
Alfaro masih di ruangan nya bersama dengan Harja, Harja menatap tajam putranya yang sedang duduk berhadapan dengannya.
Ia merasa bahwa putra nya ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya
"Kenapa ayah menatap Faro seperti itu?" Tanya Faro,ia merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun
"Kau berbohong kepada ayah kan nak.." sahut Harja,ia menyelidik anaknya
"Ha berbohong? Bohong soal apa?" Tanya Faro lagi, ia benar-benar tidak mengerti akan maksud ayah nya
"Kau tidak tinggal di Apartemen mu tapi di Mansion mu yang baru saja selesai di bangun" ucap Harja,seketika Faro terdiam
"Gawat ayah pasti memata mataiku.." gumam Faro didalam hati.
"Iyakan?" Tanya Harja lagi
"Itu benar,terus kenapa?" Tanya Faro balik
"Apa tidak kesepian tinggal sendiri di Mansion?" Harja malah bertanya balik
"Apa kamu membawa seseorang untuk tinggal disana?" Sambung Harja
"Iya ayah,dia Aleta Faro mohon jangan sampai Mama tahu" ucap Faro jujur, menurut nya ayah nya sebenarnya sudah tahu tapi ayah nya hanya ingin menguji kejujuran anaknya.
"Baiklah ayah tidak akan beri tahu mama,kenapa kau begitu melindungi Aleta?" Tanya Harja lagi, Faro kesal karna ayahnya selalu bertanya
"Ayah ini urusan Faro,ayah tidak perlu tahu apa alasannya" ucap Faro kesal,Harja diam mengangguk saja.
"Baiklah ayah mengerti.." sahut Harja, Faro tersenyum hangat ke ayahnya.
Tiba tiba Yuda memasuki ruangannya
"Tuan muda ada nona Bella yang ingin menemui sekarang" ucap Yuda
"Bella? Suruh dia masuk Yuda" perintah Harja tanpa permisi kepada anaknya.
"Baik tuan" ucap Yuda berlalu keluar lagi.
"Ayah kenapa asal menerima tamu aja sih?" Ucap Faro kesal,tapi Harja diam tidak peduli.
Bella datang memasuki ruangan kerja Faro,ia kaget saat melihat Harja yang sedang duduk bersama Faro di sofa.
"Waw Bella sangat cantik.." puji Harja,karna Bella berpenampilan sangat cantik dan juga memakai baju yang terlihat sexy.
"Paman bisa aja, Bella tadi habis pemotretan kebetulan dekat dengan kantor ini.. jadi mampir deh" jelas Bella, Faro hanya tersenyum kecil.
"Kalian nikmatilah Faro,ayah mau pergi dulu.. oh iya nanti malam pulang lah ke Mansion utama ada yang ingin ayah bicarakan kepadamu!" Perintah Harja, Faro mengangguk.
"Ayah hati hati" ucap Faro, Harja menepuk lembut bahu putranya lalu berlalu pergi.
Sekarang tinggallah Faro dan Bella.
"Ada apa bel?" Tanya Faro,karna Bella kalau tidak ada sesuatu yang penting tidak akan menemui dirinya
"Aku rindu padamu.." lirihnya, Faro hanya diam menatap datar Bella.
"Faro kau tidak tinggal di Apartemen kan? Aku sudah kesana kemarin tapi Apartemen mu seperti tidak pernah kau tinggali lagi" ucap Bella, sekarang ia duduk mendekati Faro. Bella bergelayut manja ditangan kekar Faro dan juga sesekali mencium pipi Faro.
"Bella jangan seperti ini!" Ujar Faro dengan nada dingin dan juga wajah datarnya.
"Kenapa si? Kamu ga suka dicium begitu? Bukannya pria sangat suka di cium?" Tanya Bella,ia masih tetep menciumi pipi Faro.
"Bella hentikan!" Ucap Faro serius, Bella seketika berhenti.
"Kau itu galak sekali" gerutu Bella kesal, Faro menghela nafasnya berat.
"Faro kau belum jawab pertanyaan ku,kau sekarang tinggal dimana?" Tanya Bella lagi
"Apa harus ku jawab?" Tanya Faro dingin, Bella jengah akan sifat dingin Faro kepadanya
"Terserah" sahut Bella,ia bangkit dari duduk nya berjalan menuju jendela besar.
