Love Story In London

Love Story In London
Raya dan Bara



Setelah Meyra dan Ryan pergi , Raya hanya sendirian dipesta tidak melakukan apapun sampai tiba - tiba ada seorang pria yang mendekatinya dan mengajaknya berbicara.


“Nona sepertinya anda tidak mempunyai teman kencan” Ucap pria itu.


What? kencan? Raya bahkan hanya satu kali saja melakukannya seumur hidup!! dan ini pesta ulang tahun bukan untuk tempat kencan bung!.


“Maaf saya tidak berminat untuk berkencan” Raya memutar bola matanya dan menjawab ucapan pria itu dengan nada acuh.


“Oh ayolah nona ikutlah denganku akan aku buat malam ini menjadi malam terindah untuk gadis secantik nona” Pria itu mencoba merayu Raya dan menatapnya dengan tatapan seolah ingin menerkamnya diatas ranjang.


“Sial! kenapa harus pria seperti dia yang mendekatiku!” Umpat Raya dalam hati.


“Saya akan membayar berapapun asal nona mau berada dibawah saya untuk malam ini saja”.


Plakk....


Tamparan keras mendarat dipipi pria itu , saking kerasnya membuat ujung bibir pria itu sobek dan mengeluarkan darah segar yang mengalir dari ujung bibir pria itu.


“Berani sekali anda merendahkan saya tuan ********!!!!” Pekik Raya dengan suara meninggi tapi karna diacara itu sangat berisik sehingga tidak ada yang mendengarnya hanya mereka berdua terlebih lagi mereka berada dipojok ruangan.


*Satu


Dua


Tiga*


Pria itu mencekal pergelangan tangan Raya dengan sangat kuat membuat Raya merintih kesakitan dan mengeluarkan air matamya.


“Lepaskan tanganku , aku bukan perempuan seperti yang kau maksud itu , tolonng lepaskan aku hiks... hiks...” Raya memohon sambil terus menangis saat pria itu menyeretnya menuju lift gedung itu.


Tanpa disadari ternyata ada seseorang yang sedang melihat kejadian itu , tangannya mengepal , rahangnya mengeras , pria itu adalah Bara dengan langkah panjang setengah berlari ia mengejar Raya yang diseret oleh pria asing.


“Lepaskan dia atau kau akan berhadapan denganku!” Hardik Bara saat sudah menghadang pria yang menyeret Raya secara paksa.


“Siapa anda? saya tidak punya urusan dengan anda” Dengan santainya pria itu nenjawab.


“Aku mempunyai urusan dengan wanita disamping anda , lepaskan atau anda akan menyesal tuan!” Tangan Bara mengepal mencoba menahan emosinya.


Raya diam mematung tangisnya semakin lirih hampir tak terdengar membuat hati Bara seperti tergores tak tega melihat Raya menangis ketakutan sedangkan tangan kanannya masih tetap dicekal oleh pria asing itu semakin kuat semakin membuat Raya menangis mengeluarkan air matanya tanpa suara , bibirnya terkatup rapat , matanya menatap mata Bara seolah menginginkan perlindungan.


Bug


Pukulan keras mengenai perut pria asing itu , secepat kilat Bara menarik Raya kedalam pelukannya mendekapnya , mengelus rambut Raya lembut seolah berkata Aku akan menjagamu dan melindungimu dari siapapun yang akan menyakitimu - Bara.


Seketika pululan Bara membuat pria itu bergidik ketakutan dan memohon ampun pada Bara,


“Maafkan saya , saya bersalah tolong ampuni saya tuan” Pria asing itu berlutut memohon ampun , persetan dengan sakit diperutnya ia takut akan mendapat pukulan keras yang kedua.


“Baik tuan”.


Tanpa diperintah dua kali pria asing itu berlari dari hadapan Bara dengan langkah cepat sambil memegangi perutnya yang sakit ia berusaha secepar mungkin menghindari tatapan Bara.


Hening sesaat...


Canggung? Takut? Aman? Itulah yang dirasakan Raya saat ini , tangannya terus saja melingkar dipinggang Bara , kakinya terasa sangat lemas andai tidak ada Bara dihadapannya mungkin ia sudah terjatuh di lantai saking takutnya.


“Tenanglah kamu sudah aman bersamaku” Ucap Bara pelan didekat telinga Raya.


What? Aku kamu? tunggu sebentar , sejak kapan kata - kata seperti itu terlontar? seingat Raya dia tidak pernah mengatakannya meskipun sudah beberapa kali mereka bertemu.


“Oh maaf gu - gue tadi cuma ketakutan” Raya melepaskan pelukannya dari Bara dan tersenyum kecut.


“Ah iya a... maksudnya gue minta maaf juga tadi cuma mau nenangin lo aja” Kata Bara sambil menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal.


Oh astaga manis sekali!


“Gue anter lo pulang ya , malem ini aja kok lo tenang aja gue gak bakal ngapa - ngapain lo”.


Tanpa mendapat jawaban dari Raya , Bara menariknya dan melangkah keluar dari gedung itu. 11.00 malam hari , Mereka pulang tanpa pembicaraan lagi.


Raya hanya menatap keluar dari jendela mobil sementara Bara tetap fokus pada jalanan dihadapannya tanpa memperdulikan Raya lagi! Lagi?.


40 menit...


“Terimakasih , gue akan traktir lo lain kali” Ucap Raya seraya keluar dari mobil Bara.


“Ok gue tunggu traktiran lo” Kata Bara dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Raya.


.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like , Komen dan Vote ya guys.