MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 3. Escape(3)



Saat aku membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah jutaan orang yang berlutut kepadaku.


“Kami menyambut kepulangan Anda, Yang Mulia Raja.”


Seluruh jiwa, baik tua ataupun muda, baik pria ataupun wanita, menundukan kepala penuh penghormatan kepadaku. Aku mengamati pakaian mewah yang kukenakan, mahkota di kepala, dan singgasana megah yang tengah kududuki.


“Sayang, apa ada hal yang kamu tak suka?”


Suara lembut seorang wanita menyadarkanku dari lamunan. Sosoknya yang lebih cantik dan lebih bersinar dari rembulan membuat para gadis pelayan yang berlalu lalang terlihat seperti gadis jelata. Aku mengenal wanita ini. Lebih tepatnya, aku adalah salah satu dari sekian banyak pria yang mengagumi kecantikannya di dunia nyata. Kristina Pimenova. Gadis berambut cokelat asal Rusia yang dijuluki sebagai ‘supermodel termuda’ dan ‘gadis paling cantik di dunia’ ini adalah gadis idaman para pria. Tapi bagaimana mungkin Kristina ada di dunia ini?


“Apa kamu merasa lelah? Atau kamu rindu anak-anak kita?”


“… Apa?”


“Sayang, aku tau kamu cinta mereka, tapi kamu harus membiarkan mereka belajar mandiri … Atau, kalau kamu mau, umm … Kita bisa … Kau tau?”


Kristina mendekatkan wajahnya dan berbisik.


“Kita bisa melakukannya lagi malam ini.”


Ia tersipu dan menundukkan wajahnya yang memerah. Gadis yang didambakan oleh para pria di seluruh belahan dunia ini telah menjadi milikku semata. Kami dikaruniai putra-putri yang berbakti dan amat berbakat. Serta kerajaan yang subur dan aman sentosa. Sebuah dunia ideal tanpa adanya peperangan dan pertumpahan darah. Dunia yang saat ini berada di genggaman tanganku.


Kelihatannya aku terjebak di dunia ilusi. Terlebih, ini adalah ilusi tingkat tinggi yang bisa memenuhi semua hasrat korbannya untuk memenjarakan jiwa mereka selamanya.


“Menjadi raja di dunia ideal seperti ini ... Tidak buruk, aku suka ide ini. Tapi ...”


“Sayang?”


Mungkin karena melihatku berbicara sendiri, Kristina memiringkan kepala tidak mengerti. Aku hanya tersenyum memandangnya. Lalu, aku mengarahkan pandangan ke langit dan berkata.


“Aku tidak pantas menjadi raja. Dan sekalipun bisa, aku tidak ingin menerimanya. Menjadi raja berarti bertanggung jawab atas hidup dan mati jutaan jiwa yang berada di bawah kekuasaanku. Baal, sebagai Raja dari semua Raja Iblis, kau mengerti betapa fananya sebuah tahta kan? Pada akhirnya, sebuah piala hanyalah gelas yang tidak bisa dipakai minum dan sebuah mahkota ...”


Aku mengeluarkan gunblade dari bayangan dan menghunuskannya ke langit.


“Adalah topi yang tidak mampu melindungi kita dari panas mentari.”


Peluru petir melesat dan memecahkan langit-langit istana. Peluru itu terus melesat hingga memecahkan langit di angkasa, yang runtuh seketika bersama dunia dan ilusi yang ada di depan mata. Di dunia yang kini hanya diliputi kegelapan, aku berjalan. Dan tidak lama, ilusi baru muncul memenuhi pandangan.


“Harta … kah?”


Gunung emas dan berlian terhampar sejauh mata memandang. Berbagai ingatan memenuhi kepala. Kelihatannya, semua ini adalah harta yang ‘aku’ kumpulkan di dunia ilusi. Aku menghela nafas dan berkata.


“Apa gunanya harta jika hanya kugunakan sendiri? Apa kau pikir harta bisa membeli kembali nyawa orang yang kucinta? Aku mungkin bisa membeli alam semesta dengannya, tapi untuk apa? Aku akan mati. Kau akan mati. Dan pada akhirnya semua harta ini akan berakhir di tangan orang lain. Berlebihan itu sama buruknya dengan kekurangan. Tidak kaya dan tidak miskin, tapi hidup berkecukupan. Itulah yang terbaik.”


Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku hanya berhenti untuk satu atau dua detik saja pada setiap ilusi. Karena biar bagaimana, aku adalah orang yang telah kehilangan segalanya. Tidak ada satupun hal di dunia ini yang bisa menggantikan sosoknya. Baik itu harta atau tahta, nama ataupun wanita, semua sudah tidak ada artinya bagiku.


Karena itu aku hanya bisa berjalan. Aku terus berjalan mengarungi kehidupan, mendambakan pertemuan kembali dengannya, tapi terlalu takut untuk mengakhiri hidupku dengan tangan sendiri. Aku adalah pria berumur 21 yang menutup diri dan hatinya dari dunia. Anak yatim yang membius dirinya sendiri dengan game dan anime hingga bertahun-tahun lamanya. Aku menutup mata dan telinga, berjalan di kegelapan tanpa menghiraukan apa yang orang lain kata.


Aku hanya berjalan dan terus berjalan, melalui semua itu hingga akhirnya, aku kembali ke realita, ke ruangan gelap tempat semua ilusi ini berawal. Room of Zeroth, tepat di depan jantung yang terbelalak memandangku.


“Seseorang yang tidak menginginkan harta dan tahta, nama ataupun wanita … Baru kali ini aku bertemu orang sepertimu. Apa kau benar-benar manusia?”


“Lucu. Aku juga pernah bertanya hal serupa.”


Melihatku berjalan mendekat, Baal bersiul seakan tertarik dengan makhluk di depannya.


“Jika gemerlap dunia tidak bisa menggoyahkan jiwamu. Aku hanya perlu melihat ke dalam dan mengguncang jiwamu dengan cara berbeda.”


Mungkin karena melihatku memiringkan kepala, Baal menyipitkan mata seakan menertawakan makhluk di depannya. Saat aku mengerti maksud perkataannya, aku tersentak. Bulu kudukku berdiri dan puluhan alarm berbunyi di kepala, menyuruhku untuk menyinggirkan jantung yang masih berdenyut itu sekarang juga. Tapi sebelum tanganku mampu meraihnya, sepasang mata memandangku dan berkata.


“Anggap ini balasan karena menolak semua hadiah dan pemberian dariku. Rasakan mimpi buruk yang terus berulang dan jadilah cangkang untuk kebangkitanku di dunia!”


Baal tertawa dan menciptakan kegelapan pekat yang menelan tubuh dan duniaku seluruhnya. Apa maksudnya dengan mimpi buruk yang berulang? Apa yang bisa mengguncang jiwaku hingga Baal bisa mengambil alih tubuh ini?


Aku berpikir dan terus berpikir. Mencoba mencari solusi sebelum ilusi ini datang menyerang. Tapi seakan mentertawakan perlawananku yang tiada guna, dunia yang semula hanya diliputi kegelapan berganti dengan pemandangan sebuah kelas kosong di SMP yang sangat kukenal.


“Kakak...”


Seorang gadis yang gagal kuselamatkan hari itu masih bernafas dan bergumam dengan nafas terbata.


“Apa yang harus kulakukan?”


Ia duduk bersandar ke dinding. Membenamkan wajahnya ke lutut seakan ingin menyembunyikan air mata dan suara isak yang sesekali terdengar. Sepatunya basah setelah diceburkan ke toilet dan ranselnya dipenuhi oleh serangga dan kotoran. Lengannya memar seakan baru jatuh dari tangga dan rambut coklatnya yang semula panjang kini hanya tinggal setengahnya. Mendengar suara tawa para gadis yang terdengar di kejauhan, aku terbelalak menyadari apa yang dimaksud Baal dengan mimpi buruk yang terus berulang.


“Kakak...”


Tanpa tau apa yang kurasa dan ekspresi seperti apa yang tengah kubuat.


“Tolong aku...”


Aku terjebak di kejadian yang sama dengan yang telah merenggut segalanya dari hidupku.


---