MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 15. Freedom(1)



Setelah semua merasa tenang dan kaki Zion agak baikan, kami mendiskusikan apa yang akan kami lakukan ke depan.


“Aku mau pulang.”


“Kami mau buka kedai.”


“Mungkin merantau.”


Mereka tertawa dan menjawab dengan mata berbinar. Tentu saja tak semua orang tau apa yang ingin ia lakukan, karena itu sebagian hanya bisa saling pandang dan tersenyum masam. Seakan tidak pernah menduga bahwa hari saat mereka memperoleh kebebasan akan tiba.


Tapi yang jelas, kami akan membuka lembaran baru di hidup kami mulai hari ini. Karena itu semua mendiskusikannya dengan serius. Aku mencoba mengajukan pertanyaan yang sama pada Zion.


“Aku...”


Ia memandang anak-anak yatim yang masih terlalu muda di antara kami. Aku mengangguk dan berkata.


“Gimana kalo ibukota? Kita bisa pikirin tentang masa depan setelah anter mereka ke panti.”


“Mn.”


Zion mengangguk dan menundukkan wajah, seakan merasa malu karena pikirannya terbaca. Orang-orang yang mendengar pembicaraan kami nampak ingin pergi bersama kami, tapi aku segera menggeleng dan berkata.


“Yang Basen dan Lily incar adalah aku. Institusi mungkin sudah hancur, tapi selama dalang di balik semua ini masih bernafas--”


“Tapi--”


“Kalau kalian khawatir dengan anak-anak ini… Hm… Kalian tau kan pemerintah melindungi panti asuhan dan tempat umum seperti sekolah? Itulah kenapa anak-anak ini akan lebih aman jika ada di sana, sedangkan kalian...”


“...Kami mengerti.”


Mereka mengurungkan niat dan tersenyum pasrah. Setelah memutuskan apa yang akan kami lakukan, kami berpisah dan menempuh jalan masing-masing. Melihat Zion bermain bersama anak-anak sepanjang jalan membuat hatiku terasa hangat, terutama sepasang kakak-beradik yang terus menggenggam tangannya.


Apa saat kecil dulu aku dan Elina juga seperti itu? Sadar bahwa baik dulu maupun sekarang aku masih seorang yatim, aku tersenyum masam dan memandang jauh ke depan.


Seketika, dari celah dedaunan yang menutupi pandangan, dari pohon terakhir yang mengakhiri hutan, sebuah kota dengan gedung pencakar langit yang berdiri megah memenuhi pandangan. Di tengah anak-anak yang memandang ibukota dunia dengan mata berbinar, aku tersenyum memandang kota yang sangat kucinta.


"Aku pulang, Jakarta."



Ariel POV



Indonesia adalah negara yang kaya. Pernyataan ini masih sama baik di tahun 2025 atau abad 25. Yang berbeda hanyalah dalam hal apa Indonesia disebut kaya. Jika di tahun 2025 Indonesia memiliki hutan, minyak bumi, dan sumber daya alam yang melimpah ruah, di abad 25 Indonesia adalah negara yang menjadi sumber utama kristal mana dunia. Sebuah batu yang bermutasi bersama terbukanya portal dimensi dan kini menjadi bahan bakar utama dunia ini.


Tentu saja, melimpah ruahnya sumber daya ini menarik mata semua negara yang ada. Karena itu untuk menghindari pertumpahan darah berkepanjangan, Indonesia menjadikan dirinya sebagai satu-satunya negara bebas di dunia. Semua berhak tinggal di negara ini dan semua berhak mengolah sumber daya yang ada. Sebagai gantinya, Indonesia mendapat perlindungan mutlak dari seluruh dunia dan berkembang pesat menjadi negara paling maju yang ada. Sampai-sampai Jakarta diakui sebagai ibukota dunia dan Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama yang harus dikuasai semua.


Meski kursi pemerintahan saat ini tidak lagi diduduki oleh negara itu sendiri, melainkan oleh Asosiasi Pahlawan yang mewakili semua negara di dunia, aku rasa Indonesia mengambil keputusan yang tepat mengingat bagaimana Afrika yang memonopoli sendiri kekayaannya hancur oleh serangan monster saat tidak ada yang datang menolong.


Tentu saja pemerintah yang korup tetap ada. Tapi bahkan mereka pun tidak bisa bergerak sesuka hati karena Asosiasi Pahlawan saling mengawasi.


“Leon?”


“Hm?”


Mendengar suara Zion yang berdentang seperti lonceng, aku berhenti melamun dan memandang mata merahnya.


“Kamu ga makan? Perutmu sakit?”


“Aku udah kenyang. Kamu mau?”


Zion mengangguk dengan mata berbinar. Melihatnya memegang sendok dan garpu layaknya senjata perang membuatku tersenyum masam. Aku memberikan kue tart yang tidak habis kusantap dan memandang ke luar jendela. Dan saat aku kembali memandang dirinya.


