
Daniel kini telah sampai di Perusahaan nya,ia akan kembali bekerja karena ia bingung harus melakukan apa.
Daniel duduk di kursi kerjanya,ia membuka laptop nya memeriksa email email yang masuk. Tiba tiba handphone nya berbunyi notif pesan masuk.
"Kak Daniel aku tunggu cokelat nya" isi pesan itu, Daniel tersenyum membacanya.
"Dasar gadis kecil.." gumamnya,tiba tiba Dito Asisten pribadinya memasuki ruangannya.
"Loh tuan kau kembali bekerja? Apa akan lembur?" Tanya Dito, Daniel mengangguk saja.
"Kemana para nona nona itu tuan muda,apa tidak berselera lagi bermain dengan mereka?" Goda Dito, Daniel menatap tajam Asisten pribadinya.
"Kau diam! Sana kembalilah bekerja!"
"Tuan tadi nona Viola datang ke ruangan mu,ia meninggalkan sesuatu di lemari mu" ucap Dito
"Dito lain kali kau jangan izinkan siapapun wanita masuk kedalam ruangan ku,aku benar benar tidak nafsu melihat wanita malam itu" ujar Daniel, Dito ternganga mendengarnya. Bagaimana tidak Daniel nota ben nya seorang cassanova bisa bisanya tidak berselera akan wanita.
"Kau dengar tidak?!" Teriak Daniel kearah Dito, ia merasa kesal dengan wajah Dito itu seperti sedang mengejek dirinya.
"Baik tuan saya paham,lalu bagaimana kalau tiba tiba si Joni merasa ingin?" Tanya Dito, Daniel menghela nafasnya berat.
"Sudahlah ini joniku biar aku yang memikirkan nasibnya, pergilah!" Bentaknya, Dito merasa takut ia pun berlalu pergi meninggalkan tuan mudanya.
"Menjengkelkan!" Maki Daniel.
Daniel membuka lemari meja kerjanya melihat apa yang dititipkan oleh Viola.
Ternyata itu hanya secarik kertas yang berisi jika Daniel membutuhkan dirinya maka ia akan datang untuk itu.
Daniel berdecak ia merasa Viola benar benar tidak tahu malu,tiba tiba seorang wanita masuk kedalam ruanganya.
"Maaf tuan muda,saya sudah melarang Nona Zenia untuk masuk tapi ia memaksa untuk masuk tuan.." ucap Dito, Daniel merasa pusing melihat Zenia yang kini sedang duduk dimeja kerjanya menghadap dirinya.
"Dito pergilah!" Perintah Daniel, Dito berlalu pergi.
"Daniel kau keterlaluan! Aku pulang dari London kau bahkan tidak menjemput ku di bandara,bukan hanya itu kau juga tidak menemui ku sama sekali" hardik Zenia, Daniel hanya diam tidak mempedulikan Zenia,ia berjalan menuju kaca jendela untuk melihat senja.
"Daniel kau mengatakan kepada mama mu kalau kita sudah putus apa itu benar ha?" Tanya Zenia,ia menyusul Daniel
"Benar!" Jawabnya singkat
"Kenapa? Kita bahkan mau menikah Daniel.. kau yang mengatakan nya kepada ku,bahwa setelah aku lulus kau akan menikahi ku!" Ucap Zenia,ia sama sekali tidak mengerti akan Daniel yang se enaknya berbicara begitu.
"Aku rasa kita sudah tidak cocok lagi Zenia! Kamu lebih pantas bersama Edward teman kampus kamu itu" ucap Daniel ia masih menatap lurus ke depan tidak memandang Zenia sama sekali.
"Kau masih mempermasalahkan Edward? Aku sudah minta maaf kepada mu" lirih Zenia,ia menggenggam erat tangan Daniel.
"Aku sudah tidak mencintai mu lagi!" Ujar Daniel dengan penuh keyakinan,ia menatap datar Zenia.
Seketika Zenia melepas genggaman nya,air matanya yang ia tahan jatuh begitu saja.
"Semudah itu?" Tanya Zenia, Daniel berjalan menuju kursi kerjanya lagi.
"Kau dulu begitu mencintai ku Daniel! Kau tidak mungkin secepat itu melupakan perasaan mu kepadaku!" Teriak Zenia
"Iya benar tapi itu dulu Zenia! Kau dulu selalu mengabaikan perasaan cinta ku kepadamu! Kau dulu selalu seenaknya kepadaku,bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kau hanya kau yang aku cintai di dunia ku ini, tapi kau malah selingkuh dengan pria breng*** itu!" Bentak Daniel,Zenia terdiam ia bingung harus berkata apa
"Kau tau aku tidak selamanya bodoh begitu Zenia.." lanjut Daniel, Zenia menangisi kebodohan nya.
