
[Tiriring!]
[Selamat datang di ‘Magical Bloodshed’!]
[Menyesuaikan identitas pemain]
[Memulai sinkronisasi...]
[Have a nice day!]
Melihat serangkaian notifikasi yang muncul di layar, aku bersorak kegirangan. Sudah sekian lama aku menunggu update terbaru Magical Bloodshed. Game strategi ini sangat digemari di seluruh belahan dunia, sampai-sampai perusahaan misterius yang membuatnya pun tidak sanggup menahan amukan player yang minta dibuat versi realita virtualnya.
Dan yang ada di tanganku saat ini, adalah versi virtual reality pertama yang mereka buat. Sebagai pemimpin asosiasi player MagiBlood, dan fans pertama sekaligus terbesar game agung ini, tim developer mempersilahkanku untuk menjadi Beta Tester pertama di dunia.
Ini mendebarkan.
Ini membuatku tidak sabaran.
Aku menelan ludah dan lupa berkedip. Akhirnya... Akhirnya aku bisa melupakan dunia busuk ini. Aku mengepal tangan dan memandang lurus ke depan. Saat proses sinkronisasi hampir 100%, dan serangkaian notifikasi lain telah hilang sepenuhnya, aku bernafas lega karena mengira bisa langsung terjun ke dunia permainan. Tapi seakan menertawakan kebodohanku--
[Warning! Sinkronisasi diretas!]
--Serangkaian notifikasi berwarna merah darah muncul di depanku.
[Player ‘Ariel’ gagal reinkarnasi]
[Melakukan kontak darurat GameMaster]
[Kontak gagal]
[Kontak gagal]
[Warning! Game terputus dari server!]
[Menghentikan proses teleportasi]
[Error! Teleportasi mustahil dihentikan!]
[Mengirim player ke dunia asli]
“Ack…!”
Layar monitor bersinar menerangi seisi ruangan. Dan itu adalah hal terakhir yang kulihat di dunia ini.
Suara ledakan terdengar di telinga. Dunia terbalik bersama hukum gravitasi, menarik tubuhku ke empat sisi. Saat aku tak lagi mendengar suara jeritan yang coba kulontar, aku sadar bahwa aku tidak bisa merasakan leherku. Dengan tubuh yang hanya tinggal kepala, pandanganku berkedip dan seketika aku kehilangan kesadaran.
Dan kemudian.
Kemudian…
[Tiriring!]
[Selamat datang di ‘Magical Bloodshed’!]
[Menyesuaikan identitas pe#%@%##&]
[#&@&]
[.%@%$%]
[Have a nice death!]
Aku membuka mata.
---
Hal pertama yang kudengar, adalah tangisan anak-anak. Anak-anak yang terlalu muda untuk berada jauh dengan orangtuanya. Mereka dikurung di balik jeruji, bagaikan binatang ternak yang diberi kandang. Sebagian dirantai dan sebagian lain tersungkur di lantai. Beberapa mengerumuni salah satu gadis yang tersungkur, mengguncang bahunya seraya meneteskan air mata. Aku bisa mencium bau darah segar dari tubuh sang gadis, sadar bahwa ia telah disiksa seperti beberapa anak lain di ruangan.
Jika bukan karena rasa lapar dan haus yang teramat nyata, serta bau darah yang memenuhi ruangan, aku pasti mengira semua ini dusta. Sayangnya, meski aku menutup mata dan telinga, pemandangan dan tangisan di sekitarku tidak kunjung mereda.
Apa yang terjadi?
Kenapa aku bisa ada di sini?
Segera setelah menanyakan hal itu, ingatan anak laki-laki yang jelas-jelas bukan milikku terbesit di kepala. Tidak, anak laki-laki itu adalah aku. Anak berumur 15 tahun yang kehilangan segalanya ini adalah aku.
“Leon?”
Itu benar, dia adalah Leonhart. Anak yatim yang tidak punya marga. Melihat ingatan Leonhart sejauh ini, aku mengerti kenapa kami bisa berakhir di sini.
Tempat ini, Institutional School, adalah sekolah dunia bawah yang didirikan untuk mencetak para assassin terbaik manusia. Sekolah ini juga muncul di game sebagai salah satu organisasi jahat yang dihancurkan protagonis.
Mengingat cara kerja mereka yang menculik anak tak berdosa dan mendidik mereka menjadi senjata pembunuh tanpa rasa, wajar jika protagonis yang baik hati itu mengamuk dan menghancurkan semua hingga rata ke tanah. Sayangnya, event itu baru akan terjadi 5 tahun dari sekarang.
