
"arogansi dirimu itu sungguh membuat ku jijik kepadamu" Ucap Harja dengan suara beratnya, Faro sangat tidak mengerti dengan semua ini. Karena sepertinya ini masalah keluarga,Yuda pergi berlalu meninggalkan ruang tengah.
"Aku sudah muak dengan semua hal darimu Anita!" Ucap Harja dengan suara yang meninggi.
"Aku sudah bilang kepadamu bukan? sebelum kita ke Singapura,aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku,akan menikah kan Faro dengan Aleta" sambung Harja.
"Iya aku tau!" Teriak Anita,ia melepas pelukan putranya, Faro mencoba memahami keributan orang tua nya.
"Aku tidak mau memiliki menantu dari anak mantan mu!" Lanjut anita dengan suara meninggi,bahkan ia tidak perduli dengan air matanya yang membanjiri mata nya.
"Anak mantan ayah?" Gumam Faro kecil,ia semakin tidak mengerti.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu Harja,kau menyelidiki Mitra selama ini,bahkan kau sampai menyuruh Asisten pribadi mu untuk mencari info tentang mitra,ternyata putrinya sedang bersama dengan anak kita." Jelas Anita,Harja diam membiarkan Anita bicara.
"Aku tahu Harja aku tahu! Aku menguping pembicaraan kalian selama di Singapura,kau ingin anak dari wanita tidak tahu diri itu jadi menantu kita? Jangan harap Harja,aku tidak akan setuju" lanjut Anita,ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku tidak peduli,Faro adalah anakku" timpal Harja,ia menarik tangan Faro untuk berdiri disampingnya.
"Hatiku sakit Harja saat melihat gadis itu,pantas saja selama ini aku begitu membenci dirinya" ucap Anita,ia melemah bahkan hingga terduduk dilantai, Faro ingin mendekati Anita tapi tangannya di genggam erat oleh ayah nya.
"Aku tidak mau Zenia merasakan apa yang kau rasakan Anita, Faro mencintai Aleta kau harus terima itu" ujar Harja, Faro menatap ayahnya.
"Tidak ayah,aku tidak mencintai Aleta. Aku tidak akan menikahi kedua wanita itu" sahut Faro.
Anita menangis sesenggukan,ia merasa sangat sakit hati saat suaminya mengatakan itu.
"Kau tidak pernah mencintai ku kah Harja?" Tanya Anita,ia menunjuk dirinya yang begitu rapuh.
"Faro pergilah ke kamar mu!" Perintah Harja.
"Faro sudah tidak anak kecil lagi ayah" sahut Faro,ia menghampiri mama nya yang terduduk dilantai.
"Mama bangkitlah,kita bisa bicarakan semua dengan baik baik" ucap Faro,ia menghapus air mata Anita dengan lembut.
"Baiklah,jika kau ingin mendengar ini" ucap Harja,Anita dan Faro saling menatap nya.
"Aku tidak pernah mencintai mu Anita,kau arogansi dan kejam bagaimana bisa dibandingkan dengan mitra yang penuh dengan kelembutan seperti Aleta, kau begitu tahu bukan? Selama ini aku begitu menjaga Mitra,aku memberikan lapangan pekerjaan diam diam kepada suaminya,tapi kau malah melakukan hal terbalik kepadanya" ucap Harja,ia meneteskan air matanya.
"Bahkan aku tahu Anita,kau yang merencanakan kematian nya" lanjut Harja, Faro menatap mama nya yang menunduk.
"Kau menyuruh para bodyguard kita untuk menabrak Mitra dengan suaminya!" Bentak Harja,ia menatap jijik sang istri.
Anita meringkuk,ia memeluk kaki Harja
"Maafkan aku Harja,saat itu aku gelap mata aku benar benar tidak tahu harus apa? Jadi aku melakukan itu" lirih Anita.
"Maaf mu tidak ada guna Anita!" Teriak Harja,ia tidak sanggup menahan air matanya.
"Ayah jadi Mitra adalah mantanmu,dan Aleta adalah anak dari mantan mu?" Tanya Faro, Harja mengangguk.
