
---
1st Rank Assassin’s POV
—
Saat aku kembali dari misi, institusi tempat aku dibesarkan telah lenyap dari dunia ini. Bulan purnama telah naik memuncak ke langit, tapi cahayanya bahkan tidak mampu menerangi lubang hitam tempat institusi seharusnya berada.
‘Apa ini? Serangan iblis?’
Aku memiringkan kepala dan memikirkannya. Tapi karena bangsa iblis tidak punya alasan untuk menyerang institusi, aku segera menyangkal dugaan itu. Dan karena sepertinya pemerintah juga belum menemukan tempat ini...
Aku tersenyum masam dengan satu-satunya kemungkinan yang tersisa.
“Mereka berhasil lari.”
Yang berarti, Basen dan Lily telah mati. Melihat lubang hitam tak berdasar yang seakan menelan segala, aku mengerti bagaimana pelakunya bisa lari.
‘Room of Zeroth.’
Hanya sedikit orang yang tau tentang ini, tapi jika monster itu lepas, atau seseorang berhasil meminjam kekuatannya, wajar jika institusi ini lenyap tak bersisa.
‘Pertanyaannya, siapa yang melepaskannya?’
Aku melihat sekitar untuk mencari informasi. Monster itu tidak mungkin bisa lepas dengan sendirinya, karena itu pelakunya pasti berhasil lari sebelum institusi hancur sepenuhnya. Tapi jangankan jejak kaki, aku bahkan tidak menemukan tanda bahwa pernah ada manusia yang keluar dari institusi ini dalam beberapa hari terakhir.
‘Assassin. Dan cukup berbakat untuk masuk 10 teratas.’
Sadar bahwa dalang dibalik semua ini adalah salah satu dari kami. Aku menghela nafas pasrah dan berhenti menganggap remeh masalah ini. Karena ia bahkan telah menutupi jejaknya, aku tidak punya pilihan selain melakukan hal ini.
‘’
Segera setelah aku meletakkan tangan ke tanah, lapisan tanah membeku sejauh mata memandang. Aku menutup mata dan mengolah semua informasi yang kudapat darinya. Baik itu struktur tanah, mikroba, bahkan partikel dan molekul yang terperangkap di dalam lapisan es. Selama mereka punya wujud, tak satupun bisa lepas dari pengamatanku.
‘Pengguna elemen petir... Dan bercak darah yang meresap ini...’
Setelah melihat kerusakan di tanah, lalu mengamati struktur darah dan menyocokkan semua sampel yang ada di kepala, aku menemukan identitas pelaku dan mengerti semua yang terjadi di tempat ini.
“Leonhart...”
Puas dengan jawaban yang kudapat, aku membatalkan karuniaku dan mengembalikan kondisi tanah seperti semula.
“Tunggu aku, Baal.”
Dengan senyum kecil dan pisau di tangan, aku melangkah menuju ibukota dunia.
---
Ariel POV
---
Bulan bersinar menggantikan sang surya yang tergelincir ke ufuk barat. Setelah memastikan bahwa Zion telah tertidur lelap di kamarnya, aku membuka jendela penginapan dan melihat ke bawah. Bahkan di larut malam seperti ini pun hiruk-piruk kota Jakarta masih membuatku terkesima.
Kota yang seakan tidak pernah mati ini masih dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang secepat kilat, serta pejalan kaki yang memenuhi distrik lampu merah tempat segala kesenangan duniawi bisa dibeli. Benar-benar malam yang sempurna untuk mengakhiri semua kegilaan ini.
Aku melompat dari lantai 3 penginapan dan mendarat di tanah. Lalu berjalan ke pasar tempat Zion terjatuh pagi ini. Di sana, di sebuah gang kecil yang jauh dari pandangan mata para pedagang kaki lima, aku mendapati beberapa anak telah menunggu. Sebagian menggigit bibir, sebagian berjalan kesana kemari, tapi begitu mereka menyadari kedatanganku, semua berhenti dan mengalihkan pandangan padaku.
