
"Aku sama sekali sudah tidak mengharapkanmu lagi Cery" Ucap Ryan yang kini sudah duduk dikursi kebesannya
"Bagaimana mungkin kamu melupakanku begitu saja, aku tau kamu masih mencintaiku Ryan jangan berbohong padaku" Ucap Cery seraya mendekati Ryan
"Hentikan dramamu!! aku sangat mencintai istriku dan kamu jangan lagi mengganggu rumah tanggaku!" Bentak Ryan dengan suara keras
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Ryan, meskipun kau sudah menikah aku akan tetap mengejarmu sampai kamu kembali lagi kepelukanku"
"Apa kau tidak pernah menyesali perbuatanmu 2 tahun yang lalu?" Tanya Ryan datar
"Apa maksudmu? aku sama sekali tidak pernah menyesali perbuatanku, aku dulu hanya ingin mengejar karirku dan sekarang aku sudah mendapatkannya lalu aku kembali ke negara ini untuk menemuimu dan bersamamu lagi Ryan" Jawab Cery yang kini mulai terisak
Ryan menghela nafas panjang dan menyuruh Niko untuk keluar sementara Ryan tidak menjawab ataupun menatap Cery yang ada didepannya. Ryan masih memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk membuat Cery menjauh dari kehidupannya.
"Pergilah aku tidak ingin lagi melihatmu!!" Ucap Ryan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada dimejanya
"Tapi Ryan..."
"Pergi atau aku panggil security untuk menyeretmu dari ruanganku!" Potong Ryan
Cery berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Ryan dengan mata sembab dan air mata yang terus saja mengalir menjadi pusat perhatian dikantor Ryan.
"Wanita itu adalah orang yang sudah meninggalkan Pak Ryan dulu" kata si A
"Yang bener? pasti sekarang dia lagi cari muka tuh didepan Pak Ryan" balas si B
"Dia lagi nyesel kali ninggalin Pak Ryan" imbuh si C
Cery tak menghiraukan karyawan yang menghujatnya yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana bisa mendapatkan Ryan kembali dan bisa bersamanya.
Sementara itu Meyra kini sedang ada di cafe X bersama Raya sahabat satu - satunya yang akan pergi meninggalkannya.
"Ray lo bener - bener mau pergi ke Paris?" Tanya Meyra dengan suara sendu
"Iya Mey, gue harus gimana dong kalau orangtua gue pindah kesana ya gue harus ngikut" Jawab Raya sambil memasukkan pudding cake kedalam mulutnya
"Kenapa lo gak tinggal disini aja biar gue yang bayarin lo hidup di Indonesia?" Tanya Meyra dengan wajah antusias
"Gue numpang hidup kalo gitu caranya" Balas Raya
"Yah Ray, gue masih belum siap kehilangan lo apalagi disini gue gak punya sahabat selain lo"
"Belajar cari temen sono jangan tergantung sama gue, gue kan juga harus ngikutin kemauan orangtua gue Mey"
"Berat sih tapi..."
"Yaudah lo terima tawaran gue buat tinggal disini biar gue nanti yang ngomong sama tante Reta dan om Budi" Ucap Meyra memotong perkataan Raya
"Terserah lo deh, orang kaya mah apa - apa serba bisa" Sahut Raya
Meyra dan Raya menghabiskan waktunya untuk jalan - jalan dimall terbesar dikota itu sesekali mereka membeli barang yang mereka inginkan.
Pukul 7 malam Meyra dan Raya berpisah untuk pulang kerumah masing - masing tapi Meyra tidak langsung pulang kerumah Ryan melainkan kerumahnya sendiri,
Tok... Tok...
Ceklek
Suara pintu terbuka, Meyra pun masuk kedalam dan Melihat Raisa yang sedang berbicara dengan Ryan diruang keluarga,
"Tuh kan kebiasaan, dibilang juga udah punya suami masih aja pulang telat" Ucap Raisa lembut sambil tersenyum
"Hehe maaf mom Meyra belanjanya kebablasan gak inget waktu" Jawab Meyra cengengesan
"Yasudah sana pulang udah dijemput tuh sama Ryan" Lanjut Raisa
"Kita pamit dulu ya mom" Imbuh Ryan sambil bersalaman pada Raisa
Ryan dan Meyra pun akhirnya pulang, diperjalanan Meyra maupun Ryan tak ada yang bersuara mereka hanya diam sampai akhirnya mereka sudah memasuki gerbang rumah Ryan.
Meyra keluar dari mobilnya dan langsung masuk kedalam kamarnya karna ingin segera menyegarkan tubuhnya.
.
.
.
.
.
bersambung