
------
Ariel POV
------
Sebelum seorang pun mampu berkedip, Hagen meninju perut Cinzia dan menghempaskannya ke dinding. Cinzia tersungkur dan menutup mata. Aku hendak pergi menolongnya, tapi sebelum aku mampu mendekat, persenjataan yang kehilangan Cinzia sebagai target kini berbalik menyerangku. Aku mendecak lidah dan memutuskan untuk mengurus semua ini terlebih dulu sebelum pergi menolong sang gadis.
Hagen melihat Cinzia yang berhenti bergerak, lalu melihatku yang disibukkan oleh persenjataannya, kemudian--
“AHAHAHA!”
--Hagen tertawa seraya memandang ke angkasa.
“Inilah aku! Inilah kekuatanku yang sesungguhnya!”
Ia melebarkan kedua tangan layaknya seorang aktor yang sedang berpentas.
“Akulah pemilik segala, akulah pemilik harta! Semakin banyak yang kumiliki, semakin besar kekuatan fisikku ini.”
Hagen menyeringai memandang satu-satunya musuh yang masih berdiri.
“Apa kau terkejut? Apa kau takut? Haha! Jangan harap kau bisa lari setelah mendengar semua ini!”
Bersamaan dengan pernyataan itu, Hagen mengambil ancang-ancang dan melesat menyerangku. Kecepatannya meningkat pesat jika dibandingkan dengan sebelumnya. Ledakan angin tercipta bersama tiap tinjunya. Selain itu, ia tidak takut menerjang hujan peluru dan laser yang menyerangku sekakan tau bahwa semua itu tidak bisa melukainya.
Untungnya, serangannya amat sederhana sehingga aku masih bisa menghindarinya dengan leluasa.
“Kau…!”
Hagen terbelalak seakan takjub karena serangannya masih bisa kuhindari, bahkan setelah mengerahkan seluruh kemampuannya seperti ini.
“Hehe.”
Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Apa ia sadar overlimitku telah melewati batas? Melihatku mulai berkeringat, Hagen menyeringai karena tau serangannya bekerja. Ia sadar bahwa aku telah kehabisan stamina dan tak akan bisa bertahan untuk waktu lama.
Aku menarik pelatuk gunbladeku dan menciptakan dinding peluru seperti sebelumnya untuk menjauh darinya. Hanya 4 peluru yang tersisa. Tentu saja aku punya lebih jika bisa membuka bayanganku atau membuat peluru mana, tapi sebelum aku menghancurkan atau menonaktifkan cincin di jarinya, aku hanya bisa memanfaatkan apa yang ada.
Meski sebenarnya, bukan berarti aku perlu peluru lebih untuk menangani pria ini.
“…”
Selama aku bisa mengulur waktu sedikit lebih lama lagi, aku pasti bisa mengalahkannya meski harus menutup mata.
“...Kau tersenyum? Apa kau baru menghinaku?!”
Segera setelah menembakkan peluru terakhir, Hagen tak lagi membiarkanku lari seperti sebelumnya. Ia menggemeretakkan gigi dan meninjuku dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Aku mencoba menghindar, tapi hanya mampu memutar tubuhku dan menahan serangannya dengan gunblade di tangan.
“...!”
Seketika, tubuhku terpental secepat kilat. Punggungku menghantam dinding sampai-sampai aku merasa punggungku akan hancur bersama dinding itu. Ditambah dengan efek samping overlimit yang kini nonaktif, seluruh saraf dan ototku menjerit kesakitan. Mereka tercabik dari dalam seakan ada binatang kecil yang menggerogoti dari segala bidang. Meski begitu, aku memilih untuk menggenggam gunbladeku lebih erat.
“Ahahahaha! Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Leonhart! Meski aku telah berbaik hati dan menawarkan surga dunia padamu, kau justru memilih untuk terjun ke neraka. Apa kau menyesali pilihanmu? Apa kau menyesali tindakanmu?”
Hagen mendekat dan menginjak kakiku, membenamkan tumitnya sekuat tenaga.
“Aaaack!”
Hagen menyeringai mendengar jeritanku.
“Aah, bagus! Terus! Teriaklah! Menjeritlah! Menderitalah di tanganku!”
Nafasnya memberat dan perut gemuknya kembang kempis seiring tiap nafas.
“Hehe. Aku suka jeritan gadis kecil. Aku suka saat mereka menangis dan memohon ampun padaku. Tapi siapa sangka jeritan lelaki perkasa yang kutaklukkan dengan tangan sendiri juga bisa terdengar seindah ini. Ahhh~ saat aku tau nyawa kalian berada di tanganku… rasanya begitu… begitu--”
Hagen menyeringai dengan wajah memerah.
“--Amat sangat mendebarkan.”
Ia mengangkat tangan dan mulai meninjuku.
“Hahaha! Ahahaha!”
Ia meninjuku tanpa henti sampai-sampai aku pikir ia tidak akan berhenti untuk selamanya.
“Fiuh...”