"Kau tau tadi pagi aku bertemu dengan Viola" ucap Bella, Faro kini juga berdiri di samping Bella sambil menatap keramain kota yang mereka tinggali.
"Lalu?"
"Viola mengatakan kepada ku,bahwa kau benar benar tidak bisa melupakan dirinya sehingga kau tidak berkencan dengan wanita mana pun lagi" jelas Bella, Faro hanya diam menatap datar lurus kedepan.
"Aku tidak peduli akan perkataan wanita sial** itu" ucap Faro, Bella melihat ke arah Faro sekilas lalu menatap kembali ke arah jendela.
Bella merasa bosan karna Faro tidak mengajak bicara kepadanya,hanya Bella yang menanyai tapi Faro tidak menanyai nya balik.
Malah sekarang Faro sedang mengerjakan dokumen penting dan juga memeriksa berbagai email.
"Faro aku akan pergi, apa kau tidak akan mengantar ku?" Tanya Bella, Faro hanya menggeleng saja.
"Astaga sabar Bella sabar.." gumam Bella,ia menatap kesal Faro lalu berlalu pergi.
Kini Bella sudah sampai di lobby kantor ia merasa sangat kesal dengan Faro,yang tidak mau bersikap hangat kepadanya sedikit pun.
"Ih Faro ngeselin!" Teriak Bella, seketika para karyawan yang ada di lobby menatap aneh Bella.
"Ada apa nona Bella?" Tanya Yuda,ia menghampiri Bella yang kini sedang duduk di kursi yang ada di lobby
"Aku kesal dengan majikanmu!" Ucap Bella, Yuda tertawa kecil
"Karna dia bersikap dingin kepadamu?" Tanya Yuda lagi, Bella mengangguk mantap.
"Tuan Faro itu realistis nona,kalau dia tidak suka maka itulah yang akan dia lakukan tapi kalau dia suka wanita itu bahkan tidak bisa pergi darinya sedikitpun. Akan selalu berada disisi nya" jelas Yuda, Bella berpikir sesuatu tentang perkataan Yuda.
"Kau paham sekali dengan tuan muda mu?" Tanya Bella,ia bahkan yang nota ben nya sebagai sahabat Faro saja tidak memahami bagaimana sahabat nya itu, menurut Bella hal di dunia ini yang paling tidak bisa di pahami adalah Faro.
"Saya adalah sahabat dekatnya selama masa kuliah nona" jawab Yuda
"Aku sahabatnya dari kecil,tau dari orok tapi tetap aja aku tidak paham akan sifat dia" lirih Bella sedih, Yuda tersenyum
"Kenapa tuan Faro tidak menyukai Nona bella? Padahal wanita ini sangat lucu" gumam Yuda didalam hati.
"Ah sudahlah aku mau pulang" ucap Bella,ia bangkit lalu berlalu pergi meninggalkan Yuda seorang diri.
Yuda menatap kepergian Bella dengan tersenyum kecil
"Semakin kesal dia semakin cantik" puji Yuda.
Yuda memasuki ruangan kerja Faro,ia melihat Faro yang sedang berputar putar seperti anak anak di kursi kerjanya.
"Ada apa tuan muda?" Tanya Yuda
"Aku sedang merasa bahwa aku sekarang aneh Yuda" jawab Faro, Yuda mengernyitkan dahinya bingung
"Merasa aneh? Kau merasa ada yang sakit pada dirimu?" Tanya Yuda lagi
"Iya! Sepertinya aku harus ke dokter!" Jawab Faro cepat
"Ha ke dokter? Sepertinya dari yang ku lihat kau baik baik saja tuan" ucap Yuda
"Aku yang sakit kau mana merasakan nya" sahut Faro ketus, Yuda terdiam apa yang dikatakan Tuan muda nya benar juga.
"Kalau begitu besok saya akan mengatur jadwal untuk pengobatan bersama dokter Ridho" ucap Yuda, Faro mengangguk setuju.
"Ini sudah menuju jam makan malam Yuda,ayo kita ke Mansion Utama" ajak Faro.
Mereka mengakhiri pekerjaan nya,lalu berlalu pulang menuju Mansion Utama.
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai, Faro dan Yuda memasuki Mansion. Para pelayan menunduk hormat kepada Faro sementara Yuda berjalan dibelakang sang tuan.
Faro melihat ayah dan mama nya yang sedang duduk santai di meja makan tentunya menunggu putra mereka.
