
Alfaro dan Aleta kini sedang duduk di balkon kamar pribadi Faro, mereka duduk sambil menikmati angin yang menyejukkan mereka.
Leta melihat Faro yang sedari tadi senyum senyum tidak jelas,ia merasa aneh dengan ekspresi tuan nya itu.
"Tuan kau itu kenapa? Sedari tadi senyum senyum sendiri seperti orang gila" ucap Leta asal, Faro menatap Aleta yang duduk disamping nya.
"Karna malam ini ada yang menikah jadi aku bahagia" sahut Faro,ia menyandarkan kepalanya di sofa menatap bintang bintang yang bersinar indah dilangit.
"Siapa yang menikah tuan?" Tanya Leta penasaran
"Yuda" jawab Faro cepat, Aleta melotot tidak percaya
"Ah yang benar saja tuan,tapi tuan Yuda sepertinya tidak memiliki kekasih" lirih Leta, Faro menatap Leta .
"Iya dia menikah paksa dengan Bella"
"Ha dengan nona Bella? Astaga kasian sekali nasib tuan Yuda menikah dengan nona Bella, memang si nona Bella itu cantik tapi dia sangat angkuh sama seperti mu tuan. Seharusnya yang menikah dengan nona Bella itu kau bukan tuan Yuda" ucap Leta, Faro mendengus kesal mendengar perkataan Leta.
"Sejak kapan aku angkuh kepadamu hmm?" Tanya Faro sambil mengangkat satu alisnya
"Pertama kali kita ketemu kau sangat angkuh tuan.."
"Benarkah?" menatap Aleta yang mengangguk mantap.
"Kalau begitu aku minta maaf atas perbuatan ku dulu kepadamu" ucap Faro,ia menarik Leta agar duduk dipangkuan nya.
"Kalau ga aku maafin?"
"Maka kau akan aku.."
"Apa?"
Faro mencium bibir Aleta lalu mel**** nya dengan penuh gairah, bahkan Aleta sampai kewalahan membalas nya.
Aleta merasa pasokan oksigen nya mulai habis,ia menggigit bibir Faro agar tautan bibir mereka terlepas.
"Aw ****" ucap Faro,ia menatap tajam Aleta,tapi sang empu malah balik menatap nya dengan tajam juga.
"Apa?! Kau hampir membuat ku mati" ucap Leta dengan wajah kesalnya, Faro tertawa kecil melihat wajah amarah Leta.
"Maafkan aku,bibir mu itu sangat candu bagiku.."
"Tuan ayo kita tidur,aku sangat mengantuk" ucap Leta sambil menguap, Faro mengangguk setuju.
Mereka bangkit dari duduk nya dan berlalu masuk kedalam kamar, Aleta berbaring terlebih dahulu di atas ranjang king size milik Faro.
"Leta kau tidurlah dulu,aku mau ke ruang kerja Ku.. begitu banyak pekerjaan yang harus ku selesai kan untuk besok" ucap Faro, Leta mengangguk mengerti.
Faro menatap Aleta yang berbaring dikamarnya,ia tersenyum manis ke arah gadis kecil itu.
Aleta membalas senyuman Faro dengan manis, saat Faro mulai menutup pintu Aleta memejamkan matanya karna dirinya benar benar sangat mengantuk.
Saat Faro berjalan turun menuju dapur untuk mengambil air minum,ia melihat ayah nya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Astaga ayah.. sejak kapan ayah datang?" Tanya faro,Harja menatap anak nya dengan wajah menyeringai.
"Sejak tadi,ayah tadi memasuki kamar mu dan tanpa sengaja ayah melihatmu mencium seorang gadis kecil" sahut Harja, Faro menelan Saliva nya kasar.
"Mampus,Faro bagaimana bisa kau tidak mengunci pintu kamarmu" gumam Faro didalam hati,ia memaki dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau kau juga ayah nikahkan dengan gadis itu?" Tanya Harja, Faro menggeleng cepat.
"Ayah jangan bicara sembarangan!" Sahut Faro,ia ikut duduk di sofa dengan ayahnya.
