
Alfaro kini duduk di kursi kebesarannya, ia menhentakann jari jemarinya di atas meja sambil memikirkan kejadian dirinya dengan Aleta tadi pagi.
Yuda datang memasuki ruangan Faro dengan berbagai dokumen, Faro menghela nafas berat melihat dokumen itu
"Tuan seperti biasa,ada dokumen yang harus kau tanda tangani" ucap Yuda.
Yuda meletakan dokumen itu dimeja tuan nya, Faro memeriksa satu persatu membacanya dengan teliti baru ia mentanda tangani dokumen nya.
"Tuan muda aku mendengar berita dari para karyawan di bawah" ujar Yuda, Faro tetap fokus membaca dokumen
"Aku rasa berita ini akan bersangkut paut dengan mu tuan" ucap Yuda, seketika Faro menatap Yuda bingung
"Kenapa begitu?" Tanya Faro
"Pak Arya sakit parah.."
"Lalu apa urusannya dengan ku? Aku tidak anaknya atau bahkan menantunya" ucap Faro memotong pembicaraan Yuda
"Iya tuan aku tau,tapi katanya.."
Tok.. tok..
"Yuda lihat siapa itu?" Perintah Faro,Yuda pun membuka pintu itu, ternyata Harja yang datang.
"Faro kenapa kau kemarin tidak bisa ayah telpon? Kau tau ayah mau memberimu sebuah kabar" ucap Harja dengan wajah seriusnya
"Soal paman Arya sakit kan?"
"Iya! Bukan hanya itu malam ini kau akan menikah dengan Bella" ucap Harja, Faro menggebrak meja dengan keras
"Maksud mu apa Faro? Kau mulai tidak sopan dengan ku ha?!" Bentak Harja,Yuda merasa aura sekitar dirinya mencekam.
"Ayah yang bermaksud apa kepada Faro? Aku tidak mau menikahi Bella ayah, Faro tidak mencintai dia!" Jelas Faro dengan suara beratnya
"Lalu siapa yang kau cintai? Aleta? Atau Viola? Kau sebenarnya tau arti cinta atau tidak?" Tanya Harja beruntun, Faro berdecak sebal
"Ayah tidak tau tentang hatiku sama sekali, intinya Faro tidak akan mau menikahi Bella sampai kapan pun!" Ucap Faro penuh dengan penekanan
"Ayah tidak mau tau,kalau kau masih ingin aku dan mama mu menganggap mu anak maka malam ini kau harus datang kerumah sakit Internasional untuk pernikahan mu dengan Bella" tegas Harja,ia berlalu pergi meninggalkan anaknya yang keras kepala itu.
"Cih aku tidak peduli!" Ucap Faro,ia kembali membaca dokumen nya.
"Tuan jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Yuda dengan wajah khawatir nya
"Kenapa kau takut dengan ancaman ayahku? Sudahlah jangan kau pikirkan.. sebaiknya kau bekerja saja" perintah Faro, Yuda mengangguk mengerti.
Yuda masih menatap Faro yang membaca dokumen dihadapanya,ia bingung dengan maksud tuan nya.
"Aduh kepala ku semakin sakit memikirkan nya" gumam Yuda di dalam hati.
Setelah Yuda pergi, Faro menatap datar dokumen ditangannya itu.
Faro bangkit dari duduknya,ia berjalan menuju jendela ruangan nya.
"Aku harus apa agar Aleta tidak marah kepada ku nanti?" Tanya Faro pada diri sendiri,Faro mencoba menghubungi Aleta tapi sayangnya handphone Aleta tidak aktif.
"Apa gunanya aku belikan dia handphone,kalau tidak pernah diisi baterei oleh nya" ucap Faro kesal,ia mencoba menelpon Yuda untuk kembali ke ruangannya.
"Iya ada apa tuan? Kenapa kau memanggil ku yang bahkan aku dari ruangan mu?" Tanya Yuda dengan wajah kesalnya
"Jadi kau tidak suka aku panggil terus? Bagaimana kalau kau ku pecat saja,ku pastikan aku tidak akan pernah memanggil mu lagi" ucap Faro dengan menatap tajam Yuda.
"Maafkan aku tuan.." sahut Yuda,Faro kembali duduk di kursi kerjanya.