"Tapi kita sudah melakukan hubungan suami istri Daniel,siapa pria yang akan menerima itu selain kamu?" Lirih Zenia, Daniel menghela nafasnya
"Sudah lebih dari 3 tahun aku tidak menyentuh mu selama kau berada di London,bahkan sangat tidak mungkin kalau kau tidak making love dengan Edward bukan?" Tanya Daniel menyeringai,Zenia seketika terdiam yang dikatakan Daniel itu benar. Selama ia berada di London Zenia selalu melakukannya bersama Edward.
"Tapi Daniel.."
"Tidak Zenia aku tidak mendengar alasan apapun, sekarang kita putus! Aku tidak mau ada kaitan apapun dengan mu!" Ucap Daniel,ia kembali fokus bekerja.
Zenia menatap nanar Daniel yang benar benar membenci dirinya,ia berlalu pergi meninggalkan Daniel. Pintu ruangan itu ia banting sekeras kerasnya.
"Aku bahkan tidak tahu kapan perasaan itu hilang,kau terlalu menyakiti hatiku Zenia.. aku tau ini adalah sebuah karma untukku" lirih Daniel,ia mencoba untuk tidak memikirkan hal ini.
Daniel kembali fokus mengerjakan dokumen dokumen penting nya.
Dini hari Alfaro baru pulang dari kantor nya,ia berjalan menuju kamarnya terlihat semua gelap karna Bi imah dan Aleta pastinya sudah tidur.
Faro berhenti saat melewati kamar Aleta,ia membuka pintu kamar Leta yang kebetulan tidak terkunci, Faro melihat Aleta yang tidur lelap dengan handphone yang masih menyala.
Faro berjalan mendekati Aleta,ia mematikan handphone itu lalu meletakan di meja belajar Aleta. Faro melihat lihat buku belajar Aleta, tanpa sengaja Faro melihat foto kedua orang tua Aleta.
"Dia cantik seperti mama nya.." gumam Faro didalam hati, Faro tersenyum manis melihat Aleta yang tertidur sangat lelap tidak menyadari kehadirannya sama sekali.
Faro membuka sepatu kerjanya dan juga jas kerjanya. Faro menuju bathroom untuk bersih bersih saja karna ia berniat untuk tidak mandi karna sudah dini hari.
Setelah dari bathroom, Alfaro membuka celana kerjanya hingga tersisa hanya celana pendeknya,dan tak lupa ia juga membuka kemejanya jadi ia hanya memakai celana pendek nya saja.
Faro berbaring disamping Aleta,ia menarik Aleta untuk tidur dalam dekapannya.
Aleta sedikit terusik,ia menatap tuan nya sebentar dengan mata yang sedikit terbuka lalu ia kembali tidur dengan semakin memeluk erat tuannya. Faro tersenyum kecil melihat Aleta yang begitu lucu.
"Malam ini aku tidur di kamar mu dulu.." ucap Faro sembari memeluk erat Leta,hingga matanya terpejam karna ia sangat mengantuk dan juga merasa lelah.
Di pagi hari Aleta merasa begitu nyenyak tidurnya,ia berguling guling bahkan memeluk erat guling yang ia peluk. Hingga perlahan matanya terbuka,ia mengerjapkan matanya berusaha untuk sadar. Seketika ia terkejut ia membekap mulutnya saat melihat Faro tanpa baju hanya memakai celana pendeknya sedang memeluk nya dengan erat,dan dirinya juga memeluk erat Faro bagaikan boneka.
"Astaga, sejak kapan dia masuk ke kamar ku? Memang si seluruh ruangan di Mansion ini miliknya,tapi bukan berarti dia bisa sembarangan begitu" lirih Leta,Leta pelan pelan melepaskan dekapan Faro yang erat dipinggangnya, setelah berhasil Leta berjalan pelan pelan menuju bathroom.
Setelah 30 menit akhirnya Aleta selesai mandi,ia mengambil seragamnya lalu membawanya masuk kedalam bathroom,karna ada Faro di kamarnya tak mungkin ia memakai bajunya dihadapannya walaupun Faro masih tertidur.
Akhirnya selesai Aleta membangun kan Faro yang masih terlelap ntah sejak kapan tuan Aleta itu sudah tidur dengan gaya tengkurap.
"Tuan bangun.. ini sudah hampir jam 7 apa kau tidak bekerja?" Tanya Leta sambil menepuk pelan badan Faro
"Hmm aku bekerja agak siang,kau diamlah aku tidur larut malam jangan ganggu aku.." ujar Faro tapi matanya masih terpejam
"Baiklah tuan,aku pergi ke sekolah dulu ya.." pamit Leta, Faro malah mendengkur.
