MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 11. Escape(11)



“Kau...”


Basen terbelalak mandang aku.


“Kau bisa mengambil kekuatan lawan?! Tapi karena kau juga nampak terkejut... Aku mengerti… Sepertinya kau juga baru tau hal ini."


Basen ngambil jarak dan ngangkat tongkat sihirnya ke langit. Seketika, dunia yang semula dipenuhin ledakan kembali sunyi seakan ingin bilang kalo semua itu cuma ilusi. Tapi angin di sekitarku berkata lain. Mereka berlarian ke sana kemari seakan sadar betapa bahayanya situasi ini. Ngerasa heran dengan sikap mereka yang nunjuk langit dan jerit-jerit seakan dunia akan kiamat, aku ngikutin pandangan mereka dan tersentak pas tau apa yang mereka lihat.


Di langit tanpa rembulan dan cahaya bintang, di langit yang seharusnya cuma dipenuhi awan hitam dan gelapnya malam, sebuah matahari bersinar terik menyolok semua mata yang memandang. Matahari itu meletup-letup seakan ga mampu nahan amarah yang tuannya rasa. Ngelihat Basen tersenyum bengis ke arahku, aku sadar bahwa semua ini disebabkan olehnya.


"Zion Airisa, variabel tak diketahui sepertimu, tidak boleh dibiarkan hidup dan mengganggu rencana kami."


Matahari itu membesar dan terus membesar. Hingga saat kupikir matahari itu akan meledak kalo jadi lebih besar dari ini--


""


--Basen bergumam dan ngarahin tongkatnya padaku.


"Bakar dia hingga ke abu."


Seketika, matahari itu mengaum nurutin keinginan tuannya. Layaknya terdakwa yang divonis hukuman mati, aku hanya terbelalak mandang matahari yang perlahan jatuh ke bumi. Angin di sekitar nyuruh aku untuk lari, tapi aku tau selama Basen masih berdiri, aku ga akan pernah bisa lari dari serangan ini.


Aku ngegigit bibir dan maksa jantungku bekerja ekstra, ngerahin seluruh kekuatanku yang tersisa untuk bikin lapisan demi lapisan perisai mana. Sadar kalo aku mutusin untuk tetap berdiri, angin di sekitar saling pandang dan ngangguk nyepakatin sesuatu.


Mereka minjemin kekuatannya dan nguatin perisai-perisai itu dengan membuat pusaran demi pusaran angin di tiap lapisnya. Lalu mereka natap matahari yang jatuh ke bumi seakan ingin bilang mereka lah yang akan ngelindungiku kali ini. Semakin lama, pusaran angin yang mereka buat semakin kuat, seakan menggambarkan kebulatan tekad mereka yang juga terus menguat.


Seketika, ga ada lagi yang bisa nyentuh aku dari luar pusaran angin ini. Baik itu dedaunan yang beterbangan, maupun ular dan binatang buas yang berlarian seakan ingin menyelamatkan diri dari hutan dan sang mentari yang akan jatuh ke bumi. Semua yang bersentuhan dengan pusaran angin ini akan tercabik tak bersisa. Setelah lihat teman-temannya yang berakhir tragis, akhirnya binatang-binatang yang semula berlarian ke arahku kini nyebar kayak laut yang dibelah tongkat Nabi Musa.


Pas hutan kembali sunyi dan cuma ada kami di sini. Matahari itu akhirnya jatuh dan kena perisai pertama. Aku bisa denger kumpulan angin yang ngejerit nahan sakit. Sebagian mampu mencabik sedikit api sang surya, sebagian cuma mampu berhentiin pergerakannya untuk sesaat, tapi semua yang bersentuhan dengan raksasa itu berakhir tragis dan terbakar karena ga sanggup nahan panasnya mentari. Meski gitu, ga satupun dari mereka milih untuk ninggalin aku di sini. Ga satupun dari mereka milih lari dan nyelametin diri.


