
Alfaro kini telah sampai di Perusahaan terbesar kedua setelah perusahaan miliknya.
Faro disambut oleh Daniel sendiri, Daniel mengajak Faro untuk masuk kedalam ruanganya.
Faro memasuki ruangan kerja milik Daniel,ia duduk di sofa yang ada disana.
"Pak Daniel cukup mengagumkan yaa, perusahaan yang dulu nya kecil sekarang berkembang secara pesat" puji Faro, Daniel tersenyum mendengar nya
"Ini semua karna anda juga berpengaruh dalam proses saya pak.." sahut Daniel,Faro seketika menatap Daniel datar.
"Saya mengajukan kerjasama kembali karna saya merasa bahwa masalah di masalalu antara kita sebaiknya segera diakhiri" ucap Faro, Daniel mengangguk setuju
"Kau setuju? Lalu kenapa kau masih canggung begitu kepada ku Daniel?" Tanya Faro,seketika Daniel tersenyum mendengar nya.
"Faro kau itu benar benar.." sahut Daniel, mereka tertawa bersama.
"Kau marah kepada ku lama sekali bro,sampai 2 tahun lebih" ujar Daniel sambil memukul bahu sahabatnya
"Kau yang breng***.. pacar teman mu sendiri kau garap" sambung Faro kesal
"Dia tidak wanita baik bro" ucap Daniel, Faro mengangguk.
Yuda dan Dito merasa tenang karna tuan muda mereka sudah berbaikan.
Faro merasa kalau dia terus terusan hidup dimasa lalu maka ia akan terus diatur oleh rasa dendam,itu sebabnya Faro mencoba memaafkan Daniel. Karna menurut Faro Viola tidak pantas menjadi wanita perusak pertemanan mereka sedari kecil.
Faro dan Daniel membahas soal perusahaan dan bisnis mereka,Aleta merasa bosan di ruangan Daniel. Ia mengintip sedikit di celah pintu, ternyata Faro masih berada disana.
Aleta duduk kembali ke kasur king size yang ada di ruangan itu,ia bingung harus melakukan apa.
"Sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi,dan mereka masih asik bercerita.." gumam Leta, Leta berbaring tak lama matanya mengantuk hingga ia tertidur.
Sementara Daniel dan Faro masih betah bercerita satu sama lain.
"Aku dengar dari Zenia kau akan menikah ya?" Tanya Faro, Daniel terdiam mendengar pertanyaan Faro
"Kapan ia bercerita kepadamu?" Tanya Daniel balik
"Waktu aku di Mall bersama Bella kebetulan ketemu sama dia,jadi dia bercerita katanya kau akan menikahi dia.. selamat bro akhirnya LDR kalian selesai" puji Faro dengan menepuk bahu Daniel bangga.
"Aku sudah putus dengannya.." ucap Daniel pelan, Faro masih mendengar itu
"Bukannya kau mencintai dia Niel?" Tanya Faro lagi,Niel adalah panggilan nama kecil Daniel.
"Dulu,sebelum dia menyelingkuhi aku" ucap Daniel, Faro terkejut ia sungguh tak percaya bahwa Zenia menyelingkuhi sahabat nya itu
"Karma bukan?" Celetuk Faro, Daniel mengangguk mantap
"Tapi Niel kau juga berselingkuh,kau meniduri banyak wanita saat Zenia di London" ucap Faro
"Kau tau alasan apa yang membuat Zenia pergi ke London?" Faro menggeleng
"Sudahlah,aku lelah kalau terus terusan bahas wanita itu" ucap Daniel mengalihkan pembicaraan, Faro hanya diam ia tidak ingin terlalu ingin tahu.
"Maaf tuan muda, waktunya kita meeting di Restoran B" ucap Yuda, Faro baru ingat akan itu.
"Niel aku pergi dulu ya,nanti kita atur lah waktu agar kita bisa bercerita lagi" ucap Faro, Daniel mengangguk.
"Hati hati bro" ujar Daniel,ia mengantarkan Faro keluar dari ruangannya.
Setelah Daniel melihat Faro sudah pergi,Daniel masuk kedalam ruangan nya untuk melihat Aleta.
Daniel tersenyum saat melihat Aleta sepertinya baru saja bangun dari tidurnya
"Kak Daniel sudah selesai?" Tanya Aleta, Daniel mengangguk.
"Kau mau langsung pulang?" Tanya Daniel balik, Leta bangkit dari tidurnya
"Iya kak,ini sudah waktunya pulang sekolah.. aku rasa tuan Faro akan makan siang di Mansion hari ini" ucap Aleta, Daniel merasa iri karna Faro lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aleta.
