
Meyra Iskandar
Adalah anak yang dulunya ceria dan periang Meyra memiliki wajah yang cantik dan body yang seksi, ia adalah putri tunggal dari keluarga Iskandar. Tapi sifat keceriannya berubah menjadi seseorang yang dingin dan cuek terhadap apapun kecuali ibunya, sifat itu hilang setelah meninggalnya ayah yang sangat Meyra sayangi.
Meyra menyebut ibunya dengan sebutan mommy sedangkan ayahnya daddy. Bramana Daddy Meyra mempunyai perusahaan besar se Asia ISK Copration yang memiliki beberapa cabang diluar negri.
Ryan Adiguna
Adalah putra sulung dari keluarga Adiguna, sifatnya tidak beda dengan Meyra dingin dan cuek itulah sifat asli dari seorang Ryan yang ia turuni dari papanya. Wajahnya yang tampan mirip dengan oppa korea itu membuat semua wanita dikampusnya tergila - gila dengannya. Pram papa Ryan juga mempunyai perusahaan besar sepadan dengan perusahaan keluarga Meyra yang juga Pram dan Bramana adalah sahabat sejak SMA.
******
Cahaya matahari pagi kembali bersinar masuk kedalam celah jendela kamar Meyra membuatnya terbangun dari alam mimpi, ia mengusap matanya yang sedikit sembab akibat semalam ia menangis karna merindukan sosok daddynya yang sudah meninggal 1 tahun lalu.
Flashback saat kecelakaan Bramana
"Meyra ikut daddy ya keluar negri" Rengek Meyra sambil terus menggoyang - goyangkan lengan daddynya
"Meyra gak perlu ikut daddy, daddy bukan liburan kesana daddy hanya mengurus pekerjaan saja" Bramana tersenyum membalas perkataan Meyra, ia tau anaknya sangat menyayanginya
"Berapa hari daddy ada disana?" Tanya Meyra mengerucutkan bibirnya
"Mungkin 5 hari" Jawab Bramana sambil mengesap kopinya
"Meyra daddy kamu berangkat kerja nanti kalau Meyra udah cuti kuliah mommy sama daddy bakal ajakin kamu liburan keluar negri okay?" Sahut Raisa tiba - tiba dari belakang Meyra
"Really?" Wajah Meyra langsung bersemangat
"Of course whatever we do for your happiness, son" Jawab Raisa yang dusuk disebelah Meyra
*Tentu saja, apapun yang kami lakukan untuk kebahagian kamu, nak
"Baiklah, kalau gitu Meyra keatas dulu ya capek mau istirahat, bye" Ucap Meyra berpamitan dan mencium pipi kedua orangtuanya bergantian
"Jangan lupa besok bangunnya jangan telat daddy mau kamu anterin sampek bandara" teriak Bramana karna putrinya sudah berlari keatas
"Yes daddy I have set an alarm" Jawab Meyra dari lantai 2
Pagi - pagi sekali Meyra sudah berkutat didepan laptopnya ia sedang menulusuri latar belakang klien yang akan bekerja sama dengan daddynya saat ini. Meyra memiliki IQ diatas rata - rata sehingga ia bisa menyadap apapun dan bisa menelusuri apapun dalam waktu beberapa menit.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 ia akhirnya bergegas mandi dan dan berganti pakaian baggy pants, kaos dan memakai cardigan. Rambut panjanganya yang bergelombang dibagian bawahnya dibiarkan begitu saja sehingga menambah kecantikannya.
Meyra turun dan mendapati daddynya sudah bersiap dengan satu koper ditangannya sedangkan mommynya masih menyiapkan makanan dimeja makan,
"Apa daddy tidak membawa bodyguard satupun?" Tanya Meyra tiba - tiba
"Daddy hanya membawa sedikit, ya sepuluh bodyguard saja nak" Jawab Bramana santai
"What? Daddy's ten guards said a little?" Pekik Meyra kaget
*Apa? Sepuluh bodyguard daddy bilang sedikit?
"Hahaha... of course I'm not kidding" Tawa Bramana tumpah dimeja makan
Mereka akhirnya melanjutkan sarapan paginya tanpa berbicara apa - apa lagi karna itu sudah menjadi tradisi keluarga Iskandar yang turun temurun.
