
Kini Aleta duduk di ayunan halaman samping,ia termenung memikirkan segala hal yang saat ini sedang menimpa dirinya.
Aleta menatap handphone nya yang sedari tadi berdering, Daniel sedang menghubungi nya sekarang.
"Maaf kak Daniel, aku tidak mau tuan Faro semakin menghukum ku nanti.. walaupun aku ga tau kenapa dia bisa marah seperti itu padaku ketika kita habis bertemu" lirih Leta,ia menonaktifkan handphone nya.
Bi imah menghampiri Aleta yang sedang duduk termenung di ayunan menatap bintang bintang yang indah di langit.
"Non Leta sedang apa? udaranya nya sudah mulai dingin non.. sebaiknya masuk ke dalam untuk beristirahat" ucap bi Imah, Leta menatap bi Imah yang kini sedang berdiri di pintu samping,Leta tersenyum.
Leta bangkit dari duduknya,ia menghampiri bi Imah
"Iya bi" sahut Leta,bi Imah tersenyum mendengar nya
"Yasudah bibi mau ke kamar dulu yaa" ucap bi Imah pamit,lalu ia berlalu pergi.
Aleta menatap kepergian bi imah, setelah Bi imah menjauh dari pandangan nya Aleta berjalan gontai menuju sofa ruang tengah.
Saat Aleta ingin duduk, Faro keluar dari ruang kerjanya. Aleta menatap Faro yang berjalan terus seakan akan tidak melihat dirinya sama sekali. Faro terus melangkah menuju kamarnya, Leta mencoba mengejar tuan nya.
"Tuan tunggu!" Teriak Leta,ia berjalan di belakang Faro.
"Kau sudah mau tidur? Kenapa cepat sekali?" Tanya Leta beruntun, Faro tidak menjawab pertanyaan Aleta sedikit pun. Faro malah terus berjalan hingga kini mereka telah sampai dikamar pribadi Faro.
Aleta menatap Faro yang membuka jam tangannya,lalu meletakan nya di meja.
Lalu Faro berjalan menuju ranjang nya,ia berbaring di atas ranjang king size itu.
Aleta bingung apakah ia harus ikut tidur dengan Faro atau harus tidur di kamarnya sendiri? Aleta bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Faro menepuk sebelah nya kode agar Aleta berbaring disampingnya, Aleta mengerti akan kode itu.
Leta bergegas ikut berbaring di samping Faro,Leta menatap Faro yang kini memeluknya erat tanpa mengajak bicara dirinya sedikitpun.
"Pria besar ini sebenarnya kenapa si? Memang ada orang marah seperti itu? Huh dasar om tua" gumam Leta di dalam hati,Aleta menatap ke wajah Faro tapi sang empu malah sudah tertidur pulas.
"Aku seperti guling saja dibuat nya" gumam Leta lagi,Leta pun mencoba memejamkan matanya agar tertidur karna memikirkan tuan nya hanya membuat dirinya semakin pusing.
Aleta berharap semoga besok pagi Faro sudah tidak marah lagi kepadanya.
Di pagi hari, Aleta terbangun karena alarm dari handphone Faro berbunyi.
Aleta mengambil handphone Faro di nakas lalu mematikan alarm itu,ia melepas pelan pelan pelukan Faro di pinggang nya yang begitu erat seakan akan Leta adalah bantal guling.
Leta menghela nafas lega ia sudah berhasil melepaskan pelukan sang tuan,Aleta berjalan menuju jendela untuk membuka tirai nya agar sinar matahari memasuki kamar pribadi Faro.
Sinar matahari membuat Faro merasa silau hingga ia membuka matanya,yang pertama kali ia lihat adalah Aleta yang sedang berdiri di jendela kamarnya dengan penampilan acak acakan dan juga wajah bantalnya.
"Dia cantik" gumam Faro di dalam hati,Aleta melihat ke arah Faro ia kaget saat melihat tuan nya yang tanpa di bangun kan olehnya kini sudah terbangun.
"Kau hari ini bekerja tuan?" Tanya Leta, Faro menggeleng saja.