"Yuda kau ikutlah makan bersama kami!" Perintah Harja
"Terimakasih tuan.." ucap Yuda,lalu ia ikut duduk disamping Faro.
"Katanya ayah ada yang ingin dibicarakan dengan Faro, apa itu?" Tanya Faro penasaran.
"Makan lah dulu" ucap Harja.
Faro dan yang lain pun makan dalam diam,ia merasa sangat penasaran apa yang akan dibicarakan ayah nya.
Setelah selesai makan Harja mengajak Faro untuk duduk di ruang santai, mereka duduk bersama sama di sofa mewah itu.
"Sekarang umur mu berapa?" Tanya Harja
"tahun ini Faro genap 30 tahun ayah" jawab Faro
"Itu sudah sangat tua nak, kenapa tidak juga menikah menikah ha?" Tanya Harja, akhirnya Faro sedikit mengerti apa yang mau dikatakan ayahnya
"Ayah terus terang saja,apa yang mau ayah bicarakan"
"Kita harus melakukan perjodohan untukmu secepat nya" ucap Harja mantap, Anita mengangguk setuju
"Faro tidak mau ayah.. jangan paksa Faro.." sahut Faro kesal
"Tidak ada penolakan Faro! Kau mau, tidak mewarisi sedikit pun warisan Dewantara ha?!" Suara Harja semakin meninggi, Anita menenangkan suaminya agar tidak emosi dengan Faro.
"Aku tidak peduli!" Ucap Faro
"Kau!!!" Bentak Harja,ia menunjuk putra nya.
"Ayah tenanglah.. Faro dengar kan ayahmu nak,ini demi kebaikan mu" timpal Anita, Faro bangkit dari duduknya
"Faro duduk!" Perintah Harja,mau tidak mau Faro ikut duduk
"Kami tidak akan mempermasalahkan siapa wanita yang akan kau nikahi,yang terpenting kau menikahi wanita yang kau cintai" ucap Harja
"Tidak ada wanita yang Faro cintai ayah, sudahlah nanti Faro akan berusaha memikirkan ini. Ayah tenang saja" sahut Faro, Harja menghela nafasnya berat.
"Kau memang keras kepala!" Celetuk Harja
"Sama seperti mu ayah" sela Anita, Harja mengangguk setuju.
"Ayah,mama, Faro mau kembali ke Apartemen. Disaat Faro ingin menikah maka Faro akan mengatakan nya kepada kalian, kalian tetaplah sehat agar melihat pernikahan ku" ucap Faro asal,ia bangkit lalu meninggal kan orang tuanya diikuti Yuda dibelakang nya.
"Ayah kau tidak pantas emosi seperti itu dengan anak kita,kau keterlaluan" ucap Anita memarahi suaminya
"Hatiku sakit kau membentak anakku seperti itu.." sambung Anita sedih, Harja mengelus lembut bahu istrinya.
"Maaf kan aku, selama ini memang Faro anak yang baik tidak pernah membantah, selalu menuruti apa keinginan ku.. tapi maa apa salah kita menginginkan Faro untuk menikah" ucap Harja, Anita menggenggam erat tangan Harja.
"Kita tidak salah, anak kita yang tidak mengerti. Ayah yakinlah kepada Faro bahwa dia pasti sedang memikirkan untuk menikah,hanya saja dia terlalu menyeleksi calon istrinya. Mama sangat tahu sepertinya dia sama seperti mu ayah.." jelas Anita, Harja mengangguk setuju dengan perkataan istrinya.
Mereka menghela nafas bersamaan, mereka saling tatap lalu tertawa bersama karna ulah putra mereka sangat bikin sakit kepala.
ALfaro sudah sampai di Mansion,ia menyuruh Yuda untuk langsung pulang saja.
Faro masuk kedalam ia melihat bi Imah yang menyambut dirinya
"Selamat malam tuan" ucap bi Imah
"Malam bi,dimana Aleta?" Tanya Faro
"Nona Leta sedang di meja makan menunggu mu untuk makan bersama tuan.." jawab bi Imah, seketika Faro baru teringat bahwa ia tidak mengabari Aleta tadi.
"Aduh aku lupa! Bagaimana kalau dia marah nanti?" Gumam Faro,ia bergegas pergi menuju tempat makan. Faro melihat Aleta yang sedang duduk termenung menunggu dirinya.
"Aleta" sapa Faro, seketika Aleta tersenyum senang melihat tuan nya yang sedari tadi ia tunggu datang.
