MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 18. Freedom(4)



---


Captured Elf, Primrose POV


---


Melihat para pembudak memandang sekujur tubuh kami dengan senyum bodohnya, rasa jijik dan muak memenuhi tenggorokanku. Dan saat mereka menyentuh para gadis di sekitarku, aku tak bisa menahan diri dan segera mengeluarkan pisau yang kusembunyikan di saku.


Bahkan kesabaranku pun ada batasnya!


“Tidak boleh! Putri Rose!”


Sayangnya gadis di sisiku menghentikan langkahku.


“Lepas, Cinzia! Apa kau mau membiarkan mereka?! Dan panggil aku Primrose!”


“Aku juga marah! Aku mengerti!”


“Cinzia--”


“Tapi bukan saatnya melakukan ini.”


“Cinzia--”


“Tolong ingat kembali tujuan Anda menyelinap ke sini dan--”


“Cinzia!”


Cinzia tersentak memandangku. Mungkin karena suara isak para gadis di sekitar, atau gelak tawa para pembudak yang memekakkan telinga, tapi tak seorang pun memandangku yang lanjut berbisik.


“Jika yang mereka sentuh adalah aku--”


--Apa kau akan diam?


Mengerti maksud ucapanku, Cinzia memandangku dengan ekspresi membeku. Lalu ia memandang para pembudak yang tengah melucuti pakaian para gadis. Seakan membayangkan bahwa semua itu tengah terjadi padaku.


“Tidak, Tuan Putri.”


Hingga akhirnya, Cinzia melepaskan cengkramannya dan lanjut berkata.


“Aku akan menyinggirkan mereka.”


Ia mengepal tangan dan memicingkan mata.


“Aku pasti ‘menyinggirkan’ mereka.”


Haus darah terpancar dari mata birunya. Membuatku tak kuasa untuk menahan diri dan bergumam.


“Aku seneng kamu ngerti, tapi…”


Bukankah itu terlalu ekstrim?


Merasa bahwa pelayan sekaligus sahabat baikku ini selalu bersikap berlebihan setiap ada hal yang berhubungan denganku, aku mengerang dan meratapi nasibku. Awalnya aku hanya berniat untuk menangkap dan menyerahkan mereka ke pihak penguasa, tapi nampaknya Cinzialah yang harus kutangkap lebih dulu jika tidak ingin berurusan dengan orang-orang tua di asosiasi pahlawan.


Haruskah aku menghentikannya?


“Cinzia.”


Merasa tak ingin kehilangan sahabat baikku, aku membuka mulut untuk membujuknya. Tapi sebelum aku berhasil melontarkan sepatah kata--


“…!”


Cinzia telah hilang dari pandangan. Seketika, suara angin yang terbelah dan semangka pecah terdengar di telinga. Disusul jeritan para gadis yang membuatku menoleh ke arah mereka.


“Jangan lihat!”


Tapi Cinzia menghalangi pandanganku dengan sekujur tubuhnya.


“Tutup mata Anda, Tuan Putri!”


Sayangnya, cairan merah dan organ yang berceceran telah memenuhi seluruh pandanganku.


“...Eh?”


Bau anyer memenuhi penciuman. Bersama isi usus dan bau gosong dari daging yang seakan baru dipanggang.


“Ah...”


Aku memandang semua ini dengan mata terbelalak. Melihat reaksiku, Cinzia menggigit bibir dan memandang ke depan.


“C-Cinzia, apa kau yang--”


“Tidak…. Kali ini, bukan aku pelakunya.”


Melihat percikan petir yang sesekali muncul dari leher yang kini tanpa kepala, aku sadar bahwa memang demikianlah adanya. Cinzia tidak memiliki afinitas elemen apapun, ditambah lagi, mustahil gadis ini berbohong padaku.


“Lalu siapa yang--”


Tanpa melanjutkan pertanyaanku, aku memutuskan untuk melihat pelakunya dengan mata kepala sendiri. Tapi di bawah langit malam yang berawan ini, dan di ruang sempit yang kini tanpa cahaya, yang bisa kulihat hanyalah sosok hitam yang memandang ke langit. Melihat gunblade dan tangannya yang berlumuran darah, aku menyadari bahwa ialah dalangnya.


“Ah...”


“N-Ngga! Ngga!”


Ia mencoba untuk pergi menjauh, tapi menyadari bahwa tak ada lagi tempat untuk mundur, air mata jatuh membasahi pipinya. Membuatnya menundukkan wajah dan memandang tubuh putihnya. Lalu, seakan teringat dengan para pembudak yang begitu terpesona dengan lekuk tubuhnya, gadis itu menggigit bibir dan berkata dengan suara terbata.


“Apapun... Akan kulakukan apapun… K-Karena itu... Jangan bunuh aku… Jangan bunuh aku...”


Ia berhenti memeluk lutut. Lalu membukanya secara perlahan. Seakan menahan malu dan berusaha mengerahkan seluruh tenaga dan keberaniannya yang tersisa untuk menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah itu. Berharap bahwa setidaknya, pria di depannya tidak akan membunuhnya jika ia menyerahkan diri.


Tapi pria itu hanya diam. Ia tidak mengatakan apa-apa dan terus mendekat. Membuat semua orang memandang dengan nafas tertahan.


Aku tidak boleh diam. Aku harus berdiri melindungi gadis itu. Tapi kenapa…? Kenapa kakiku tidak bisa bergerak? Kenapa tubuhku tidak berhenti bergetar? Apa pada akhirnya, aku hanyalah gadis lemah seperti yang mereka kata?