"Terus kenapa kau menciumi gadis kecil itu begitu? Kalau sudah ingin sudahlah menikah saja" ucap Harja
"Itu hanya sebuah ciuman ayah,bukan hanya wanita itu saja yang aku lakukan seperti itu" jawab Faro asal,Harja menghela nafasnya berat.
Suara barang terjatuh membuat harja dan juga Faro melihat ke asal suara ternyata itu Aleta.
Faro tersentak kaget,ia panik saat melihat air mata Leta yang telah berlinang dengan deras.
"Leta? Bukannya kau tidur tadi.." tanya Faro,ia sangat takut Leta marah kepadanya.
Leta mengambil handphone nya yang terjatuh lalu berlari meninggalkan Faro dan Harja.
"Leta! " Teriak Faro,ia mengejar Leta yang berlari kencang bahkan Leta tidak memikirkan bahwa dirinya bisa jatuh dari tangga jika berlari seperti itu.
Sementara Harja ia hanya menggeleng kan kepala nya melihat 2 sejoli itu.
"Katanya ga cinta,ga apalah.. tapi lihat Aleta marah saja ekspresi nya sudah seperti itu" gumam Harja di dalam hati.
"Aku harus segera mengurus pernikahan mereka,agar Faro dan Leta tidak mengalami hal seperti aku dan mitra dulu"ucap Harja,ia bergegas bangkit untuk kembali pulang ke Mansion Utama.
Sementara Faro
"Leta bukalah pintunya! Yang aku katakan tadi dengan ayah ku itu tidak benar,aku hanya bicara asal saja kepadanya" teriak Faro, Leta yang berdiri dibalik pintu hanya diam. Leta menangis sesenggukan.
"Kenapa aku nangis? Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Tuan Faro itu sudah sangat baik kepadaku,ia bebas melakukan apapun. Tapi..." Lirih Leta.
"Leta apa kau mendengar ku?! Bukalah pintunya,aku minta maaf kepadamu" teriak Faro,Leta tetap diam.
Leta berjalan menuju kasurnya,kini ia berada di kamarnya.
Leta berbaring dikamarnya ia menangis,bahkan air matanya sudah berlinang sangat deras.
Faro sudah tidak berteriak lagi,Leta tersenyum kecut. Ia merasa Faro benar benar tidak menganggap dirinya spesial sama sekali.
Tadi sebenarnya Leta sudah mau tertidur tiba tiba ia teringat bahwa handphone nya belum ia isi baterai,jadi Leta berniat menanyai Faro dimana ia meletakan charger handphone nya.
Saat Aleta turun ia mendengar Faro berbicara dengan seorang pria, Leta mengintip sebentar ternyata itu ayah tuannya.
Aleta menguping,hingga ia mendengar perkataan yang tidak enak keluar dari mulut Faro. Seketika ia terkejut mendengarnya,hatinya sangat sakit.
Leta semakin menangis jika mengingat omongan Faro tadi,ia menutup wajahnya dengan bantal agar bisa menangis dengan kencang.
Tiba tiba Aleta merasa ada yang mengelus pucuk kepalanya dengan lembut,Leta pun menghempas bantal yang menutupi wajahnya.
Leta kaget saat melihat Faro yang kini sudah duduk manis disampingnya.
"Tuan bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Leta heran,Faro menunjukan kunci.
"Aku memiliki kunci cadangan di seluruh ruangan Mansion ini" ucap Faro,sial bahkan Leta baru ingat akan itu.
"Kau marah kepadaku? Tolong maafkan aku.." lirih Faro, Leta memalingkan wajahnya,Air matanya kembali menetes.
"Apa menurut mu aku berhak marah tuan? Kau sudah sangat baik kepadaku,wajar saja kau melakukan aku seperti itu bukan?" Ucap Leta dengan air matanya yang berlinang deras.
Aleta yang diperlakukan seperti itu,ia merasa sangat nyaman. Leta menatap Faro sendu.
"Aku tidak pernah menganggap mu begitu Leta.. aku bersumpah yang aku katakan tadi dengan ayahku hanya omongan asal saja,aku tidak sembarangan menciumi seorang gadis" jelas Faro,Leta menatap mata Faro mencari kebohongan di mata elang itu,tapi Leta tidak melihat itu sama sekali. Justru dirinya malah melihat ketulusan di mata elang tuan nya.
