
------
Mercenary Guild Master POV
------
Aku terkejut. Saat kupikir aku bisa pensiun dan melepas jabatan ini karena para penerusku tak pernah mendapat masalah berarti, aku menemukan bahwa para penerus itu sendirilah yang merupakan masalah terbesarku.
Bukan hanya telah menyembunyikan apa yang terjadi di kota ini, mereka bahkan berdalih bahwa Mercenary Guild hanyalah tentara bayaran yang tidak berhak ikut campur urusan pemerintah. Apa mereka lupa tujuan guild ini diciptakan? Apa mereka terlalu tergiur dengan bayaran para petinggi dunia hingga tak lagi memperdulikan benar dan salah?
Jika bukan karena seorang anak pemberani yang datang ke rumahku dan memberitahu semua ini, aku pasti akan selamanya buta dan tuli. Aku memandang tumpukan kontrak, barang bukti, dan transaksi ilegal di atas meja kerjaku.
“Penculikan manusia. Penyelundupan dana. Pemerkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur. Pembentukan pasukan bersenjata yang bertujuan untuk menyerang, merampas, meneror, dan menyalahgunakan kekuatannya.”
Aku mengerang dan menepuk dahi. Tiap perkara adalah sesuatu yang bisa dijatuhi hukuman mati. Tapi seakan semua itu belum cukup, pria ini tidak hanya menculik manusia, tapi juga elf yang merupakan sekutu kita. Apa dia ingin perang terjadi?
Masih ingat di benakku cerita para leluhur tentang perang dunia ketiga. Segera setelah manusia mendapat kekuatan untuk menggunakan mana, dunia berubah untuk selamanya. Yang kuat menindas yang lemah, revolusi terjadi di sepenjuru dunia, dan manusia saling bunuh hanya untuk mendapat kuasa. Untungnya, demon dan musuh yang lebih kuat muncul di panggung dunia. Memaksa manusia yang semula terpecah-belah untuk bersatu mengusir penjajah.
“Meski begitu, kami tetaplah makhluk yang lemah.”
Jika bukan karena para elf yang berbaik hati mengajari kami tentang karunia dan cara benar menggunakan mana, manusia pasti telah punah sejak dulu kala.
“Dan pria itu ingin membalas mereka dengan air tuba.”
Aku mendecak lidah dan membuang wajah. Mengingat sosok putra mahkota kerajaan elf yang siap memerangi siapapun yang berani menindas rakyatnya, aku menghela nafas pasrah dan memandang ke luar jendela.
Putra mahkota sempat curiga bahwa manusialah yang menyebabkan rakyat kerajaan elf terus menghilang. Raja Eva memang tidak mengatakan apapun, tapi aku tau bahwa beliau juga merasakan hal yang sama. Jika bukan karena putri pemberani itu yang berdiri untuk menenangkan keduanya, manusia dan elf pasti sudah berperang hari itu.
“Apa namanya Rosemary?”
Gadis berambut pirang keemasan dan mata hijau yang bersinar bagai berlian. Ia memiliki kecantikan tiada tara yang mampu mempesona semua mata. Sampai-sampai aku mendengar bahwa monster yang tidak memiliki kewarasan pun akan berhenti sejenak hanya untuk mengagumi kecantikannya.
Sayangnya, aku dengar sudah beberapa minggu sejak gadis itu menghilang dari kerajaan. Aku punya firasat buruk bahwa sesuatu terjadi padanya, tapi aku benar-benar berharap bahwa setidaknya, gadis itu akan baik-baik saja di luar sana.
“Guild master.”
Seorang pria mengetuk pintu dan mengembalikanku ke realita. Aku mengizinkannya masuk dan seketika, asisten terpercayaku menunduk memasuki ruangan.
“Mereka telah tiba.”
“Situasi?”
“Aman terkendali. Mercenary kita tengah membantu proses penyelamatan, dan pemerintah mencabut kepemilikan pria itu untuk sementara.”
Aku mengusap dagu.
“Ini aneh. Pemerintah bergerak cepat kali ini.”
“Nampaknya salah satu Eksekutif mereka turun langsung untuk menangani semuanya.”
“Menangani… Hmph! Mereka hanya ingin menyelamatkan diri dari amukan Kerajaan Eva.”