Mustahil aku mengharapkan protagonis datang untuk mengeluarkan kami dari sini. Jika aku berpangku tangan dan menunggu datangnya hari itu, hanya kematianlah yang akan datang menanti. Karena itu, aku harus melakukan sesuatu. Apapun. Untuk menyelamatkan diri dari sini.
“Leon, kamu kenapa? Kamu gapapa?”
Aku memandang ke kiri dan mendapati gadis bermata merah yang berkilau layaknya ruby memandangku. Rambutnya yang ungu panjang dibiarkan tergerai. Jika bukan karena tangan dan kakinya yang dirantai ke dinding, aku pasti mengira bahwa ia hanyalah gadis biasa. Melihat sosoknya yang begitu mirip dengan adikku yang telah tiada, nafasku terhenti. Jantungku derdebar seakan bertanya ‘mungkinkah?’, tapi setelah melihat ingatan Leonhart tentangnya, aku menyadari betapa konyolnya harapan itu.
Dia adalah Zion Airisa, teman baik Leonhart yang dibesarkan di panti asuhan yang sama, sekaligus satu-satunya orang yang masih hidup dari generasinya di institusi ini. Tak peduli semirip apapun penampilan Zion dengannya, adikku telah mati. Bahkan orang bodoh sepertiku pun tau bahwa ia tidak akan hidup kembali.
“… Aku ngga apa-apa”
“Bener? Kamu ga luka?"
Mungkin karena aku hanya diam memandangnya, gadis itu cemberut dan menggembungkan pipi. Usianya hanya beberapa bulan lebih muda dariku, tapi dia masih saja terlihat polos seperti anak kecil. Anak yang seharusnya menghabiskan hari-harinya dengan canda dan tawa seperti remaja pada umumnya. Bukan assassin yang dihukum karena gagal dalam misi terakhir yang diberikan para instruktur kepadanya.
Saat aku berpikir begitu, Zion berkata 'Ah!' seakan teringat sesuatu.
“Leon, Leon! Aku denger kamu masuk 10 besar ya? Selamet!”
Zion tersenyum lebar. Dia benar-benar terlihat senang seakan dirinyalah yang mendapat penghargaan itu. Meski sebenarnya, baik bagiku maupun Leonhart, peringkat 10 terbaik assassin tidak ada artinya karena gelar itu tidak cukup untuk lari dari sini.
‘Logout’
‘Menu’
‘Status window’
Meski bergumam berulang kali, tetap tak ada yang terjadi. Jangankan untuk logout, aku bahkan tidak bisa membuka menu dan status window seperti di permainan. Apa ini game? Atau realita? Bagaimana caraku memastikannya?
“Zion.”
“Mm?”
Aku memandang gadis di depanku dan berkata.
“Saat tes kelulusan nanti, bunuhlah aku.”
“…”
Setiap tahun, tiap pasang dari suatu generasi akan dilempar ke arena untuk saling membunuh sebagai syarat naik kelas. Mereka yang menolak akan ‘disinggirkan’, dan mereka yang gagal akan langsung dipenggal. Tes ini terus berlangsung hingga akhirnya, diperoleh 1 assassin terbaik dari tiap generasi. Mengingat orang-orang yang harus kubunuh untuk bertahan hidup sampai saat ini, aku merasa muak kepada institusi ini. Sayangnya, besok adalah tes terakhir antara aku dan Zion. Jika dunia ini adalah dunia permainan, aku mungkin tidak akan ragu untuk membunuh karakter permainan seperti Zion untuk bertahan hidup, tapi bau darah yang menyengat penciumanku mengatakan bahwa semua ini nyata. Karena itu aku tidak bisa bertindak gegabah sebelum memastikan kebenarannya.
Lagipula, saat aku mati aku akan tau jawabannya. Jika ini game, kemungkinan aku bisa kembali ke dunia nyata. Tapi jika bukan ... mungkin itu lebih baik. Karena biar bagaimana, aku telah kehilangan segalanya. Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup sekalipun berhasil kembali ke dunia nyata. Terlebih, aku tidak ingin hidup sebagai assassin dan menjadi alat untuk membunuh orang-orang tak berdosa.
Berkat pengetahuanku tentang dunia permainan, aku tau seperti apa kebengisan yang dilakukan oleh para instruktur dan lulusan sekolah ini. Hadiah lulus dari sekolah ini bukanlah kebebasan seperti yang Zion dan Leonhart idamkan, tetapi sebuah kalung dan tali anjing yang semakin mengikat.