"Tidak? Kok tumben?" Tanya Leta lagi, Faro hanya diam menatap Leta datar
"Tuan mau sampai kapan kau marah terus kepadaku?" Tanya Leta dengan bibir cemberut nya, Faro gemas melihat nya.
Faro bangkit dari tidurnya,ia terduduk untuk melihat Aleta lebih jelas.
"Aku minta maaf kepada mu tuan, aku janji aku tidak akan membohongi mu lagi.. dan tidak akan menemui kak Daniel lagi" ucap Leta,ia menunjukan 2 jarinya.
"Hmm" sahut Faro singkat, Aleta menghela nafasnya berat
"Hmm apa tuan? Kau seperti Nisa sabyan saja" celetuk Leta, Faro tersenyum kecil.
"Aku memaafkan mu" ucap Faro sambil menatap Aleta dengan intens,Leta senang mendengar nya
"Tapi kau tetap home schooling" lanjut Faro,Leta mengangguk mengerti. Menurut nya itu tidak masalah yang terpenting Faro sudah tidak marah lagi padanya.
Faro menunjuk bibirnya, Aleta mengernyit kan dahinya bingung
"Kenapa dengan bibirmu tuan?" Tanya Leta polos, Faro menarik Leta hingga sang empu duduk dipangkuan nya.
"Tuan ini masih pagi,eh iya jam berapa jadwal home schooling ku tuan?" Tanya Leta
"Jam 9, masih banyak waktu bukan untuk kita berciuman disini" ucap Faro,ia merapikan rambut Leta yang berantakan.
"Kau ini selalu saja mencium diriku" sahut Leta kesal
"Itu salahmu! Kenapa kau memiliki bibir yang begitu candu untuk ku" ujar Faro, Leta tersipu malu mendengar nya.
Faro merasa semakin gemas dengan Leta,ia mulai mencium dan me***** bibir Leta dengan penuh gairah, ciuman itu turun ke leher sehingga membuat Aleta berteriak kecil. Merasakan sedikit nyeri pada tanda yang dibuat oleh Faro.
"Tuan hentikan!" Ucap Leta,ia mencoba memberontak karna Leta takut mereka akan kelewatan.
"Kenapa?" Tanya faro dengan nafas yang memburu,ia merasa kesal aktivitas nya dipaksa berhenti seperti ini
"Tuan sudahlah,kau membuat leher ku sakit" gerutu Leta,ia bangkit dari pangkuan Faro.
"Aleta kembalilah ke pangkuan ku!" Perintah Faro dengan suara beratnya,Aleta berjalan terus menuju bathroom tidak mempedulikan teriakan Faro yang terus memanggil nya.
"Aleta kenapa kau membantah ku ha?!" Teriak Faro,ia kini menyusul Leta di bathroom.
"Oh kau mau melakukan nya di bathroom?" Tanya Faro, Aleta seketika menatap Faro yang kini sedang menatapnya dengan intens.
"Melakukan apa?" Tanya Leta bingung, Faro mendekati Aleta. Ia memeluk Aleta dengan erat,Hingga Aleta merasa sesak dengan pelukan Faro.
"Tuan kau membuat ku sesak" ucap Leta, Faro baru tersadar ia mengurangi pelukannya.
"Kau mau tau tentang olahraga ranjang? Aku akan mengajarimu sekarang" goda Faro,ia ingin menjahili Aleta sekarang
"Kalau mau melakukan olahraga ranjang, kenapa di bathroom" sahut Aleta asal, Faro tertawa kecil mendengar nya
"Kau benar benar tidak tahu apa itu olahraga ranjang?" Tanya Faro, Leta menggeleng cepat.
"Apa itu tuan? Sepertinya olah-raga yang santai yaa?" Tanya Leta dengan wajah lugu nya
"Tidak bisa dikatakan santai,tapi kau akan berkeringat dan juga kau akan merasakan nikmat yang belum pernah kau rasakan" jelas Faro,kini Aleta melepaskan pelukan Faro.
Aleta merasa penjelasan Faro menarik.
"Wah sepertinya menyenangkan" ucap Leta, Faro mengangguk setuju.