Asistenku tidak membantah dan hanya tersenyum masam. Aku menenggak secangkir kopi yang ia sajikan dan memandang ke luar jendela. Tiba-tiba, di langit malam yang gelap gulita, sebuah kembang api meluncur mewarnai langit dengan keindahannya. Tidak lama, kembang api kedua dan ketiga muncul dari arah berbeda.
“Sudah dimulai.”
Anak-anak yang tersebar di sepenjuru hutan menggunakan kembang api untuk menandakan di mana posisi kriminal itu berada. Sekalipun Hagen lari atau menggunakan sihir teleportasi, ia tidak akan bisa menyelamatkan diri malam ini.
------
Rose POV
------
Berhasil menarik para penjaga dari gedung utama, aku memanggil familiarku untuk segera kembali. Serigala berukuran besar itu telah kembali ke wujudnya semula, yakni serigala seukuran seekor anjing biasa. Kakinya pincang dan beberapa luka tebas masih membekas di tubuh kecilnya.
“Maafkan aku, Fenrir.”
Aku memeluk serigala yang tengah berlari ke arahku itu. Meski dengan karuniaku, transformasi, aku bisa mengubah wujud Fenrir menjadi raksasa atau apapun yang kusuka, aku tetap tak kuasa melihat temanku terluka seperti ini.
“Seandainya aku lebih kuat.”
Maka aku pasti akan bertarung bersamanya di garis depan, tapi aku yang sekarang hanya akan menjadi beban untuknya. Aku mengusap tubuhnya dan menutup mata, bersumpah untuk menjadi lebih kuat di masa depan, lalu membatalkan sihir pemanggilan agar ia bisa beristirahat bersama teman-temannya di alam spirit.
Segera setelah melakukan semua itu, aku memandang kediaman Hagen di kejauhan. Saat barrier anti-mana bangunan itu telah hilang sepenuhnya, aku segera mengirim pesan kepada Greyworth dan ksatria lainnya. Cinzia juga nampaknya telah menemukan tempat para tahanan dikurung. Karena itu sekarang, yang harus kami lakukan adalah menyerahkan kriminal itu ke pihak berkuasa.
“Dengan ini, kami bisa menghindari perang dengan manusia.”
Melihat grup mercenary yang tengah mengevakuasi para gadis ke tempat aman, aku mengubah diriku menjadi seekor kucing dan menyelinap mengitari mereka untuk sampai ke kediaman. Saat aku telah melangkah cukup jauh, barulah aku membatalkan transformasiku dan kembali menjadi Primrose.
Tapi baru saja aku hendak melanjutkan perjalanan--
“Keparat! Kemana serigala itu pergi?”
--Aku menemukan beberapa penjaga yang menghalangi jalanku.
Aku segera bersembunyi di balik pohon dan membunuh nafasku. Mendengar gerutu dan keluhan mereka, nampaknya mereka terpisah dari kepala penjaga dan pasukan lainnya.
Memutuskan untuk terus melangkah, aku berjalan mengitari mereka. Sayangnya, baru saja aku hendak menghela nafas lega, aku menginjak sebatang ranting yang patah mengejutkan para penjaga.
“Siapa di sana?!”
“…!”
Menyadari bahwa lokasiku telah diketahui, aku segera lari menjauhi mereka.
“Tangkap dia!”
Tentu saja, semua tidak semudah membalik telapak tangan. Para penjaga yang fisiknya lebih besar dan lebih terlatih itu segera lari mengejarku. Mereka sama cepatnya, bahkan lebih cepat dariku.
Aku menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan, menciptakan ledakan angin yang menghempaskan mereka ke kejauhan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari menuju pepohonan. Sayangnya aku tidak memiliki mana yang cukup untuk bertarung. Tapi jika aku bisa menghilang dari pandangan mereka, meski hanya untuk sesaat, aku bisa berubah menjadi makhluk lain dan pergi dari sini.
Sayangnya, seakan tau isi rencanaku, seorang penjaga telah menunggu dibalik pohon yang kutuju dan segera menekan punggungku ke tanah. Aku memberontak untuk melepas cengkramannya.
“Diamlah!”