"Kenapa Aleta tidak bekerja di Mansion ku saja" gumam Daniel,Leta berjalan keluar ia mengambil tas nya dan merapikan seragam nya yang kusut karna di bawa tidur tadi.
"Kau mau ku antar?" Tanya Daniel
"Tidak usah kak,aku tidak mau ditatap tajam oleh karyawan mu dibawah" sahut Aleta, Daniel tersenyum mendengar nya.
"Kalau begitu biar Dito yang mengantar mu sampai bawah ya" ucap Daniel, Leta mengangguk mau.
Daniel menelpon Dito agar datang keruangan nya,tak lama Dito sudah sampai di ruangan tuannya.
"Iya ada apa tuan muda?"
"Tolong kau antar Aleta sampai depan sekolahnya, agar pak supir nya tidak curiga" perintah nya, Dito mengangguk paham.
"Leta pergilah bersama Dito,lalu cokelat itu jangan lupa kau bawa" ucap Daniel, Leta tertawa kecil mendengar nya.
"Baiklah kak, terimakasih sudah menemani ku bolos" ujar Leta, Daniel tertawa.
Leta di bawa oleh Dito untuk ke parkiran,lalu mereka menuju sekolah Aleta.
Setelah sampai di sekolah nya Aleta turun dari mobil Dito,Dito menyerahkan 3 tas yang berisi cokelat.
"Terimakasih pak" ucap Leta, Dito hanya senyum kecil lalu berlalu pergi.
Aleta berdiri agak jauh dari sekolah nya,tiba tiba mobil pak supir berhenti tepat di hadapannya. Leta masuk dengan menenteng 3 tas pemberian Daniel.
Kini Leta telah sampai di Mansion,ia meletakan tas berisi cokelat itu di atas kasur nya.
"Mau ku apakan cokelat sebanyak ini ya?" Lirih Leta,tiba tiba handphone nya berdering Leta mengambil handphone nya yang berada di saku roknya.
"Aduh gawat Chika dan Tiara kenapa nelpon si?" Ucap Leta panik,ia menarik nafasnya lalu mengangkat panggilan itu.
Saat Leta mengangkat panggilan itu terlihat lah wajah sahabatnya yang terlihat kesal kepada dirinya.
'leta! Kamu kenapa bolos?!" Tanya Chika
'iya Taa, Alden nyariin kamu loh' timpal Tiara
"Aku tadi sudah datang ke sekolah taunya aku terlambat,jadi aku disuruh pulang sama pak satpam.." jelas Aleta,dua sahabatnya ber- oh saja.
Tiba tiba Faro datang ke kamar Aleta dan memeluk Aleta dengan erat.
"Kau jahat sekali, tidak pamit kepadaku saat pergi ke sekolah tadi hmm?" Ucap Faro,ia memeluk Leta dengan erat.
Leta kegelegapan,ia seketika mematikan panggilan video nya. Leta menebak pasti sahabatnya sudah mendengar perkataan Faro.
"Tuan kau mengagetkan ku.."
"Kau belum memasak aku sudah sangat lapar.." lirih Faro,ia melepas pelukannya lalu membalikan Aleta sehingga ia berhadapan dengan Aleta sekarang.
Leta menatap Faro dengan mata sendunya,ia melihat ketampanan Faro.
"Kalau sama kak Daniel ternyata lebih tampan tuan Faro" batin Leta
"Hei aku lapar" lirih Faro lagi, wajahnya sudah kesal sekarang.
"Baiklah tuan sekarang keluar lah dulu biar aku ganti pakaian.." ucap Leta, Faro menggeleng tidak mau
"Loh kok ga mau?" Tanya Leta heran, Faro malah duduk di kasur Leta.
"Tuan kok malah duduk si? Jangan bikin orang kesel yaa?" Hardik Aleta, Faro malah rebahan di kasur Aleta.
"Ih kau memang mes** tuan!" Ucap Leta sebal, Faro tertawa.
Aleta kesal ia berjalan menuju lemarinya, Faro masih setia berbaring sambil menatap apa yang Leta lakukan.
Leta mengambil pakaian lalu berjalan menuju bathroom untuk berganti pakaian.
Faro melihat di bawah ada 3 tas,dia penasaran apa itu. Faro turun dari ranjang dan melihat apa isi tas yang dilihatnya
"Cokelat sebanyak ini? Aleta mau buka supermaket apa gimana?" Tanya Faro pada diri sendiri, Aleta sudah selesai berganti pakaian.
"Tuan kau tidak mau makan cokelat?" Tanya Leta,karna ia melihat Faro yang sedang memeriksa 3 tas pemberian Daniel itu.