"Ih dasar ternyata CEO kalau tidur bisa mendengkur juga yaa.." ucap Leta pelan,ia mengambil tas dan juga handphone nya lalu berlalu pergi keluar kamar.
Leta berjalan menuju dapur karna tuannya tidak ikut makan maka ia akan makan roti selai saja.
Leta memberi selai kepada 4 roti,lalu ia membawa roti itu untuk dimakan di perjalanan. Bi Imah yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya.
Sementara itu Daniel kini telah menunggu Aleta di SMA PELITA JAYA,ia menentang tas yang berisi cokelat.
"Kemana dia? Apa dia tidak naik bus? " Gumam Daniel,tiba tiba dihadapannya berhenti mobil mewah kemudian Leta turun dari mobil itu. Daniel heran melihatnya.
"Pak nanti jemput seperti biasa ya.." ucap Aleta,lalu mobil itu berlalu pergi.
"Eh kak Daniel" sapa Leta, Daniel semakin yakin kalau Aleta benar benar dilakukan berbeda dengan Faro karna Aleta spesial bagi mantan sahabat nya itu.
"Leta kenapa lama sekali?" Tanya kak Daniel,mereka kini duduk di kursi yang ada di luar pagar
"Aku bangun kesiangan kak,karna tuan Faro jadi aku tidak dengar alarm ku yang berbunyi" jawab Leta, Daniel mengernyit kan dahi nya bingung
"Eh kakak ngapain disini?" Tanya Aleta,ia menatap Daniel yang sepertinya sudah rapi akan bekerja
"Oh ini kakak mau berikan cokelat ini untukmu" jawabnya sembari memberikan tas yang ia pegang, Aleta menerimanya
"Eits di dalam mobil ada 2 tas lagi.." timpal Daniel dengan wajah bangganya
"Ha 2 tas? Kau mau membuat aku berselimut cokelat apa bagaimana kak?" Tanya Leta heran, Daniel tertawa terbahak-bahak
"Kan aku sudah bilang Leta kalau aku akan memberimu banyak cokelat.."
"Iya tapi aku tidak berpikir kalau akan sebanyak itu,akan ku apakan cokelat itu?" Tanya Leta ke Daniel
"Terserah" sahut Daniel
"Hmm kalau aku jual lagi sayang dong,jarang jarang aku diberi cokelat sama cowo ganteng" ucap Leta keceplosan,seketika ia menutup mulutnya
"Kau jarang ya diberi cokelat sama cowo ganteng?" Goda Daniel, pipi Leta bersemu merah
"Hahaha jangan kau jual dong taaa,simpan saja terserah mau untuk apa" ucap Daniel
"Baiklah kak, terimakasih yaa karna udah nepatin janji" ucap Leta sambil tersenyum manis, Daniel mengangguk sambil membalas senyuman Aleta.
Aleta mendengar suara bel masuk seketika ia tersadar,Leta bergegas lari menuju pagar.
Tapi pak satpam penjaga sekolah sudah menutup pagar itu
"Pak aku mohon izinkan aku masuk.." pinta Leta, sementara Daniel ikut lari bersama Leta.
"apa kamu ga tau peraturan disekolah ini? Kalau bel sudah berbunyi yang telat tidak diizinkan untuk masuk. Sekarang kamu pulang saja!" Perintah pak satpam, Aleta terbelalak kaget.
"Pak izinkan lah dia masuk,saya mohon padamu" sambung Daniel
"Kau pamannya? Sudah bawa pulang sana keponakan mu!" Ucap pak satpam mengusir
"Kak Daniel sudahlah itu akan sia sia, peraturan disini begitu ketat" ucap Leta, mereka berjalan kembali ketempat duduk mereka tadi.
"Leta maafkan kakak ya,gara gara Kaka kamu jadi dihukum begini" ujar Daniel sedih
"Tidak kak jangan menyalahkan Kaka begitu.." sahut Leta
"Tapi seenaknya saja dia bilang kalau aku pamanmu,memangnya wajahku terlihat tua ha?!" Ujar Daniel kesal,ia menyumpah sarapahi satpam galak itu. Leta tertawa mendengar nya.
"Satpam itu tidak tau cowok tampan,bagiku kak Daniel tidak setua itu.." ucap Leta, Daniel mengangguk setuju.
"Lalu kau mau disini sampai pak supir mu jemput?" Tanya Daniel, seketika Leta bingung
"Aduh kak,kalau aku menelpon pak supir ku bisa bisa Tuan Faro akan memarahi aku habis habisan,apa lagi kalau tuan Faro bertanya apa yang membuat ku telat? Aku benar benar tidak bisa berbohong kalau dia sudah bertanya kepadaku" ucap Leta panjang lebar,ia begitu bingung harus melakukan apa
"Begini saja, kau ikut ke Perusahaan ku.. nanti waktu jam sudah menunjukan jam sekolah kau telpon pak supir mu katakan untuk menjemput mu ditempat lain, kebetulan perusahan ku jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah,jadi kiranya pak supir tidak akan curiga kepadamu.." ucap Daniel memberi saran, Aleta mengangguk setuju.
