
Dengan perasaan kesal Faro berjalan menuju mobil, Aleta kaget tapi ia mengikuti tuan nya masuk kedalam mobil. Yuda menghela nafasnya berat,ia akan kena marah lagi hari ini.
Sementara Tiara dan Chika saling terbengong satu sama lain
"Majikan nya tampan si Raa,tapi galak" ucap Chika
"Ya kau benar, waktu ada dirinya terasa aura disekitar kita serasa mencekam yaa" ucap Tiara, mereka menghela nafas berat melihat Aleta yang berlari menyusul Faro di dalam mobil.
Kini Aleta berada didalam mobil dengan Faro yang membuang muka kearah luar jendela.
Yuda fokus menyetir,ia melihat dari kaca spion tuan muda nya yang dalam mode tidak mood.
"Tuan kau jangan marah kepadaku,aku tadi hanya keluar sebentar kok"ucap Leta,ia mencoba membujuk Faro.
Karena Faro tidak merespon,Aleta menahan rasa malunya demi Faro agar tidak marah lagi kepadanya
"Sayang,kalau kau marah begini kepadaku,aku tidak akan mau kau cium lagi, atau bahkan aku tidak akan mau duduk dipangkuan mu lagi" ucap Leta mengancam,ia melipat tangannya dengan bibir yang cemberut.
Faro menatap Leta,ia heran kenapa gadis ini selalu menggemaskan baginya.
"Kenapa kau ikut marah hmm?" Tanya Faro sambil mengangkat satu alisnya.
"Sayang ku ini sudah berani mengancam diriku?" Tanya Faro, Aleta tertawa kecil.
"Kau berpura pura?" Tanya Faro, Aleta mengangguk.
"Tapi aku tidak berpura pura minta maaf kepadamu tuan" sahut Leta, Faro memeluk Leta dalam dekapannya dengan erat.
Yuda merasa lega karena tuan nya sudah tidak dalam mode marah,tapi ia lebih bingung kenapa tiba tiba mereka sayang sayangan begini?
"Maafkan aku, karena aku memanggil mu sayang disaat ada tuan Yuda" ucap Leta, Faro tersenyum kecil
"Yuda itu tidak orang,kau tidak perlu minta maaf" celetuk Faro, Yuda hanya menghela nafasnya saja. Sementara Aleta tertawa kecil.
"Sayang panggilah Yuda dengan namanya saja, tidak perlu kau panggil dia tuan"
"Kenapa begitu? Aku merasa tidak sopan jika aku memanggilnya nya dengan sebutan nama" ucap Leta menolak, Faro mengusap rambut Aleta gemas.
"Yuda,apa kau marah kalau Aleta tidak memanggil mu dengan sebutan tuan?" Tanya Faro,
"Tidak tuan" jawab Yuda, Aleta melihat wajah Faro yang sepertinya sedang mengancam Yuda. Dengan berat hati Aleta menyetujui permintaan Faro.
"Baiklah" ucap Leta mengalah, Faro tersenyum senang. Aleta menyandarkan kepalanya di bahu Faro, dengan Yuda yang menyetir. Mereka begitu menikmati perjalanan pulang menuju Mansion.
Sesampainya di Mansion, Faro menggandeng Aleta untuk menuju kamarnya karena ia ingin mengerjakan dokumen yang ia bawa tadi.
Aleta melihat seorang wanita cantik yang tengah duduk diruang tamu, Faro dan Leta saling pandang. Mereka bingung siapa yang datang ke Mansion ini,dan kenapa dia tahu kalau Faro tinggal disini.
"Faro" panggil wanita itu, dengan gerakan cekatan wanita itu memeluk Faro dengan erat. Aleta melepas tangannya dari genggaman Faro,ia memerhatikan sang tuan yang lagi dipeluk oleh wanita cantik dan anggun. Walaupun Faro tidak membalas pelukan itu,ketika kaitan tangan mereka dilepas, Faro menatap bingung Leta.
"Zenia? Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Faro heran
"Aku bertanya dengan paman Harja, katanya kau tinggal disini sekarang" sahut Zenia,ia menatap gadis kecil yang sedang berada di samping Faro.
"Ayah? Astaga kenapa dia bisa memberitahu mu begitu,nanti aku akan protes kepadanya" ucap Faro,ia merasa sebal jika para wanita ini tahu dimana tempat tinggalnya.
"Faro kau tidak perlu marah kepadanya,aku yang salah,aku yang memaksa dirinya"jelas Zenia, Faro menghela nafasnya berat.