Dan mungkin, alasan terpenting kenapa aku meminta Zion melakukan ini, adalah karena aku tidak bisa membunuh gadis di depanku. Baik sebagai Leonhart maupun sebagai otaku abad 21.
Karena biar bagaimana, Leonhart adalah salah satu antagonis utama di game Magical Bloodshed. Pembunuh berantai yang mewakili sindikat gelap dunia bawah ini putus asa setelah kehilangan orang terpenting di hidupnya. Hingga akhirnya dia bekerja sama dengan para iblis untuk memusnahkan umat manusia. Di game, sosok terpenting di hidup Leonhart memang tidak pernah disebutkan namanya. Tapi berdasarkan ingatan yang ia miliki, aku bisa mengatakan dengan yakin bahwa gadis di depanku inilah orangnya.
“Haa…”
Zion menghela nafas.
“Aku khawatir … Aku tau kamu baik, tapi kalo mereka sadar dan manfaatin cacatmu ini, bahkan aku pun ga bisa nolong loh.”
“Ini bukan cacat.”
“Ini cacatmu. Eh, salah. Aku cacatmu! Pokoknya kalo kamu ga serius lawan aku besok, Aku bakal bunuh diri di arena!”
“… Apa aku harus bunuh diri sebelum besok?”
“… Apa segitunya kamu mau ketemu aku di surga?”
"Aku rasa orang kayak kita bakal diusir loh dari surga. Maksudku, kalau kita masuk surga, setan dan iblis semuanya pasti demo dan langsung diangkat jadi malaikat.”
"Bener juga."
Zion tertawa mengiyakan.
Berdasarkan ingatan Leonhart, aku tau ia berniat menghabiskan setiap detik di hari terakhirnya bersama Zion dengan canda dan tawa. Tapi aku bukanlah Leonhart. Aku tau beberapa hal yang tidak ia ketahui. Berbeda dengan Leonhart yang putus asa karena merasa tidak ada jalan keluar dari masalah ini, aku melihat secercah harapan karena tau ada yang masih bisa kulakukan.
Room of Zeroth.
Sesaat setelah protagonis menghancurkan institusi ini, ruangan itu tampak dari tempat paling tersembunyi institusi. Ruangan yang disegel dan disembunyikan oleh para pemimpin sindikat kejahatan dunia bawah itu menyimpan sesosok monster yang tidak diketahui seorangpun. Sayangnya, aku tau monster seperti apa yang dikurung di sana.
Raja Iblis peringkat 1, Baal.
Jika aku bisa meminjam kekuatannya, aku mungkin bisa melarikan diri bersama Zion dan anak-anak ini. Tapi kalaupun aku gagal, aku tetap harus pergi ke Room of Zeroth untuk membunuh makhluk itu. Aku harus membunuhnya sebelum kekuatannya pulih sempurna. Karena jika Baal dibiarkan pulih dan turun ke dunia, dunia ini akan hancur seperti yang selalu terjadi di akhir permainan. Sampai saat ini, tak satupun player tau bagaimana cara menghentikan Baal dan menyelamatkan dunia, karena itu, aku tidak bisa mengacuhkan semua ini.
Masalahnya, bahkan protagonis yang overpowered itu pun tidak mampu membunuh Baal 5 tahun di masa depan, saat Baal telah memulihkan separuh kekuatannya. Aku tidak tau apa kekuatanku saat ini cukup untuk melakukannya. Maksudku, aku tau Baal lemah dengan elemen cahaya berkat amukan protagonis hari itu. Tapi kalau tidak salah, elemenku adalah …
“Hm? Kamu ngapain? Latihan sihir?”
Melihatku menyelimuti tubuhku dengan kegelapan dan petir ungu yang tidak biasa, Zion memiringkan kepala. Aku menghela nafas dan berkata.
“Sepertinya aku akan mati malam ini.”
“L-Leon?!"
Zion terbelalak dan segera berkata.
"Jangan nyerah dulu, aku tau kamu bisa! Ngalahin aku gampang kok!"
Entah kenapa, melihat Zion yang lebih panik dariku membuatku merasa tenang. Aku tersenyum masam dan menggeleng kepala. Apa boleh buat, aku hanya bisa melakukannya.
“Zion.”
“Hm?”
Dengan keyakinan yang mantap di dada, aku berdiri dan memandang lurus matanya.
“Ayo lari dari sini.”
Segera setelah mengatakan itu, aku bisa merasakan bukan hanya Zion, tapi pandangan semua mata yang ada di ruangan tertuju padaku.