Faro menatap tajam Leta
"Siapa yang memberi mu cokelat sebanyak itu? Ini kan belum Valentine?" Tanya Faro beruntun, Leta bingung harus menjawab apa
"Aku beli sendiri tuan,tadi disekolah ada yang jual jadi aku beli aja semuanya.. karna aku sangat suka Cokelat" jawab Leta asal, Faro masih menatapnya tajam.
"Hmm jangan terlalu sering makan manis manis Leta.." ujarnya, Leta merasa lega karna Faro mempercayai alasannya.
"Baiklah tuan,aku mau turun sebentar mau masak untuk makan siang kita" ucap Leta, Faro mengangguk saja.
Aleta keluar menuju dapur,ia merasa sangat lega karna Faro tidak terlalu menanyakan asal muasal cokelat itu.
Kini mereka sedang makan siang bersama, Faro menikmati masakan Aleta dalam diam sambil sesekali memperhatikan Aleta yang sedang makan dihadapannya.
Setelah selesai makan Aleta merapikan sisa makan mereka, piring kotor ia letakkan di wastafel tak lupa pula ia juga mencuci piring bekas mereka makan dan peralatan bekas ia memasak tadi.
Setelah selesai Aleta mencari keberadaan Faro,ternyata Faro sedang duduk di ayunan sambil membaca koran di halaman samping.
Aleta berjalan menghampiri Faro lalu ikut duduk disebelah Faro.
"Tuan tidak bekerja lagi?" Tanya Leta, Faro menatap Aleta sebentar lalu melanjutkan membaca korannya.
"Tidak" jawab Faro, ntah kenapa Aleta merasa senang mendengar nya itu berarti dia tidak akan sendirian disini.
"Bagaimana sekolah mu tadi?" Tanya Faro,ia meletakan korannya di meja yang ada dihadapannya. Karna ditanya seperti itu Aleta gugup, karenakan dia bolos tadi.
"Kenapa kau seperti gugup begitu? Aku hanya menanyakan bagaimana sekolahmu bukan? Bukan menuduh mu mencuri" ucap Faro, Leta berusaha menetralkan kegugupan nya.
"Di sekolah tadi sama seperti biasa tuan.." jawab Leta asal, Faro memerhatikan gelagat Aleta yang sepertinya sedang berbohong kepadanya.
Faro berjalan keluar dari ayunan,ia duduk di bangku halaman samping yang berada di bawah pohon mangga besar.
Leta mengikuti pria besar itu,ia juga duduk di samping Faro sambil memerhatikan Faro yang sedang melamun.
"Leta mendekat lah kepadaku" pinta Faro,Leta mengerti bahasa itu ia pun bangkit lalu duduk dipangkuan Faro.
Faro merapikan rambut Aleta yang berantakan karna ditiup angin, Faro menangkup wajah Leta dan ia merasa gemas melihat pipi chubby Aleta.
"Pipi ini semakin gemuk saja.." ucap Faro, Aleta cemberut dikatain begitu oleh Faro.
Faro mendekatkan wajahnya kepada Leta lalu ia mencium gadis kecil dipangkuan nya,tak hanya itu ia ******* Aleta dengan lembut. Aleta begitu menikmati ciuman itu ia mengalungkan tangannya.
Angin sepoi-sepoi dan pohon mangga besar adalah saksi Ciuman mereka yang begitu menuntut, Faro melepas tautan bibirnya. Mereka bernafas secara memburu, Faro menetralkan nafasnya . Tak lama ia menciumi leher Leta dengan lembut
"Apa yang kau lakukan pagi tadi?" Tanya Faro,ia melihat Aleta yang sedang menatap matanya sendu
"Sekolah tuan" jawab Aleta cepat,ia akan berusaha fokus sekarang,jangan sampai mulut nya ini membongkar semuanya bisa habis dirinya sekarang juga.
"Begitu?" Tanya Faro,ia mengelus lembut bahu Leta lalu Faro berusaha melepas bra Aleta.
"Tuan kau mau apa?" Tanya Leta
"Mau melihat kembaran milikku" jawabnya tanpa beban, Aleta memukul dada Faro tapi itu tidak membuat Faro sakit malah ia tertawa.
"Kau jangan mes** tuan" ucap Leta sebal,ia berusaha bangkit dari pangkuan Faro tapi malah Faro memeluk nya erat.
"Aku rasa tadi kau berbohong padaku, sepertinya itu hanya perasaan ku saja.." ujar Faro sambil memeluk Aleta erat, Leta merasa bersalah karna sudah membohongi tuan nya yang begitu baik kepadanya.
Faro melepas pelukannya,lalu ia memerhatikan Aleta yang sedang sedih
"Kenapa? Kok sedih gitu?" Tanya Faro, Aleta menggeleng cepat.