Tapi mungkin karena merasa geram dengan tindakanku, penjaga itu memelintir tangan kananku.
“Kuh...”
Aku menutup mata dan mencoba menjerit, tapi pria itu segera membenamkan wajahku ke tanah dengan tangan satunya. Aku bisa merasakan sebuah batu menggores pipi kiriku, tapi seakan semua itu belum cukup, ia menggunakan mana untuk memperkuat kedua tangannya.
“Melihat pakaianmu, kau seorang budak? Ckck. Kenapa kau lari dari kami? Apa kau tau betapa terlukanya hati kecilku ini?”
Ia menggelengkan kepala.
“Gadis pemberontak sepertimu perlu diberi pelajaran.”
Ia menyeringai dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Aku terbelalak memandang cambuk yang ada di tangannya. Seakan puas melihat reaksiku, ia terkekeh dan berkata.
“Wajahmu memang biasa saja, tapi tak apa. Segera setelah teman-temanku kembali, kami akan menikmatimu sampai pagi.”
Melihatnya menyeringai dan menjilat bibir. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri seketika.
“A-Apa yang kau--”
“Shh, ayo kita bersenang-senang. Tidak akan ada yang tau.”
"T-Tunggu! Stop!”
Tanpa peduli dengan perlawananku, Ia mulai melucuti baju gamisku dan mengangkat cambuk itu, tapi sebelum cambuk itu mengenai punggungku--
“Apa yang kau maksud dengan teman--”
--Aku membuka mata dan melihatnya.
“--Adalah tumpukan mayat itu?”
Ariel Leonhart, pria yang kukenal malam ini. Di belakangnya adalah para penjaga yang telah bergelimpangan di tanah. Gunbladenya berlumuran darah seperti saat kami pertama bertemu. Tanpa suara dan tanpa rasa, ia membunuh seakan itu adalah hal paling wajar di dunia.
------
Ariel POV
------
Apa aku terpengaruh dengan apa yang kulihat di ruang bawah tanah? Dengan sekumpulan gadis belia yang disiksa hingga kehilangan nyawa? Atau dengan laboratorium tempat mereka melakukan percobaan manusia?
Tidak, bahkan sebelum melihat semua itu dan datang ke dunia ini, aku telah mengerti alasan sebenarnya.
“Kau tau, baik dulu maupun sekarang, aku tidak pernah punya belas kasih kepada kriminal.”
Aku mendekati penjaga yang terus melangkah mundur dengan tangan gemetar. Sejak kehilangan adikku di tangan kriminal, aku ditelan keputusasaan dan amarah. Lalu memutuskan untuk membuang kemanusiaanku dan membalas dendam atas perbuatan mereka.
“Tentu saja, aku tidak bilang bahwa diriku benar. Tidak tidak, aku ini bukan orang baik. Aku tidak ingin menjadi baik.”
Aku menghancurkan reputasi mereka, membuat ‘kecelakaan’ yang merenggut kesehatan mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang tercinta, dan mendorong mereka ke jurang putus asa. Sebagian mungkin memutuskan untuk bunuh diri dan terbebas dari semua.
Tapi aku tidak pernah membunuh siapapun. Aku tidak pernah mengotori tanganku secara langsung.
Karena aku merasa aku tidak akan kembali setelah melakukannya sekali. Tidak, aku yakin aku akan kehilangan diriku setelah melakukannya sekali. Tapi setelah datang ke dunia ini, aku menyadari betapa kelirunya hal itu.
Aku bukanlah Baal yang membunuh jutaan jiwa tanpa alasan, dan aku bukanlah Leonhart yang membunuh karena perintah atasan. Aku adalah aku. Seorang yang muak dengan kriminal yang mengotori dunia seperti kalian. Seorang yang benci dengan makhluk menjijikkan seperti kalian.
Karena protagonis yang baik hati itu gagal menyelamatkan dunia dengan menolong semua orang, maka--
“S-Siapa kau?!”
--Aku akan menyelamatkannya dengan membunuh kalian.
“Kau tidak berhak untuk tau.”
Sebelum seorang pun mampu bergerak, aku menebas penjaga itu dan seketika, ia terjatuh ke tanah dengan kepala yang telah terpisah dari tubuhnya.