunakan wujud asliku. Tapi aku yang sekarang bukanlah dia. Aku adalah Primrose, seorang gadis elf biasa.
Lantas kenapa aku bisa berada di situasi ini?
“Rose.”
Tak sanggup memandang lurus matanya, aku menutup mata dan menundukkan wajah. Berharap bahwa dugaanku salah. Berharap bahwa semua ini hanya kesalahpahamanku semata. Meski di sisi lain, jantungku terus berdebar seakan tau perasaanku yang sesungguhnya.
Tidak, apa yang kupikirkan! Aku tidak boleh membiarkan pria ini berbuat sesukanya!
“Ariel, hentikan! Kalau kau menyentuhku aku akan--”
Aku membuka mata dan hendak mendorongnya, tapi saat melihat benda hitam yang ada di leherku, aku hanya diam tak mengerti. Saat aku mengangkat wajah dan mendapati pria itu mulai menarik tangannya, barulah aku mengerti apa yang terjadi.
Setelah mengalungkan benda ini di leherku, Ariel melangkah mundur seakan memberi ruang untukku.
"Apa… ini?"
"? Sebuah kalung.”
Tidak, aku tau apa ini. Maksudku, memberi kalung sebagai hadiah adalah hal yang wajar. Tapi aku tidak mengerti kenapa, demi kasih tuhan, kalung ini harus berbentuk hati. Kenapa ukurannya harus sebesar ini. Dan kenapa ia harus memasangkannya sendiri di leherku.
“Aku membuatnya sendiri, jadi wajar kurasa kalau terlihat aneh sampai kau tidak tau ini apa.”
Ia tersenyum masam dan pergi menjauh.
“Anggap ini sebagai jimat… Sekaligus hadiah perpisahan dariku.”
“...Eh?”
Aku mengangkat alis saat mendengar kalimatnya. Apa ia benar-benar akan pergi dariku?
“Tunggu, Ariel!”
Tapi sebelum aku mampu berlari menghentikannya, ia telah menghilang entah ke mana. Sebuah kembang api meledak di angkasa dan sesekali, aku bisa melihat petir ungu yang melesat cepat dari pohon ke pohon menuju ke arahnya. Petir yang sama dengan yang pria itu gunakan.
Apa yang ada di arah kembang api itu? Apa aku harus mengejarnya?
Mengingat punggungnya yang terlihat begitu kesepian, aku menggenggam kalung di leherku dan berniat untuk lari mengejarnya. Tapi sebelum aku bisa melangkah--
“Nona Primrose.”
--Seorang gadis memanggilku dari belakang. Aku mengenal suara ini. Suara yang terdengar khidmat dan sosoknya yang selalu terlihat serius membuatnya dihormati oleh bawahannya di Royal Knight kerajaan. Dia adalah Greyworth, sahabat yang paling kupercaya setelah Cinzia, sekaligus pemimpin Royal Knight termuda yang berada di divisi 2.
“G-Greyworth? Ada apa?”
Aku terkejut dan segera menyembunyikan kalung ini dengan karuniaku, membuatnya transparan dan tak bisa dilihat oleh mata telanjang.
“Para ksatria telah tiba. Kami menunggu perintah Anda, Tuan Putri.”
Greyworth menunduk penuh penghormatan seakan memperjelas maksud kedatangannya.
“Ah...”
Itu benar, kami masih harus mengevakuasi para tahanan dan menyerahkan Hagen ke pihak penguasa. Aku memandang kembang api baru yang meledak di kejauhan, lalu menggigit bibir dan berbalik menuju kediaman Hagen.
“Katakan pada mereka.”
Seraya menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diri--
“Untuk menangkap semua penjahat tanpa membunuh seorangpun.”
--Aku mengarungi jalan yang berbeda dengan sang pria.