"Baiklah kak" ucapnya, Daniel senang karna Leta menyetujui itu.
Mereka masuk kedalam mobil, ternyata ada Dito yang sedari tadi sudah menunggu tuan mudanya.
Leta menaruh tas berisi cokelat itu ke pangkuannya
"Taruhlah tas cokelat itu ke belakang Leta, bersama dengan tas yang lain" ucap Daniel, Leta menaruh ke bangku paling belakang dan benar ternyata ada 2 tas besar yang berisi cokelat yang sama.
"Kau benar benar terlalu menepati janji kak" ucap Leta dengan wajah sedikit kesalnya, Daniel tertawa
"Tuan kenapa kau membawa anak sekolah ke dalam mobilmu?" Tanya Dito heran
"Kau diam jangan cerewet! Cepat jalan menuju kantor aku sudah hampir mau telat!" Perintah Daniel, Dito melajukan mobilnya.
Dito sesekali memperhatikan kedekatan tuan mudanya dengan nona yang pakai baju sekolah itu,ia menebak bahwa gadis kecil itulah yang telah membuat Daniel tidak berselera dengan wanita malamnya.
Akhirnya mereka sampai, Aleta menatap kagum dengan gedung tinggi yang berada dihadapannya ini.
Gedung itu bertuliskan LASKARA CORP.
Daniel mengajak Aleta untuk masuk, seluruh orang yang berada disana menunduk hormat kepada Daniel, ada juga para karyawati memandang Aleta sinis karna bisa berjalan bersama Daniel.
Aleta mengabaikan itu ia terus berada di samping Daniel dan juga Dito.
Hingga mereka memasuki lift, Daniel menatap Leta yang tidak berhenti melihat lihat sekeliling nya.
Kini mereka sudah berada diruangan Daniel, Daniel menyuruh Aleta untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Kemudian Daniel duduk di kursi kerjanya,sambil menata dokumen nya.
"Tuan muda nanti jam 9 kita akan ada meeting dengan pak Alfaro Dewantara" ucap Dito,saat mendengar nama itu seketika Leta berhenti melihat lihat sekeliling nya,ia melihat 2 pria besar di hadapannya.
"Di kantor kita kan?" Tanya Daniel, Dito mengangguk cepat.
"Aku pikir kerja sama itu gagal Dito?" Tanya Daniel lagi
"Saya juga berpikir seperti itu tuan,tapi tiba tiba tuan Dewantara mengajukan kerja sama itu lagi? Lagian hal itu menguntungkan juga bagi perusahaan kita bukan?" Sahut Dito
"Ya kau benar"
"Baiklah tuan,nanti saya akan kembali ke ruangan mu bersama dengan pak Dewantara" ucap Dito lalu berlalu pergi.
Daniel menatap kepergian Dito,ia memijit pelipisnya. Aleta menghampiri Daniel
"Kak, tuan Faro akan datang kesini?" Tanya Leta, Daniel mengangguk
"Iya Leta ke ruangan ku ini,jadi nanti kau bersembunyi lah di dalam ruangan itu" tunjuk Daniel
"Itu tempat apa?"
"Itu tempat istirahat kalau aku tidak sempat pulang karena sibuk bekerja,kau juga bisa tiduran disana. Ada lemari es yang berisi berbagai Snack kau bisa memakannya" jelas Daniel, Leta mengangguk paham.
"Kak Daniel kantor mu ini sangat mengagumkan" puji Leta, Daniel tersenyum manis.
"Kau senang ku bawa kesini?"
"Iya!" Jawab Leta cepat, Daniel tersenyum kecil. Lalu ia melanjutkan pekerjaan nya lagi sambil menunggu waktu meeting dan juga menyiapkan proposal yang akan ia jelaskan ke Faro nanti.
Sementara Aleta,ia kini sedang tidur tiduran di sofa sambil memakan cokelat pemberian daniel tadi. Leta menatap dari kejauhan Daniel yang sedang serius bekerja.
"Wah kak Daniel benar benar tampan,andai dia kekasih ku pasti aku tidak akan berhenti henti memfoto dirinya,akan kutunjukan ke seluruh dunia bahwa dia adalah milikku" gumam Leta, membayangkan itu saja ia tersenyum sendiri.
visual Aleta kita ganti ya gays,ini menurut imajinasi saya. kalian boleh kok membayangkan siapapun orangnya, kalaupun ada yang sama lagi,tetap ini kok visual versi saya.
terimakasih pembaca setia..
visual Aleta

