MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 2. Escape(2)



Cahaya lilin menari di sepanjang koridor yang sepi. Meski bulan masih bersinar di langit tinggi, tak setitik pun cahayanya sampai ke tempat ini. Wajar, kurasa, mengingat koridor ini terletak jauh di bawah tanah. Assassin seperti kami pada umumnya memang bisa melihat di tempat gelap, tapi sebagai otaku dan manusia abad 21, aku senang karena menemukan sumber cahaya.


Tempat ini memang jarang dilalui manusia, tapi bukan berarti tidak ada jebakan ataupun penjaga. Tidak jarang aku harus melumpuhkan para penjaga untuk melanjutkan perjalanan. Ditambah lagi aku harus melakukannya tanpa suara agar penjaga lain tidak mengerumuniku dengan segera. Terlepas dari semua itu, ada satu hal yang sangat kusyukuri.


Aku tau cara Leonhart bertarung. Setelah belasan kali merasa kesal karena terus dikalahkan olehnya, aku menghabiskan berminggu-minggu waktuku untuk mencari tau semua kelemahan dan kekuatannya. Karena itu aku bisa mengatakan dengan yakin, bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa memaksimalkan kekuatan musuh bebuyutanku ini. Meski Leonhart sendiri mungkin belum menyadarinya, pria ini akan tumbuh menjadi karakter tercepat di permainan.


"Ack...!"


"Keuk...!"


Maksudku, lihat saja betapa mudahnya aku melumpuhkan para penjaga. Aku cukup muncul dari bayangan mereka, serang dengan listrik, dan mereka akan berjatuhan seperti boneka yang putus talinya. Meski tidak sekuat protagonis dengan karunia busuknya itu, Leonhart bisa menang dengan mudah jika serangan lawan tidak pernah mengenainya. Ya, protagonis busuk itu terlalu kuat sampai bisa membunuh semua Raja Iblis selain Baal seorang diri. Sayangnya Leonhart punya kekurangan.


"Ugh..."


Dalam kondisi normal, Leonhart tidak bisa menggunakan sihir jarak jauh tanpa bantuan alat seperti busur atau senapan. Ditambah lagi, Leonhart sangat lemah sampai-sampai menggunakan karunianya sedikit saja bisa membuatnya sekarat. Berbeda dengan protagonis yang meski lemah di awal, bisa menjadi sekuat idiot dengan status maksimal di semua bidang. Jika aku bertemu tim developer, aku pasti akan menarik kerah mereka dan berujar: 'Kenapa game balance kalian sebusuk ini?!' Tentu saja, jangankan bertemu, aku malah terjebak di dunia ini sebagai antagonis yang akan mati di tangan protagonis.


Aku tidak ingin bertemu dengannya.


Siapa saja, tolong jauhkan dia dariku!


Sayangnya, tak seperti dunia nyata. Doa di Magical Bloodshed sama saja dengan menjedotkan kepala ke dinding. Bahkan tidak jarang permintaan player akan diputarbalikkan oleh tim developer. Alasan mereka adalah agar permainan terasa 'lebih mendebarkan'. Itulah yang membuat kami berdebar menahan marah tiap kali ada update baru dari mereka. Aku pikir update kali ini akan berbeda setelah mendengar isak lirih tim developer di bulan ramadhan, tapi semua hanyalah dusta! Mereka adalah virus manusia yang membuat para pemujanya menjadi ateis dan kembali ke Tuhan yang Maha Esa!


Di saat aku mengutuk mereka dalam hati.


"Hm?"


Assassin yang paling tidak ingin kutemui berdiri di depanku. Dresden, pria dengan luka x di pipi dan tubuh kekar bagai gorilla. Sayangnya, dia bukan gorilla biasa, tapi assassin peringkat 4 berusia 23. Jika bukan karena tindakannya yang mudah ditebak dan otaknya yang bodoh, Dresden mungkin sudah berada di peringkat tiga besar sejak dulu. Tanpa menyadari apa yang kupikirkan dalam hati, Dresden tertawa lepas dan berkata.


"Leonhart? Ahahaha! Akhirnya. Akhirnya elu berkhianat! Ngga sia-sia gua berdiri di sini dari pagi."


