MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 7. Escape(7)



Kami menyebar dan pergi ke segala arah. Mereka telah menyerahkan nyawanya padaku, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan, adalah melindungi mereka sebisaku. Menyadari betapa beratnya tanggung jawab yang tengah kuemban, aku mengepal tangan dan menarik nafas panjang. Lalu aku menyelimuti tubuhku dengan petir dan melesat ke tempat Zion dan anak-anak menunggu. Waktu berlalu hingga akhirnya, aku tiba dan membuka pintu ruang tahanan.


“Zion…!”


Tapi hal pertama yang menyambutku bukanlah Zion atau suara anak-anak, melainkan bercak darah yang membasahi sisi ruangan, mewarnai lantai dan dinding yang kekuningan dengan merahnya darah. Aku mendekat dan mengamati bercak itu perlahan. Darah ini masih basah dan kondisinya masih hangat dan segar, bukti bahwa bekas darah ini baru tercipta beberapa saat lalu.


Apa yang terjadi? Apa ada yang menyerang tempat ini? Tapi itu mustahil, semua instruktur dan penjaga tau betapa pentingnya Room of Zeroth. Tak satupun dari mereka punya waktu untuk bermain-main di tempat ini. Dan para tahanan yang mengikutiku nampaknya juga belum ada yang memasuki ruangan ini. Karena itu, kalaupun ada assassin yang menyerang tempat ini, satu-satunya tersangka adalah–


“Leon?”


Aku memandang gadis yang terengah di depan pintu. Melihatku berjongkok memeriksa bercak darah yang ada di lantai dan dinding, gadis itu berkata ‘Ah!’ dan menyembunyikan tangan di belakang tubuhnya. Tapi aku melihatnya. Aku melihat jelas bekas darah yang masih menetes dari pisau dan tangan putihnya. Setelah melihat semua ini, aku menyadari apa yang terjadi.


“Zion.”


“…”


Mungkin merasa bersalah atas tindakannya, ia membuang wajah dan menghindari tatapanku. Bukan berarti aku tidak mengerti alasannya. Justru karena aku mengerti aku tidak bisa menahan marah padanya. Aku menarik nafas dan berusaha menenangkan diri.


“Apa kau--”


“A-Aku ga ngapa-ngapain, anak-anak itu udah kuanter ke tempat aman kok! Um, kamu inget kan markas rahasia kita? Tempat kita biasa sembunyi dari para instruktur dulu? Aku abis lari anter mereka ke sana dan--”


“Aku tau. Atau apa? Kau pikir itu yang membuatku marah? Kau bahkan tidak sanggup membunuh target-targetmu. Mana mungkin kau mampu melukai anak-anak itu."


“...Terus kenapa? Kamu nakutin kalo lagi marah…”


Tanpa bicara sepatah kata, aku merobek lengan bajuku. Membersihkan luka tusuk yang ada di tangan kecilnya dan membalutnya perlahan. Gadis itu terbelalak, ia memandangku seakan menyadari letak kesalahannya. Tapi aku tidak menghiraukannya dan hanya fokus mengobati lukanya. Selesai menghentikan pendarahan dan menutup lukanya, aku memandang mata merah sang gadis.


“…Jangan lakuin ini lagi.”


Yang hanya ia balas dengan suara tertahan.


“Maaf...”


Zion menundukkan wajahnya. Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku tau ia melakukan semua ini untukku, dan aku tau ia ingin menjelaskan hal itu, bahkan saat ini pun ia hanya menggigit bibir dan memilih untuk diam seakan tak ingin membebani pikiranku atau membuatku merasa bersalah atas semua ini. Aku tersenyum mengelus kepalanya, seakan mengatakan bahwa aku mengerti tanpa perlu dijelaskan.


Lagipula, kami tidak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Karena saat ini pun, para assassin yang kuselamatkan tengah bergegas ke sana kemari karena tau betapa gentingnya situasi kami. Tiap detik begitu berharga, karena itu aku hanya memandang Zion dan berkata.


“Ayo.”


Ia mengangguk dan mengikutiku ke luar ruangan. Setelah bertemu dengan semua orang dan tahanan yang telah mereka bebaskan, kami pergi secepat mungkin menuju pintu keluar. Hingga akhirnya, kami berhasil keluar dari institutional school. Sayangnya, hal pertama yang menunggu kami di sana adalah.


