
------
Ariel POV
------
“Kau...Kau…!”
Hagen terbata seraya menunjuk ke arahku.
“Kenapa kau ada di sini?!”
Melihat reaksi pria gemuk di depannya, Cinzia melirikku dan bertanya.
“Kelihatannya dia mengenalmu.”
“Tidak tidak, dia hanya gugup karena melihat kecantikanmu.”
Aku menggeleng membantah tuduhannya, tapi seakan tak peduli dengan reaksi kami, Hagen melangkah mundur dan kembali berkata.
“L-Leonhart, Siapa yang mengirimmu? Siapa yang memintamu membunuhku?!”
Mendengar hal itu, Cinzia berkata.
“Lihat? Dia bahkan tau namamu.”
“Hm, tapi difitnah ingin membunuh oleh orang yang baru kukenal…”
“...Kamu bicara seolah bukan itu tujuanmu.”
Aku mengangkat bahu dan kembali memandang Hagen. Kelihatannya Hagen mengira bahwa aku datang ke sini sebagai assassin yang dikirim institutional school. Mengingat hanya segelintir orang yang tau tentang organisasi itu dan bagaimana ia bereaksi saat melihatku, nampaknya Hagen adalah seorang ‘pelanggan’ yang pernah menggunakan jasaku di masa lalu. Mengingat para pelanggan seringkali memilih untuk menyembunyikan identitasnya, wajar jika aku tidak tau hal ini.
Aku menyeringai karena situasi ini terlihat lucu. Layaknya predator yang mengintai mangsa, aku mendekat saat Hagen terus menjauh.
“T-Tunggu, tunggu dulu! Berapapun mereka membayarmu, aku bisa membayar lebih untukmu.”
Mungkin karena melihatku menghentikan langkah, Hagen menganggapnya sebagai reaksi positif dan segera menghujaniku dengan berbagai tawaran.
“Itu benar, aku bisa membayarmu lebih! Aku bisa mendanaimu untuk naik ke peringkat 1. Aku bahkan bisa menyuap para petinggi institutional school untuk segera membebaskanmu! Kau hanya perlu melepaskanku. Itu benar, kau hanya perlu mengkhianati keparat yang ingin membunuhku!”
Tiap penawaran terdengar menggiurkan. Harta, tahta, dan kebebasan. Tapi karena ia sampai menawarkan semua itu, nampaknya Hagen belum tau bahwa institutional school telah hancur di tanganku. Tentu saja, Assassin Monartch dan para petinggi pasti akan memburuku saat tau hal itu.
“Institutional school… Jadi begitu, pantas saja kamu...”
Cinzia terbelalak memandangku. Kelihatannya ia telah menyadari identitasku yang sebenarnya.
“Kau tau organisasi itu?”
Aku bertanya pada Cinzia.
“Memang kenapa kalau aku tau?”
“Orang biasa umumnya tidak akan tau. Dan karena semua target kami telah mati, mereka yang tau hanyalah orang-orang dalam organisasi itu, para pelanggan, dan beberapa pihak yang bisa kami sebut ‘partner’.”
“...Apa yang mau kamu katakan?”
“Rose jelas-jelas tidak tau tentang kami, dan sekalipun tau, ia tidak akan pernah membiarkan bawahannya menggunakan jasa kami. Aku juga tidak pernah mendengar ada sosok sekuat dirimu di institusi itu. Kau bukan pelanggan, dan kau bukan orang dalam. Sekarang, apa kau mengerti apa yang ingin kukatakan?”
“...”
Sebagaimana Cinzia mulai mengetahui identitasku, aku juga mulai mengetahui identitas Cinzia. Menyadari hal itu, Cinzia sedikit cemberut dan berkata.
“Kamu benar-benar menyebalkan, kamu tau?”
“Terimakasih pujiannya.”
Mungkin karena menyadari kejanggalan pembicaraan kami, atau teringat lokasi kami saat ini, Hagen berhenti melangkah mundur dan nampak termenung. Ia melihat ke sekitar ruangan kosong ini dan tidak lama, ia pun tak kuasa menahan diri dan tertawa seraya menepuk dahi.
“Hahaha—AHAHAHA! itu benar, itu benar! Kenapa aku bisa lupa?”
Hagen menatapku dengan rendah dan hina.
“Leonhart! Kau mungkin bisa membunuhku di luar, tapi di sini, di barrier anti-mana dan bentengku sendiri, kau tidak ada apa-apanya untukku!”