"Faro dengarkan mama,hanya kau harapan mama untuk tetap bertahan dengan ayah mu nak,jika kau tidak mendengarkan perkataan mama kali ini maka mama akan bercerai dengan ayahmu" ucap Anita dengan wajah serius,ia bangkit dan menatap tajam putranya yang sedang menatap bingung dirinya.
"Aku sudah tidak tahan menjalin rumah tangga dengan orang yang terjebak dengan masa lalunya Faro" jawab Anita, Harja hanya mendengus kesal.
"Kenapa aku jadi korban nya? Mama tahu bagaimana keadaan Aleta,ia begitu terpuruk saat orang tua nya meninggal maa" ucap Faro
"Persetan dengan Aleta! Aku tidak peduli!"teriak Anita, suaranya menggema di seluruh Mansion Utama.
"Aku peduli ma,anakmu ini peduli kepada gadis kecil itu" ujar Faro.
Anita tiba tiba merasakan sesak di dadanya,lalu tiba tiba ia jatuh pingsan.
"Mama" teriak Faro,ia menangkap Anita yang hampir jatuh ke lantai, Faro menggendong Anita untuk tidur di sofa dengan Harja yang membantu dirinya.
"Faro cepat kau panggil dokter Ridho" ucap Harja, Faro mengangguk lalu mencoba menghubungi dokter Ridho dengan handphone nya.
Harja menatap sang putra yang sedang menelpon,lalu ia menatap istrinya yang tergeletak di sofa.
"Ayah,soal kelakuan mama kepada orang tua Aleta, apa yang akan ayah lakukan?" Tanya Faro ke ayahnya,kini ia duduk dilantai dengan ayah nya yang duduk di sofa.
"Ayah akan mengatakan yang sebenarnya kepada Aleta nak" jawab Harja, Faro menatap mama nya yang bahkan pingsan masih menangis.
Tak lama dokter Ridho tiba,ia segera bergegas memeriksa Anita.
"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Harja
"Nyonya sedang dalam keadaan syok tuan, sebentar lagi juga akan bangun" ucap dokter Ridho,karena masalah nya tidak terlalu serius ia menyuruh dokter Ridho untuk pergi.
Setelah menunggu hampir satu jam, Anita tiba tiba terbangun,ia menatap putra nya yang duduk dilantai dengan menggenggam tangannya.
"Faro.." ucapnya lirih,Faro tersenyum ke arah mama nya dengan manis.
"Mama baik baik saja? Ayo bangkit,dan minumlah dulu air putih ini" ucap Faro,Anita dengan keadaan yang masih lemah berusaha bangkit dengan dibantu oleh Faro.
Anita melihat sang suami sudah tidak ada di ruangan santai
"Kemana ayahmu?" Tanya Anita,ia meminum habis air di gelas pemberian Faro.
"Tidak tahu, sepertinya sedang di halaman depan" jawab Faro,ia memijat tangan dan kaki mama nya dengan lembut.
"Kau mencintai Aleta anakku?" Tanya Anita,ia menatap sang putra nya dengan menahan air matanya.
"Aku tidak tahu ma" Jawabnya,ia bingung mendeskripsikan perasaan nya kepada gadis kecil itu.
Saat Anita ingin bicara lagi,ia melihat Harja yang datang dengan membawa Aleta yang sedang menunduk takut. Faro tidak menyadari itu,ia sedang fokus memijat kaki mama nya.
"Faro duduklah di sofa" perintah Harja,Faro menatap sang ayah seketika ia terkejut saat melihat Aleta yang berdiri dengan wajah yang menunduk.
"Ayah tadi menyuruh Yuda untuk menjemput nya, karena pastinya mama mu ingin bicarakan hal yang serius kepadanya" ucap Harja,ia menyuruh Aleta untuk duduk di sofa,Aleta menuruti itu karena ia begitu takut dengan Harja.
Faro ikut duduk disamping Aleta,ia melihat ketakutan dimata gadis yang telah membuat hatinya merasa gusar.