MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 17. Freedom(3)



“Ini dia.”


Kata Jason seraya memandang gerbang di depan kami.


Melihat gerbang besar dan rumah mewah di kejauhan, aku ingat bahwa tempat ini memanglah kediaman Hagen. Tempat ia mengurung gadis-gadis tak berdosa dan memperjual-belikan mereka ke pasar gelap.


Ingin sekali rasanya aku segera menyelinap ke dalam sana, tapi menunda-nunda sama buruknya dengan tergesa-gesa. Karena itu kami hanya mengintip dari balik semak-semak untuk sementara.


Gerbang ini bukan hanya dikelilingi oleh anjing dan penjaga, tapi juga oleh kawat duri dan perangkap bawah tanah yang terbentang sejauh mata memandang. Ditambah lagi, aku sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan mana di dalamnya. Melihatku mengangkat alis seakan teringat sesuatu, Jason mengangguk dan membenarkan dugaanku.


“Anti-Mana”


Kata Jason, memandang bangunan di balik gerbang.


“Mulai dari gerbang itu, sampe pohon tertinggi di ujung sana. Semua adalah zona anti-mana. Yang berarti, bukan cuma kita ga bisa pakai sihir di sana...”


“Kita juga tidak bisa menggunakan artifak, atau karunia apapun yang berhubungan dengan mana.”


Jason mengangguk dengan wajah muram. Ia memandangku dan berkata.


“Aku bukannya ngeraguin kakak. Tapi setelah lihat semua ini, apa kakak bakal baik-baik aja? Maksudku, sebesar apapun mana kakak, kakak ga bakal bisa gunain mana itu.”


“Oh? Kamu khawatir padaku?”


“Bukan! Aku cuma khawatir sama nasib temen-temenku. Hmph! Pede betul kakak sampe bilang gitu. Huh, apa peduliku sama kakak? Apa kakak narsis? Apa kakak bodoh?”


Ia melanjutkan seraya membuang wajah.


“T-Tapi yaa, meskipun kakak berhasil, coba untuk tetep idup, ok? Aku ga mau repot-repot ngurusin mayat kakak.”


“Tentu.”


Aku menyeringai dan mengacak-acak rambutnya. Membuatnya menggeretakkan gigi seakan menyesali kenapa ia bisa terlibat dengan orang sepertiku. Tentu saja, aku tidak menghiraukannya dan hanya berkata.


“Terimakasih, selanjutnya biar aku yang tangani.”


Jason tidak mengatakan apa-apa dan hanya memandangku, seakan ingin memastikan keyakinan yang ada di hatiku. Merasa bahwa memang itulah jalan terbaik, Jason menghela nafas dan menjauh dari tempat ini. Setelah memastikan bahwa Jason telah hilang dari pandangan, aku memandang kembali gerbang besar yang ada di depan.


Aku ingat bahwa zona anti-mana ini adalah efek dari sebuah artifak. Jangkauannya memang terbatas, tapi selama artifak ini mendapat supplai kristal mana, artifak ini akan terus aktif untuk selamanya. Mengingat harta kekayaan Hagen yang pasti berlimpah setelah ia kumpulkan sekian lama, memotong aliran uang atau menunggu artifak ini berhenti bekerja adalah hal yang tidak ada gunanya.


Tapi itu bukan berarti aku bisa membunuh penjaga sebanyak ini dengan kekuatan fisikku semata. Terutama setelah mengingat bahwa tempat ini terkenal dengan penjagaannya yang ketat dan kasar. Apa aku tidak punya pilihan selain menyelinap ke dalam?


Saat ini, yang masyarakat ketahui tentang Hagen adalah bahwa ia merupakan salah satu pebisnis terkaya di Jakarta. Karena itu sesekali akan ada pedagang yang datang untuk mencoba peruntungannya dengan menawarkan barang dagangannya ke tempat ini.


