MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 13. Escape(13)



Menyadari bahwa cahaya telah hilang dari hidupnya, Basen melihat mataku untuk kali pertama.


"...!"


Seketika, tubuhnya mematung, nafasnya terhenti, dan rambutnya yang semula hitam kini mulai memutih. Apa penampilanku semengerikan itu? Setelah bertekad untuk menggunakan wujud manusia lain kali, aku mendengar suara Basen yang seperti bisikan.


"...r."


"?"


"Monster! Kenapa kalian tidak bilang bahwa dia seorang monster?! Bukankah ini misi yang mudah?! Huh?! Bukan ini yang kalian janjikan!"


Basen memaki langit seperti orang yang telah kehilangan kewarasan. Aku mengangkat 'alis' karena tertarik dengan ucapannya, tapi bahkan tindakan itu pun membuat Basen ketakutan hingga jatuh ke belakang.


"Aku menyerah... Aku menyerah, aku menyerah, aku menyerah! Maaf karena telah melawan! A-Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Apapun. Akan kuberikan apapun! Karena itu..."


"...Kau punya obat?"


Mengingat kondisi Zion yang masih sekarat, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Aku benar-benar berharap Leonhart tidak hanya menyimpan senjata dan alat assassinasi di dalam bayangannya, tapi juga obat-obatan dan barang berguna lainnya. Sayangnya, yang kutemukan hanyalah sebotol obat penyembuh luka yang diragukan keampuhannya. Daripada mencoba sesuatu yang tak pasti, bukankah lebih baik untuk memilih jalan lain yang tingkat keberhasilannya tinggi?


"Obat? Oooh! Tentu! Obat, racun, apapun itu! Ini! Ambil semua dan tinggalkan aku!"


Untungnya, Basen menyerahkan semua benda di sakunya seperti orang kesurupan. Aku bertanya-tanya apa ia benar-benar telah kehilangan kewarasan, tapi aku berhenti memikirkannya karena tiap detik amat berharga. Bahkan hingga detik ini pun, nyawa Zion masih terancam bahaya. Karena itu aku perlu mengurus semua ini secepatnya.


Melihatku menarik kembali bola hitam yang memenuhi langit, Basen menghela nafas lega dan segera beranjak. Tapi sebelum ia mampu berdiri dan mengambil langkah pergi.


"Gah!"


Ia tersandung dan jatuh ke tanah. Saat ia melihat ke bawah, ia mendapati tangan hitam yang menggeliat-liat memegang erat kakinya.


"T-Tunggu! Bukankah aku telah memberikan semua padamu?!"


"Kau memang telah memberikan semuanya, tapi kapan aku bilang akan melepasmu?"


Ekspresi Basen membeku. Ia memandangku seperti orang yang baru terzhalimi. Menyadari bahwa malaikat kematian telah berdiri di depannya, Basen mencoba melepaskan diri dan lari sekuat tenaga. Tapi jangankan untuk lari, ia bahkan tidak mampu mengerahkan tenaga untuk berdiri.


Tangan-tangan hitam yang memegangi tubuhnya terus bermunculan, memudahkanku untuk menyerap kekuatannya tanpa belas kasih. Hingga akhirnya, hanya kepalanya lah yang masih bisa terlihat wujudnya. Basen memelototiku dan berkata.


"Kau pikir semua akan selesai dengan ini?! Kau mungkin bisa lari hari ini, tapi para atasan tidak akan pernah berhenti mengejarmu! Mereka akan menggunakan segala cara. Mereka pasti menggunakan gadis itu dan orang-orang yang kau cinta. Mereka akan mati! Semua akan mati! Dan semua itu disebabkan oleh tindakanmu hari ini! Hehe, bersenang-senang lah selagi bisa, Leonhart. Karena kami akan terus mengawasimu, mengutukmu, dan menunggumu di neraka! Ahahahaha--"


Basen tertawa keras untuk beberapa lama hingga akhirnya, ia berhenti layaknya robot yang kehabisan baterainya. Semua telah kurenggut darinya, baik itu jiwa, mana, maupun harta-bendanya yang paling berharga.


Bahkan tubuhnya yang tinggal tulang pun aku serap sepenuhnya, tak ingin mengotori dunia yang bersih ini dengan tubuh kotornya. Aku melakukan hal yang sama kepada jasad Lily. Lalu menghancurkan institusi dan membatalkan inkarnasiku untuk kembali ke wujud semula.


"Ugh..."


Seketika, rasa mual dan lelah menyelimuti tubuhku. Sepertinya tubuh Leonhart saat ini memang belum mampu mengatasi efek samping dari karunianya sendiri.