"...Aku tau kamu kurang kerjaan, tapi, dari pagi? Seriusan? Bagaimana kalo aku tidak datang malam ini?"


"Ha? Akting lu mungkin cukup buat ngelabuin semua orang. Tapi insting gua berkata lain! Gua tau elu suka sama Zion dan ga mau bunuh dia, mangkannya gua percaya elu bakal dateng ke tempat ini.”


Dresden menyeringai. Meski yang menyukai Zion adalah Leonhart dan bukan aku, aku memilih diam karena tidak ingin berdebat. Tapi jujur, aku tidak menyangka insting Dresden setajam ini. Mereka bilang binatang buas punya insting yang tajam, tapi baru kali ini aku mengerti artinya.


“Hehe, kenapa diem? Apa elu lagi mikir caranya lari? Percuma. Elu ga akan bisa lari. Karena gua bakal bunuh elu sendiri di tempat ini.”


“… Huh? Kau belum melaporkanku ke instruktur?”


“Buat apa? Udah lama gua gedeg sama tingkah elu. Mana mungkin gua lapor ke mereka kalo gua sendiri cukup buat ngurus elu.”


Sadar bahwa para instruktur tidak akan mengepungku di tempat ini, aku menghela nafas lega dan berkata.


“Aku bersyukur karena yang menyadari semua ini hanyalah kau.”


“… Apa kau baru saja membandingkanku dengan si keparat Basen? Sama seperti yang selalu mereka lakukan?!”


Dresden memicingkan mata, nampak geram atas kesalahpahaman yang ia buat sendiri. Melihat sosoknya yang ditelan emosi seperti ini, aku memiringkan kepala tak mengerti. Ia nampak seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Apa aku bisa membujuknya? Mungkin ini tidak ada gunanya, tapi aku tetap memberanikan diri dan bertanya.


"Dresden, aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu. Bisa kau minggir?"


"Oi oi, kenapa jadi gua yang harus pergi? Apa elu pikir gua takut sama lu?"


Dresden menyeringai. Ia nampak yakin bahwa ia bisa mengalahkanku. Melihatnya masih sering meremehkan lawan, aku menghela nafas lega. Jika tidak begitu, mungkin aku yang sekarang tidak akan bisa menang melawannya.


Dresden menggenggam kapak merahnya. Sadar bahwa tidak ada jalan selain bertarung, aku mengambil senjata favorit Leonhart dari bayangan di dinding. Sebuah gunblade dengan tipe revolver.


Senjata ini sangat jarang digunakan karena bentuknya yang unik. Meski memiliki bilah tajam sepanjang pedang, tubuhnya adalah senapan, sehingga bisa digunakan untuk menyerang dari dekat dan jauh. Sayangnya, banyak player yang menelantarkan senjata ini karena tingkat kesulitannya yang tinggi. Tentu saja aku adalah salah satu pengecualian. Berkat dedikasi kami untuk menguasai semua jenis senjata dan skill yang ada, player seperti kami mendapat julukan Masochist Platoon dan No-Lifer di komunitas para gamer.


Keuk...! Kenangan ini terlalu indah sampai air mataku berlinang!


"Brengsek kau, Dresdeeeeen!"


"Kenapa lu tiba-tiba marah, Kampret?!"


Kehilangan kesempatan untuk mengambil inisiatif, Dresden mengaum dan menepis tebasanku dengan kapaknya. Ia mengambil langkah maju dan mengayunkan kapaknya sekuat tenaga. Seketika, tempatku berpijak sesaat lalu hancur seperti gelas yang pecah.


“...”


Kelihatannya aku harus menghindari semua serangannya.


Seakan tak ingin memberiku waktu untuk berpikir, Dresden mengayunkan kapaknya ke segala arah, mencoba membelah tubuhku menjadi dua, tapi aku segera menyelimuti tubuhku dengan petir dan melesat ke segala arah. Menghindari semua serangan yang datang. Melihat gerakanku yang semakin lama semakin cepat, Dresden terbelalak dan terpaksa untuk mundur. Tapi semua itu tidak ada gunanya. Setelah memaksaku untuk bertarung di sini, mana mungkin aku akan membiarkannya lari?


