
Aleta sudah melakukan banyak hal agar Faro tidak marah lagi kepadanya, tapi semua usahanya sia sia. Bahkan hanya membuat Faro semakin marah saja,hingga Aleta memutar otak untuk membuatkan donat makanan terfavorit tuan nya.
Kini Aleta dengan membawa sepiring donat ia menuju ruang kerja tuannya. Leta sedikit bingung tadi katanya tuan nya akan tidur lalu kenapa sekarang malah berada di ruang kerja.
Leta memasuki ruangan kerja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,disana ia melihat Faro yang sedang fokus dengan Tabloid nya.
"Tuan aku buatkan donat untukmu" ucap Leta, Faro menatap Leta sekilas. Ia tidak menanggapi ucapan Aleta, malah kembali fokus ke Tabloid nya.
"Aku taruh disini ya?" Tanya Leta,ia menaruh di meja kerja tuan nya. Faro hanya diam tidak bicara sama sekali.
Leta sudah sangat bingung bagaimana membujuk tuan nya, hingga akhirnya ia mengalah saja.
"Buka baju mu tuan!" Ucap Leta, Faro menatap Leta bingung.
"Kau mau apa?"
"Katanya mau dipijat? Sini biar aku pijat" sahut Leta, Faro tersenyum senang.
Faro bangkit dan berjalan menuju sofa, secepat kilat ia membuka kemeja nya.
"Sudah cepat lah!"perintah nya, Leta menelan Saliva nya kasar saat ia kembali melihat tubuh kekar itu.
"Astaga dia begitu semangat" gumam Leta didalam hati, dengan langkah yang berat ia mendekati Faro di sofa. Leta duduk di sebelah Faro yang sedang membelakanginya,dengan pelan pelan ia memijat bahu Faro.
Faro sedikit meremang,tangan Aleta yang lembut membuat nya terbawa suasana.ia begitu menikmati pijatan Aleta hingga ia sampai memejamkan mata.
"Tuan,boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Leta dengan hati hati,ia masih memijat tuan nya.
"Boleh, apapun yang kau minta akan aku kabulkan" sahut Faro.
"Belajar home schooling itu emang mudah tuan, rasanya aku cepat mengerti tapi aku ingin sekolah seperti biasa tuan" ucap Leta dengan nada sedih.
"Kalau itu tidak boleh Leta,untuk beberapa hari ini kau harus home schooling! Itu perintah dari ku!" Ucap Faro dengan penuh penekanan disetiap perkataan nya.
Dengan perasaan sedih Aleta menghentikan pijatanya,ia menunduk sedih bahkan bibirnya sudah cemberut sekarang. Bagaimana lagi Aleta begitu merindukan sahabat nya dan suasana sekolah.
Faro menghela nafas berat saat ia merasa Leta sudah tidak memijat dirinya lagi, Faro membalikan badannya untuk melihat Aleta yang sedang menunduk sedih.
"Kemarilah" ucap Faro,ia menepuk paha nya, Aleta mengerti akan maksud itu.
"Tidak mau" sahutnya,tapi ketika ia melihat tatapan tajam dari Faro dengan gerakan cepat ia duduk di pangkuan tuan nya.
Faro menangkup wajah Aleta,ia mengecup bibir Aleta dengan lembut.
"Jangan marah oke? Untuk beberapa hari ini kau harus tetap home schooling" ujar Faro, Leta mengangguk mengerti.
Leta bergerak kesana kemari karena ia merasa risih akan sesuatu yang menonjol di bawah.
"****!"ucap Faro, Leta menatap Faro karena mengatakan kata itu.
"Kau mengatakan sial dihadapan ku?" Tanya Leta dengan tatapan marah.
"Bukan sayang,bukan seperti itu" jelas Faro, karena dipanggil sayang membuat Aleta berdebar, bahkan pertama kalinya ia dipanggil sayang oleh pria asing selain ayah nya.
"Kau membuat sesuatu mengeras dibawah sana" ucap Faro, Leta melihat kebawah lalu ia menatap tuan nya lagi. Pipinya bersemu merah,ia bingung harus berekspresi bagaimana.
Faro merasa gemas dengan Aleta yang tersipu malu dipangkuan nya, dengan tidak sabaran ia menangkup wajah Aleta lalu mencium nya dengan sedikit menuntut.
Aleta kewalahan membalasnya,ia bahkan mengalungkan tangannya di leher Faro.
Faro terus ******* dan mengecap bibir Aleta dengan penuh gairah yang membara dihatinya,lalu ia juga mengecup leher jenjang Aleta meninggalkan jejak kebiruan disana.
Aleta menahan desahannya,ia merasa sedikit nyeri pada tanda yang ditinggal kan oleh Faro.
"Tuan itu sakit, kenapa kau suka sekali menggigit ku?" Ucap Leta polos,kini mereka saling menatap dengan nafas memburu.
"Leta kau turunlah terlebih dahulu!" Ucap Faro,ia berusaha menetralkan tarikan nafas nya agar nafsu nya mereda. Faro tidak mau ia memperkosa Aleta sekarang.
