MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 6. Escape(6)



Zion Airisa POV



Pas denger suara ledakan yang ngegelegar dari bawah tanah, aku sadar ada sesuatu yang terjadi. Mangkannya aku ngendap ke luar ruangan buat mastiin hal ini. Tapi yang kutemuin cuma para instruktur yang begitu panik dan berlarian ke sana kemari. Apa yang terjadi?


“...Ngga, bukan waktunya mikirin ini.”


Aku ngegeleng dan sadar kalo ini adalah kesempatan emas buat lari. Mangkannya aku mutusin buat kembali ke ruang tahanan dan bangunin anak-anak, biar kami bisa langsung pergi pas Leon kembali. Suara tangis yang semula menuhin seisi ruangan udah ga lagi terdengar. Yang ada sekarang, cuma suara dengkur anak-anak yang begitu tenang.


Apa aku bener-bener harus bangunin mereka? Mungkin karena Leon keliatan yakin pas bilang kita bisa lari, ini pertama kalinya mereka tidur senyenyak ini sejak ada di institusi. Merasa ga ada salahnya ngebiarin mereka tidur sedikit lebih lama, aku narik tangan yang telah kuulur dan duduk di pinggir ruangan.


Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tapi berapa lama pun aku menanti, Leon tetap belum kembali. Apa terjadi sesuatu padanya? Keinget suara ledakan yang baru kudenger, aku tiba-tiba punya rasa ga enak.


“Jangan-jangan!”


Aku berdiri dengan mata terbelalak. Beberapa kali aku ngegeleng berusaha ngilangin perasaan ini, tapi tiap kali aku ngelakuin ini, perasaan itu semakin besar seakan berusaha ngeyakinin aku kalo bener-bener terjadi sesuatu ke Leon.


Apa aku harus nyusul dia? Tapi aku bahkan ga tau dia ke mana…


“Dan lagi, kalo aku nyusul dia sekalipun, aku takut aku cuma bisa jadi beban...”


Aku gigit bibir dan nundukin pandangan. Apa yang bisa kulakuin? Apa yang harus kulakuin? Ngerasa kalo semua ini ga bisa dibiarin, aku mikir keras nyari solusi.


Meski aku udah bilang semua ini mustahil... Meski aku udah bilang kita bakal mati kalo lakuin ini... Kenapa dia ga dengerin juga…? Apa aku salah karena khawatir padanya?


Kalo disuruh milih antara nyawa Leon atau anak-anak ini, aku mungkin ngerasa ragu, tapi pada akhirnya, aku yakin aku pasti milih Leon. Karena biar gimana, anak-anak ini bakal tumbuh jadi alat untuk ngebunuh orang ga berdosa. Ditambah lagi, mereka bakal saling bunuh hingga cuma salah satu dari mereka yang tersisa. Daripada biarin mereka ngalemin apa yang aku rasa, atau jadi gila kayak temen-temenku sebelumnya, akan lebih baik kalo penderitaan mereka diakhiri secepatnya.


Setelah mikir sampe sini, aku berjalan deketin mereka. Selangkah. Dua langkah. Semakin banyak langkah yang kuambil, semakin dingin isi hati dan emosi yang kurasa. Pas aku ada tepat di depan sepasang kakak-beradik yang tidur bersandar ke dinding, aku berhenti dengan nafas tertahan.


Bekas rantai dan borgol masih nampak di tangan dan kaki mereka. Segera setelah Leon nyelinap ke bayangan penjaga, ia ngerebut kuncinya dan ngebebasin kami semua. Jika bukan karena sifatnya yang berhati-hati dan ga pernah nunjukkin elemen kegelapannya ke seorang pun sebelum ini, Leon pasti udah ditahan di ruangan anti-sihir sejak dulu.


Aku mandang kakak-beradik yang tertidur pulas di depanku. Kalo aja kita bisa setenang mereka, mungkin kita bisa sedikit lebih bahagia dari sekarang. Meski aku ga inget udah berapa lama, tapi aku udah ada di sini sejak belia. Dan kalo diinget, pemandangan pertama yang aku liat juga sama kayak gini. Anak-anak seusiaku yang juga diculik tanpa tau apa-apa. Ada yang nangis, ada yang marah-marah, dan ada yang acuh seakan semua yang terjadi bukan urusannya.


Meski aku benci tempat ini, dan aku ga bisa ketemu keluargaku lagi di panti asuhan, aku masih punya dia di sini. Aku masih punya sahabat dan orang yang mau kulindungi. Meski awalnya aku udah siap untuk bunuh diri agar dia bisa hidup lebih lama lagi, tapi aku terus nunda keputusan itu. Berharap untuk ngabisin waktu sedikit lebih lama lagi dengannya. Dan tanpa sadar, bulan memuncak di langit malam, bukti bahwa hari yang dinanti telah tiba. Aku ga mau liat dia mati, dan aku ga mau dia sedih karena harus bunuh aku dengan tangan sendiri, mangkannya aku harus lakuin ini.


Aku jongkok dan ngerogoh sebilah pisau dari sakuku. Jika aku mengakhiri hidup mereka di sini, lalu menghabisi hidupku setelahnya, Leon mungkin bakal nyerah buat lari. Mungkin dia bakal dihukum oleh para instruktur, tapi selama Leon lulus sebagai assassin, dia ga akan dibunuh. Meski aku harus ngotorin tanganku di sini, meski aku harus dia benci sampai mati, tapi aku mau dia hidup. Aku cuma ingin dia hidup.