*Flashbackon*
Leta merasa bersalah karna membohongi Faro yang begitu baik kepadanya.
Aleta berpikir apa yang akan ia lakukan agar rasa bersalahnya kepada Faro sedikit menghilang tanpa ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada tuan nya.
Aleta bertanya kepada bi Imah makanan apa yang disukai Faro,agar dia bisa memasaknya.
"Bi Imah Leta boleh bertanya sesuatu?" Tanya Leta
"Boleh dong non,mau nanya apa?"
"Tuan Faro itu suka makanan apa ya bi?"
"Tuan Faro sangat suka dengan donat, donat kentang dia sangat suka itu" jawab bi Imah
"Terimakasih ya bi,aku akan mencoba untuk buat donat untuknya" ucap Leta,ia berjalan menuju dapur dengan sangat gembira.
Leta menyuruh pak supir nya untuk membeli bahan bahan yang ia butuhkan untuk membuat donat.
Tak lama pak supirnya sudah kembali dari berbelanja, lalu menyerahkan semua belanjaan yang Aleta suruh tadi.
Leta membawanya kedapur,ia mulai berperang dengan bahan bahan itu, sebenarnya ini adalah pertama kalinya Aleta membuat donat,bahkan Aleta sampai melihat tutorial dari YouTube cara membuat donat, semoga Faro suka dengan buatan Aleta.
Setelah sore Aleta pergi untuk mandi,setelah mandi ia lanjut memasak sambil mendiamkan donat untuk siap di goreng.
Setelah memasak makan malam,ia menggoreng donat nya.
"Wah bentuknya bagus! Semoga rasanya enak"lirih Leta.
Akhirnya donat selesai di goreng, Aleta mendinginkan donat buatannya.
Aleta memberi topping untuk donat nya, agar tampilan nya menarik dan juga rasanya semakin enak.
Setelah malam Aleta merasa heran kenapa tuan Faro belum kembali juga. Aleta berniat menunggu Faro untuk makan malam bersama. Tapi sudah hampir jam 10 malam Faro belum pulang juga,tapi Aleta tetap kekeh untuk menunggu Faro makan bersama.
*Flashback off*
Faro melihat banyak makanan yang telah Leta sajikan,ia merasa sangat bersalah kepada Aleta.
"Tuan kenapa lama sekali?" Tanya Leta, Faro ikut duduk disebelah Aleta.
"Aku tadi.."
"Tuan aku memasak donat untukmu,lihatlah!" Sambung Aleta, Faro tersenyum senang saat melihat donat makanan yang begitu ia sukai.
"Wah kau membuat nya sendiri?" Tanya Faro, Leta mengangguk. Faro mengambil piring yang berisi donat itu lalu ia memakan satu donat nya, Aleta gugup ia takut buatan nya tidak sesuai dengan selera Faro.
"Enak Leta,aku sangat suka.." puji Faro,ia memakan donat itu lagi, Aleta sangat senang karna tuan nya menyukai donat buatan nya.
"Tuan kau sudah makan nasi? Sebaiknya makan nasi dulu baru lanjut ngemil donatnya" ujar Leta, Faro bahkan baru teringat
"Leta maafkan aku ya.. aku tadi lupa mengabari mu bahwa aku sudah makan di Mansion Utama, sekali lagi maafkan aku.." ucap Faro,ia merasa sangat bersalah kepada Leta
"Ga papa kok tuan, kalau begitu aku makan dulu yaa.. kau lanjutkalah ngemil donatnya" ucap Leta, Faro lega karna Leta tidak marah kepadanya. Faro memakan donat nya lahap sambil menemani Leta makan.
Setelah Leta selesai makan, Faro juga sudah selesai makan donatnya. Aleta tertawa kecil saat melihat bibir Faro yang belepotan karna topping donat itu.
"Tuan kau seperti anak 5 tahun makan masih belepotan" ejek Leta, Leta mengelap bibir Faro dengan tangannya,ntah kenapa dilakukan seperti itu oleh Leta membuat jantung Faro berdebar sangat kencang.
"Salah siapa donat buatan mu itu sangat enak,aku mau besok kau buatkan untukku lagi!" Perintah Faro, Leta tercengang
"Tuan apa tidak bosan makan donat terus?" Tanya Leta heran, Faro menggeleng cepat.
"Baiklah,aku akan membuat nya lagi besok untukmu" ucap Leta, Faro tersenyum senang.