Padahal aku hanya menggunakan inkarnasi untuk beberapa menit, tapi siapa sangka efek sampingnya akan separah ini. Ingin sekali rasanya aku berbaring untuk memulihkan tenaga, tapi aku tau bahwa saat ini pun ada orang yang kondisinya jauh lebih berbahaya.


Aku terhuyung ke arah Zion dan mengeluarkan barang-barang yang Basen berikan. Aku mengoleskan obat ke kulit dan bekas lukanya perlahan, seakan tengah menyentuh permata paling berharga di dunia.


Tubuhnya yang begitu kurus dan rapuh membuatku merasa ia akan hancur jika aku memakai terlalu banyak tenaga. Setiap kali ia mendesis dalam tidurnya, jantungku berhenti bersama gerak tanganku. Tapi melihat lukanya yang pulih satu per satu, aku kembali mengoleskan obat itu meski hatiku seakan teriris tiap mendengar suara desisnya.


Kenapa ia tidak lari? Kenapa ia bersikeras untuk melindungiku seperti ini?


Akhirnya, kondisi Zion membaik dan warna kembali terlihat di wajahnya. Tapi karena ia masih nampak sulit bernafas, aku sadar bahwa ia juga mengalami luka dalam yang lebih parah dari dugaan. Karena itu aku menuangkan larutan obat ke mulutnya, tapi mungkin karena ia hilang kesadaran, Zion kesulitan menelan dan malah memuntahkan sebagian besar obat itu ke tanah.


Melihat jumlah botol yang tersisa, aku mengerti bahwa kami akan kehabisan obat jika ini terus dibiarkan. Merasa tidak ada lagi pilihan, aku menuangkan larutan yang tersisa ke mulutku dan memberikannya secara langsung kepada Zion.


"Ng..."


Bibirnya yang begitu tipis dan lembut bersentuhan denganku. Ia membuka mulutnya seakan berusaha mencari nafas, tapi yang ia temukan hanyalah larutan obat yang perlahan masuk ke tenggorokan.


"Hng..."


Tubuhnya menegang tiap kali lidah kami bersentuhan. Aku bisa merasakan nafasnya yang tersengal dan menghangatkan wajahku. Karena ia terlalu banyak bergerak aku agak kesulitan mengobatinya, karena itu aku mendekap tubuhnya lebih erat.


Saliva bercampur bersama larutan obat yang kuberi, bukti akan sengitnya jerih payah kami. Tapi Zion tetap menenggaknya. Dan tiap kali Zion menenggaknya, aku memberi sedikit ruang untuk ia bernafas. Lalu menuangkan larutan baru untuk kuberikan padanya.


Kami terus melakukan itu untuk beberapa lama. Hingga akhirnya, saat aku menyadari kondisinya telah membaik dan nafasnya tak lagi tersengal, Zion membuka mata dan berkata.


"Leon?"


Aku sedikit mundur untuk melihat wajahnya yang entah kenapa, terlihat merah dan begitu berkeringat.


"Ah..."


Zion memandang jembatan saliva yang terbentuk dari lidah kami dengan mata tak fokus. Seakan menyadari apa yang telah terjadi, ia menyentuh bibirnya yang basah, lalu memandang bibirku dan menemukannya dalam kondisi serupa.


"Zion?"


Saat ia memandangku dengan mata yang basah, rasa bersalah muncul di lubuk hatiku yang terdalam. Apa ia akan membenciku? Meski semua ini adalah keadaan darurat, aku tidak bisa menyangkal betapa buruknya hal yang telah kulakukan padanya.


Karena itu, aku melepaskan pelukan dan berusaha menjauhkan diri. Berniat untuk menerima cacian apapun yang terlontar dari mulutnya hingga ia menenangkan diri. Tapi Zion menggigit bibir seakan tak menginginkan hal itu. Ia mengitari tangannya yang tak bertenaga di leherku dan jatuh menimpa saat aku mencoba menarik tubuhku darinya.


"Ouch. Zion, kamu ngga apa-apa?"


"Leon, tau ga?"


Zion mengangkat wajahnya dari dadaku.


"Aku mimpi indah tadi."


"... Mimpi?"


"Mhm. Di mimpi itu aku ketemu orang yang kusuka. Kami ketemu dan... Ngelakuin ini itu di sana..."


Zion tersenyum nakal seakan mengingat kejadian itu.


"Aku ga mau mimpi ini berakhir... Tapi karena kayaknya sekarang pun aku belum bangun... Hehe..."


Zion menjilat bibirnya dan memandang lurus mataku. Aku terbelalak dan seketika, aku mengerti apa arti bahaya yang sesungguhnya.


"Z-Zion, apa yang kau-- Ah! Tunggu! Sto--!"


Malam itu, kami terus bergulat hingga pagi menjelang.