MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 12.Escape(12)



Ariel POV


---


Saat jiwaku dan Baal terjebak di dalam kegelapan, aku memang tidak bisa menggerakkan tubuhku, tapi itu bukan berarti aku tidak bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di realita. Melihat bola api raksasa yang jatuh ke arah Zion, ingin sekali rasanya aku melesat dan membawa ia lari dari sini.


"Kau ingin lari?! Setelah mempermalukanku seperti ini?!"


Tapi Baal terus menarikku kembali ke kegelapan.


"Hehe, jangan buru-buru. Kau akan melihat kematian gadis ini bersamaku. Kau akan melihatnya mati tanpa bisa berbuat apapun. Apa kau menyesali perbuatan ini? Apa kau mengerti apa yang terjadi jika melawan kami?"


Aku menggigit bibir karena teringat betapa busuknya makhluk ini. Tapi hati kecilku tau perkataan Baal ada benarnya. Mustahil aku bisa menyelamatkannya dalam kondisi ini. Tapi Zion masih bernafas, dan itu bagus. Sekarang, apa yang bisa kulakukan untuk membuat situasi yang nampak mustahil ini menjadi sedikit lebih baik?


Aku memaksa otakku untuk berpikir mencari solusi. Menyadari bahwa satu-satunya cara menolong Zion adalah dengan mengurus Baal terlebih dahulu, aku menutup mata dari dunia luar dan hanya fokus melakukan hal itu.


Seakan menyadari perubahan yang terjadi padaku, Baal terbelalak dan berkata.


"Kau...! Kenapa tiap kali jiwamu terguncang kau selalu bisa kembali?!"


Tentu saja aku tidak membuang waktu dan tenaga untuk menjawab pertanyaannya. Aku juga tidak lagi merespon satupun provokasi atau ancaman yang ia buat. Jangankan merespon, aku bahkan merasa bahwa aku tidak lagi bisa mendengar perkataannya. Yang ada di kepalaku, hanyalah bagaimana cara mengalahkan Baal dan keluar dari sini dengan cepat. Dan yang menggerakkan tubuhku, hanyalah harapan kecil untuk mewujudkan semua itu.


"AAAAAAAAH!"


Baal menjerit dan melindungi wajahnya. Tapi itu tidak menghentikanku untuk mencongkel matanya dan memecahkan kepalanya. Atau menginjak otaknya hingga berceceran di tanah. Awalnya, Baal yang bisa beregenerasi tanpa henti hanya menanggapi ini dengan tenang, tapi setelah kejadian itu berulang untuk puluhan, ratusan, dan ribuan kali banyaknya, ia mulai menggila karena tidak mampu melawan.


Mana mungkin seorang bayi bisa menang melawan orang dewasa?


Setelah 'membunuh' iblis yang kekuatannya masih tersegel ini, akhirnya aku berhasil menyerap kegelapan yang menyelimuti kulit terluarnya. Aku berniat untuk menyerap kekuatannya tak bersisa, tapi Baal segera menghempaskan jiwaku ke realita dan mengurung dirinya ke bentuk jantung seperti semula.


"Bocah keparat! Bocah sialan! Kau menyerap kekuatan yang susah-payah kukumpulkan?! Tunggu sampai aku memulihkan kekuatanku dan--"


Merasa jengkel dengan Baal yang tidak bisa diam, aku membenamkannya ke dalam bayanganku. Jika Baal masih berada dalam kondisi prima, ia mungkin masih bisa memberontak meski diperlakukan seperti ini. Sayangnya, ia hanya bisa menggigit bibir dan memulihkan diri saat ini.


Puas dengan kegelapan dan asupan mana yang kudapat, aku membuka mata dan terkejut dengan apa yang kulihat. Bola api yang semula ada di langit telah jatuh ke bumi dan membentur perisai mana yang tidak kalah terang sinarnya. Pusaran angin meliputi perisai itu, berusaha membelokkan laju sang api yang kini membakar rerumputan dan pepohonan sekitar. Menyadari betapa gentingnya situasi ini, aku meliputi tubuhku dengan percikan listrik dan melesat ke arah Zion. Tapi seakan ingin menertawakan usahaku, perisai terakhirnya tetap hancur hingga tubuhnya terjatuh lemas.


"Zion! Zion!!"


Untungnya, aku berhasil menangkapnya sebelum semua terlambat. Nafasnya begitu berat dan tubuhnya seperti sedang terbakar. Tidak ada yang lebih ingin kulakukan selain mengistirahatkan dan memeriksa kondisinya sekarang juga. Tapi pria yang menyebabkan semua ini masih menyerang sang gadis. Merasa jengkel dengan bola api yang melesat ke arah kami, aku menyelimuti gunblade dengan kegelapan dan membelah bola api itu menjadi dua. Seketika, kegelapan menelan bola api yang seharusnya meledak itu dan melenyapkannya tak bersisa.


Basen yang melihat semua itu tersentak dan menyadari keanehan di tubuhku.


"Apa... ini? Apa yang terjadi...?"


Mungkin karena kegelapan yang menggeliat-liat di sekitarku, Basen terbelalak seperti baru saja melihat monster. Tapi aku tidak menghiraukannya dan hanya mengamati gadis di pelukanku.