"Kau tau apa yang ku lakukan hari ini?" Ucap Faro, Aleta menggeleng kan kepalanya
"Aku sudah memaafkan Daniel.." jawabnya, Leta mengernyit kan dahi nya bingung dengan perkataan Faro.
"Daniel dulu nya meniduri pacarku,aku begitu membenci dirinya dahulu.. tapi sekarang aku mencoba untuk melupakan masa lalu. Aku anggap Daniel tidak terlalu bersalah.." ujar Faro, Leta tidak percaya bahwa Daniel mau meniduri pacar temannya.
"Kau dulu bersahabat dengan kak Daniel tuan?" Tanya Leta, Faro mengangguk mantap. Faro memeluk Aleta erat yang berada di pangkuannya.
"Daniel itu selalu menyukai hal yang berada di dekatku,itulah dia.." jelas Faro, Aleta merasa kalau sempat Faro tahu bahwa dia tadi berada di ruangan kantor Daniel habis lah pertemanan mereka lagi, walaupun Aleta tahu bahwa ia tidak sepenting itu untuk merusak pertemanan nya dengan Daniel tapi Aleta merasa bersalah karna telah membohongi Faro begitu.
"Sekarang aku sudah memiliki sahabat baik lagi,kau tau aku sangat lega karna sudah bisa memaafkan Daniel, rasanya duri duri yang ada di hatiku perlahan gugur" jelas Faro, Leta tersenyum ke arah Faro dengan tulus.
Tiba tiba handphone Faro berdering, Faro mengambil nya di saku kemejanya.
Aleta turun dari pangkuan Faro lalu duduk disamping tuannya.
"Hallo ayah ada apa?" Tanya Faro
Faro berbicara dengan orang yang menelpon dirinya yaitu ayahnya
"Baiklah ayah aku akan ke kantor sekarang" ucap Faro,lalu mematikan panggilan itu,ia menatap Aleta yang sedang menatap nya sedari tadi.
"Leta aku ke kantor dulu ya, kau jangan kemana-mana.. belajar lah dengan baik dan jangan tidur larut malam" perintah Faro, Leta mengangguk.
Faro senang melihat Aleta yang penurut begitu,lalu ia bangkit dari duduknya tak lupa Faro mencium kening Leta lembut lalu berlalu pergi. Aleta melihat kepergian Faro dengan perasaan sedih.
"Sepertinya aku salah telah membohongi tuan Faro.. tapi aku juga tidak seberani itu untuk jujur kepadanya,aku takut dengan kemarahan tuan Faro yang sudah lama tak ku dengar" lirih Leta,ia menatap datar kepergian Faro yang perlahan mulai tak terlihat olehnya.
Faro sampai di Perusahaan nya,ia berjalan masuk dengan gagah. Dan para karyawan menunduk hormat kepadanya. Ada juga para karyawati yang tak henti henti memuji bos mereka yang begitu tampan bagaikan dewa langit.
Faro memasuki lift untuk menuju ruangannya,ia menekan lantai paling atas dimana ruangannya terletak.
Akhirnya ia sampai,ia membuka pintu ruangannya dan terlihat lah ayah dan mama nya yang sedang duduk santai di sofa.
"Loh mama kenapa ikut?" Tanya Faro
"Mama rindu dengan putra mama.." sahut Anita, Faro ikut duduk bersama orang tuanya.
"Mama mu maksa ikut,jadi dari pada ngambek lebih baik ayah bawa saja.." sambung Harja, Faro tertawa mendengar nya.
"Lagian ayah kamu itu Faro sangat perhitungan,mama mau shopping aja ga dibolehin" gerutu Anita kesal
"Kakinya masih sakit Faro,apa salah ayah melarang nya?" Tanya Harja membela diri
"Jadi kalian memanggil ku kemari hanya untuk menjadi juri dalam perdebatan kalian?" Tanya Faro dengan wajah sebalnya,Harja dan Anita mengangguk mantap.
"Astaga.." lirih Faro,ia merasa malas harus mengikuti perdebatan orang tua nya.
"Jadi menurut mu ayah benar kan?"tanya harja lagi
"Iya ayah benar, tapi mama juga ada benarnya..mama pasti butuh refreshing ayah" jawab Faro menengahi.
"Sekarang mama pergilah berbelanja,ini kartu untuk mama" ucap Faro,ia memberikan sebuah kartu tanpa batas kepada Anita. Anita merasa senang ia menatap Harja mengejek lalu berlalu pergi.
"Dasar wanita aneh!" Teriak Harja
"Terimakasih anakku sayang" teriak Anita,ia tidak memperdulikan perkataan Harja sama sekali.