Hagen menjentikkan jari dan seketika, atap, dinding, dan lantai ruangan ini terbuka untuk menunjukkan ratusan persenjataan yang siap membunuh mangsa.
[Target terdeteksi. Memulai pembidikan]
Suara AI bergema bersama tawa Hagen yang memenuhi ruangan.
“...Ariel.”
“...Iya?”
Cinzia memandang semua ini dan berkata.
“Tidakkah ini gawat?”
Aku melihat senapan dan laser yang mulai mengarah ke sini. Jumlahnya begitu banyak seakan tak ingin memberikan sedikit celah pun kepada mangsanya untuk menghindar. Cinzia nampak ingin melesat dan segera menebas Hagen, tapi melihat lantai yang kini telah berubah menjadi jurang dan memisahkan keduanya, serta duri-duri tajam yang terlihat siap menusuk siapapun yang jatuh ke dalamnya, ia mengurungkan niat dan mengamati sekitar.
“Apa karuniamu bisa digunakan?”
“Sayangnya, karuniaku termasuk tipe yang bergantung pada mana.”
Mendengar jawabanku, Cinzia mengerang dan mulai meratapi nasibnya. Melihatnya panik seperti ini membuatku ingin menggodanya, tapi bahkan aku pun tau kalau ini bukan saat yang tepat.
[Pembidikan selesai. Melakukan kalkulasi]
“Sebaiknya kamu lari, aku tidak bisa melindungimu sendiri.”
Cinzia mengeluarkan pisau dan melangkah ke depan.
“Jangan khawatir, sebelum belajar menggunakan mana, assassin harus belajar menggunakan tubuhnya dan benda sekitar untuk membunuh targetnya.”
Aku mengeluarkan gunblade dan melangkah di sisinya. Cinzia hanya memandangku sebelum akhirnya berkata.
“Maksudmu limiter? Aku tau, tapi aku tidak suka saat tubuhku kesakitan setelahnya.”
Mendengar suaraku yang terdengar rileks, Cinzia tersenyum kecil dan berkata.
“Kelihatannya aku tidak perlu khawatir padamu.”
“Kita partner, ingat? Serahkan sisi kiri padaku.”
[Kalkulasi selesai. Memulai eksekusi]
Bersamaan dengan peluru dan laser yang menghujani kami dari segala penjuru---
““OVERLIMIT””
---Kami melepas limiter tubuh kami.
------
Hagen POV
------
Saat aku mengira hujan peluru ini akan melubangi tubuh mereka, dua keparat itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Aku berhenti tertawa dan terbelalak tak percaya.
Apa ini? Apa yang terjadi? Teleportasi? Tidak, itu mustahil. Artifak dan mana tidak bisa digunakan di ruangan ini, lalu bagaimana mereka bisa lari?
Aku termenung memikirkan hal ini. Tapi ruangan yang semula hening ini kini terlalu bising seakan tak ingin aku berpikir jernih. Suara senapan dan laser yang terus terdengar membuatku mendecak lidah dan memandang langit-langit tempat persenjataan itu berada. Dan di sana, aku melihatnya.
“Apa--”
Dua keparat yang kupikir telah lari entah kemana berlari di langit-langit ruangan ini. Tidak, daripada berlari, apa mereka melompat? Hujan peluru dan laser yang kehilangan target segera memperbaiki bidikannya dan menyerang mereka dari segala arah. Tapi bahkan semua itu pun tidak mampu menghentikan keduanya.
Sang gadis terus melompat dari dinding ke dinding layaknya seorang akrobat yang tengah melakukan atraksi di langit. Ia menghindari semua peluru dan laser dengan kecepatan dan refleks yang mustahil dilakukan manusia manapun. Lalu saat ia berada cukup dekat dengan persenjataan sekitar, ia menebas semua yang ia lalui hanya dengan sebilah pisau di tangan.
“Bagaimana mungkin ia bisa membelah baja dengan lengan sekecil itu…?”
Melihatnya membelah persenjataan yang bahkan dilapisi berlian, aku terbelalak untuk kali kedua. Pandanganku tertuju pada pisau putih yang ada di tangannya.
“Valiron.”
Logam hasil teknologi nano yang lebih ringan dari air dan lebih kuat dari baja. Kenapa ia bisa memiliki pisau yang bahkan 500 kali lebih kuat dari baja? Apa orang yang membayar mereka salah satu petinggi dunia?!
