MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 10. Escape(10)



Zion Airisa POV


---


Perisai terakhirku hancur karena ga mampu nahan serangan beruntun yang Lily lancarkan. Bersamaan dengan hal itu, aku bisa ngerasain sesuatu dalam diriku hancur berkeping-keping.


Sejak dulu, aku selalu dijuluki assassin gagal karena perisai ini. Ga kayak assassin lain yang punya berbagai afinitas elemen dan karunia untuk bertarung, aku ga punya afinitas apapun. Aku bahkan ga tau apa karuniaku. Satu-satunya yang kubisa cuma ngelindungin diri dan orang lain dibalik perisai-perisai ini. Seorang assassin yang ga bisa ngebunuh. Produk gagal yang ga ada harganya. Itulah aku. Itulah Zion Airisa.


Tapi kini, perisai itu pun ga mampu lagi ngelindungin orang yang kusayang. Apa aku bener-bener ga berguna seperti yang semua orang kata? Apa aku bener-bener produk gagal yang ga ada nilainya?


Seakan menjawab pertanyaanku, sebuah pisau angin melesat dengan cepat ke arahku. Tapi jangankan menghindar, aku hanya bisa ngelindungin kepala dengan kedua tangan. Hingga akhirnya, pisau angin itu pun berhasil ngehempas aku ke kejauhan.


"...!"


Jika bukan karena sebuah pohon yang ngebentur punggung, aku pasti sudah terpental lebih jauh dari ini. Punggungku terasa remuk, tanganku mati rasa dan aku ngerasa kalo dunia terlihat merah untuk sesaat. Apa ada darah di kelopak mataku?


Mendapati rasa kantuk dan perih yang datang ga diundang, ingin sekali rasanya aku nutup mata untuk istirahat sejenak. Tapi aku ga bisa ngelakuin itu. Karena aku tau hingga detik ini pun, Leon masih berjuang ngelawan mereka. Ia ga punya siapapun lagi di sisinya. Meski kehadiranku mungkin ga akan ngubah banyak, aku tetap ingin berdiri di sisinya untuk sedikit lebih lama. Bahkan aku yang lemah dan ga berguna ini pun tau betapa gentingnya situasi Leon saat ini.


Ia telah kehabisan mananya. Tubuhnya dipenuhi luka sayat. Tapi hal pertama yang ia lakukan setelah sadar kalo ga ada lagi harapan, adalah lari seraya ngulurin tangan padaku.


"Leon..."


Kenapa kamu ga lari? Apa kamu ga tau kalo nyawamu lebih berharga dari ini? Lily mungkin udah ga bisa bertarung, tapi masih ada Basen di sana. Masih ada Basen yang bisa bunuh kita.


Mangkannya, aku ga boleh tidur di sini... Aku ga boleh biarin Leon sendiri...


Seakan ngejawab harapan terakhir yang kuucap, jantungku berdebar mompa energi ke tubuhku yang mati rasa. Aku gigit bibir, ga peduli sama rasa anyer yang menuhin lidah sejak tadi dan terus maksa tubuhku untuk bangkit berdiri. Tapi hal pertama yang nyambut aku setelah ngelakuin itu--


"Aku terkejut. Aku tidak menyangka ada yang bisa menghentikan Lily saat ia mengamuk."


Adalah pria berkacamata yang berhenti di depanku.


"Aku dengar kau dijuluki produk gagal? Ha! Mata mereka benar-benar sudah rabun."


Basen mandang lurus mataku.


"Zion Airisa. Ikutlah denganku."


"..."


"Tempatmu bukan di sini. Kau mungkin gagal sebagai assassin, tapi kau punya kegunaan tersendiri."


"...Kalo aku setuju, kalian akan bebasin Leon?"


"Tentu saja tidak. Atasan begitu panik saat tau 'benda itu' menghilang dari Room of Zeroth. Mengambil kembali 'benda itu' adalah prioritas kami, tapi melenyapkan semua saksi dan mencari tau bagaimana Leonhart masih memiliki kewarasan juga tidak kalah penting bagi kami."


Basen bicara berbagai hal yang ga kumengerti. Tapi aku ga peduli karena aku udah dapet jawaban yang kucari.


"Aku ngerti... Setelah diinterogasi, kalian bakal 'ngurus' Leon, iya kan?"


"Aku senang karena kau cepat mengerti."


"Udah bertahun-tahun kami dikurung... Wajar kalo kami paham busuknya kalian."


Basen ngangkat kacamatanya.


"Jadi?"


"Aku nolak."


Api nyala di tongkat yang Basen hunuskan padaku.