Tapi pedagang yang dipandang sebagai tokoh penting pun akan langsung diusir oleh para penjaga. Bahkan tidak jarang barang mereka akan ‘diinspeksi’ dan ‘diamankan’ karena dinilai mencurigakan. Selain itu, jika mereka membawa pengawal wanita yang cantik jelita, terutama yang berasal dari kaum elf, mereka akan ditangkap karena dicurigai sebagai mata-mata hingga sosoknya tidak pernah lagi terlihat untuk selamanya.


Tentu saja beberapa orang mencoba menuntut keadilan dari pria ini. Tapi karena tidak pernah ada ‘bukti’ yang mendukung tuduhan mereka, dan banyaknya orang yang karena ‘berbagai alasan’ menarik tuduhannya, Hagen selalu bisa lepas dari jeratan hukum negeri ini.


Reputasi inilah yang membuat Hagen dijauhi hingga tak seorang pun mendatangi lagi tempat ini.


Jika warga sekitar ditanya orang seperti apakah pria ini, mereka pasti akan menjawab bahwa dia adalah ‘orang yang serakah’. Sayangnya, aku tau bahwa pria gemuk ini lebih busuk dari kelihatannya.


Jika ia penjahat biasa, aku mungkin akan merasa enggan untuk berurusan dengannya. Tapi aku tau bahwa ia juga akan mengkhianati umat manusia jika terus dibiarkan. Ia menculik dan memperbudak para gadis, lalu menjualnya ke kalangan atas dan menggunakan kekayaannya untuk menyejahterakan bangsa iblis dan pengkhianat lainnya dari kalangan manusia. Karena itu aku tidak punya pilihan selain menanganinya sekarang sebelum ia bergabung dengan pasukan iblis dan menjadi duri yang menghalangi rencanaku.


Sekarang, apa yang harus kulakukan?


Saat aku memikirkan bagaimana cara untuk menyelinap ke dalam, aku mendapati sebuah mobil truk yang tengah mendekat dari kejauhan. Truk itu memiliki simbol yang sama dengan yang tertera di pintu gerbang. Dan saat aku mendekat untuk memastikan dugaanku.


“Sempurna.”


Beberapa gadis dengan pakaian kumuh dan tangan terikat terlihat di dalamnya. Aku menyeringai karena berhasil menemukan mangsa. Setelah bersiap untuk menjalankan rencana yang telah kubuat, aku mendekati truk itu dan bersabar untuk menyerang di waktu yang tepat.


Saat truk itu tertutupi seluruhnya oleh semak-semak dan pepohonan di sekitar, barulah aku melesat dan menghunuskan gunbladeku untuk menebas sang pengemudi dan beberapa penjaga yang tengah ‘bermain’ bersama para budak.


Melihat para pria bertubuh kekar ini mati tanpa mampu menjerit meminta pertolongan, para gadis berteriak dan memandangku seperti baru saja melihat setan. Mereka segera menjauh dan meringkuk di pinggiran, memeluk tubuhnya yang hampir tanpa pakaian dengan tangan bergetar. Beberapa bahkan mulai menangis atau pingsan setelah melihat bercak darah dan organ yang berceceran di sekitar.


“Ah...”


Apa aku terlalu berlebihan?


Aku memandang telapak tanganku dan sadar bahwa sejak datang ke dunia ini, aku semakin terbiasa dengan bunuh-membunuh. Sekalipun semua yang kubunuh selama ini hanyalah orang-orang yang mencoba membunuhku atau orang jahat seperti mereka, perubahan ini terlalu drastis mengingat betapa terguncangnya aku saat melakukan pembunuhan pertamaku beberapa waktu yang lalu.


Apa yang terjadi? Apa ini karena tubuh Leonhart mulai ingat bahwa ia telah membunuh begitu banyak orang? Sampai-sampai semua saraf yang ada di tubuh ini tak lagi terguncang dan peduli dengan ini? Atau pengaruh Baal yang terus membisikkan kejahatan dan berusaha mengotori hatiku hingga detik ini?


Apapun alasannya, apapun penyebabnya, aku mengepal tangan yang berlumuran darah ini dan sadar bahwa aku benar-benar telah berubah.


Aku memandang langit-langit malam mencari secercah cahaya di tengah gelapnya malam.


Apa aku masih bisa disebut manusia?