Hingga akhirnya, mungkin karena merasa bosan setelah memukuliku sekian lama, Hagen mengangkat tangan kanannya lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya di tinju itu seakan ingin memecahkan kepalaku dengannya.
“Matilah kau, Leonhart!”
Ia tersenyum bengis dan melesatkan tinju itu, tapi sebelum serangannya mampu mengenaiku.
“H...uh?”
Hagen sadar bahwa ia tidak bisa menghunuskan tangan kanannya. Lebih tepatnya, ia tidak lagi memiliki tangan kanan untuk dihunus.
Darah terciprat dari bahunya yang tidak berlengan, mewarnai wajah Hagen dengan warna merahnya. Ia mencengkram bahunya dengan tangan satunya, seakan hendak menghentikan darah yang terciprat secara paksa, tapi mungkin karena tak kuasa menahan rasa sakitnya, Hagen tersungkur dan meringkih di lantai.
“...Kelihatannya mereka telah tiba.”
Aku tersenyum kecil dan menggeleng kepala. Seakan tak mendengar ucapanku, Hagen merogoh obat di sakunya lalu menuangkannya ke bahu. Luka itu tertutup dengan segera hingga Hagen berhenti merintih dan mulai memelototiku.
“Kau...KAU!”
Melihat gunbladeku yang masih basah dengan darah dan potongan tangannya yang jatuh ke lantai, Hagen mencoba mengerahkan karunianya lagi.
“Tidak, ini mustahil… Ini mustahil!”
Tapi ia tersentak karena menyadari tak ada yang terjadi.
“Apa yang kau perbuat?!”
Hagen terbelalak tak percaya. Aku tak menghiraukannya dan hanya memaksa tubuhku yang masih menjerit kesakitan untuk berjalan menuju tangan terputus itu.
“Sejak melompati jurang, pukulanmu terus melemah seiring waktu. Kau tidak sadar?”
Cincin anti-mana kediaman Hagen masih terpasang di jari itu.
“Kau pasti terlalu terangsang sampai tidak menyadari hal itu.”
Aku melepasnya dan seketika, barrier anti-mana tempat ini telah hilang sepenuhnya.
“Tapi karena fetishmu itu, aku tertolong.”
Bayanganku melahap cincin itu. Aku menenggak sebotol obat dan seketika, saraf dan otot tubuhku yang rusak mulai kembali seperti semula. Begitu pula wajahku yang memar di segala tempat.
“Karena aku tidak perlu menghancurkan cincin ini seperti rencana di awal.”
Bukan hanya bisa membeli satu negara, cincin ini punya harga yang tak terukur nilainya. Hagen menggigit bibir sampai-sampai aku pikir darah akan mengalir darinya.
“Katakan, apa yang telah kau perbuat? Kenapa kekuatanku bisa hilang sepenuhnya?!”
“Bukankah kau sendiri yang membocorkan kelemahan karunia itu?”
“...Apa?”
“Semakin banyak harta-benda yang kau miliki, semakin besar kekuatan fisikmu. Sekarang, bagaimana jika semua harta-benda yang kau miliki direnggut darimu?”
“...Kau merenggut harta-bendaku?!”
Melihatku hanya diam menyeringai, Hagen nampak pucat dan terbelalak tak percaya.
“Tidak… kau berbohong. Ini mustahil terjadi!”
“Kau bisa lihat sendiri kalau tak percaya.”
Aku menunjuk ke arah pintu keluar, tempat kediaman Hagen yang lain berada. Seakan kalimatku adalah tanda, Hagen segera berdiri dan menjauh dariku. Melihat jurang yang memisahkan dirinya dengan pintu keluar, ia berteriak seperti orang gila dan menonaktifkan semua jebakan yang ada. Seketika, lantai, dinding, dan langit-langit ruangan ini kembali seperti semula. Hagen berlari melalui semua itu dan pergi melewati pintu keluar.
Aku hanya memandang semua ini dan menghela nafas pasrah, lalu memandang ke salah satu sisi ruangan.
“Sampai kapan kau mau pura-pura pingsan?”
“...”
Di ruangan yang kini hanya ada aku dan dia, Cinzia membuka mata dan berkata.
“Kamu yakin? Membiarkannya lari?”
“Dia tidak bisa lari. Tak satupun dari mereka akan membiarkannya lari.”
Aku menyerahkan sebotol obat kepada Cinzia.
“Mereka?”
Cinzia mengambil obat itu dan meminumnya.
“Mhm. Lagipula, aku masih menunggu sesuatu darinya.”
“…?”
“Kau tau? Karunia pria itu punya efek samping yang unik. Ia perlu harta untuk memperoleh kekuatan. Disaat yang sama, kekuatan itu akan mendorongnya untuk mengumpulkan lebih banyak harta, bagaimanapun caranya. Dan semakin besar kekuatan yang ia gunakan, semakin perasaan itu akan menelannya.”
“...Apa tujuanmu?”
Aku hanya memandang Cinzia dan berkata.
“Ketamakan.”
Cinzia memandang lurus mataku.
“Aku menunggunya ditelan ketamakan.”