"Kau adalah satu-satunya yang masih bisa bertarung, variabel tak diketahui dalam misi ini. Tapi jangan takut, segera setelah kami selesai menginterogasinya, Leonhart akan menyusulmu ke alam sana."


Aku nyelimutin tubuhku dengan perisai mana dan ngerogoh pisau di saku, bersiap untuk nerobos serangan Basen dan ngelumpuhin dia sekali tebas. Tapi seakan nertawain tindakan ini, bola api yang Basen tembak meledak saat kena perisaiku, ngehentiin langkahku yang coba untuk maju.


Basen menjentikkan jari dan seketika, ledakan yang semula hanya datang dari depan kini mengepungku dari segala arah. Aku ga bisa maju, dan aku ga bisa mundur dari lautan api di sekitar. Yang aku bisa hanyalah ngebuat lapis demi lapis perisai seraya nunggu dia lengah.


Melihat ledakan yang terus berdatangan, Basen membuka buku dan ga lagi naruh perhatian padaku. Kesempatan! Aku ngelempar pisau di tangan karena merasa bahwa ini satu-satunya kesempatan yang kupunya, tapi begitu ujung pisau itu ngelewatin perisai yang kubuat--


"Ah...!"


Pisau itu meledak dan hampir ngebakar seluruh tubuhku dari dalam perisai. Basen ngangkat kacamatanya dan berkata.


"Aku lupa bilang, semua yang bersentuhan dengan manaku akan meledak. Bahkan senjata dan udara di sekitar."


Jadi kalo mananya berhasil lewatin perisai ini, dia bisa meledakkanku kapanpun dia mau?


"..."


Apa yang harus kulakukan? Aku akan kehabisan mana kalo terus bertahan, tapi itu bukan berarti aku bisa ngehilangin perisai ini untuk fokus nyerang. Seakan ingin menyelesaikan semua ini dengan cepat, Basen ngebuat lebih banyak ledakan hingga aku ngerasa dunia telah meledak bersamanya. Sadar bahwa ga ada lagi harapan, aku gigit bibir dan berniat untuk ngeledakkin diriku di dekat Basen. Tapi sebelum aku ngambil langkah maju, aku ngelihat sesuatu yang bikin aku terheran.


“Angin?”


Udara di sekitar berlari ke sana kemari seakan ingin nyelametin diri dari ledakan ini, tapi setiap kali sebuah ledakan menghalangi jalan mereka, mereka tersentak dan lari ke arahku. Sadar kalo mereka akan aman selama berada di dalam perisai yang kubuat, mereka nari-nari seakan manggil teman-temannya yang masih ada di luar. Hingga akhirnya, semakin banyak angin berkumpul ngelilingin aku dari dalam perisai.


"Apa ini?"


Kenapa aku yang sejak lahir ga punya afinitas elemen tiba-tiba bisa lihat angin?


Tanpa tau apa yang ada di pikiranku, kumpulan angin ini mandang aku dan nari-nari seakan ingin bilang sesuatu.


“...Kalian mau bantu?”


Mereka ngangguk dan ngitarin tubuhku. Aku ga ngerti apa yang terjadi, tapi kayaknya aku telah dapet afinitas angin.


“Kalo gitu, bisa kalian perkuat perisai ini?”


Seketika, mereka nyebar dan ngitarin perisaiku dari luar dan dalam. Aku memberikan sedikit mana untuk mereka yang pergi ke luar, karena takut Basen akan meledakkan tubuh mereka jika bersentuhan langsung dengan mananya. Seakan ngerti maksud tindakanku, mereka lompat kegirangan dan bergerak lebih cepat. Seketika, pusaran angin ngitarin aku sebagaimana pusaran itu ngelindungin Lily sebelumnya. Dan nampaknya, bukan cuma aku yang terkejut pas lihat hal ini.


“Kau… Sejak kapan kau bisa menggunakan sihir elemen?”


Basen ngejatuhin bukunya dan hanya mandang pusaran angin yang tercipta.


“Terlebih... Kenapa aku bisa merasakan efek traceless darinya?"


Kali ini, bahkan aku pun ikut tercengang mendengarnya. Apa maksudnya efek traceless? Bukannya itu karunia Lily? Penasaran dengan hal ini, aku nyoba ngegerakkin angin di luar pusaran untuk nyerang Basen.


Seketika, pisau angin melesat ke arah Basen. Dan saat pisau itu hanya berjarak beberapa centi di depan wajahnya, baru lah Basen tersadar dan segera ngehindar. Pisau itu pun terus melesat hingga akhirnya ngebelah pohon di belakang Basen jadi 2.


Terkejut dengan apa yang baru terjadi--


“...”


“…”


--Kami saling pandang untuk beberapa waktu.