Pas lihat kumpulan angin yang terus terbakar, aku gigit bibir dan ngepal tangan. Bahkan sampe detik ini pun, aku cuma bisa dilindungi oleh mereka yang ada di sekitar. Pada akhirnya, aku masih sama seperti diriku yang dulu. Orang lemah yang cuma bisa dilindungi sesama.


Aku coba mandang Leon untuk terakhir kali, tapi jangankan lihat wajahnya, aku bahkan ga bisa lagi lihat apapun selain matahari yang dari tadi meletup-letup di depanku. Apa ini perpisahan kami? Apa akhirnya aku akan mati?


Tanganku bergetar. Paru-paruku protes seakan lupa caranya bernafas. Keringat bercucuran ngebasahin wajahku, entah karena rasa lelah atau panas api yang sejak tadi kurasa. Pengen banget rasanya aku nutup mata dan istirahat sejenak. Tapi aku belum bisa jatuh di sini. Aku ga boleh jatuh di sini.


Setelah lihat semua ini, Leon juga pasti bakal sadar betapa sia-sianya ngelawan Basen di kondisinya sekarang. Dan selama Basen cuma fokus nyerang aku, dia ga bakal punya tenaga untuk ngejar Leon meskipun Leon lari dari tempat ini.


Karena itu, aku harus tetap berdiri. Aku harus ngulur waktu selama mungkin dan ga boleh nyerah di sini...


Aku ngegigit bibir dan ngangkat tanganku yang demikian berat ke langit. Seketika, perisai mana yang tersisa bersinar dan nyerap semua mana yang kupunya.


Keinget sosok Lily yang tersungkur ke tanah setelah ngegunain mana lebih dari kapasitasnya, aku tertawa kecil karena sadar sebentar lagi aku juga bakal bernasib sama sepertinya. Tapi ga apa. Ga masalah. Selama Leon punya waktu lebih untuk nyelametin diri, aku ga keberatan meski harus kehilangan semuanya di sini.


Pas lihat matahari yang jatuh itu mulai melambat, kawanan angin di lapisan terakhir bernafas lega untuk sesaat. Tapi cuma itu. Matahari itu cuma jatuh sedikit lebih lambat. Dia tidak berhenti sepenuhnya. Bahkan setelah ngerahin semua kekuatan yang kami punya, matahari itu tetap jatuh seakan nertawain semua bentuk perlawanan yang kami beri. Hingga akhirnya, saat matahari itu memecahkan lapisan terakhir perisai buatanku.


"...!"


Aku bisa merasakan sesuatu dalam diriku hancur berkeping-keping. Aku muntah darah dan kehilangan seluruh tenaga. Pikiranku memutih. Dadaku terasa sesak seperti digenggam seseorang. Tanganku ga lagi bisa aku angkat. Kakiku mati rasa hingga aku bertanya dalam dada 'Apa sejak awal aku memang punya kaki?' Lalu seakan lupa caranya berdiri, aku hilang keseimbangan dan jatuh ke tanah. Tapi sebelum kepalaku berbenturan dengan bebatuan di tanah.


"..."


Sebuah tangan menangkap tubuhku dengan lembut. Sosok itu ngebuka mulutnya seakan tengah bilang sesuatu. Tapi aku ga bisa dengar. Aku lupa caranya mendengar. Meski gitu, entah kenapa pas sosok ini dekap aku di pelukannya, hangat tubuh yang aku rasa bikin aku nostalgia.


Ah… Dia belum lari…


Dia benar-benar…


Bodoh...


Nafasku yang semula tersengal kini melambat bersama detak jantungku yang terus menghilang. Keduanya begitu tenang sampe-sampe aku ngerasa kalo mereka bakal lenyap sepenuhnya pas aku nutup mata. Sayangnya aku ga sanggup nahan rasa kantuk yang terus datang menyerang. Pandanganku buyar bersama seluruh panca inderaku yang mati total.


Satu-satunya hal yang bisa kuingat sebelum hilang kesadaran, hanyalah sosoknya yang membelah matahari menjadi 2 dengan gunblade yang sangat kukenali di tangan.