Dengan tatapan bingung Leta turun dari pangkuan Faro,ia berdiri dengan tatapan bingung. Apa lagi Faro langsung bergegas masuk ke dalam bathroom yang ada di ruangan kerjanya.
"Aneh sekali dia,tapi tadi dia memanggil ku dengan kata sayang" ucap Leta,ia merasa bahagia sekali ketika Faro memanggil nya dengan kata itu. Begitulah Aleta ia begitu polos dan lugu.
Selama setengah jam lebih Aleta menunggu Faro yang berada di bathroom. Ia heran kenapa Faro tidak keluar keluar dari dalam.
"Tuan kau sedang apa didalam? Apa kau baik baik saja?" Teriak Leta ia panik,apa lagi tadi ia melihat Faro seperti sesak nafas.
Faro membuka pintu,Aleta terkejut saat melihat Faro yang sudah bertelanjang dada dan pinggang nya yang terlilit handuk.
"Ada apa sayang?" Tanya Faro
"Tuan kenapa kau selalu memanggil ku sayang?" Tanya Leta balik, Faro berjalan menuju lemari yang ada disana.
"Karena aku ingin memanggil mu begitu" jawab Faro asal,ia memilih kemeja dan celana. Saat Faro akan membuka lilitan pinggang nya Aleta langsung membelakangi tuan nya.
"Tuan kau ini benar benar tidak malu" ucap Leta, bahkan Leta sangat gugup dalam keadaan seperti ini.
"Aku akan menunggu mu di kamar, jangan lupa makanlah donat nya" ucap Leta, Faro yang sedang memakai celana nya tersenyum kecil melihat gadis dihadapannya yang sedang salah tingkah.
Faro mendekati Aleta lalu ia memeluk Aleta dari belakang
"Aku mau kau jangan panggil aku tuan,tapi panggil aku sayang juga" ucap Faro, Aleta membalikan badannya,kini mereka saling berhadapan.
"Apakah itu harus? Lalu kenapa aku memanggil mu begitu? Setahu ku tuan,hanya sepasang kekasih yang saling memanggil begitu"
"Saat kita sedang berdua panggil lah aku dengan kata sayang,sudah jangan banyak protes!" Ucap Faro, Aleta mengangguk mengerti.
Faro berjalan menuju kursi kerjanya dengan menarik Aleta. Lalu ia duduk disana dengan Aleta yang berada dipangkuan nya.
Faro memeriksa email sambil memangku Aleta,ia sesekali mencium bibir Aleta lalu kembali fokus ke Tabloid nya.
"Tuan kembalikan handphone ku" ucap Leta
"Besok pagi aku akan mengembalikan nya" sahut Faro, " Sekarang tenanglah,aku tidak fokus kalau kau terus bicara sayang" sambung Faro, Aleta tersenyum kepada tuan nya, ia menyandarkan kepalanya ke dada tuan nya agar ia bisa mendengarkan debaran jantung tuan nya.
Aleta melihat Faro yang bekerja sambil memakan donat buatan nya,ia terpikir sesuatu yang mungkin akan membuat Faro tercengang nantinya.
Aleta mengecup leher Faro lembut, setelah itu ia mengelus lembut jakun Faro.
"Sayang,jangan lakukan itu" ucap Faro, karena nafsunya nanti akan naik jika diperlukan begitu oleh Aleta.
"Tuan aku bosan" ucap Leta,ia menghentikan perbuatannya.
"Tuan?" Tanya Faro wajahnya kesal, Aleta baru ingat kalau dia tidak boleh memanggil tuan saat sedang berdua dengan nya.
"Sayang,aku sangat bosan menemani mu begini" ucap Leta lembut, Faro senang mendengarnya.
"Baiklah mari kita.."
"Maafkan saya tuan dan nona,ada tamu dibawah katanya ia sahabat tuan muda" ucap bi Imah,ia Bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bi imah,kenapa tidak ketuk pintu dahulu?" Tanya Faro,bi Imah menunduk
"Maafkan saya tuan,tadi pintunya terbuka sedikit jadi saya asal masuk saja" jelas bi Imah
"Aku memaafkan mu,lain kali kau jangan lakukan lagi!" Ujar Faro mengingatkan, bi Imah mengangguk mengerti.
"Kau suruh tamu ku untuk menunggu, aku akan turun sebentar lagi" ucap Faro
"Kenapa aku harus menunggu di bawah bro?" Suara seseorang yang begitu Aleta dan Faro paham. Aleta berusaha bangkit dari pangkuan Faro,tapi Faro tidak mengizinkan nya.
"Niel itu kau?" Tanya Faro, Daniel memasuki ruangan kerja sahabatnya,ia kaget saat melihat wanita yang begitu ia kenal sedang duduk dipangkuan Faro.
"Astaga, apa ini pantas disebut hubungan antar maid dan tuan nya?" Gumam Daniel didalam hati,ia merasa sedikit sakit hati melihat ini.
"Ada apa? Kenapa kau bisa tahu kalau aku tinggal di Mansion ini?" Tanya Faro beruntun, Aleta menyembunyikan wajahnya di dada Faro,ia begitu malu dengan kak Daniel.
