MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 21. Freedom(7)



Aku dan Cinzia menyelinap ke kediaman Hagen. Bangunan megah yang terdiri dari 5 lantai ini terlihat sepi dan tak berpenghuni, tapi kami tau bahwa ada banyak penjaga yang bersembunyi menunggu kami. Bagaimana tidak, seekor monster tiba-tiba muncul dan menyerang tempat ini. Dan monster itu tiba-tiba pergi seakan tujuannya telah terpenuhi. Wajar jika mereka merasa was-was dan memperketat penjagaan. Bangunan ini juga pasti sengaja dibuat sepi agar kami lengah dan menunjukkan celah untuk mereka manfaatkan.


“Cinzia.”


“...”


Ia mengikuti arah pandangku. Melihat kerlip cahaya dari benda transparan yang berterbangan di langit malam, Cinzia mengernyitkan dahi dan berkata.


“Drone?”


“Mhm, dan cctv di arah mata angin.”


“Kelihatannya kita pasti akan ketahuan.”


“Kau bicara seolah sudah menduga itu.”


“Kamu pikir kenapa aku membuat pingsan semua penjaga yang kita temui?”


“Aku pikir kau ada masalah emosi.”


“Kamu cari mati?”


Aku mengangkat bahu dan berjalan menyusuri koridor. Sebenarnya aku yakin aku bisa menghindari semua kamera dan cctv untuk sampai ke tempat Hagen. Tapi aku tidak melakukannya karena penasaran dengan pelayan Rosemary yang satu ini. Aku memandang Cinzia yang berjalan di belakangku.


“...Apa?”


“Tidak, aku hanya heran kenapa kau berjalan di belakangku.”


“Aku lebih heran karena kamu menunjukkan punggungmu”


“Apa kau akan menebasku?”


“Aku menahan diri karena perintah tuanku.”


“Itulah kenapa aku berani menunjukkannya padamu.”


Cinzia memicingkan mata dan berjalan di sisiku.


“Kenapa? Apa kau berubah piki--”


“Jangan menoleh.”


“Apa?”


“Lukisan di sekitar, bisa menelan jiwamu.”


Aku memandang lurus ke depan dan menggunakan penglihatan periferal untuk mengamati sekitar. Dia benar, lukisan di sepanjang koridor punya sugesti yang bisa menghipnotis semua mata yang memandang. Aku tersenyum dan berkata pada gadis di sisiku.


“Dan kau menggunakan tubuhmu untuk melindungiku? Aku terharu.”


“Jangan bodoh. Aku menggunakan tubuhmu untuk melindungiku.”


“Kau hanya malu, aku mengerti… Ah, hati-hati dengan langkahmu.”


Cinzia tak jadi melangkah dan mengeluarkan kerikil dari sakunya. Ia melempar kerikil itu ke tempat kaki kanannya seharusnya melangkah dan seketika, sebuah tombak terhunus dari bawah lantai. Cinzia memandangku dan berkata.


“Kamu nampak terbiasa dengan ini.”


“Kau juga, sampai membawa kerikil seakan tau ini akan terjadi.”


Kami saling pandang untuk beberapa lama.


“Kamu tau, aku benar-benar tidak suka padamu.”


Di koridor yang hanya berisi lukisan dan tirai, Cinzia memecah keheningan dan lanjut berkata.


“Setiap kali melihatmu, aku teringat pada diriku yang dulu.”


Ia memandang lurus mataku.


“Membunuh hanya karena kamu benar. Tanpa pernah mempertanyakan apa arti benar sesungguhnya.”


Cinzia menghunuskan pisau ke arahku.


“Dan itu benar-benar memuakkan.”


Aku tersenyum dan berkata.


“Di sisi lain, aku sangat tertarik padamu.”


Di kediaman yang penuh musuh ini, tak seorangpun dari kami bisa lari menyelamatkan diri.


“Bukan hanya cermat dan kuat. Kau sangat loyal, terlalu loyal sampai bisa disebut cacat.”


Satu-satunya pilihan adalah bertarung sampai mati.


“Dan itu benar-benar mengesankan.”


Aku memandang lurus matanya.


“Tapi jika memang ini sudah jalannya.”


Dan menghunuskan gunblade ke arah Cinzia.


“Kita hanya bisa bertarung, benar?”


Cinzia tidak menjawab. Karena memang tidak ada yang perlu dijawab. Sejak memutuskan untuk menyelinap bersama ke tempat ini, kami sama-sama tau bahwa inilah akhirnya. Kami sama-sama tau bahwa inilah takdirnya. Karena itu, tanpa perlu membuang waktu dan berbasa-basi lagi, kami melesat dan menebas lawan masing-masing.


Seketika, darah terciprat dari 2 arah yang berbeda. Tanpa sanggup menjerit atau mengutarakan sepatah kata, dua sosok manusia hilang kesadaran dan tersungkur ke lantai. Aku memandang sosok yang tertebas lehernya.