Diperjalanan menuju bandara, Meyra hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun karna ia merasa ada yang tidak beres dengan keberangkatan daddynya kali ini.
"Apa yang akan terjadi, kenapa aku merasa ada sesuatu yang buruk akan menimpa daddy" gumam Meyra dalam hati
Mereka akhirnya sampai dibandar udara Internasiaonal Soekarno - Hatta, Meyra tetapi diam hingga akhirnya membuka suara
"Kenapa daddy tidak memakai bandara pribadi saja?" Tanya Meyra sambil melangkah didepan Bramana
"Daddy tidak mau sendirian dipesawat nanti" Jawab Bramana
"Apa daddy tidak mau membatalkan penerbangan ini? Meyra merasa akan terjadi sesuatu pada daddy" Ucap Meyra menundukkan kepalanya
Tanpa pikir panjang Bramana memeluk putrinya sangat erat seakan - akan ia mau meninggalkan putrinya selama - lamanya. Nama Bramana dipanggil untuk masuk kedalam pesawat karna akan segera take off
"Nak daddy pergi dulu ya jaga mommy kamu, belajar yang baik kamu akan menggantikan mommymu suatu saat nanti diperusahaan" Ucap Bramana melepaskan pelukannya dan mencium kening putrinya untuk terakhir kali
"Dad" gumam Meyra lirih
"Jaga putri kita, kamu perlu kekuatan lebih kedepannya sayang" Bisik Bramana ditelinga Raisa hingga membuat Raisa meneteskan air matanya.
Nama Bramana kembali disebut untuk segera menaiki pesawat, Bramana melepaskan pelukannya dan melangkah pergi meninggalkan dua wanita yang sangat ia sayangi. Tak lama kemudian pesawat take off menuju London.
Meyra memeluk mommynya dan tangisnya pecah didekapan mommynya, ia merasa akan ditinggalkan oleh daddynya selama - lamanya.
30 menit kemudian Meyra dan Raisa sampai dirumahnya, mereka duduk diruang tamu sambil memakan snack yang disiapkan oleh bi Erna. Tiba - tiba berita ditv menayangkan berita bahwa pesawat yang sama yang ditumpangi oleh Bramana itu mengalami kecelakaan dan masuk kedalam laut.
Gelas yang dipegang Meyra jatuh kelantai dengan pecahannya yang mengenai kaki mulusnya, Meyra terduduk lemas dilantai dengan air mata yang terus mengalir sedangkan Raisa memeluk Meyra mencoba menenangkan putrinya.
"Ini mimpi kan mom, daddy gak mungkin ninggalin Meyra gak mungkin gak mungkin, Meyra masih butuh daddy" Teriak Meyra histeris diruang tamu
Flashback Off
"Bodoh! Kenapa sampai begini sih matanya kalau sampai momny tau bisa - bisa dia khawatir" gerutu Meyra didepan meja riasnya
Ia bergegas mandi dan berganti pakaian dengan dress selutut warna navy dan memakai kacamata hitam untuk menutupi mata sembabnya. Meyra turun dan menuju meja makan.
"Bi apa mommy sudah berangkat kerja?" Tanya Meyra yang sedang celingak celinguk mencari sosok mommynya
"Belum non, nyonya masih ada dikamarnya mungkin sedang bersiap - siap" Jawab Bi Erna pembantu paruh baya yang sudah lama bekerja dirumah Meyra
"Eh anak mommy udah siap pagi - pagi gini" Ucap Raisa dan mencium kening Meyra lembut
"Mommy gak kerja kok belum siap - siap?" Tanya Meyra sambil terus menyuapi nasi goreng kemulutnya
"Mommy berangkat agak siangan soalnya nanti mommy ada rapat dengan beberapa klien dicafe X" Jawab Raisa yang juga menyuapi nasi goreng kedalam mulutnya
Setelah meninggalnya sang daddy perusahan keluarga Iskandar dihandle oleh Raisa meskipun ia perempuan tapi tidak menghilangkan rasa gigih dan percaya dirinya untuk membuat perusahaan peninggalan suaminya itu semakin maju, alhasil perusahaan itu semakin melaju pesat.