Listrik memantul dari seluruh koridor, berusaha mengimbangi kecepatanku yang melesat ke segala arah. Setiap kali kilatan petir terlihat, suara logam yang beradu terdengar di telinga. Saat Dresden terbiasa dengan pola seranganku, aku mengacaukan ritmenya dengan menghilang ke dalam bayangan dan menyerang dari tempat lain. Dan saat ia pikir aku akan muncul dari bayangan, aku menembakan peluru listrik ke tubuhnya yang hanya dilapisi zirah.


"Ack...!”


“Mustahil… Ini mustahil! Sejak kapan kau sekuat ini?!"


Keringat membasahi kening Dresden, seakan tidak pernah terbesit di benaknya bahwa si mangsa akan menjadi pemangsa. Ia tidak percaya bahwa dirinya bisa terpojok seperti ini, terlebih oleh pria yang usianya jauh lebih muda darinya.


"Peringkat 10 sepertimu...Peringkat 10 sepertimu...!!"


"Kau masih percaya peringkat konyol itu? Kita ini assassin, wajar jika kita punya satu atau dua kartu as yang kita sembunyikan.”


Seakan menyadari bahwa ia tidak bisa terus begini, Dresden menggigit bibir dan mengaum dengan mata memerah.


"LEOOON!!!"


Seketika aura merah mengelilingi tubuhnya. Tubuh Dresden membengkak dan ototnya membesar tak karuan. Jika bukan karena melihat sendiri perubahannya, tak seorang pun pasti percaya bahwa monster di depanku adalah manusia. Ia memandangku dengan mata merahnya dan berkata.


"Jangan sombong dulu. Gua juga punya kartu as yang gua sembunyiin. Ahaha! apa elu kaget? Apa elu tau karunia apa yang gua punya?”


“Berserk, kan?”


“Setelah lihat karunia gua, jangan harap elu masih bisa hidup dan--”


Dresden berhenti tertawa. Ia memandangku dan berkata.


“Barusan, elu bilang apa?”


“Karuniamu, berserk kan? Kemampuan untuk meningkatkan kekuatan fisik 5 kali lipat dari semula. Sayangnya, mengingat efek samping karuniamu adalah hilangnya kemampuan sihir … Heh. Sepertinya karuniamu tidak seberapa.”


Ekspresi Dresden membeku. Ia memandangku seperti baru melihat setan.


Setiap orang yang lahir ke dunia pasti memiliki kekuatan khusus yang disebut karunia. Karunia ini bersifat tetap dan permanen. Meski begitu, 2 orang yang memiliki karunia serupa bisa saja punya kekuatan yang sangat berbeda. Berserk, misalnya, jika digunakan oleh orang yang kekar seperti Dresden, bisa menjadi karunia yang sangat mematikan terlepas dari efek sampingnya.


“LEOOOOON!”


Merasa bahwa provokasinya telah gagal dan kelemahannya diketahui, Dresden mengaung seperti binatang buas yang hilang kewarasan. Ia melesat ke arahku dan membanting kapaknya ke lantai, menciptakan ledakan aura yang berusaha menelan dan menghancurkan tubuhku tak bersisa. Aku berhasil menghindari beberapa serangannya, tapi karena berserk juga meningkatkan kecepatan serangnya, Dresden terus memojokkanku tanpa memberi jeda untuk istirahat. Melihatku hendak lari ke bayangan di dinding, Dresden mengumpulkan aura di kapaknya dan menghempaskannya sekuat tenaga ke tanah, menciptakan ledakan cahaya yang berusaha melenyapkanku bersama semua bayangan di koridor.


'Gawat.'


Aku segera melompat mundur dan menarik pelatuk ke arah ledakan, memanfaatkan recoil dan peluru petir yang muncul untuk mendorongku menjauh. Sayangnya, ledakan itu berhasil mengenai dan menghempaskanku ke kejauhan. Dresden tidak melewatkan kesempatan ini. Ia melesat ke belakangku dan menunggu dengan kapak terangkat. Seakan percaya bahwa kemenangan sudah berada di tangannya, Dresden menyeringai hingga nampak taringnya. Ia menghempaskan kapaknya ke tanah, berusaha menebas tubuhku yang masih melayang diudara. Untungnya, aku lebih cepat dan segera menembakkan peluru ke tanah, memanfaatkan recoil yang tercipta untuk melesatkan tubuhku ke atas kepalanya. Dresden terbelalak tak menyangka aku bisa menghindari serangannya, ia memandang ke langit hanya untuk berhadapan langsung dengan senapan yang dipenuhi peluru listrik bertegangan tinggi.