“Anestesi.”


Cinzia menjelaskan.


“Pisau ini bisa memproduksi obat bius tanpa henti.”


Ia memandang sosok yang hidungnya patah di lantai.


“Dia pingsan.”


Aku melanjutkan.


“Aku menggunakan sisi tumpul gunbladeku.”


Melihat dua penjaga yang bersembunyi di tirai belakang kami telah hilang kesadaran, kami menyarungi senjata masing-masing. Cinzia nampak heran saat menyadari aku tidak kunjung melanjutkan perjalanan. Ia menoleh dan mendapatiku merogoh-rogoh saku kedua penjaga.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Mencari sesuatu… Ah, ini dia. Tangkap!”


Aku melemparkan salah satu dari 2 benda di tanganku ke arah Cinzia. Ia menangkapnya dan segera bertanya.


“ID card?”


“Yup. Simpan baik-baik.”


“Apa ini berguna?”


“Milik penjaga biasa mungkin tidak, tapi tidakkah perlengkapan mereka terlihat unik?”


Melihat pedang dan zirah yang dua penjaga itu gunakan, Cinzia mengangkat alis dan hanya diam mengiyakan. Cinzia memandang ID card di tangannya, lalu memasukkannya ke saku dan mengikutiku dari belakang.


Tidak lama, kami pun sampai di ujung ruangan. Di depan kami adalah sebuah lift. Di kiri dan kanannya adalah tangga ke lantai atas. Cinzia menoleh ke belakang dan mengamati pintu-pintu ruangan yang kami lewati. Ia memiringkan kepala dan bergumam.


“Hm… Aku tidak salah, memang tidak ada hawa keberadaan manusia dari sana. Apa itu berarti mereka di atas?”


“Mhm, Memang ada banyak orang di atas.”


“...Kelihatannya mereka akan menyergap kita tak peduli jalan manapun yang kita ambil.”


Melihat Cinzia berjalan menuju tangga di kanan, aku memiringkan kepala dan bertanya.


“Apa yang kau lakukan?”


“Kamu mau kita disergap di lift kecil itu?”


“Tapi tangga itu juga jebakan.”


“Kalau kamu takut, kenapa tidak pergi melalui tangga satunya?”


“Apa gunanya kalau kita terpisah?”


“Kalau kita bersama dan Hagen lari dari tangga satunya, bagaimana mungkin kita menangkapnya? Jalan terbaik adalah menghancurkan lift itu dan naik terpisah. Kamu sendiri kan yang bilang di atas banyak orang.”


“Aku memang bilang di atas banyak orang. Tapi aku tidak pernah bilang Hagen ada di atas.”


Cinzia menghentikan langkahnya dan berbalik memandangku.


“Apa maksudmu?”


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku berjalan memasuki lift. Sebuah hologram biru muncul menunjukkan daftar lantai yang bisa dituju. Tapi bukannya menekan angka yang muncul, aku menempatkan ID card di hologram itu dan seketika, cahaya hologram berubah menjadi hijau layaknya sebuah scanner.


Tidak lama, dinding di belakang lift terbuka dan menunjukkan sebuah lorong yang menuju ke bawah. Lorong itu dilapisi baja putih di segala sisi dan terlihat cukup kuat untuk menahan segala jenis ledakan. Cinzia memandang semua itu dengan ekspresi membeku. Melihatku menyusuri koridor dengan tenang, ia tak bisa menahan diri untuk bertanya.


“Kamu ini… siapa?”


Aku hanya menyeringai dan berkata.


“Ariel Leonhart. Bukankah aku sudah bilang?”


Cinzia memandangku seakan berkata ‘bukan itu maksudku’, tapi seakan menyadari bahwa aku tidak akan memberi jawaban, ia menghela nafas dan memutuskan untuk tidak memikirkannya. Melihat ID card yang bersinar di tanganku, Cinzia memutuskan untuk melakukan hal serupa sebelum berjalan mendahuluiku.


“Ah, ngomong-ngomong, meski kita bisa masuk selama punya kartu ini. Ada banyak jebakan seperti senapan dan laser di sini jadi--”


Sebelum aku sempat menghentikannya, Cinzia salah melangkah dan tiba-tiba, sebuah senapan muncul dari langit-langit dan menghujani Cinzia dengan peluru. Tapi seakan tak peduli dengan semua itu, Cinzia melesat dan menebas semua peluru yang datang dengan pisau di tangan. Lalu membelah senapan itu menjadi dua sebelum akhirnya berbalik dan bertanya.


“Kamu bilang sesuatu?”


Aku hanya tersenyum masam dan berkata.


“Lupakan.”


Cinzia tidak lagi menoleh dan lari menerobos semua jebakan yang datang menghadang.


“Ayo.”


Dengan mata biru dan pisau yang lebih tajam dari taring binatang buas--


“Nonaku sudah menunggu terlalu lama.”


--Cinzia menebas semua rintangan.