
Suasana yang semula tegang terasa semakin mencekam. Sebagian saling pandang karena tak tau harus apa. Sebagian lagi mengangkat pisau dengan tangan gemetar. Hingga akhirnya, hanya beberapa orang yang memilih untuk tetap berdiri di sisiku. Di tengah keputusasaan yang mereka rasa, mereka dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati. Wajar jika sebagian merasa goyah dan memandangku layaknya serigala kelaparan yang tengah mengamati mangsanya, tapi sebelum seorang pun berhasil menghunuskan pisaunya padaku.
“Stop!”
Pemuda di sisiku berujar.
“Leonhart telah menyelamatkan kalian! Apa kalian hendak membalas kebaikan dengan keburukan? Apa bedanya kalian dengan orang-orang yang menyiksa kalian di tempat ini?!”
Wajahnya memerah menahan geram, tangannya dikepal dan semua yang mendapati sorotan matanya menundukkan wajah menahan malu. Tidak puas dengan reaksi mereka, Pemuda itu kembali berujar.
“Kita tidak boleh terpecah! Jangan terpengaruh ucapan manis mereka! Sendiri, kita mungkin tidak ada apa-apanya, tapi jika kita menyerang bersama--”
Seketika, sebuah pisau angin melesat dan memotong leher pemuda itu. Semua orang terbelalak memandang darah yang memancar dari leher sang pemuda. Wajahnya yang terbakar api amarah melayang di udara dan tidak lama, jatuh bersama tubuhnya yang tanpa kepala.
“Aha, ini lebih baik. Aku benci pria yang kaku.”
Lily tertawa kecil dan mengangkat jari-jarinya yang lentik. Seketika, pusaran angin terbentuk dan menghempaskan sisa-sisa pemuda itu ke kejauhan.
“...”
Dia mati. Dan tak satupun dari kami mampu menghentikannya. Jangankan menghentikannya, aku bahkan tidak menyadari kapan Lily menyerang. Meski serangan angin pada umumnya memang tidak terlihat dan tanpa suara, mustahil jika tak seorang pun dari kami tidak menyadari kedatangannya.
Aku mengingat kembali karunia Lily dan bergumam.
“Traceless … Karunia untuk menghilangkan jejak segala sesuatu.”
Mendengar ucapanku, Lily tersentak dan berhenti tertawa.
“Kau …!”
Basen juga nampak tertarik dan mengangkat alisnya.
“Kelihatannya kau punya banyak rahasia yang tidak kami ketahui. Hmm, karena atasan bilang kau bahkan tau keberadaan Room of Zeroth… Apa karuniamu berhubungan dengan pencarian informasi?”
Aku tidak menjawab dan hanya menggenggam gunblade lebih erat. Basen tertawa kecil dan mengangkat tongkat sihirnya.
“Yaa biarlah. Lily, ubah rencana. Jangan bunuh Leon, tangkap dia untuk diinterogasi.”
“Aish, merepotkan.”
Lily memandang kami dan berkata.
“Kalian dengar? Tidak perlu lagi saling bunuh. Kami hanya akan membawa Leonhart, karena itu, semua orang selainnya.”
Lily menyeringai.
“Akan mati malam ini.”
Seketika, Lily melapisi pisaunya dengan angin. Setelah melihat kemampuan Lily tadi, semua orang menyebar karena tidak tau darimana serangan akan tiba. Tapi seakan telah memprediksi tindakan ini, belasan pisau angin melesat dari segala arah. Sebagian berhasil menghindar, tapi mereka yang kurang beruntung dan refleksnya lamban segera tercabik dan berceceran di tanah.
Basen menurunkan tongkatnya dan berkata.
“Tenanglah, Leonhart. Kau hanya perlu duduk manis sampai kami mengurus mereka. Jika kau melakukan itu, aku berjanji kau tidak akan kehilangan nyawamu malam ini.”
“Maksudmu aku akan tetap kehilangan nyawa setelah malam ini?”
“Kau pintar. Terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri.”