"Sekakmat."


"...!"


Seketika, dunia diliputi cahaya. Bersama suara senapan dan percikan listrik yang memecahkan sesuatu layaknya semangka. Saat cahaya telah hilang sepenuhnya dan kegelapan kembali menyelimuti dunia, hanya keheningan yang menyambut kami di koridor ini.


"Maaf. Kau yang memaksaku melakukan ini...”


Tidak lama, jasad Dresden tersungkur ke tanah. Jika aku tidak membunuhnya selagi ada kesempatan, aku yakin jasadkulah yang akan terbaring sekarang. Sebelumnya, aku bertanya-tanya apa dunia ini asli atau hanya ilusi. Tapi setelah bertarung melawan Dresden, akhirnya aku menemukan jawaban yang kucari.


Dunia ini asli.


Ada 2 alasan kenapa aku berkata begini:


Pertama, aku bisa merasakan panasnya ledakan yang Dresden hasilkan, serta luka gores akibat beberapa serangan yang gagal kuhindari. Padahal teknologi virtual reality di bumi belum berkembang sepesat itu. Jadi aku bisa berkata dengan yakin bahwa dunia ini bukanlah dunia virtual.


Kedua dan alasan terpenting, jasad lawan yang kukalahkan tidak lenyap menjadi partikel cahaya seperti di dalam permainan.


Melihat jasad Dresden yang tanpa kepala, serta bercak darah dan daging yang bercecer di tanah, aku menggigit bibir menahan mual. Karena meski bagi Leonhart bunuh-membunuh adalah hal biasa, bagi Ariel, ini adalah pembunuhannya yang pertama.


Aku merasa pusing dan terhuyung menyandarkan tubuhku ke dinding, tapi apa gunanya? Jika dunia ini nyata, maka aku harus terbiasa dengan semua ini untuk bertahan hidup, karena sejauh yang kutau, Magical Bloodshed adalah dunia yang dipenuhi konflik dan pertumpahan darah. Justru aku beruntung karena korban pertamaku adalah penjahat yang tidak boleh dibiarkan hidup di dunia. Aku tidak perlu merasa bersalah. Itu benar, aku tidak salah. Aku tidak punya pilihan selain membunuhnya.


Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri dan pergi ke depan pintu yang kucari. Room of Zeroth. Dibalik pintu ini adalah sosok yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh siapapun. Raja Iblis terkuat di antara semua Raja Iblis, Baal.


Aku datang ke sini setelah mempersiapkan diri untuk mati. Tapi sekarang, setelah menyadari bahwa dunia ini asli, apa aku punya kesiapan yang sama untuk mati? Apa yang akan terjadi jika aku mati? Apa Ariel akan kembali ke bumi meninggalkan jasad Leon di sini? Atau kami berdua akan binasa untuk selamanya? Dan lagi, jika yang mengendalikan tubuh Leonhart saat ini adalah Ariel, apa yang terjadi pada Leon yang sesungguhnya?


Aku menggeleng kepala. Bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Ada hal lebih penting yang harus kulakukan jika masih ingin hidup lebih lama.


Aku menarik nafas panjang dan membuka pintu di depanku. Kegelapan menyambutku sejauh mata memandang. Ruangan luas yang berdebu ini terkesan hampa, tapi aku tau ada sesuatu di sana. Aku tau ada sesuatu yang memandangku dari tengah ruangan, tepat di atas altar berbentuk aneh yang membuat siapapun yang memandangnya merasa jijik, sesuatu memandangku dari benda yang berdenyut.


Sebuah jantung dengan 2 mata di 1 lubang. Dan segera setelah sepasang mata itu bertemu denganku--


“…!”


Kegelapan menelan dunia dan tubuhku sepenuhnya.