Bi imah pamit pergi.
"Aku menebak saja tadi Faro" jawab Daniel asal, Faro tahu itu bohong.
"Aleta kau pergilah ke kamar mu" ucap Faro,ia menurunkan Aleta dari pangkuan nya. Dengan tanpa menatap Daniel Aleta berjalan keluar dari ruangan Faro.
Daniel menatap kepergian Aleta yang tanpa melihat dirinya sekalipun.
"Kau datang kemari ada apa?" Tanya faro, Daniel duduk di sofa.
"Aku hanya sedang pusing" jawab Daniel, Faro menghampiri sahabatnya yang telah membuatnya kesal karena telah mengganggu kegiatan nya.
"Kenapa? Mama mu memaksa mu menikah?" Tanya Faro, Daniel mengangguk mantap.
"Kenapa kau tidak menikahi Zenia saja?"
"Siapa yang mau nikahi wanita tukang selingkuh seperti itu, rasanya lebih baik tidak usah menikah sekalian" sahut Daniel kesal, Faro setuju akan itu.
"Kau menyukai maid mu?" Tanya Daniel,ia mengalihkan pembicaraan.
"Aku menyukai dia? Tidak" jawab Faro asal
"Tapi kau?"
"Aku tidak menyukai nya,tidak akan" ucap Faro dengan penuh keyakinan, tanpa disadari olehnya Aleta mendengar itu. Dengan perasaan yang sedih Aleta berlalu pergi ke kamar nya,ia begitu kesal dan merasa sakit hati mendengar kan perkataan Faro.
"Baiklah kalau tidak" sahut Daniel
"Tapi kau tidak boleh mendekatinya,kau itu Cassanova! Sudah begitu Aleta masih sekolah jadi berhentilah menemui dirinya" ucap Faro memerintah, Daniel menggeleng kepalanya melihat Faro yang bersikap aneh.
"Baiklah" ucap Daniel,ia mengalah saja karena berdebat dengan Faro bukanlah keahlian nya.
Faro dan Daniel membahas tentang bisnis dan lain lain, mereka saling bercerita dan mendengarkan masalah dari mereka masing masing.
Disisi lain, Yuda kini sedang berada di Mansion keluarga Bella. Ia sedang menunggu istrinya yang sedang berpamitan dengan orang tua nya.
"Papa, Bella akan pergi, Bella mau papa Menjaga kesehatan dengan baik,dan jangan terlalu memikirkan masalah perusahaan." Ucap Bella,ia memeluk papa nya dengan erat.
"Mama akan menjaga papa mu nak,kau harus bisa menjadi istri yang baik untuk yuda. Walaupun pernikahan kalian terpaksa tapi mama yakin perubahan itu ada" jelas Mira, Bella mengangguk pelan.
Yuda pamit kepada orang tua bella,lalu ia dan Bella pergi menuju Apartemen nya. Mira dan Arya melepas kepergian anak nya dengan kebahagiaan karena anak semata wayang mereka sudah benar benar menjadi milik seseorang sekarang.
Bella melihat keluar jendela, dirinya dengan Yuda tidak saling bicara sama sekali.
Yuda yang fokus menyetir dan bella yang menikmati perjalanan nya menuju apartemen suami sementara nya ini.
Sesampainya di Apartemen Yuda, Bella membawa koper nya sendiri menuju kamar nya yang telah ditunjuk oleh Yuda.
"Terus kau tidur dimana?" Tanya Bella, Yuda menunjuk kearah tangga.
"Aku mau bekerja" ucap Yuda
"Jadi kita pisah kamar?" Tanya Bella lagi, Yuda menghentikan langkah nya.
"Iya, menurut ku kita tidak memiliki alasan lain untuk tidur satu ranjang" sahut Yuda dengan suara beratnya, melihat Bella tidak ada respon Yuda melanjutkan langkah nya untuk menuju Perusahaan.
"Dih dia itu benar benar sok cuek" ucap Bella,ia kesal dengan ekspresi dingin Yuda.
"Kenapa si? Faro, Yuda mereka selalu menatap ku dengan tatapan dingin. Sekarang yang harus aku pikirkan bagaimana caranya memenangkan perasaan Faro" Gumam Bella didalam hati,ia membawa koper nya kedalaman kamar. Menata rapi pakaian yang ia bawa ke dalam lemari,tak lupa pula segala skincare yang ia bawa dari Mansion nya tadi juga ia tata rapi di meja rias.
Di malam hari, Faro mendatangi Aleta yang sedang duduk di ruang santai sambil menonton TV. Aleta sedang menonton kartun anak anak botak dengan logat bahasa Melayu.
"Aleta" panggil Faro, Aleta melihat Faro yang sedang berdiri di samping nya.
"Ada apa tuan? Mau ku buatkan kopi?" Tanya Leta
"Iya buatlah kopi pahit untukku" sahut Faro, Leta bergegas bangkit menuju dapur untuk membuat kopi.
Di dapur Aleta merasa bingung dengan dirinya dan perasaanya,ia berulang kali menyadarkan hati nya untuk tidak merasakan sakit hati yang kini ia rasakan.