Mereka menelan ludah dan saling pandang untuk beberapa lama. Hingga akhirnya, anak lelaki yang menabrak Zion pagi ini mewakili mereka untuk maju dan bertanya.
“Kakak yang nulis surat ini?”
Ia mengeluarkan surat yang kuselipkan ke sakunya pagi ini. Aku hanya mengangguk dan membiarkannya bicara.
“Kakak serius? Apa kakak tau siapa yang nyuruh kami?”
“Hagen, benar?”
Aku belum pernah bertemu pria itu, tapi aku tau bahwa dia akan ditangkap oleh Asosiasi Pahlawan dalam beberapa hari. Meski pada akhirnya, ia akan dibebaskan oleh tikus-tikus pemerintah dan berubah menjadi pembunuh berantai yang bisa mengakhiri nyawa beberapa orang penting di tim protagonis dalam beberapa tahun ke depan.
Aku dengar alasan Hagen menjadi pembunuh berantai adalah karena putrinya dibunuh oleh para pahlawan, tapi karena saat ini ia hanya terlibat dalam kasus pencurian, aku bisa berkata dengan yakin bahwa setidaknya, Hagen belum kehilangan putrinya.
“...Dan kakak yakin bisa selametin mereka?”
Meski begitu, Hagen tidak hanya mencuri uang dan barang berharga, tapi juga manusia dan elf dari berbagai tempat untuk diperbudak atau dijual organnya. Dan di antara semua korbannya, aku dengar Hagen paling suka dengan mereka yang usianya belia.
“Tentu. Kalian hanya perlu antar aku ke markasnya. Dan lakukan persis seperti yang ada di surat.”
Tentu saja, pengetahuanku tidaklah sempurna. Yang aku tau hanyalah hal-hal yang dialami langsung oleh protagonis atau yang tertulis di buku-buku sejarah. Karena itu aku butuh bantuan orang dalam untuk menyelinap ke sarang para bandit.
“Tapi, umm, gimana kalo kakak gagal? Maksudku, kami bakal... dipenggal kalo ketauan ngelakuin ini. Ini terlalu bahaya buat kami.”
Daripada menjelaskan, aku memilih untuk mengalirkan manaku dalam diam. Mana yang awalnya terasa tenang itu kini diliputi amukan petir dan kegelapan pekat yang menjulang mencakar langit malam. Anak-anak di depanku memandang langit dengan mata terbelalak, seakan percaya bahwa bulan dan bintang seluruhnya telah lenyap dari dunia. Meski mereka tau aku tidak melakukan apapun selain mengalirkan mana, mereka tetap memandangku dengan nafas tertahan.
Sudah kuduga, ini saja masih kurang meyakinkan. Apa aku perlu menembakkan peluru mana?
“Stop…! Kami percaya, kami percaya, Kak.”
Mungkin karena merasa bahwa aku akan melakukan sesuatu yang gila, anak tadi menghentikanku dan memandang teman-temannya. Mereka mengangguk dan pergi menjalankan tugas masing-masing.
“Ikut aku.”
Aku mengikuti lelaki tadi dari belakang. Ia berambut kriting dan terkesan pendek jika mengingat sikapnya yang dewasa, terutama dibandingkan anak-anak yang bersamanya tadi. Mungkinkah dia yang paling muda?
“Asal kakak tau, aku ngga pendek. Aku cuma terlambat tinggi!”
“Itu namanya pendek.”
“Dan aku udah gede, ok? Usiaku 6 tahun bulan depan!”
“Huh? Apa aku bilang sesuatu?”
“...Oh shit.”
Anak itu menutup mulutnya dan berhenti melangkah. Melihat reaksinya, aku tak sanggup untuk menahan diri dan berkata.
“Telepati?”