Aku menggeleng menenangkan diri. Itu benar, tidak peduli sekuat apapun persenjataan yang ia miliki, ia akan kewalahan dan lengah jika terus diserang seperti ini. Saat itu terjadi, pisau yang ada di tangannya itu pun akan menjadi milikku. Aku menyeringai dan mengusap kedua tangan.
Tak lagi merasa terancam dengan kehadiran sang gadis, aku menoleh untuk mengamati kondisi Leonhart. Peluru dan laser terus menghujani Leonhart, tapi ia hanya bergerak seminimal mungkin untuk menghindari semua itu. Seakan hal itu belum cukup mencengangkan, ia bahkan menembakkan sebuah peluru untuk membelokkan peluru yang tidak bisa ia hindari sepenuhnya. Seketika, kedua peluru itu memantul mengenai peluru lain, yang juga ikut memantul dan membelokkan peluru di sekitar.
Hingga akhirnya, dinding peluru yang kacau balau pun tercipta menghalangi pandangan AI yang kini tak mampu memprediksi posisi dan pergerakan mangsanya. Saat dinding peluru itu sirna sepenuhnya dan AI bisa membidik kembali targetnya, aku sadar bahwa Leonhart telah menghilang dari tempatnya.
Aku melihat sekitar dan menemukan Leonhart menapakkan kakinya di dinding dengan sekuat tenaga. Ia melontarkan dirinya secepat kilat dari dinding kiri ke dinding kanan ruangan ini dan seketika, semua persenjataan yang ia lalui terbelah menjadi dua seakan baru saja ditebas oleh sebuah senjata tajam.
Ditambah lagi, ia tidak berhenti di situ dan kembali melontarkan dirinya ke ujung ruangan. Ia terus melakukan itu hingga akhirnya, hampir semua persenjataan yang ada di langit-langit telah terbelah dan hancur sepenuhnya.
“Kamu bilang serahkan sisi kiri untukmu.”
Gadis yang seharusnya telah kewalahan itu berkata seakan semua ini hanya olahraga ringan untuknya.
“Tapi aku tidak bilang hanya akan menangani sisi kiri.”
Leonhart menyeringai dan membalas ucapannya. Mereka terlihat rileks seperti orang yang sedang berjalan di taman.
Apa ini?! Kenapa mereka sekuat ini?! Aku tidak tau tentang si gadis, tapi Leonhart selalu bergantung pada petir aneh itu untuk meningkatkan kecepatan bertarungnya. Bagaimana mungkin ia bisa bergerak secepat ini bahkan saat mananya disegel?!
“Tidak, aku masih punya peluang.”
Meski senapan dan laser yang memenuhi langit dan dinding terus hancur berjatuhan, mereka akan musnah karena aku masih punya satu jebakan. Aku menyeringai membayangkan tubuh mereka yang meledak dan hancur berserakan.
Bagus, itu benar. Teruslah mendekat.
“Hehe.”
Aku merogoh saku dan diam-diam mengeluarkan remote control seukuran jari kelingking. Menunggu saat yang tepat untuk menekan satu-satunya tombol yang ada.
Tapi saat aku hendak menekannya--
“Argh!”
--Sesuatu melesat dan mengenai remote di tanganku, menghancurkannya berkeping-keping dan menembus kulit tanganku hingga bersarang di dalamnya.
“Hsss!”
Aku mendesis melihat bercak darah di tangan. Mencoba mengeluarkan benda yang bersarang di dalamnya agar luka ini bisa kututup dengan potion di saku. Tapi saat aku mengambil benda yang bersarang itu, aku kehabisan kata sampai lupa dengan rasa sakit yang tengah kurasa.
“Kerikil?”
Aku mematung dengan ekspresi membeku. Aku menganga memandang benda di tanganku sebelum mendapati sang gadis menurunkan tangannya yang seakan habis menyentil sesuatu. Gadis itu tak lagi memandangku seakan ingin mengatakan bahwa ia bisa membunuhku kapanpun ia mau dan hanya mengalihkan perhatiannya untuk ‘membersihkan’ ruangan. Aku menggemeretakkan gigi dan termakan emosi.
“Kalian melawanku dengan kerikil? KERIKIL?!”
Belum pernah aku dipermalukan seperti ini. Belum pernah aku diremehkan seperti ini!
“Akan kutunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya!”
Persetan dengan efek samping karuniaku! Persetan dengan perkataan pria itu!
“Akan kubuat kalian menyesali semua ini!”
Aura kuning keemasan menyelimuti tubuhku dan seketika--
“”---!””
--Aku melompati jurang dan meninju keparat itu ke dinding.