"Aleta kan marah kepadaku,lalu bagaimana cara ku untuk membujuk dirinya" tanya Faro,Yuda seketika ingin tertawa mendengar pertanyaan tuan muda nya
"Aku pikir dia mau memikirkan soal pertunangan nya nanti malam,eh malah lain" gumam Yuda di dalam hati
"Hei jawab aku!" Bentak Faro, seketika Yuda tersadar
"Biasanya kalau wanita sedang marah maka kita harus bawakan dia makanan manis" saran Yuda, Faro mencoba memikirkan saran Yuda
"Seperti eskrim tuan,atau martabak atau cokelat yang banyak" saran Yuda lagi
"Beli kan aku cokelat sebanyak banyaknya untuk Aleta!" Perintah Faro
"Sebanyak apa?"
"Sebanyak banyaknya, sampai ia bisa berselimut cokelat!"
"Baiklah tuan" Yuda mau tertawa melihat bagaimana nanti eskpresi nona Aleta melihat begitu banyaknya cokelat yang diberi Faro nanti.
Yuda pamit pergi untuk mencari hal yang diperintah kan tuan nya, sementara Faro ia merasa lega karna sudah menemukan cara agar Leta tidak marah lagi kepadanya.
Lain dengan Aleta,ia sekarang sudah selesai home schooling. Aleta kini sedang duduk di karpet yang berada di ruangan tengah.
Aleta membaca buku yang diberi oleh pak guru tadi untuk dibahas besok.
"Wah ternyata lebih menyenangkan belajar di rumah yaa.. memang si aku tidak bisa bertemu dengan Tiara dan Chika.. aku sangat merindukan mereka" lirih Leta,tiba tiba ia merasa sedih mengingat sahabatnya itu.
"Non Leta,ini bibi buatkan pooding biar segar" ucap bi Imah,ia meletakan sepiring pooding di meja Aleta.
"Wah terimakasih bi"
Bi Imah mengangguk,lalu ia kembali berjalan ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Aleta memakan pooding nya dengan lahap
"Pooding nya sangat enak.." puji Leta,ia membaca buku sambil memakan pooding buatan bi Imah.
Waktu sudah menunjukan malam,kini Faro dan Yuda sedang berada di mobilnya untuk menuju Mansion nya.
"Jadi kau benar tidak akan ke rumah sakit internasional tuan?" Tanya Yuda,bahkan pertanyaan itu sudah berulangkali ditanyakan nya, membuat Faro jengah mendengar nya.
"Begini saja Yuda,kaulah yang kesana dan jelaskan kepada ayah dan mama ku bahwa aku tidak akan kesana" perintah Faro, seketika Yuda terkejut
"Loh kok saya tuan?"
"Karna kau Asisten pribadi ku,apa guna nya kau kalau tidak untuk itu" sahut Faro ketus
"Kau tega sekali tuan kepadaku.." lirih Yuda, Faro tidak peduli. Ia hanya melihat ke jendela memerhatikan jalan yang dilewati nya.
Akhirnya mereka sampai di Mansion, Faro turun disusul oleh Yuda.
"Tuan kau melupakan cokelat ini" ucap Yuda sembari memberikan 5 tas besar yang berisi cokelat.
"Kau bawakan ke ruang tengah,lalu pergilah ke rumah sakit"perintah Faro, Yuda mengangguk mengerti.
Yuda membawa tas itu ke dalam Mansion,lalu meletakan nya di ruang tengah.
Sementara Faro masih berdiri di teras mansion nya,ia melihat lihat halaman nya yang begitu sejuk.
"Sudah tuan,saya pamit pergi ke rumah sakit internasional.." ucap Yuda, Faro mengangguk.
Yuda memasuki mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah melihat Yuda pergi Faro masuk kedalam Mansion
"Aleta!" Teriak Faro, tiba-tiba Aleta muncul dari belakang nya
"Ada apa tuan?" Tanya Aleta, Faro kaget. Ia berbalik arah.
"Aku tadi habis dihalaman depan, memberi makan ikan mu tuan." Sahut Leta, Faro mengangguk saja.
"Kau masih marah padaku?" Tanya Faro lagi,tiba tiba Leta baru ingat bahwa dirinya saat ini sedang marah dengan tuan nya.
"Ehem iya masih" jawab Leta dengan wajah kesalnya,ia bahkan berjalan terlebih dahulu meninggal kan tuannya.
"Hei kenapa masih marah? Ayo kita ke ruang tengah" ajak Faro, Faro menarik tangan Leta untuk berjalan beriringan dengannya.