Yang segera ia bantah dengan berbagai alasan. Tapi mungkin karena aku hanya diam, anak itu mengerang dan mengakuinya dengan enggan.
“Jangan dibahas plis. Aku benci karunia ini.”
Mungkin menyadari berbagai pertanyaan yang, meski berusaha kutahan, terus bermunculan di kepala, anak itu memicingkan mata seakan menyuruhku untuk diam.
“Aku tidak bilang apa-apa loh.”
“Apa kakak tipe orang yang kebanyakan mikir? H-Hey! Gambar apa yang kakak coba masukin ke kepalaku?! Mesum! *****! Jones!”
“Oh wow. Bahkan gambar pun bisa kamu tangkap? Bukankah ini hebat? Aku tidak mengerti kenapa kamu benci karunia ini.”
“Apanya yang hebat? Karunia ini ngga bisa dipake bertarung, ini cuma bekerja ke orang-orang yang pikirannya tertuju padaku, dan yang terburuk, aku ngga bisa matiin karunia ini sama sekali!”
Ia menggenggam kepalanya dan melanjutkan.
“Apa kakak tau betapa menjijikkannya, betapa buruknya, betapa kejinya isi hati orang-orang di kota ini? Apa kakak tau bibi di sana itu baru aja nyaci aku? Apa kakak tau gelandangan itu berniat menipuku? Apa kakak tau pemabuk itu nyumpahin aku mati? Aah menyebalkan. Apanya yang karunia? Apanya yang hebat? Semua ini ngga lebih dari kutukan!”
“...”
Aku terlalu naif. Karunia ini memang bisa digunakan untuk membuka hati orang lain, mengobati luka hati yang mustahil disembuhkan dengan cara apapun, dan bahkan memanipulasi orang lain untuk bertindak sesuka kita. Tapi layaknya pisau bermata dua, karunia ini juga bisa melukai hati penggunanya hingga hancur tak berbekas. Atau setidaknya, sampai ia menutup sendiri hatinya seperti yang terjadi pada lelaki di depanku.
Apa dia bilang usianya baru 6 tahun?
Saat aku hendak bertanya untuk mengenal lebih jauh tentangnya, aku sadar bahwa anak itu sudah tidak lagi menggenggam kepalanya dengan kedua tangan.
“Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain...”
Ia memandangku dengan ekspresi membeku. Seakan tak percaya bahwa ia baru saja mendapat pencerahan dari seorang yang lebih bodoh darinya. Setelah terdiam untuk beberapa lama, anak itu menarik nafas panjang dan berkata.
“Haa… Aku bahkan ga pernah kepikiran untuk gunain karuniaku kayak gitu. Kakak ini apa? Huh? Motivator? Positive thinker? Apa kepala kakak cuma dipenuhin padang bunga?”
“Aku sering dipanggil begitu, tapi aku rasa sifatku cukup gelap loh.”
“Oh ya...? Heh, terserahlah. Toh aku ngga tertarik sama kisah hidup kakak, tapi.”
Ia membuang wajah dan berjalan ke depan.
“Karunia ini… Mungkin ngga seburuk yang kukira.”
Kali ini, akulah yang terhenti dan berkedip memandangnya. Aku sering lupa saat bersamanya, tapi dia benar-benar masih anak-anak. Melihatku hanya diam dan tidak mengikutinya, anak lelaki itu menyeringai dan berkata.
“Kenapa? Takut? Masih ada waktu buat lari.”
“Mhm, dia sama sekali tidak imut.”
“Ha? Dan berhenti panggil aku ‘dia’ atau ‘anak lelaki’. Aku punya nama! Dan namaku Jason, ok?”
Aku hanya tersenyum masam mendengar gerutunya. Kami berjalan beberapa lama di bawah sinar rembulan. Sedikit kutau bahwa pada saat itu, ada seseorang yang membuntuti kami dari kegelapan malam. Sesuatu yang amat kusesali di kemudian hari.
---