"Siapa gadis kecil ini?" Tanya Zenia, Faro menatap kearah Leta yang sedang menunduk.
"Dia.."
"Ah aku tau, pasti kamu maid disini kan?" Ucap Zenia memotong pembicaraan Faro.
"Aku belum selesai bicara Zenia, kenapa kau sudah memotong pembicaraan ku?" Tanya Faro dengan suara berat, Aleta mengelus tangan tuan nya karena ia tahu Faro sudah akan emosi.
"Iya nona,saya mau kembali ke belakang dulu" pamit Leta, dengan perasaan sedih ia kebelakang, Faro menatap kepergian Aleta hingga wanita itu tidak terlihat lagi.
"Ayo duduklah Zenia"ucap Faro, mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kau tidak tinggal di Apartemen saja Faro?" Tanya Zenia
"Aku lebih suka tempat yang luas dan privasi" sahut Faro,ia menekankan kata privasi membuat Zenia merasa tersindir.
"Apa kamu datang mau bahas soal Daniel?"
"Tidak, kenapa aku harus bahas soal pria itu" sahut Zenia cepat, Zenia menggenggam tangan Faro. Diperlakukan seperti itu membuat Faro menatap Zenia heran,ia melihat ada mata penuh harap dari mata Zenia.
"Faro,kau belum memiliki pacar bukan?" Tanya Zenia, Aleta datang dengan membawa nampan berisi 2 gelas minum orange jus.
"Belum" jawab Faro singkat,ia menatap Aleta yang menaruh gelas minuman itu di meja.
Zenia heran melihat Faro yang selalu saja menatap maid nya, setelah Aleta pergi Zenia melanjutkan pembicaraan nya.
Zenia bertanya bahkan ia bicara sedikit tentang kesibukan dirinya,tapi Faro hanya menanggapi sekedar saja. Tapi Zenia pantang menyerah,ia tetap mengajak Faro berbicara.
Aleta dari dapur melihat Faro yang sedang bicara dengan Zenia, sejujurnya ia merasakan cemburu tapi ia tahu bahwa itu tidak boleh ada dalam hatinya.
Waktu menuju malam Zenia sudah pulang dengan diantar supir pribadi dirinya.
Faro bernafas lega karena wanita itu sudah kembali ke asalnya, dengan perasaan kesal ia naik menuju kamarnya.
Sesampai dikamar Faro membersikan diri di bathroom, setelah itu ia memakai baju santai dan berlalu pergi ke dapur karena perut nya sangat lapar.
Di dapur ia melihat Aleta yang sedang menyajikan makanan dengan dibantu bi Imah.
"Wah bau nya harum sekali" puji Faro,bi Imah dan Leta tersenyum manis.
Faro duduk di kursi makan dengan Aleta yang ikut duduk disamping nya,ia menyajikan makanan dipiring setelah itu Leta berikan kepada Faro.
Mereka makan bersama dalam diam, setelah makan bi Imah merapikan piring bekas tuan dan nona nya makan. Karena Faro keburu membawa Aleta kedalam ruangan kerjanya.
Diruangan kerja, Faro menyuruh Aleta untuk duduk di sofa, melihatnya yang sedang berkutat dengan dokumen.
"Astaga tuan,kalau begini terus aku bosan" keluh Leta, Faro menatap tajam Leta.
"Eh sayang,aku bosan kalau begini terus" ucap Leta,ia kelupaan dengan kata sayangnya.
"Tetap diam lah disana" perintah Faro,ia kembali fokus dengan dokumen nya.
Aleta menghela nafasnya berat, lalu ia berjalan menuju lemari yang berisi banyak buku. Mengambil nya satu lalu kembali duduk di sofa untuk membaca buku itu.
Faro melihat Aleta sambil tersenyum,ia kembali fokus mengerjakan dokumen nya sambil sesekali menatap Aleta yang sedang membaca buku.
Sementara di belahan lain, maksudnya di Apartemen Yuda. Kini Bella sedang memasak makan malam untuknya sendiri.
Yuda juga tidak mau kalah,ia memasak makan malam untuk perut nya sendiri,kalau istri nya bisa egois kenapa ia tidak.
"Apa yang kau masak?" Tanya Bella,ia menaruh masakannya di piring.
"Kau cerewet,udah sana jangan ganggu" sahut Yuda, dengan perasaan kesal Bella duduk di meja makan.
"Aku cuman bertanya saja,apa itu salah" gerutu Bella,tak lama Yuda datang dengan piring yang berisi omlet.
Bella memerhatikan Yuda yang makan dalam diam, ia bingung, bagaimana caranya berbicara dengan pria ini?