Leta heran melihat tas besar besar berada di sofa ruang tengah
"Itu apa tuan?" Tanya Aleta, Faro tersenyum kecil.
"Itu cokelat,agar kau tidak marah lagi kepadaku" sahut Faro dengan tersenyum bangga, Aleta menatap nanar 5 tas besar dihadapannya,bahkan 3 tas yang diberi kak Daniel kemarin saja belum habis bahkan ia bingung bagaimana cara menghabiskannya,Ini malah di tambah 5 tas yang lebih besar.
"Tuan kenapa banyak sekali? Kau mau membuat rumah cokelat atau bagaimana? Di kamarku bahkan masih ada 3 tas lagi tuan.. apa kau lupa?" Tanya Leta, Faro menggeleng kan kepalanya.
"Itukan yang kau beli sendiri,ini dari ku" jawabnya singkat, Aleta menghela nafas nya berat.
"Apa kau tidak suka?" Tanya Faro dengan wajah sedihnya, melihat itu Aleta menjadi merasa bersalah
" Aku suka tuan aku suka,aku sudah tidak marah lagi padamu" ucap Leta, Faro lega mendengarnya.
"Pelayan!" Panggil Faro, seseorang pelayan pria memasuki ruangan tengah
"Bawa tas tas ini ke kamar Aleta!" Perintah nya, pelayan itu mengangguk lalu membawa tas itu ke kamar Aleta.
"Ayo kita duduk" ajak Faro, mereka duduk bersama di sofa ruang tengah.
"Bagaimana tadi home schooling nya?" Tanya Faro,ia menggenggam erat tangan Leta.
"Sangat menyenangkan,aku bahkan lebih cepat mengerti tuan" jawab Leta dengan semangat.
"Eh iya mau ku buatkan kopi?" Tanya Leta, Faro mengangguk saja.
"Baiklah,aku buatkan dulu yaa.." ucap Leta,ia berjalan menuju dapur.
Faro tersenyum kecil melihat kepergian Aleta,ia merasa dirinya sudah ketergantungan dengan gadis kecil itu.
"Apa iya aku menyukai nya? Tidak mungkin.. kau hanya merasa kasihan padanya,itu sebabnya kau menyayangi nya bukan? Lalu soal mencium dirinya itu kan karna wajar saja.. itu tanda aku normal" gumam Faro didalam hati,ia menangkis pikiran yang selalu berputar putar di otak nya itu.
Yuda berjalan di koridor rumah sakit ia sungguh takut membayangkan kemarahan tuan besar serta nyonya besarnya.
"Tuan muda selalu senang melihat ku tersiksa begini.." lirih Yuda,kini ia telah sampai di ruangan VVIP.
Yuda menghampiri orang tua Faro yang duduk di kursi tunggu.
"Loh Yuda mana Faro?" Tanya Anita, wajahnya panik sekarang
"Pasti anak nakal itu tetap kekeh tidak mau menikahi Bella maa" sambung Harja, Anita menghela nafasnya berat.
"Tuan Faro tadi mengatakan kepada saya, bahwa dia tidak akan menikahi nona Bella. Karna tuan muda tidak mencintai Bella" jelas Yuda, Harja menatap datar Yuda.
"Apa yang tidak bisa dikatakan olehnya,anak itu memang nakal" ucap Anita kesal,tiba tiba Bella dan Mira menghampiri Harja dan Anita dan juga Yuda.
"Loh mana Faro Tan?" Tanya Bella,ia semakin sedih saat melihat Faro tidak ada padahal Yuda sudah datang.
"Bagaimana ini Anita? Suamiku sangat ingin melihat Bella menikah, dengan siapa aku akan menikah kan nya Anita.." lirih Mira,bahkan air matanya sudah berlinang deras sekarang.
"Maaf kan kami mira, Faro benar benar tidak mau menikah dengan Bella.." ucap Anita sedih,ia menggenggam erat tangan Mira.
Bella menatap Yuda intens, sementara Yuda yang ditatap seperti itu oleh Bella perasaan nya seketika Jadi tidak enak
"Mama, Bella menikah dengan Yuda saja!" Ujar Bella dengan wajah serius nya.
Seketika Mira dan juga orang tua Faro melihat ke arah Yuda yang sedang terbengong.
"Kau yakin Bella?" Tanya Mira sekali lagi, Bella mengangguk mantap.