"Yasudah mom Meyra berangkat kekampus dulu" Pamit Meyra dan menyalamai tangan mommynya
"Meyra pakai supir aja ya, momny gak mau liat Meyra mengemudi sendiri" Ucap Raisa cepat
Raisa sangat overprotektif pada Meyra karna Meyra adalah putri satu - satunya yang paling ia sayangi, semua kegiatan Meyra harus ia tau dan ada batasannya. Selama Meyra kuliah pasti ada satu bodyguard yang menjaganya meskipun dari kejauhan.
Meyra kuliah di Universitas Negri Jakarta dan mengambik fakuktas managemen bisnis karna ia ingin mewariskan amanat sang daddy yang menyuruhnya untuk menggantikan sang mommy suatu saat nanti, dan itu membuat Meyra mempunyai karakter yang dingin dan cuek karna ia ingin memfokuskan dirinya pada tujuan utama hidupnya saat ini.
"Mom Meyra bukan anak kecil lagi, udah ya mommy jangan khawatir" Sahut Meyra yang langsung mencium pipi kanan Raisa
"Bener ya kamu hati - hati" Tanya Raisa kembali sembari mengusap kepala anaknya lembut
"Mommy tenang aja Meyra pasti jaga diri" Jawab Meyra berpose hormat
"Yasudah sana berangkat keburu telat nanti" Lanjut Raisa mengingatkan Meyra
Meyra melangkah pergi dari meja makan menuju mobil sportnya yang berwarna merah, Lamboeghini Veneno Roadster yang dibanderol hargaUSD 5,6 juta atau setara Rp 68,3 miliar. Disebut sebagai hypercar edisi terbatas, Veneno Roadster hanya diproduksi sebanyak 9 unit di seluruh dunia.
Meyra masuk kedalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama Meyra sudah berada diparkiran kampusnya. Meyra keluar dari mobilnya dan langsung menjadi pusat perhatian karna kecantikan dan bodynya membuat semua mahasiswa di Unuversitas itu menjadikannya primadona sehingga siapapun mahasiswa dikampus itu pasti akan mengenalinya.
"Stoppppp!! Meyra" Teriak wanita cantik dibelakang Meyra
"Sumpah telinga gue bisa budek kalo lo manggilnya kaya tadi!" Seru Meyra sambil menutup telinga dengan tangannya
"Hehe... Lo kan tau kalo suara gue emang kaya gini" Jawab Raya tanpa rasa bersalah
"Heuhh!! Ayo buruan masuk ada kelas pagi sekarang!" Ajak Meyra sambil menarik tangan Raya yang masih berdiri seperti patung
"Tunggu - tunggu itu kan..." Ucap Raya tiba - tiba menghentikan langkahnya
"Apasih ayo cepet nanti keburu telat" Kata Meyra memotong perkataan Raya
"Itu cowok tertampan sekampus lo gak mau kenalan apa gimana gitu" Ujar Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryan yang ternyata adalah idola para wanita dikampusnya
"No, or I'll break your bones if you don't want to go to class!" Hardik Meyra karna kesal kalau Raya membahas tentang pria dihadapannya
*Enggak, atau aku akan mematahkan tulangmu kalau kamu gak mau pergi ke kelas
"Alright, I relented hehe..." Jawab Raya sambil mengangkat tangannya keudara tanda menyerah
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam kelas mereka karna akan dimulai 10 menit lagi. Sementara dihalaman belakang kampus Ryan dan teman - temannya hanya bergurau kecil sambil memakan camilan yang mereka beli tadi.
"Eh lo gak tertarik apa sama Raya atau Meyra gitu?" Tanya Bara sahabat Ryan
"Humm, gue gak begitu tertarik sama Raya tapi kalo Meyra oke juga dari penampilannya kayanya dia asik ya meskipun keliatannya dingin gitu, oh iya apa dia anak orang kaya atau?" Tanya balik Ryan
"Uhukk... Uhukk.... Lo gak salah makan kan?" Imbuh Satya yang juga sahabat Ryan
"Apa yang salah?" Tanya Ryan dengan wajah polosnya
"Masa lo gak tau kalo Meyra itu putri tunggal dari keluarga Iskandar? Katanya sih semenjak ayahnya meninggal dia berubah sifatnya jadi dingin dan cuek kaya gitu" Jawab Bara sambil memasukkan snack kedalam mulutnya.
.
.
.
.
Bersambung