"Kau harus percaya padaku!" Ucap Faro,ia menatap Aleta dengan intens.
Aleta hanya diam bahkan Aleta merasa bersalah kepada Faro, bukankah tuan nya sudah begitu baik kepadanya,kenapa dia harus kecewa dengan segala perkataan Faro. Seharusnya anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih leta kepada Faro.
"Apa aku menyukai tuan Faro?" Gumam Leta di dalam hati,ia merasa aneh dengan perasaan nya.
"Sudahlah sekarang kau tidur ya.. tenangkan dirimu terlebih dahulu baru kita bicara kan ini lagi besok" ucap Faro,Faro mengecup kening Leta lalu berjalan pergi keluar kamar.
Faro merasa bahwa Leta butuh waktu untuk sendiri,agar hatinya merasa lebih tenang.
Sementara Aleta melihat kepergian Faro dengan tatapan sendu nya,ia meneteskan air matanya kembali saat Faro menutup pintu kamarnya.
"Aku tidak boleh menyukai nya,ini sangat tidak boleh.. Aleta sadarlah dirimu tidak sehebat itu untuk bersama dengan tuan Faro" lirih Leta, Leta menangis. Dadanya terasa sesak,air mata nya tidak henti henti berlinang. Aleta berbaring di atas kasur hingga dirinya merasa lelah karna menangis akhirnya Aleta tertidur lelap.
Pagi hari Alfaro terbangun dari tidurnya,ia heran karna Aleta pagi ini tidak ada membangun kan nya sehingga ia bangun kesiangan.
Faro bergegas menuju bathroom untuk membersihkan diri,karna ia ada rapat penting pagi ini.
Setelah selesai mandi Faro bergegas berpakaian,lalu ia turun ke bawah dengan terburu buru.
Bahkan di meja makan Faro tidak melihat Aleta,hanya bi Imah yang sedang menyajikan sarapan pagi.
"Loh bi dimana Aleta?" Tanya Faro heran,ia duduk sambil memakan sarapannya.
"Nona Aleta demam tuan" jawab bi Imah,seketika Faro berhenti mengunyah makannya.
"Tadi malam dia baik saja kok bi"
"Saya tidak tau Tuan, tengah malam saya mendengar suara seperti menahan sakit ternyata itu nona Aleta, tapi tuan tenang saja nona Aleta sudah saya kompres dan sudah saya beri obat"
Faro bangkit dari duduknya ia kembali naik ke lantai atas untuk menuju kamar Aleta.
Bi Imah tersenyum kecil melihat khawatiran Faro kepada gadis kecil Aleta.
Kini Faro memasuki kamar Aleta,ia melihat Leta yang sedang berbaring di atas kasur.
Bahkan Aleta masih terlelap, Faro memeriksa panas Aleta yang sudah mulai menurun, Faro menghela nafas Lega.
"Karna kebanyakan menangis jadi kau sakit.." lirih Faro, Leta masih tertidur. Faro tersenyum melihat Leta yang tertidur lelap tidak menyadari kedatangan nya sama sekali.
Handphone Aleta berdering, Faro melihat nya di atas nakas.
"Bahkan handphone nya berdering saja ia tidak menyadari nya" ucap Faro,ia berjalan menuju nakas mengambil handphone Aleta yang sedari tadi berdering.
Faro merasa geram saat tahu siapa yang sedang menghubungi Aleta,ia mengambil handphone Aleta lalu membawanya pergi.
"****! Ternyata mereka sering bertelponan" maki Faro,ia turun dari kamar Leta dengan wajah kesalnya,Yuda yang melihat wajah tuan muda nya seperti itu seketika ia tidak jadi untuk protes soal kejadian tadi malam.
"Yuda apa kau telah melupakan sesuatu?" Tanya Faro dengan suara beratnya, Yuda mengeryit dahi bingung.
"Apa tuan? Sepertinya tidak ada"
"Apa mata mata kita masih mengikuti Aleta?"