"Ayo kita ke kasur" ajak Leta,ia menarik tangan Faro untuk kembali menuju kasur nya.
"Terus apa yang harus dilakukan?" Tanya Leta, Faro menahan tawanya.
"Kau harus buka baju terlebih dahulu" jawab Faro,Leta melotot ke arahnya lalu tanpa ba-bi-bu ia memukul Faro dengan keras.
Bugh,suara pukulan Leta. Faro tertawa bukannya sakit tapi malah geli untuknya.
"Dasar gadis bodoh" lirih Faro.
Faro membuka ponsel nya di nakas lalu melihat banyak panggilan tak terjawab dari ayah nya.
"Kenapa ayah menelpon ku banyak sekali seperti ini?"
Faro mencoba menghubungi ayahnya,sayangnya handphone ayahnya tidak aktif.
"Paling mau mengerjai ku saja"
Faro meletakan handphone nya dinakas,ia menuju bathroom untuk membersihkan diri.
Sementara Aleta berjalan menuju dapur sambil tak henti henti mengumpat Faro.
"Aku sudah ditipu habis habisan olehnya" ucap Leta,ia berjalan terus hingga kini ia duduk dimeja makan dengan wajah kesalnya.
Bi imah heran melihat Leta yang tidak memakai seragam sekolah nya ditambah lagi Leta yang sepertinya sedang mengumpat seseorang.
"Loh non Leta kenapa ga pakai seragam?" Tanya bi Imah, Leta kaget ia bahkan baru menyadari bi Imah berada di dapur.
"Aleta sekarang belajar di rumah bi.. jadi ga akan pakai seragam lagi" jawab Leta, bi Imah mengangguk mengerti.
"Eh bi Leta mau nanya boleh?" Tanya Leta, bi Imah menatap Aleta bingung
"Boleh dong non,mau nanya apa?" Tanya bi Imah dengan wajah serius nya.
"Apa bibi pernah mendengar tentang olahraga ranjang? Itu olahraga jenis apa bi? Apa harus membuka baju untuk melakukan nya?" Tanya Leta beruntun, bi Imah bingung harus menjawab pertanyaan Aleta yang mana.
"Setau saya non, olahraga ranjang itu.."
"Eh bi Imah,non Leta.." potong Yuda yang tiba tiba muncul
"Eh tuan Yuda.." sapa Leta,bi Imah senang saat melihat tuan Yuda datang.
"Ha nona Leta sebaiknya bertanya kepada tuan yuda ajaa..bibi sangat sibuk" ucap bi Imah,ia bergegas meninggalkan 2 mahluk itu.
"Astaga bagaimana bisa nona Leta menanyakan hal seperti itu? Kalau aku yang menjelaskan nya pasti nona Leta bisa marah kepada tuan,lalu saya akan kena imbasnya. Lebih baik saya kabur saja.." gumam bi Imah didalam hati.
Aleta dan Yuda menatap kepergian bi Imah dengan wajah bingung nya.
"Memang apa yang mau nona tanyakan?" Tanya Yuda, Leta merasa tidak ada salahnya menanyakan hal itu kepada Yuda.
"Tuan Yuda,apa kau tau olah-raga ranjang? Apa melakukan nya harus membuka pakaian terlebih dahulu?" Tanya Leta dengan wajah ingin tahunya, Yuda menelan Saliva nya kasar mendengar pertanyaan nona muda nya.
"Astaga pasti ini kerjaan tuan muda" gumam Yuda di dalam hati.
"Yuda kok diam aja si.. tadi aku sudah minta ajarkan kepada tuan Faro,tapi dia malah menyuruh ku untuk buka baju.. dia itu emang mes**" ucap Leta kesal kalau ingat itu
"Nona olahraga ranjang itu maksudnya.." Yuda bingung harus melanjutkan penjelasannya atau tidak.
"Apa? Kenapa kau seakan ragu menjelaskan nya?" Tanya Leta,ia semakin penasaran.
"Tapi sebelum saya menjawab,nona harus janji tidak akan marah dengan tuan muda" ujar Yuda, Aleta mengangguk setuju.