Aku menggigit bibir dan mulai menghardik diri. Saat jarak di antara keduanya tinggal beberapa centi, barulah pria itu berhenti melangkah. Merasa bahwa ajalnya telah tiba, sang gadis menutup mata sekuat tenaga seakan berusaha menahan air mata yang tak bisa terbendung.


“…!”


Tapi saat ia menyadari bahwa yang menyentuh tubuhnya bukanlah senjata tajam atau sepasang tangan yang berlumuran darah, melainkan selembar kain yang menutupi sekujur tubuhnya, gadis itu hanya berkedip tak mengerti. Penasaran dengan apa yang terjadi, gadis itu mengangkat wajah dan memandang mata sang pria.


Aku dan semua orang yang sejak tadi hanya memandang mereka dengan nafas tertahan juga melakukan hal yang sama. Kami tidak lagi hanya memandang senjata tajam maupun tangannya yang berlumuran darah. Untuk pertama kali sejak kedatangannya, kami melihat ekspresi seperti apa yang tengah dibuat sang pria.


“Ah...”


Lalu seakan semua yang terjadi adalah ilusi, rasa takutku hilang seketika. Tubuhku berhenti bergetar dan nafasku yang tertahan kembali seperti semula.


“Kamu tak apa? Kamu tak luka?”


Pria itu berjongkok dan memandang lurus mata sang gadis. Wajahnya terlihat menderita seakan ia sendirilah yang tengah terluka.


“N-Ngga aku… Aku baik--”


Gadis itu menggerakkan tubuhnya seakan ingin menunjukkan bahwa ia tak terluka, tapi saat ia berusaha berdiri.


“--Aw!”


Ia memicingkan mata dan mendesis perlahan. Gadis itu segera menutupi kedua kakinya, tapi semua itu tidak lepas dari pengamatan sang pria. Aku memandang telapak kakiku dan mengerti apa yang tengah sang gadis rasakan.


Ini juga pertama kalinya aku berjalan jauh tanpa alas kaki. Mungkin karena Hagen terlalu berhati-hati dalam melakukan penculikan, ia menyiapkan berbagai rute dan transportasi untuk menyembunyikan keterhubungannya dengan semua ini. Dan karena aku tak ingin dicurigai, aku memilih untuk tidak melindungi telapak kakiku dengan mana. Wajar jika telapak kaki kami mulai kapalan dan berdarah-darah seperti ini.


Pria itu melihat sekitar dan mendapati hal serupa terjadi kepada gadis lainnya. Ia merogoh sebotol obat dari sakunya dan berkata.


“Oles ke kakimu.”


Gadis itu nampak ragu, tapi memutuskan untuk tetap menuruti perkataan sang pria seakan tak ingin membuatnya marah. Meski begitu, ia tidak bisa menahan diri untuk memandang mata sang pria. Seakan ingin menanyakan maksud terselubung dari tindakannya, tapi pria itu hanya berdiri dan berkata.


“Cepatlah sembuh agar kau bisa lari dari sini.”


Sang gadis terbelalak dan segera bertanya.


“Maksudmu--”


“Aku sudah menyuruh orang memanggil bantuan. Kalian akan aman jika ikut mereka.”


Menyadari bahwa pria ini datang untuk menyelamatkannya, sang gadis tak kuasa menahan tangis dan terus mengucapkan terimakasih kepadanya. Kami juga tersentak mendengar ucapan sang pria dan saling pandang untuk beberapa waktu lamanya, tapi seakan tak peduli dengan reaksi kami, pria itu tetap pergi memberikan obat yang sama kepada semua orang.


Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi?


Awalnya aku pikir ia hanyalah pembunuh yang dikirim oleh musuh Hagen dan komplotannya. Tapi jika benar begitu, hal pertama yang seharusnya ia lakukan adalah ‘membungkam’ semua saksi yang ada di tempat ini. Cinzia tau hal ini dan aku yakin karena alasan itu jugalah ia berdiri untuk menyembunyikanku dari sang pria.


Tapi apa ini? Kenapa ia melakukan semua ini?


Jika ia memang datang untuk menyelamatkan kami, apa itu berarti ia dikirim oleh asosiasi pahlawan? Tapi bahkan seseorang dari asosiasi itu pun tidak mungkin membunuh orang-orang secara sembarangan. Terutama mereka yang belum diadili atau diakui sebagai penjahat oleh masyarakat luas.


Untuk sementara, aku bisa berkata dengan yakin bahwa setidaknya, ia bukan musuh kami. Tapi itu bukan berarti aku akan mempercayai semua ucapannya.


“Cinzia.”


Cinzia menutup mata dan menarik nafas panjang. Ia terlihat seperti gadis remaja yang tengah tertidur lelap, tapi aku tau bahwa saat ini pun, ia tengah mengendalikan benang-benang tipis yang membentang menyelimuti seisi hutan. Hingga akhirnya, Cinzia membuka mata setelah beberapa lama dan berkata.


“Barat Daya. Aku tidak bisa melihat mereka, tapi setidaknya, ada beberapa mobil yang melaju dengan cepat.”


Yang berarti bantuan benar-benar akan segera tiba.


“Haa...”


Aku menyerah. Aku tidak bisa memahami pria ini.


“Tapi syukurlah.”


Setidaknya, semua gadis ini bisa kembali dengan selamat kepada keluarganya. Karena kelihatannya pria ini juga tidak bermaksud buruk, aku memutuskan untuk menerima pertolongannya dengan penuh terimakasih. Itulah kenapa saat pria ini mengulurkan tangan padaku, aku berniat untuk menerima obat itu dan berhenti melibatkan diriku dengannya, tapi saat pria itu terbelalak memandangku--


“Huh? Rose?”


--Aku sadar bahwa hal itu mustahil dilakukan.