
Ariel POV
---
Apa aku salah lihat? Tidak, mustahil aku salah mengenali gadis itu.
Meski sosoknya saat ini terlihat kumuh seperti budak pada umumnya, dan fisiknya ia ubah dengan menggunakan karunianya, sorot matanya yang intens dan penuh percaya diri itu sudah sangat kukenali. Rosemary Eva, putri Kerajaan Eva yang menguasai Australia.
Meski ras elf sendiri datang dari dimensi berbeda, mereka adalah satu-satunya ras yang berdiri bersama manusia untuk mengusir para iblis dan penjajah di perang dunia ke-3. Mereka jugalah yang telah membebaskan Australia dari para monster yang mendiami tempat itu. Sampai-sampai penduduk pribumi yang tersisa sepakat untuk memberikan Australia sebagai ganti atas perlindungan yang mereka beri.
Rose memang bukan seseorang yang memiliki hak untuk mewarisi tahta, tapi itu bukan berarti dia bukan orang penting bagi kerajaan. Tapi apa ini? Kenapa dia bisa ada di sini?
“Kau… Apa kau mengenaliku?”
Rose menyipitkan mata dan mengamati setiap gerikku. Gadis di sisinya juga nampak siap untuk menyerangku.
“Apa ibuku yang mengirimmu? Atau kakak laki-lakiku yang kuhormati?”
“...”
Ibu Rose sudah wafat. Sedangkan kakak laki-lakinya hanya memandang Rose sebagai alat untuk ia gunakan, dia bukanlah orang yang akan peduli sekalipun Rose mati di tempat yang tidak diketahui. Terlebih, kakak laki-laki Rose bukanlah seseorang yang ia hormati, melainkan seseorang yang ia benci sampai mati.
Gadis ini… Dia sedang mengujiku.
Aku mengangkat bahu dan memandang lurus matanya.
“Kelihatannya aku salah orang. Maaf. Gadis yang kukenal tidak mungkin membicarakan ibunya.”
“Hmm... Begitukah?”
“Tapi dari reaksimu, hm, apa namamu juga Rose?”
“Eh?”
“Kelihatannya aku benar. Salam kenal, Rose.”
“Ah… Um, tentu.”
Aku mengulurkan tangan, tapi saat melihat bercak darah yang masih membekas, aku mengurungkan niat dan segera menariknya. Tentu saja Rose menyadari reaksiku. Sorot matanya melembut dan ia segera menjabat tangan itu dan tidak melepaskanku. Seakan ingin mengatakan bahwa ia tidak keberatan dengan semua itu.
Kelihatannya ia mulai menerimaku. Atau setidaknya, ia tidak lagi memandangku sebagai musuh yang harus ia kalahkan.
Di sisinya, aku bisa mendengar gadis tadi bergumam ‘Berani-beraninya ia memanggil Tuan Putri tanpa penghormatan’. Tapi Rose hanya memandangnya, seakan berusaha mengingatkan sang gadis kalau mereka sedang menyamar. Rose lalu memandangku dan bertanya.
“Siapa namamu? Biar begini keluargaku cukup kaya. Izinkan aku membalas budi di kemudian hari.”
“Leonhart.”
“Eh? Aku serius. Jika kau tidak memberi tau nama aslimu, bagaimana mungkin aku bisa mencarimu?”
“Tapi itu nama asliku...”
“Lihat? Kau ragu-ragu. Di film-film banyak kan? Pahlawan yang menggunakan nama samaran agar tidak dikenali musuhnya? Tidak perlu takut, aku ada di pihakmu dan aku bisa jaga rahasia.”
Ia tersenyum lembut, tapi aku tau bahwa di kepalanya saat ini ia sedang memikirkan hal konyol seperti ‘Mencurigakan! Pria ini terlalu mencurigakan! Hmph hmph! Lihat saja, akan kuminta Ayahanda untuk mencari tau semua tentangnya saat kembali ke kerajaan!’
Tentu saja aku pura-pura tidak mengetahui hal itu. Tapi apa yang harus kulakukan? Menjalin koneksi dengannya bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi Leonhart memang tidak memiliki marga dan itu merupakan nama asliku di dunia ini--
“...Ah.”
Bukankah aku punya lagi? Sesuatu yang memang benar-benar merupakan nama asliku?
Aku memandang mata hijau sang gadis yang begitu menawan.