"Olahraga ranjang itu maksudnya itu melakukan hubungan intim,itu sama saja dengan olahraga nona" jawab Yuda, Aleta tercengang mendengarnya
"Itu berarti tuan Faro? Ah dia benar benar mes**!" Teriak Aleta, Yuda terkejut melihat respon Aleta yang sepertinya akan marah dengan tuan mudanya.
Tiba tiba mereka berdua menatap ke arah seseorang yang turun dari tangga,Orang itu adalah Faro.
"Mampus aku!" Lirih Yuda,ia terduduk di kursi makan dengan wajah sedihnya.
"Tuan kau benar benar mes**!" Teriak Leta kesal, Faro bingung.
"Kau masih mempermasalahkan tadi? Aku lupa bilang kepada mu bahwaa olahraga ranjang itu tidak perlu harus membuka pakaian" ucap Faro asal, Leta melotot kearah tuan nya.
"Aku sudah tahu apa itu olahraga ranjang! Kau benar benar mes** tuan.." ucap Leta kesal, Faro menatap ke arah Yuda dengan tajam,Yuda hanya menunduk.
"Oke maafkan aku.. aku hanya mengerjai mu tadi" ucap Faro,Leta merasa kesal ia berjalan meninggalkan Faro di ruang makan.
"Apakah dia marah?" Tanya Faro pada diri sendiri,ia menatap tajam Asisten pribadinya yang kini menunduk.
"Yuda kenapa kau beri tahu dia?" Tanya Faro dengan suara yang sedikit meninggi, Yuda merasa bahwa habis lah riwayat dirinya saat ini.
"Nona Aleta bertanya kepada saya dengan memaksa tuan" jawab Yuda.
"Kau bisa mengatakan yang lain,tidak usah mengatakan yang sebenarnya bukan?"
"Oh jadi gitu? Sengaja mau mengerjai aku" ucap Leta, Faro berbalik. Ia menatap Aleta yang terlihat kesal dengannya.
"Leta kau tidak usah percaya dengan penjelasan asisten gila itu" ucap Faro,ia mendekati Aleta, Aleta memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan marah oke?" Faro mencoba merayu Aleta,Yuda melihat tuan muda nya yang merayu Aleta seketika ia sedikit tertawa.
"Yuda kenapa kau tertawa ha?!" Teriak Faro, Yuda seketika tersadar
"Saya tidak berani menertawai mu tuan" sahut Yuda, Leta menghela nafasnya berat lalu berlalu pergi naik ke lantai atas untuk menuju kamarnya
"Leta ingatlah jam 9 nanti guru mu akan datang ke Mansion" ucap Faro,Leta berbalik ke arah Faro,ia mengangguk mengerti.
Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Kau harus memikirkan bagaimana caranya agar dia tidak marah kepada ku lagi" perintah Faro, Yuda mengangguk mengerti.
"Kita langsung saja ke kantor,kita sarapan disana" ujar Faro, mereka berlalu pergi meninggalkan Mansion.
Sementara Aleta, kini ia berendam di dalam bathtub. Aleta merasa sangat kesal karna telah di jahili oleh tuan nya.
"Tuan Faro memang ngeselin.." teriak Leta,ia merasa sangat kesal.
"Aku pikir olah-raga ranjang itu seperti senam yoga.. taunya hal seperti itu" lirih Leta.
Setelah selesai mandi,ia memakai pakaian nya yang terlihat sopan untuk belajar nanti.
Leta menyiapkan buku buku lalu berjalan turun menuju ke ruang tengah tempat nya untuk belajar.
Disaat Leta turun,Leta melihat seorang guru pria agak tua sudah menunggu nya di sofa.
"Maaf pak saya terlambat" ucap Leta,pak guru itu mengangguk.
"Tidak papa Leta, sekarang kita mulai ya pelajarannya" sahut pak guru itu,Leta mengangguk.
Leta memulai pelajaran nya,ia merasa dirinya lebih fokus belajar seperti ini.
Bahkan Leta biasanya sangat susah untuk mengerti kini ia bahkan sangat cepat mengerjakan latihan yang diberi oleh pak guru.