"..."


Melihat kulitnya yang terbakar dan tersayat di berbagai tempat, serta sosoknya yang kesulitan bernafas, dadaku terasa sesak. Seperti ada orang yang menggenggam jantungku agar berhenti berdetak.


Aku menggigit bibir, menyandarkan tubuhnya ke pohon, dan berjalan ke arah Basen. Seketika, bulu kuduk di tubuh Basen nampak berdiri seakan baru melihat setan.


Mungkin karena menyadari tubuhnya yang gemetar, Basen menghentikan kakinya yang hendak melangkah mundur dan berkata.


"Satu-satunya yang bisa membuatku merasa seperti ini, hanyalah si peringkat 1... Tapi perasaan ini... Tidak, itu mustahil. Mustahil Leonhart sama berbahayanya dengan monster itu!"


Basen menggigit bibir, seakan tak ingin mengakui rasa takutnya kepada seseorang yang jelas-jelas jauh lebih muda dan lebih rendah darinya. Melihatku berhenti mendekat, Basen membuka mulut seakan ingin bertanya ada apa. Tapi sebelum ia mampu mengucapkan sepatah kata.


"...!"


Ia terkejut dengan darah yang terciprat membasahi wajahku. Tak mengerti apa yang terjadi, ia memandang ke bawah dan menemukan tubuh Lily yang telah terpisah dari kepala. Menyadari bahwa alasanku berhenti adalah untuk menebas Lily yang masih terkapar, ekspresi Basen membeku.


"...Kau sadar? Bahwa Lily menyembunyikan nafas dan tanda kehidupannya dengan traceless?"


"Tidak."


Aku mengusap wajah dan berkata.


"Aku hanya ingin membalas semua yang melukai gadis itu."


Terhadap orang-orang yang telah membuatnya terluka, aku mengepal tangan dan berkata.


"Lily dan Basen. Kalian akan mati di sini."


Seketika, kegelapan dan mana yang kuserap meluap seakan ingin menelan semua yang ada di langit dan bumi. Merasa bahwa semua ini tidak bisa dibiarkan, Basen membuat bola api di langit. Bedanya, bola api ini jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang ia buat sebelumnya. Melihat Basen muntah darah, aku sadar bahwa ia memaksakan dirinya untuk melancarkan serangan ini.


"Mati kau, Leonhaaaaart!!"


Basen menembakkan bola api itu ke arahku. Mempertaruhkan hidup dan matinya dengan serangan ini. Merasa bahwa aku juga harus melakukan hal yang sama, aku menggunakan karunia Leonhart yang sesungguhnya untuk kali pertama.


"Inkarnasi."


Seketika, kegelapan yang semula memenuhi langit dan bumi melesat ke arahku. Mereka masuk ke semua lubang dan pori-pori yang ada, mengubah struktur tubuhku dari luar dan dalam. Saat tubuhku telah diliputi sepenuhnya oleh kegelapan, dan semua organ yang kupunya juga telah menjadi kegelapan, aku membuka 'mata' dan menghunus 'tangan' ke angkasa.


Saat tanganku bersentuhan dengan bola api yang meletup-letup seakan hendak meledakkan bumi seluruhnya, kegelapan menelan bola api itu dan melenyapkannya tak bersisa. Mengubahnya menjadi asupan mana yang meningkatkan kekuatanku seketika. Sebagai tanda terimakasih, aku menciptakan bola api yang sama besarnya dengan mana yang kuserap. Bedanya, bola ini tidak terbuat dari api, tapi dari kegelapan yang meletup-letup seakan ingin menelan dunia bersamanya.


Basen terbelalak melihat semua yang terjadi. Tapi saat bola hitam ini melesat ke arahnya, ia mengeluarkan suatu kristal dari sakunya dan memecahkannya sekuat tenaga.


Seketika, perisai tanah yang berlapis-lapis menyelimuti tubuh Basen. Menyadari bahwa ia baru saja menggunakan artifak sekali pakai, aku mendengus melihat perlawanannya yang tiada guna. Seakan membenarkan dugaanku, bola hitam itu membentur lapisan tanah yang melindungi tubuh Basen dan terus melahapnya hingga lapisan terakhir.


Saat lapisan terakhir hancur, tiba-tiba sebuah ledakan muncul dan menelan perisai dan bola hitam yang tersisa. Melenyapkan keduanya dari muka bumi. Melihat Basen yang terengah dengan tubuh mengering, aku sadar bahwa tongkat di tangannya adalah juga artifak. Artifak yang mampu menukar sisa hidup penggunanya dengan kekuatan berlimpah.


"Aku terkejut. Aku tidak menyangka para atasan begitu menyukaimu."


"..."


"Tapi berapa banyak artifak yang kau punya? Berapa banyak serangan yang bisa kau terima?"


Seakan kalimatku adalah sebuah tanda. Bola hitam yang persis sama dengan yang kubuat sebelumnya muncul di langit malam. Bedanya, jumlahnya tidak hanya satu dan dua, tapi cukup untuk memenuhi langit dan menelan semua yang ada di dunia.