“Maafin aku, Leon …”


Aku mandang kembali wajah sang kakak-beradik yang masih tertidur. Mereka mirip sekali dengan kita. Jika semua ini tidak pernah terjadi, dan kita masih ada di panti asuhan bersama teman-teman kita, apa kita juga bisa hidup setenang mereka?


Aku nutup mata dan narik nafas panjang. Nahan semua emosi yang bergejolak di dada. Dan saat aku buka mata, aku ngangkat pisau di tanganku yang gemetar. Lalu menghunusnya sekuat tenaga ke arah mereka.




Aku masih tidak percaya.


Saat melihatku keluar dari Room of Zeroth, yang para instruktur teriakkan bukanlah ‘turunkan senjatamu dan menyerahlah!’, tapi ‘kembalikan tuan kami sekarang!’. Menyadari bahwa yang mereka maksud adalah Baal, sosok yang hendak menghancurkan dunia sekaligus sosok yang paling kubenci di alam semesta, hatiku membeku dan semua belas kasihanku kepada mereka hilang tak bersisa.


Institutional school… Kalian ada di pihak siapa?


Meski metodenya salah, awalnya kukira mereka ada di pihak manusia. Tapi kecuali mereka ingin menghancurkan dunia atau memihak para iblis, mustahil mereka memuja Baal hingga menyanjungnya sebagai tuan mereka. Apa mereka dikendalikan? Apa mereka kehilangan kewarasan? Apa gunanya menghancurkan dunia kalau mereka sendiri lah yang paling pertama akan binasa?


Aku berlari sekuat tenaga dan menebas semua penjaga dan instruktur yang datang menghadang. Mereka memang kuat, dan jumlah mereka yang demikian banyak membuatku begitu kewalahan. Tapi aku yang sekarang jauh lebih kuat dari diriku sebelumnya. Ditambah lagi, tidak seperti 10 assassin teratas, orang-orang yang sebagian besar berasal dari kalangan atas ini tidak akan bisa menghentikanku. Karena biar bagaimana, kami adalah alat yang dibesarkan hanya untuk membunuh orang-orang seperti mereka. Baik itu cara bertarung, mimik wajah, gerak tubuh, tak satupun bisa lepas dari penglihatanku.


Mungkin karena sejak awal yang ada di institusi ini bukanlah para petinggi, tapi hanya instruktur kelas teri, aku bisa menangani mereka dengan cepat. Anehnya, aku tidak menemukan satupun dari 10 assassin terbaik selain Dresden di institusi.


Apa mereka sedang ada misi di luar?


Merasa bahwa ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan institusi sebelum aku lari, aku membunuh semua instruktur dan penjaga yang melawan. Aku juga membebaskan para tahanan dan assassin yang berniat membantu. Hingga akhirnya, tanpa sadar jumlah assassin yang berada di pihakku telah melebihi jumlah instruktur dan penjaga yang tersisa. Mereka membunuh semua penjahat ini dibawah perlindunganku. Setelah memastikan bahwa semua musuh kami telah bergelimpangan di lantai dan pertumpahan darah malam ini telah usai, beberapa assassin terduduk lemas dan menangis karena berhasil membalaskan dendam teman-temannya, sebagian mematung karena masih tidak percaya bahwa semua ini nyata, dan sebagian berjalan mengikutiku karena tau semua belum berakhir hingga kami berhasil lari dari tempat ini.


“Leonhart, sekarang apa?”


Salah satu dari mereka bertanya.


“Kalian bebas melakukan apapun yang kalian suka. Kalian boleh tinggal untuk membantuku membebaskan tahanan yang tersisa, atau segera lari dari sini. Tapi apapun itu, kalian harus cepat. Aku tidak yakin bisa menangani satupun dari 10 assassin terbaik jika mereka datang saat kondisiku seperti ini.”


Mungkin sadar akan nafasku yang terengah, atau manaku yang demikian tipis karena terus kugunakan bahkan sejak melawan Dresden dan Baal, mereka saling pandang tak tau harus apa. Sebagian berterimakasih kepadaku dan memilih untuk lari, tapi kebanyakan memilih untuk tetap tinggal di tempat ini. Merasa heran dengan pilihan mereka, aku bertanya.


“Kalian tidak lari?”


Pemuda tadi berkata.


“Leonhart, kau tau kan, dari setiap generasi, hanya 1 yang mereka biarkan hidup. Sejujurnya, kami yang lemah dan tidak berbakat ini tau bahwa hidup kami telah berakhir sejak diculik ke tempat ini. Kau lah yang memberikan kesempatan kedua kepada kami. Karena itu hal terakhir yang bisa kami lakukan, adalah memastikan penyelamat kami bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.”


Ia mengepal tangan dan melanjutkan.


“Kekuatan kami mungkin tidak seberapa, tapi bahkan orang lemah seperti kami pun bisa berguna. Sekalipun kami harus menggunakan tubuh kami untuk melindungimu.”


Sebagian memandangku dengan mata berbinar, sebagian mengepal tangan dan membulatkan tekad, meski kebanyakan hanya diam dan ikut mayoritas, tak satupun dari mereka membantah perkataan sang pemuda. Saat aku melihat kembali sosok mereka, aku sadar bahwa tak satupun dari mereka telah melewati tes kelulusan. Semuanya lebih muda dariku. Melihat keberanian yang terpancar dari tubuh kecil mereka, aku menutup mata dan berkata.


“Aku mengerti.”


Melihat keseriusan di mata mereka, aku sadar bahwa tak ada yang bisa mengubah keputusan ini.


“Ayo selamatkan para tahanan. Dan pergi dari tempat busuk ini.”