"Yuda,apa aku masih bisa bekerja sebagai model?" Tanya Bella,Yuda menatap Bella sekilas lalu kembali fokus ke piringnya.
"Tidak, sebagai suami mu aku tidak mengizinkan nya" sahut Yuda,Bella membanting sendok nya kasar.
"Maksud mu apa? Kitakan suami dan istri yang tidak saling mencintai,kenapa kau melarang ku melakukan pekerjaan ku?" Tanya Bella, dengan menahan rasa amarahnya Yuda menyelesaikan makannya.
Ia menaruh piring nya di wastafel, lalu mencucinya, melihat Yuda yang tidak menanggapi ucapannya membuat Bella kesal.
"Yuda! Kau harus mengizinkan aku" ucap Bella,seakan akan memerintah.
"Kau tidak bisa mengatur ku, kalau aku bilang tidak maka tidak Bella" ucap Yuda sedikit meninggi, Bella kesal ia berjalan menuju kamarnya dengan menghentakkan kaki nya kasar setiap langkahnya.
Yuda menatap kepergian Bella,ia menghela nafasnya berat.
"Yuda pelit"teriak Bella dengan suara melengking, seketika Yuda menutupi telinganya.
Bella memasuki kamar nya,ia merangkak ke atas kasurnya dengan perasaan kesal.
Bella memukul bantalnya sebagai pelampiasan kekesalan nya pada Yuda.
"Kalau aku memaksa pasti dia akan mengadukan kepada papa dan mama, pasti aku akan dimarahi oleh mereka" ucap Bella dengan sedih,ia menatap langit langit kamar.
"Hidupku menyedihkan,niat hati mau menikah dengan Faro eh malah dengan Asisten pribadi nya, rasanya semua tidak sesuai ekspektasi ku" ucap Bella,karena merasa lelah seharian ini ia membereskan barang barang nya,lama kelamaan Bella terlelap tidur.
Yuda masuk kedalam kamar Bella, maksud hati ia ingin membujuk wanita itu, tapi Bella sudah tertidur lelap hingga tidak menyadari kehadirannya.
"Benar benar gadis aneh" ucap Yuda,ia menatap Bella yang tertidur telentang.
"Sebenarnya alasan ku tidak mengizinkan mu untuk menjadi model lagi karena aku tidak mau kecantikan istriku dilihat oleh orang lain" gumam Yuda didalam hati.
Di ruang kerja Faro, Aleta tertidur di sofa dengan buku yang masih berada ditangannya. Faro melihat jam yang menunjukan tengah malam,ia meregangkan otot-otot nya yang mungkin kaku seharian mengetik. Faro membereskan dokumen yang akan ia bawa besok, setelah itu ia menghampiri Aleta yang sedang tertidur pulas.
Faro mengambil buku ditangan Aleta,menaruh buku itu di atas nakas. Dengan perlahan Faro menggendong Aleta menuju kamarnya, Aleta tak terusik sedikitpun,Malah ia mengalungkan tangannya di leher Faro. Faro tersenyum kecil,ia ingin menerkam Aleta sekarang rasanya
"Astaga apa yang kau pikirkan Faro" gumam Faro didalam hati,ia merutuki dirinya sendiri yang hampir hilang kendali kepada gadis kecil.
Dengan lembut Faro meletakkan Aleta di atas ranjang king size nya,ia melihat Aleta yang sedikit menggeliat Lalu kembali tidur, Faro berbaring tepat di samping Aleta. Lalu ia memeluk pinggang Aleta dengan erat, mencium aroma wangi dari tubuh Aleta membuat nya nyaman.
Keesokan paginya, Faro terbangun karena suara handphone nya berdering diatas nakas. dengan mata yang masih terpejam ia mengangkat panggilan itu
"Hallo" ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Faro ini aku Zenia" sahut wanita itu, Faro menghela nafasnya berat dengan kesal ia mematikan panggilan itu sepihak dan menonaktifkan handphone nya.
Faro meletakan handphone nya dinakas, lalu kembali memeluk Aleta dengan semakin erat. Karena ini hari Minggu, Faro berniat akan pergi ke kantor di siang hari saja. Jadi pagi ini ia habiskan dengan malas malasan dengan Aleta.
Karena merasakan pelukan yang begitu hangat membuat Aleta tertidur sangat lelap,ia bahkan sampai menempelkan wajahnya dengan dada bidang Faro,sang pemilik dada bidang itu tersenyum manis,ia mengecup kening Aleta lalu melanjutkan tidurnya lagi.