
Sekitar 25 menit Meyra dan Ryan sampai diacara pesta ulang tahun itu , mereka terlambat 15 menit tapi ternyata kue belum dipotong alhasil Meyra dan Ryan masih bisa mengikuti acara potong kue itu.
Semua orang yang hadir disana satu persatu mereka menyalami sang pemilik acara serta mengucapkan selamat padanya , sementara Meyra yang berada dipojok ruangan bersama Raya hanya melihat kerumunan orang didepannya tidak berminat sama sekali untuk berdansa ataupun bergabung.
Oh astaga siapa sangka seorang pemuda tampan menghampiri kedua wanita yang sedang meneguk jus itu yang tak lain adalah Meyra dan Raya. Pemuda itu sangat tampan siapapun yang melihatnya akan seperti tersihir tidak bergerak! Demi tuhan dia terlihat sangat berwibawa.
“Nona , apakah anda bersedia berdansa denganku?” Tanya Pria itu sambil mengulurkan tangannya.
“Oh tuhan Ryan selamatkan aku” Batin Meyra panik.
“Terima aja Meyra , lagian si Ryan liat tuh lagi sibuk sama Stella cuma dansa kok” Bujuk Raya dengan memelankan suaranya.
“Kenapa gak lo aja yang dansa sama dia” Kata Meyra kesal.
“Tentu aja gue mau tapi dia ngajak lo bukan gue”
Pria yang ada dihadapannya hanya tersenyum simpul , ia mengerti bahwa Meyra mempunyai kekasih sebenarnya 'suami'.
Pria itu menatap lekat wajah Meyra menyusuri setiap inci wajah Meyra lalu tersenyum kembali.
“Ba - baik aku akan berdansa denganmu” Meyra menghela nafas berusaha menenangkan hatinya yang gugup serta takut bagaimana Ryan jika melihatnya?.
Pria itu membawa Meyra ketengah kerumunan pesta , ia dengan santainya berdansa bersama Meyra seolah dunia hanya milik berdua , sementara disisi lain Ryan terlihat sangat marah tangannya mengepal , hatinya seperti tersayat pisau. Sakit , marah , kecewa bercampur menjadi satu melihat istrinya sedang asik berdansa dengan orang asing.
“Sepertinya kekasih anda marah nona , lihatlah disamping kananmu” Bisik pria itu sambil melirik pada Ryan.
“Astaga kau menyebalkan sekali tuan , kau tau aku mempunyai kekasih tapi kau bahkan mengajakku berdansa” Seru Meyra , ia memutar bola matanya terlihat sekali ia sangat kesal.
“Tapi anda tidak menolaknya ataupun mencari alasan nona”.
“Sudahlah hentikan ini semua atau su... eh kekasihku akan memukulimu”.
“Baik , pergilah kita akan bertemu dilain hari”.
Pria itu kemudian dengan anggun melepaskan tangannya dari pinggang Meyra dengan cepat Meyra melangkah meninggalkan pria itu dan menghampiri Raya.
“Oh ayolah Meyra kenapa lo gugup banget?” Raya bertanya dengan santainya seolah ia tidak merasa bersalah karna sudah membujuk Meyra berdansa.
“Tapi Ryan marah Ray!! lo gak liat?”
Tiba - tiba Ryan menarik tangan Meyra keluar dari pesta itu tanpa berbicara sepatah katapun , ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi Meyra hanya terdiam mematung disamping kemudi.
“Pria tidak waras itu sudah membuatku dalam masalah , tuhan apa ini? kenapa kau mempertemukanku dengan pria ******** seperti dia” .
Saat sampai dirumah mereka tidak berbicara ataupun saling tatap , Ryan dengan langkah panjangnya menyeret Meyra menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya. Meyra membisu nyalinya menciut hanya untuk sekedar menatap mata suaminya. 5 menit berlalu Ryan menghela nafas panjang dan membuka mulutnya.
“Siapa pria itu?“ Tanya Ryan , tangannya masih saja mengepal ia menahan emosinya.
“Apa hubunganmu dengan pria itu?” Dengan cepat Ryan memotong ucapan Meyra.
“Aku tidak , aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya bahkan aku baru bertemu dengannya tadi dipesta” Kata Meyra mencoba menjelaskan maksudnya.
Ryan menghela nafasnya kembali , kali ini ia terlihat sudah sedikit tenang dengan jawaban Meyra.
“Aku tidak suka kamu berdekatan dengan pria lain!” Ucap Ryan terdengar seperti perintah.
“Aku juga tidak suka melihat Stella menempel seperti lem padamu! apa pernah kamu menyadari kalau aku juga bisa marah jika kamu dekat dengan wanita lain?” Tanya Meyra , ia mendongakkan kepalanya dengan keberanian yang tersisa ia menatap mata suaminya.
“Sayang aku tidak pernah mau berdansa dengannya , tapi apa dayaku? aku seperti masih tidak mempunyai suami , kau berada jauh dariku itu sebabnya pria itu berani mendekatiku dan lagipula kamu tidak mempedulikanku saat dipesta” Lanjut Meyra kembali sambil matanya berkaca - kaca terlihat ia sangat kecewa.
Deg.
Deg.
Jawaban Meyra membuat hati Ryan terasa sakit tanpa disadari istrinya tersiksa saat dipesta , Ryan menyadari bahwa dirinya tidak mempedulikan Meyra ia hanya sibuk dengan teman - temannya seolah ia adalah pria lajang. Dan terlebih lagi Ryan membiarkan Stella berada didekatnya sepanjang pesta berlalu.
“Maafkan aku sayang , aku sudah menjadi suami yang tidak bertanggung jawab” Secepat kilat Ryan langsung memeluk istrinya , mendekapnya dengan sangat erat.
“Kamu tidak bersalah sayang , akulah yang bersalah sudah menerima tawaran pria itu” Ucap Meyra pelan.
Ryan melepas pelukan mereka dan langsung melahap bibir istrinya dengan rakus seakan - akan mereka baru saja melakukannya setelah sekian lama. Ciuman itu tidak hanya dibibir , Ryan menuruni ciumannya keleher jenjang milik Meyra.
Mereka menyatukan tubuh mereka kembali , Meyra mengeluarkan suara - suara surganya membuat Ryan ingin melakukannya lebih lama lagi.
“Ini adalah hukumanmu karna sudah membuatku marah sayang” Bisik Ryan dengan suara parau.
Entah berapa kali mereka melakukannya hingga Ryan terkulai lemas disamping Meyra , Ryan memeluk Meyra kembali dan tertidur dengan posisi yang sama.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Votenya dong kakak , jangan cuma baca aja ya:)