"Tidak bisa begitu Nona Bella,saya tidak mau menikah dengan anda" sahut Yuda.
" Sudah lah Yuda, lagian Bella itu cantik dan juga dikalangan atas sama seperti mu.. kau ini pemilih sekali" timpal Anita menatap tajam Yuda,Harja mengangguk setuju.
"Iya Mira kau tidak perlu ragu dengan Yuda,kami sangat mengenal Yuda.. dia anak yang baik dan juga jujur serta bertanggung jawab. Yuda juga memiliki orang tua yang kaya raya di negara Singapura,hanya saja ia sedang belajar dengan Faro bagaimana caranya memimpin Perusahaan dengan baik" jelas Harja, Mira menghela nafas Lega.
"Kalau begitu katamu Harja,baiklah sekarang juga kalian akan menikah" ucap Mira,ia Anita dan juga Harja pergi keruangan Arya dirawat,untuk mempersiapkan akad.
"Hei nona Bella! Kau ini sembarangan saja! Aku tidak mau menikahi mu!" Ucap Yuda ketus
"Yuda aku mohon, bantulah aku saat ini.. agar ayahku tetap hidup" lirih Bella,ia meneteskan air matanya dihadapan Yuda. Yuda merasa tidak tega,ia memikirkan hal ini dengan sangat keras,hingga akhirnya ia jatuh pada sebuah pilihan.
"Baiklah aku akan menikahi mu,tapi pernikahan kita hanya kontrak!" Ucap Yuda
"Iya aku ikuti semua saranmu,yang terpenting saat ini kau harus menikahi aku dihadapan papa ku!"
"Huh baiklah" ucap Yuda pasrah.
Segala persiapan pernikahan sangat cepat diurus oleh orang kepercayaan orang tua Bella. Bahkan berkas mereka saja sudah tersedia dihadapan mereka agar pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.
Pak penghulu memasuki ruangan VVIP rumah sakit internasional,ia melihat Bella yang memakai hijab apa adanya dan juga Yuda yang sedang duduk disamping pak Dewantara.
"Ayo kita mulai pak" ucap Anita, mereka melakukan akad dengan dilihat oleh Arya di atas ranjang.
Ijab qobul dimulai, Bella memejamkan matanya karna ia akan menikahi orang yang benar benar tidak pernah diharapkan nya.
"Bagaimana para saksi?"
"SAH" seru Harja dan juga Anita dan Mira.
Mereka semua berdoa bersama sama.
Setelah itu pak penghulu pamit pergi, diantar oleh orang kepercayaan Arya.
Yuda menghela nafasnya lega karna ia dengan lancar mengucapkan ijab qobul, walaupun ia tidak mencintai wanita ini sama sekali. Bella menatap papa nya yang tersenyum senang.
"Papa sangat senang melihat mu menikah nak.. kau harus menjalani rumah tangga mu ini selama nya,papa sudah sangat tenang.." lirih Arya, Bella menangis kencang begitu pula Mira.
"Iya papa,papa harus tetap sehat biar melihat Bella bahagia oke?" Ucap Bella dengan tersenyum, Arya mengangguk kecil.
Sementara Yuda ia merasa jengah melihat ini semua,ia duduk di sofa dengan wajah nya yang datar.
"Sekarang bagaimana aku akan menjelaskan nya ke ayahku" gumam Yuda,ia sedang memikirkan nasibnya sendiri.
Harja ikut duduk disamping Yuda
"Selamat akhirnya kau menikah juga" ucap Harja, Yuda tersenyum kecut.
"Kenapa wajahmu itu Masam sekali?" tanya Harja
"Tuan bagaimana aku akan menjelaskan kepada ayah ku,bisa habis riwayat ku" sahut Yuda dengan wajah semakin masam.
"Oh soal itu, sekarang kau tenang saja.. aku dan istriku akan pergi ke Singapura untuk menjelaskan nya kepada orang tuamu,pasti mereka akan mengerti" ujar Harja, Yuda menghela nafas lega.
"Apa kau akan melakukan malam pertama sekarang?" Goda Harja
"Tuan kau ini.." gerutu Yuda,Harja tertawa kecil.
Yuda memikirkan bagaimana nasibnya memiliki seorang istri seperti Bella yang menyebalkan dan juga cerewet.
"Huh hidupku akan lebih menderita sekarang" gumam Yuda didalam hati.