
Ryan berdiam diri dikamarnya , pintu kamarnya ia kunci agar tidak ada yang mengganggunya. Ryan sedang bergulat dengan pikiran dan hatinya , ia ingin sekali melepas Cery tapi hatinya tidak tega karna melihat keluarga Cery yang hancur alhasil Ryan bertekad menelfon Cery.
“Halo Ryan ada apa?” Tanya Cery suaranya lemah dan itu sukses membuat Ryan bertambah khawatir.
“Kamu sekarang ada dimana? apa yang terjadi pada keluargamu? dimana kamu akan tinggal? apa kamu baik - baik saja?” Pertanyaan beruntun dari Ryan membuat Cery tertawa terbahak - bahak.
“Hahaha... Ryan aku baik - baik saja tenanglah , hanya saja aku akan pindah ke Itali” Ucap Cery disela tawanya.
“Apa harus kamu pergi kesana?” Tanya Ryan lagi suaranya terdengar khawatir.
“Itu keputusan papa Ryan , aku harap kamu bahagia sama Meyra dan Ryan aku tidak mau lagi mengganggu hubungan kalian lagi” Kata Cery lembut.
“Memang seharusnya aku memperbaiki hubunganku dengan Meyra tapi apakah dia mau memaafkanku?” Batin Ryan.
“Yasudah Ryan aku akan berangkat kebandara , sampai jumpa lagi” Ucap Cery dan mematikan sambungan telfonnya.
Ryan terdiam mencerna ucapan Cery , apa yang harus Ryan lakukan? apa mungkin ia akan melupakan Cery? apa dia akan kembali memperbaiki hubungannya dengan Meyra? Pertanyaan - pertanyaan itu selalu berputar dibenaknya , Ryan benar - benar frustasi hanya satu yang harus ia lakukan yaitu menemui Niko sipenasihat andalan Ryan.
Ryan bergegas merapikan pakaiannya dan keluar dari kamarnya , beberapa menit kemudian ia sampai diapartemen Niko dan menyuruh Niko untuk pulang secepatnya.
“Kenapa kau memanggilku secara mendadak Ryan?” Tanya Niko dengan nafas tersengal - sengal karna ia berlari dari loby menuju lantai 5 tanpa menggunakan lift karna Niko tak mau menunggu terlalu lama.
“Aku butuh saranmu , Meyra saat ini sedang marah padaku aku tidak tau harus membujuknya dengan cara apa” Ucap Ryan terdengar putus asa.
“Berikan dia kejutan seperti wanita pada umumnya” Jawab Niko sambil meminum air karna merasa kehausan.
“Dia bukan seperti wanita pada umumnya Nik!” Sahut Ryan cepat.
“Berikan dia kejutan Ryan , seperti makan malam romantis direstorant atau ditempat yang lebih indah” Kata Niko lagi nadanya terdengar malas karna saudaranya itu sedikit bodoh jika masalah percintaan.
“Bantu aku siapkan semuanya didekat danau kediaman Iskandar , aku akan meminta bantuan mommy untuk menyuruh Meyra pulang kekediaman Iskandar” Ryanpun meninggalkan Niko yang masih mencerna ucapan Ryan.
Sementara Meyra dan Raya yang saat ini masih fokus pada materi kampusnya hanya diam tak ada yang berbicara ataupun mengeluarkan suara kecuali dosen.
Minggu depan Meyra dan Raya akan menyelesaikan skiripsi akhir mereka dan kurang lebih dua bulan lagi mereka akan wisuda dan melepas gelar mahasiswa mereka.
“Gue pusing banget nih Mey , mana dosen ini gak mau berenti ngomong” Keluh Raya sambil memegang kepalanya.
“Minggu depan kita akan skripsi jadi dengerin baik - baik tu dosen ngomong apaan!” Kata Meyra dan menepuk pundak Raya agar terfokus kembali pada materi pelajaran yang sedang dijelaskan oleh dosen.
Beberapa jam kemudian kelas yang menegangkan itupun berakhir , semua mahasiswa berhamburan keluar termasuk Meyra dan Raya.
“Meyra nanti malam apa kamu sedang sibuk?” Tanya Raisa disebrang telfon.
“Tidak Meyra tidak sibuk mom” Jawab Meyra cepat.
“Yasudah nanti malam datang kerumah mommy” Ucap Raisa , tanpa mendengarkan jawaban dari Meyra , Raisa lantas mematikan sambungan telfonnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 , Meyra segera bersiap kerumah Mommynya karna ia tidak mau mengecewakan sang Mommy akhirnya mau tidak mau ia menurutinya meskipun nanti ia akan ditanyakan dimana Ryan.
*Ryan segera pergi kekediaman Iskandar ingin menemui Raisa dan membicarakan semua masalah rumah tangganya tanpa menutup - nutupi satu kesalahannya yang sudah membuat Meyra marah dan kecewa.
Sesampainya disana Ryan disambut dengan ramah oleh Raisa layaknya seorang anak bukan sebagai menantunya , Ryan dengan sopan menceritakan semuanya termasuk kesalahannya sudah menerima ciuman dari Cery yang membuat hubungannya dengan Meyra hampir kandas tanpa penjelasan dari salah satu pihak.
“Begitu ceritanya mom , tolong maafkan kesalahanku yang sudah membuat Meyra kecewa dan menangis aku tau selama ini Mommy menjaganya dengan sangat baik maka dari itu aku sangat merasa bersalah dan hampir membuat rumah tangga kami hancur” Jelas Ryan panjang lebar , wajahnya masih menunduk ia takut menghadapi Raisa.
“Sudahlah nak , dalam rumah tangga pasti ada masalahnya tidak setiap hubungan itu sempurna pasti ada celah kesalahan , tapi kalau kalian sama - sama egois Mommy yakin hubungan kalian akan hancur” Ucap Raisa lembut sembari mengusap punggung Ryan pelan.
“Aku ingin memberinya kejutan mom , tolong bantu aku untuk memanggil Meyra kerumah ini” Kata Ryan , matanya berbinar - binar seolah mendapat cahaya dari kegelapan.
“Baiklah kamu siapkan semuanya ditaman belakang , aku akan menelfon Meyra dan minta tolonglah pada Oji dia akan membantumu” Raisa pun bangkit dari duduknya dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi Meyra.
“Mari ikut saya tuan , biar saya menyuruh anak buah saya untuk menyiapkan segalanya” Ucap Oji dan Ryanpun hanya mengangguk.
Ryan dan Oji pun melangkah ketaman belakang dan sesegera mungkin mereka menyiapkan kejutan itu sebelum malam hari tiba*.
.
.
.
.
.
.
Bersambung