
Bukan masalah memaafkan tapi menghilangkan bekas lupa tidak hanya dengan kata “Maaf” — Meyra Iskandar.
Matahari pagi sudah terbit dari ufuk timur , Meyra menggeliat pelan merasakan cahaya matahari yang sedang menyinarinya karna merasa risih dengan silau matahari akhirnya ia segera membuka kedua matanya dengan anggun.
Dilihatnya Raya yang sedang tertidur disampingnya terdengar jelas dengkuran halus yang keluar dari mulut Raya seketika ide jahilnya terlintas dibenak Meyra.
“Raya cepat bangun kita sudah terlambat , oh astaga Raya ini sudah hampir siang!!” Pekik Meyra , ia menggoyang - goyangkan tubuh Raya sontak itu membuat Raya terbangun dari tidurnya.
“Ah apa? kenapa? cepat kita harus berangkat atau kita akan mendapat hukuman dari dosen killer itu!!” Raya langsung terduduk , ia kemudian mencoba menyatukan kesadarannya.
“Hahaha... lo lucu juga ya kalo lagi kaget” Tawa Meyra tumpah seketika , ia tidak bisa menahan tawanya yang sudah ia pendam sedari tadi.
“Meyra!! lo udah bikin gue jantungan tau!” Raya mendengus kesal karna sudah dikerjai oleh Meyra.
“Haha yaudah gue mandi dulu” Ucap Meyra seraya bangkit dari tempat tidur tanpa rasa bersalah , ia dengan santainya berjalan kearah kamar mandi.
Setelah Meyra keluar dari kamar mandi tak sengaja ia mendengar kabar berita tentang hancurnya keluarga Johanson secara tiba - tiba dan terlebih lagi itu hanya satu malam.
“Kau yang memulainya jadi aku yang harus mengakhirinya” batim Meyra tersenyun sinis.
“Gue tau kok ini pasti ulah lo kan?” Tanya Raya yang tidak heran sama sekali mengenai hancurnya keluarga Johanson secara tiba - tiba itu.
Meyra tersenyum “Gue gak ngapa - ngapain kok Ray , itu udah alurnya karna mengusik ketenangan keluarga Iskandar” Ucapnya yang membuat Raya melirik Meyra tajam.
“Iya iya gue percaya kok lo emang top!” Kata Raya sambil mengacungkan kedua jempolnya kedepan Meyra.
Merekapun tertawa terbahak - bahak.
Beberapa menit kemudian mereka sudah siap pergi kekampus , diperjalanan mereka sesekali bercanda hal - hal kecil tentang masalalu mereka waktu dibangku SMA.
Seperti tidak terjadi apa - apa Meyra dan Raya dengan santainya berjalan dikoridor kampus , Meyra tak mengubris satupun mahasiswa yang mencemoohnya tentang gosip kemarin , dan kejadian kemarin ia juga tak mempedulikannya seolah ia sudah merelakan semuanya berjalan dengan semestinya.
“Eh lo denger gak tadi ada yang bilang lo itu murahan?” Tanya Raya pelan disela pelajarannya berlangsung.
“Tentu saja gue denger , lo pikir gue budek sampe gak denger omongan mereka” Jawab Meyra tak kalah pelan.
“Oh iya dari kemaren emangnya lo gak dapet chat dari Ryan?” Tanya Raya lagi , matanya tetap fokus kedepan.
“Gue gak peduli Ray , udah deh lo gak usah bahas Ryan bisa gak sih?!!” Kata Meyra dengan nada kesalnya.
“Iya putri yang cantik , gue gak bakal bahas Ryan lagi” Ucap Raya seraya tangannya membentuk huruf V.
Sementara dikediaman Johanson.
Ayah Cery Robert Johanson dengan amarahnya yang memuncak ia menampar pipi Cery sekuat tenanga membuat ia tersungkur kebelakang dan meninggalkan memar dipipinya.
“Maafin Cery pah , Cery tidak tau kalau masalahnya akan seperti ini” Cery menangis terisak sambil memegang pipinya yang terkena tamparan dari Robert.
“Sudah pah , papa tidak harus semarah ini sama Cery! ini bukan murni kesalahan Cery” Kata Anita sang istri Robert.
“Karna anak pungut ini perusahaan yang sudah aku bangun bertahun - tahun lenyap tak tersisa bahkan rumah ini akan segera disita oleh bank!!” Emosi Robert tak terkontrol , nafasnya tak beraturan.
*Prang
Prang
Prang*
Suara pecahan guci dan vas bunga mahal itu hancur berkeping - keping , suaranya menggema diseluruh ruangan membuat para pelayan ketakutan karna melihat tuannya yang sedang diliputi amarah.
“Cery mohon maafin Cery pah” Tangisnya semakin terisak ia tak berani menatap mata sang ayah angkat.
Anita membantu Cery untuk berdiri kembali “Cukup pah! bagaimanapun juga Cery anak kita kau tidak boleh semarah itu padanya” Bela Anita sambil memapah Cery untuk duduk disofa.
Robert menghela nafasnya “Sudahlah bereskan dengan cepat baju kalian kita akan kembali kerumah ibu di Itali , aku akan mencoba membangun perusahaan kecil disana” Ucap Robert pelan , amarahnya mulai surut saat mendengar ucapan Anita.
Merekapun berkemas dan merapikan barang - barang yang akan dibawanya ke Itali. Beruntung Meyra tidak menghancurkan seluruh keluarga Johanson , Meyra hanya memberinya peringatan kecil.
Ekhem kecil? itu bagi holang kaya aja kalo bagi Author mah udah bukan peringatan.
Ryan yang mengetahui hancurnya keluarga Johanson itu merasa ada yang aneh dihatinya , ia bergulat dengan hatinya! Hatinya mengatakan bahwa ia sangat terpukul dengan berita itu tapi pikirannya menolak keras karna baginya ia mencintai Meyra.
“Kenapa aku jadi ragu? apakah benar aku mencintai Meyra? atau aku hanya menjadikannya jalan untuk melupakan Cery?” Ryan bertanya - tanya pada dirinya sendiri , entahlah hati Ryan saat ini ragu pada siapa hatinya jatuh.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like dan Votenya ya:)