“Ariel... Namaku adalah Ariel Leonhart.”
Dan memperkenalkan diriku yang sesungguhnya untuk kali pertama.
---
---
H—Heeeh~ Ternyata dia bisa juga ya, tersenyum seperti ini.
Awalnya aku ingin mendesaknya dengan beberapa pertanyaan lagi, tapi setelah melihat senyum yang begitu tulus dan cerah ini, bahkan akupun hanya bisa mengurungkan niat dan mengangkat bendera putih. Untuk sesaat aku merasa bahwa ia terlihat manis, tapi semua itu pasti ilusi. Yup, itu pasti ilusi. Mataku pasti rabun jika itu benar terjadi. Maksudku, bagaimana mungkin seseorang yang cukup dingin untuk membunuh bisa terlihat semanis itu?
Eh? Kenapa jasad dan bekas darah yang semula ada di sana sudah lenyap seluruhnya? Dan kenapa bayangan di sekitar terlihat menggeliat? Apa mataku benar-benar sudah rabun?
“Rose?”
“Ah! Tentu, salam kenal, Ariel.”
Ia kembali tersenyum saat aku memanggil namanya. Apa ini? Mungkinkah bahwa sebenarnya pria ini adalah orang baik?
Karena semakin kupikirkan ia nampak semakin sulit kumengerti, aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Yup, aku benar-benar jenius. Biar ayahanda yang mengirim orang untuk menyelidiki semua tentangnya.
“Tuan put—Nona Primrose.”
Cinzia segera memperbaiki dirinya saat aku mengernyitkan alis memandangnya.
“Bukankah ada sesuatu yang harus nona katakan?”
“Ah...”
Aku memandang obat yang kini ada di tanganku, lalu memandang wajah pria itu dan berkata.
“Terimakasih. Karena telah menolongku dan gadis-gadis ini.”
“Tentu.”
“Tapi boleh aku tau kenapa kau melakukan semua ini? Tentu saja, aku tidak akan memaksa jika kau memilih untuk tidak bicara.”
Karena sebentar lagi, semua gerak-gerikmu akan segera kami ketahui.
“Hmm...”
Pria itu memandang para gadis yang begitu takjub melihat luka mereka sembuh seketika.
“Aku punya beberapa alasan, dan salah satunya adalah untuk membebaskan orang-orang seperti mereka.”
Nampaknya ia tau tentang penculikan manusia yang dilakukan Hagen.
“Kelihatannya tujuan kita sejalan.”
“Huh?”
“Aku, gadis ini, dan beberapa temanku di tempat lain juga datang untuk menghentikan kejahatan Hagen.”
Aku memandang Cinzia dan menggenggam tangannya. Mengingat Greyworth dan ksatria kerajaan yang juga secara sukarela membantu memenuhi keinginan egoisku, hatiku terasa hangat dan rasa gundah yang sebelumnya menghantuiku telah hilang sepenuhnya. Aku benar-benar bersyukur karena dianugerahi oleh bawahan dan teman-teman yang begitu baik seperti mereka.
Sayangnya, kami dan para ksatria terpisah di pos sebelumnya. Tentu saja saat aku memberikan tanda, mereka akan segera menangkap semua komplotan Hagen di tempat mereka masing-masing. Greyworth juga berjanji untuk segera lari ke sini setelah menyelesaikan urusannya untuk membantu.
Persiapan kami sudah matang. Saksi dan bukti telah kami dapatkan. Semua yang bisa dilakukan sudah kami lakukan. Yang tersisa hanyalah untuk menyelinap ke markas utama Hagen dan menyerahkannya ke Asosiasi Pahlawan.
Tapi itu bukan berarti aku yakin 100% bahwa rencana ini akan berhasil. Karena aku dengar, kediaman Hagen dilindungi oleh artifak anti-mana terbentang luas. Cinzia mungkin bisa menyusup dan bertarung seperti biasa, tapi aku bukanlah petarung. Aku adalah seorang penyihir yang hanya akan menjadi beban jika ikut bersamanya.
Tidakkah lebih baik jika yang ikut bersamanya adalah seseorang yang memang bisa bertarung tanpa mana?
Karena itu--
“Bukankah kau ingin membebaskan para tahanan?”
--Terhadap kesempatan emas yang seakan datang dari langit.
“Izinkan kami membantu.”
Aku menggenggam tangannya dengan erat.