“...”


Aku sadar bahwa kue yang semula masih menjulang tinggi itu telah hilang entah kemana.


Huh? Berapa lama aku melamun?


Setelah memastikan berkali-kali bahwa satu menit pun belum berlalu, aku bertanya dengan nada terkesima.


Yang entah kenapa membuat wajah Zion memerah.


“Ha-Habis... Ini enak dan, umm, perempuan punya perut sendiri untuk manisan, inget?”


Aku tertawa dan berkata.


“Aku ngga ngekritik kok, cuma takjub. Abis ini mau keliling lagi? Ayo kita isi perut keduamu itu sampe penuh.”


“Uuu gimana ini, aku tau aku nyusahin Leon kalo ditraktir terus kayak gini... Aku harus nolak. Yup, pokoknya aku harus nolak!”


Zion mengepal tangan dan membulatkan tekad.


“Mau es krim?”


“Mauuu!”


Tapi tekad itu hancur hanya dalam sekejap. Kami mengelilingi ibukota dan mengunjungi berbagai toko yang ada. Sesekali aku terkejut karena menemukan makanan yang familiar seperti kimchi dan ramen di sepanjang jalan. Sepertinya, kebanyakan makanan dari beberapa abad lalu pun masih bertahan hingga kini. Meski banyak juga jenis makanan baru yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Terutama yang menggunakan bagian tubuh monster dan serangga sebagai bahan utamanya.


Mobil self-driving keluar masuk gerbang kota. Anak-anak berlarian dan mencerahkan suasana dengan gelak tawa. Aroma sedap makanan dari kedai sepanjang jalan menggelitik manja indra penciuman. Drone yang beterbangan menyiarkan tayangan langsung sebuah konser di tengah kota. Aku memandang langit biru dan sadar bahwa aku benar-benar tiba di masa depan.


Melihatku termenung, Zion menepuk bahuku dan saat aku menoleh, aku mendapati telunjuknya menyentuh pipiku, membuatnya tertawa usil karena triknya berhasil.


“Kamu ngelamun mulu nih. Kenapa? Banyak pikiran?”


“Mhm. Sedikit.”


“...Apa kamu khawatir sama panti asuhan tadi?”


Bukan, tapi, melihat ekspresinya yang begitu sedih membuatku menganggukkan kepala. Zion melanjutkan.


“Sebelum ini juga kayaknya mereka punya masalah.”


“Mhm. Aku juga kaget pas denger bantuan dana belum cair beberapa bulan ini.”


“Menurutmu ini ada hubungannya sama bandit yang bibi perawat ceritain?”


“Mungkin. Aku denger mereka berhasil nyuri dari mobil pedagang yang keluar masuk kota beberapa kali. Bukan mustahil kalo mobil bantuan dana juga termasuk yang mereka curi.”


“Dan karena sekarang mereka harus ngerawat 20 anak lagi… Aku khawatir. Apa ga ada yang bisa kita lakuin?”


“Kita bisa nyumbang uang. Meski sebenernya, itu cuma solusi sementara. Karena selama inti masalah ini ngga diatasin, para pencuri itu pasti bakal berulah lagi dan… Oh, ngomong-ngomong soal pencuri.”


Zion memiringkan kepala menungguku melanjutkan. Tapi karena ia berjalan tanpa melihat ke depan, seorang anak kecil menabrak Zion hingga keduanya jatuh ke tanah.


“Ah! Kamu gapapa? Maaf ya, teteh ga lihat tadi.”


Zion mengulurkan tangan dan membantu lelaki itu berdiri. Anak itu tertawa dan berterimakasih lalu kembali bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya. Zion tersenyum lembut melihat pemandangan itu dan kembali menoleh ke arahku.


“Leon, tadi kamu mau ngomong apa?”


“Bukan apa-apa. Tapi kelihatannya kita baru aja ketemu solusi masalah ini.”


“Eh?”


“Ngomong-ngomong, apa ada barangmu yang hilang?”


“...Ah! Kalungku!”


Zion melihat sekitar, tapi tidak mampu menemukan anak tadi maupun teman-temannya. Merasa bahwa ia harus segera mengejar mereka, Zion menggigit bibir dan membulatkan tekad. Tapi sebelum ia berhasil mengambil langkah.


“Ini.”


“...Eh?”


Zion memandang kalung yang kuberikan dengan mata terbelalak. Lalu memandangku seperti anak kucing yang baru ditelantarkan majikannya. Setelah memahami semua yang terjadi, dan mengingat kembali pembicaraan kami, Zion tak sanggup untuk menahan diri dan berkata.


“Jadi kamu malingnya!”


Yang tentu saja, aku balas dengan mencubit pipinya.