MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 4. Escape(4)



Baal’s POV


---


Anak lelaki yang tidak tergoda oleh segala kenikmatan duniawi. Baru kali ini aku bertemu manusia seperti ini. Makhluk yang lemah secara fisik dan psikis ini umumnya tidak akan bisa menang melawan nafsunya sendiri, terlebih melawan iblis yang bisa melihat ke dalam hati seperti kami. Karena itu aku sangat tertarik kepada anak ini, karena tidak hanya ia mampu mengalahkan hawa nafsunya dan melampaui batasannya sebagai manusia yang lemah, ia juga punya jiwa yang sangat istimewa. Jiwa seorang pria yang datang dari bumi pada tahun 2025. Aku ingin tau penyihir mana yang membawa jiwa pria ini sejauh itu dari masa lalu, dan apa tujuannya melakukan hal konyol seperti itu. Tapi saat melihat jauh ke dalam jiwa pria ini, aku menyadari bahwa aku terlalu menaruh harapan tinggi padanya.


“Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia.”


Melihat sosok yang hanya diam mematung layaknya jasad yang telah kehilangan rohnya, aku tertawa dan menggeleng kepala. Sama seperti iblis yang pada dasarnya bersifat angkuh dan kasar, dia hanyalah manusia lemah yang terlalu terpaku kepada rasa cinta dan emosinya terhadap dunia. Aku masih tidak mengerti bagaimana makhluk lemah seperti mereka pernah berdiri di puncak rantai makanan ratusan tahun lalu, tapi kejayaan mereka berakhir setelah terbukanya portal dimensi dan kedatangan *m**ana* serta berbagai ras yang berperang memperebutkan dunia ini. Jika bukan karena karunia yang mereka dan bangsa elf punya, mereka pasti sudah musnah bersama ras lain yang berani melawan kami.


“Tapi setelah mengambil alih tubuh ini… Hehe, tidak akan ada yang bisa menghentikanku.”


Awalnya, aku berniat untuk turun ke dunia setelah kekuatanku pulih sepenuhnya. Tapi siapa sangka anak lelaki ini akan datang mengantarkan sendiri tubuhnya untukku. Seorang pengguna petir ungu yang tidak biasa, serta elemen kegelapan yang begitu pekat dan menggambarkan kebencian yang tersimpan di hatinya. Lupakan elemen petirnya, kegelapan ini saja menjadikannya kandidat sempurna untuk kebangkitanku ke dunia. Tidak hanya ia memiliki kecocokan sempurna denganku, ia bahkan datang bersama bonus yang membuatku lompat kegirangan. Mana mungkin aku melewatkan tubuh selezat ini?


“Sudah saatnya.”


Bagiku memang baru beberapa menit berlalu sejak kedatangannya. Tapi baginya … Entah berapa kali ia telah menghidupi kembali mimpi terburuknya di ilusi itu. Melihat bahwa lelaki ini sudah terperangkap di dunia ilusi untuk sekian lama, aku mengubah jantung dan sisa tubuhku menjadi kegelapan, menyelimuti tubuhnya, dan merasukinya dari berbagai lubang dan pori-pori yang ada. Tapi saat aku sampai dan hendak memodifikasi jantungnya.


“Hm?”


Aku sadar bahwa jiwanya masih berada di sana.


“Dia belum tertelan?”


Aku menunggu beberapa lama, tapi aku masih juga tidak bisa mengambil alih tubuhnya. Meski kekuatanku saat ini masih tersegel, tapi hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jiwa pria itu masih memegang kendali tubuh ini. Merasa ada yang tidak beres dengan semua ini, aku pergi ke oraknya untuk melihat sendiri apa yang terjadi di ilusi yang kubuat. Dan saat aku melihat ke dalamnya.


“Heuk…!”


Aku mendapati lelaki itu memandang balik mataku. Matanya terlihat merah, giginya gemeretak, dan wajahnya terlihat lebih mengerikan dari semua iblis yang pernah kulihat. Melihat lelaki yang nampak sangat ingin membunuhku itu, aku terbelalak dan berkata.


“Mustahil … Ini mustahil! Kenapa kau masih punya akal sehat?! Kenapa jiwamu belum hilang seluruhnya?! Bukankah kau telah menghidupi kembali mimpi buruk yang memerangkap jiwamu di realita?!”


Lelaki itu mengepal tangan sampai-sampai aku merasa darah segar akan menetes darinya.