Mendapati suara jeritan yang memecahkan keheningan, dan melihat tubuh korban yang semakin berjatuhan, aku ragu apa harus menyerang Lily dengan sisa mana yang kupunya atau menyelamatkan mereka. Tapi saat melihat pisau angin akan mencincang orang-orang yang memilih untuk tetap berdiri di sisiku, aku menyelimuti tubuhku dengan petir dan melesat untuk menyelamatkan mereka. Melihatku bergerak secepat kilat menyelamatkan para tahann, Lily berkata.
“Kau cari mati?! Hey, berhenti bergerak! Basen! Kau lihat sendiri kan? Jangan salahkan aku jika ia ‘tidak sengaja’ terbunuh!”
Basen hanya menghela nafas pasrah.
“Aku mengerti. Lakukan sesukamu.”
Puas dengan jawaban Basen, Lily menyeringai dan tak lagi menahan dirinya. Sekarang ia tidak hanya menyerang para tahanan, tapi juga menyerangku. Bahkan serangan yang ia lancarkan padaku jauh lebih kuat dan lebih banyak dari serangan yang ia lancarkan kepada siapapun. Merasa bahwa berada di dekatku akan lebih membahayakan, aku menyerahkan mereka kepada Zion yang berlari ke arahku dengan perisai mana yang menyelimuti tubuhnya.
“Lindungi mereka!”
“Eh? Tunggu, Leon!”
Zion mengulurkan tangannya seakan ingin menarikku ke dalam perisai itu juga. Tapi aku lebih dulu melesat ke arah Lily untuk menghentikan serangannya yang membabi buta. Lily nampak terhibur melihat reaksiku.
“Hehe, kau berani. Aku suka itu, tapi--”
Seketika, pusaran angin menyelimuti tubuh Lily dan menghempaskanku ke kejauhan.
“Kau bukan tipeku.”
Aku mendarat di tanah dan menembakkan peluru petir ke tempat Lily berada. Peluru itu mampu menciptakan lubang kecil di pusaran angin yang Lily buat, tapi setiap kali sebuah lapisan hancur, Lily akan menciptakan lapisan baru untuk menggantikannya. Aku tidak bisa menyerang lebih cepat dengan gunblade type revolver, dan aku juga tidak punya mana yang cukup untuk membuat peluru yang bisa menghancurkan pusaran angin itu sekali tembak. Untungnya, Basen hanya melihat semua kejadian ini seakan tidak ingin terlibat.
Bisakah aku menyerang dari bayangan? Tidak, Lily terisolasi dari semua bayangan. Dan sekalipun aku bisa, aku tidak bisa menjamin tubuhku tidak akan langsung tercabik saat keluar darinya. Lalu apa yang harus kulakukan?
Seakan tidak ingin memberiku waktu berpikir, Lily segera menembakkan belasan pisau angin ke arahku. Aku tidak bisa mendengar kedatangannya, dan aku tidak bisa melihatnya, aku hanya bisa menyerahkan tubuhku pada insting yang telah bertahun-tahun Leonhart asah.
“…!”
Itu benar, tubuh ini adalah tubuh Leonhart! Aku yang sekarang mungkin cukup kuat untuk menggunakan hal itu.
Aku membuat peluru petir terkuat yang kubisa, lalu membungkusnya dengan kegelapan yang berlapis-lapis. Petir itu mengamuk seakan ingin bebas, tapi kegelapan yang kubuat terus menekannya hingga petir itu terkonsentrasi dan menggumpal layaknya benda padat. Aku menghindari semua serangan Lily, melesat sedekat mungkin dengannya, lalu menembakkan peluru itu dengan seluruh mana yang kupunya.
“Hehe, percuma. Apa kau pikir serangan yang sama akan mempan terhadapku?”
Mengira peluru itu akan lenyap jika ia biarkan seperti sebelumnya, Lily tidak terlalu menaruh perhatian padanya. Tapi saat peluru itu bertemu dengan pusaran angin yang ia buat, semua orang yang berada di luar menyadari keanehan yang terjadi. Peluru itu tidak ditelan oleh angin seperti sebelumnya. Justru sebaliknya, peluru gelap itu menelan semua dan setiap benda yang dilaluinya. Baik itu lapisan angin, molekul, suara, bahkan cahaya. Semua gagal menghentikan peluru yang melesat lurus ke arah Lily. Menyadari betapa berbahayanya serangan ini, Basen terbelalak dan berujar.
“Lily!”