Tanya Faro,Seketika Yuda baru teringat akan itu,ia menelan Saliva nya dengan susah.
"Aku lupa memberi tahu mu tuan,semenjak nona Leta tinggal di Mansion Utama saya mengehentikan para mata mata kita,bahkan saya sudah menghapus sadapan handphone nona Aleta" jawab Yuda,ia sungguh sangat pasrah akan kecerobohan nya yang mungkin akan menyebabkan masalah lagi untuknya.
"Kau itu bodoh sekali!" Bentak Faro
"Maafkan saya tuan"
Faro melangkah kan kakinya menuju halaman depan untuk memasuki mobilnya,bahkan ia melewatkan sarapan nya. Yuda mengikuti dibelakang nya, sambil membaca mantra agar kemarahan tuan muda nya berkurang.
Faro memasuki mobilnya,Yuda menutup pintu lalu masuk kedalam pengemudi.
"Yuda aku mau kau mengirim orang untuk mengawasi Aleta,dan ini handphone Aleta kembali kau atur agar aku bisa melihat dengan siapa dia berkomunikasi" perintah Faro,Yuda menerima handphone Leta dan menaruhnya di saku jas nya.
"Baiklah tuan" sahut Yuda,dan lama Yuda melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sementara itu Aleta terbangun dari tidurnya,ia menggeliat diatas kasur.
"Astaga ini sudah pagi, bagaimana dengan tuan Faro apa dia sudah bangun? Lalu bagaimana dengan sekolah ku astaga Letaaa..." Leta panik,bahkan ia langsung meloncat di atas kasur.
Leta bergegas pergi menuju kamar sang majikan yang ada disamping kamarnya.
"Tuan maafkan aku,aku terlambat membangun kan mu.." ucap Leta, seketika ia terkejut saat melihat tidak ada tuan nya lagi di atas kasur nya.
Aleta berjalan ke kamar mandi tapi Faro juga tidak ada disana
"Aku rasa dia sudah pergi bekerja.. huh syukurlah" lirih Leta,ia berjalan keluar dari kamar Faro.
Bi imah kaget saat melihat Aleta terbangun dari tidurnya
"Loh nona Leta kenapa sudah bangkit dari kasur? Bukannya masih sakit?" Tanya bi Imah, Leta menatap bingung orang yang sudah sangat baik kepadanya
"Aku sakit bi? Kapan?" Tanya Aleta balik
"Astaga tadi malam non, demam nya sangat tinggi bibi sampai panik loh" jawab bi Imah, Leta mencoba mengingat nya.
"Karna non sepertinya dehidrasi jadi ga sadar kalau sedang sakit,tidak papa yang terpenting sekarang nona sudah sembuh" jelas bi Imah,Leta tersenyum manis.
"Terimakasih ya bi udah menjaga ku tadi malam" ucap Leta dengan wajah sedihnya
"Sudah kewajiban bibi non,oh iya ayo kita sarapan.. soal home schooling hari ini diliburkan oleh tuan Faro karna nona sakit" ucap bi Imah,Leta mengangguk mengerti.
"Tuan bahkan melewatkan sarapannya karna mendengar nona sakit, tuan muda itu sepertinya sangat menyayangi nona" ucap bi Imah, mereka berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur.
"Dia hanya mengawatirkan orang yang sedang di urusnya seperti aku ini bi,aku yatim piatu kebetulan dia yang bersama dengan ku saat aku terkena musibah itu. Jadi rasa tanggung jawab nya kepadaku sangat tinggi,bukan karna sayang atau hal lain" jelas Leta,bi Imah tersenyum saja dengan perkataan nona nya.
Kini mereka duduk di meja makan,bi Imah menyajikan makanannya untuk Aleta.
"Tadi bibi masak sayur sup,biar nona lebih enakan" ucap bi Imah
"Terimakasih bi.."
"Makan nya sendiri aja ya non,bibi mau lanjut nyuci dulu" ucap bi Imah, Leta mengangguk.
Leta menatap kepergian bi Imah dengan senyum yang terukir di wajahnya,ia sangat beruntung bertemu dengan bi Imah yang selalu saja memperlakukan nya seperti anak nya.