“Aku memang telah mengalami kembali kejadian hari itu. Suara tangisnya, hangat tubuhnya, raut wajahnya. Semua persis seperti apa yang kualami di realita. Tak ada satupun yang berubah. Baik itu kejadian yang menimpanya, ketidakberdayaanku yang tak mampu berbuat apa-apa … serta kematiannya yang seakan direncanakan.”


Lelaki itu mendekat dan berkata.


“Tapi, Baal. Taukah kau seperti apa rasanya mengulang kejadian itu untuk belasan, puluhan, ratusan, dan ribuan kali banyaknya? Aku berpikir, berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Bagaimana cara menyelamatkan adikku? Bagaimana cara keluar dari ilusi ini? Dan kau tau jawaban yang kutemukan?”


Ia menyeringai seakan telah kehilangan kewarasan.


“Adikku tidak bisa diselamatkan. Setidaknya di dunia ilusi ini. Tak peduli sekeras apapun aku mencoba. Tak peduli meski aku membawanya lari dari kota, atau membunuh semua orang yang telah melukainya, apapun yang kulakukan, pada akhirnya adikku tetap akan binasa. Setelah menyadari bahwa ini bukanlah realita, tapi mimpi buruk yang sengaja dibuat untuk menghidupi kembali luka terdalam yang pernah kualami, aku menyadari bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari ilusi ini … adalah dengan menerima sepenuhnya kematian adikku, sesuai dengan apa yang terjadi di realita.”


“Taukah kau betapa bencinya aku melakukan itu? Betapa murka dan bencinya aku kepada sosok yang memaksaku melakukan hal itu? Baal, tidak ada yang menahan jiwaku untuk tetap tinggal di tubuh ini selain kebencian dan kemurkaan yang kurasakan padamu.”


Saat pria itu mengangkat wajah dan memandangku untuk kali kedua, seluruh tubuhku merinding dan memperingatkanku akan betapa bahayanya pria ini. Otakku menyuruhku untuk lari dan sembunyi, tapi hatiku merasa enggan dan terus membantah.


Kau pikir aku takut? Kepada manusia yang rendah dan hina sepertinya? Jangan bercanda! Aku adalah Baal! Raja dari semua Raja Iblis! Ras terkuat yang akan menguasai dan menghancurkan dunia!


“Hehe.”


Menyadari betapa konyolnya situasi ini, aku terkekeh dan berkata.


“Memang kenapa jika kau membenciku? Memang kenapa jika jiwamu masih ada di sini? Perlawananmu tidak ada artinya. Pada akhirnya, aku memang tidak bisa mengusir jiwamu dari tubuh ini, tapi aku hanya perlu mengerahkan sedikit lebih banyak tenaga untuk melenyapkan jiwamu dengan tanganku sendiri.”


“Ho? Kau bicara seolah punya kekuatan untuk melakukan itu.”


“Kau...”


Melihatnya memandangku seperti serangga yang rendah dan tak berdaya, aku kehilangan kesabaran dan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menembakkan kegelapan yang lebih pekat dan lebih kuat dari sebelumnya ke arahnya. Seketika, dinding dan lantai yang bersentuhan dengan kegelapan itu meluruh seperti daun yang dimakan ulat, rerumputan dan makhluk hidup membusuk layaknya molekul yang terdekomposisi. Di dunia ilusi yang hancur perlahan, hanya pria itu yang masih berdiri di tengah semua ini. Seakan menertawakan betapa kecilnya kekuatan yang bisa kukerahkan, pria itu menyeringai dan berkata.


“Baal, apa kau lupa? Aku juga pengguna kegelapan.”


“!!!”


Segera setelah mengatakan itu, kegelapan yang semula merayap untuk menelan sang lelaki tiba-tiba berhenti dan balik menyerangku.


“Ack…!”


Setelah seranganku diambil alih dan diperkuat dengan kebencian yang memenuhi hatinya, aku menyesal karena bersikap keras kepala dan tidak mendengarkan peringatan yang diberikan otakku. Aku harus pergi. Aku harus lari dari sini. Aku harus lari sebelum ditelan oleh pria ini! Segera setelah memutuskan hal itu, aku mengumpulkan sisa-sisa tubuhku dan kembali ke altar dalam wujud semula. Meski tubuhku tidak bisa binasa, ia berhasil melukai jiwaku cukup dalam.


“Kau…!”


Sebelum aku mampu menyelesaikan perkataanku, sebuah gunblade terhunus tepat ke depanku.


“Selamat tinggal, Baal!”


“…!”


Seketika, hanya suara menggelegar petir dan cahaya ungu yang memenuhi ruangan.


---