“Mhm, lihat kan? Udah kubilang masih ada tikus yang keliaran di dalam.”


Gadis berambut hitam panjang yang tertawa manis seraya memainkan pisau di tangan kanannya.


“Haa… Pantas atasan mengirim SOS kepada kita... Nampaknya ada pengkhianat di antara kita.”


“Rank 2, Basen… Rank 3, Lily...”


Pemuda yang berkata akan melindungi nyawaku dengan tubuhnya terbata memandang dua monster di depannya. Tubuhnya bergetar, nafasnya tersengal, tapi pemuda itu menggigit bibir dan tetap memberanikan diri untuk berdiri di depanku.


“Leonhart … Lari...”


Mulutnya menyuruhku untuk lari, tapi matanya mengatakan ‘tolong kami’.


“...”


Aku menggigit bibir, tak mampu menjawab satupun permintaannya.


Jika aku lari, kemungkinan aku hanya bisa melindungi Zion dan pemuda ini, tapi semua orang yang kami tinggalkan pasti akan mati. Di sisi lain, jika aku tetap berada di sini, sebagian dari kami mungkin bisa keluar hidup-hidup, tapi aku dan pemuda ini, serta Zion yang saat ini pun mengepal tangan seakan hendak mengikutiku apapun yang terjadi, pasti akan mati. Jika seseorang memintaku untuk memilih menyelamatkan yang sedikit atau menyelamatkan yang banyak, tentu saja aku tidak bisa memilih. Mustahil aku memilih. Karena itu aku harus membuat pilihan ketiga yang bisa menyelamatkan semua orang, tapi bagaimana?


“Basen, Lily.”


Aku berkata.


“Semua instruktur sudah mati. Institutional school sudah tidak ada lagi. Kita bebas. Kalian bebas! Apa masih ada alasan untuk bertarung?”


“Alasan… kah?”


Basen memandang langit, seakan mencari cahaya rembulan yang menerangi dunia. Tapi jangankan rembulan, ia bahkan tidak menemukan cahaya bintang di kejauhan. Yang ada hanyalah awan hitam yang terus berdatangan, memenuhi dunia dan pandangannya dengan kegelapan abadi.


“Sama seperti kalian yang punya alasan untuk lari. Kami juga punya alasan untuk menghentikan kalian di tempat ini.”


“Tapi kenapa? Kamu seharusnya tau betapa kejinya mereka.”


“Aku ada di sini jauh lebih lama darimu. Tentu saja aku tau hal itu. Tapi, Leonhart, dunia ini bukan hanya hitam dan putih. Kelak, kau akan mengerti bahwa tempat sekeji ini pun punya arti di bumi.”


Basen mengusap kacamatanya, entah karena mendapatinya berembun atau merasa pandangannya mulai kabur. Aku hanya memandang semua itu dengan tangan dikepal. Apa kami benar-benar harus bertarung? Apa tidak ada jalan selain ini?


Bayanganku menggeliat, aku bisa merasakan Baal tengah menertawakan keraguanku dari sana. Kepalaku menyuruhku untuk lari, hatiku menyuruhku untuk segera melesat dan menghabisi dua orang di depanku, tapi tubuhku hanya bisa mematung seakan telah kehilangan jiwanya. Menyadari bahwa tak satupun dari kami berniat mengambil inisiatif, Basen menyeringai dan berkata.


“Leonhart, orang-orang ini telah berbaik hati dan menyuruhmu lari. Tapi kenapa kau tidak lari? Apa kau pikir kau bisa melindungi mereka seorang diri?”


Melihatku menggigit bibir, Lily tertawa kecil dan berkata.


“Kalau begini terus kalian semua akan mati, kau tau? Aha, aku punya ide, bagaimana kalau begini.”


Lily menunjukku.


“Siapapun yang mengkhianati Leonhart saat ini akan kami biarkan hidup. Oh, dan jika kau berhasil membunuhnya... Hehe... Aku tidak keberatan menghabiskan satu malam bersama...”


Lily menjilat bibir. Ia menunjukkan belahan dada serta pahanya yang mulus. Seketika, aku bisa merasakan nafas tersengal dari para lelaki yang telah menginjak usia remaja di belakangku. Lily nampak puas melihat reaksi mereka dan duduk manis untuk menikmati pertunjukan yang akan terjadi.