Lovarchery

Lovarchery
DELAPAN (Wanita di balik novel romansa)



"Kak!"


Dafira menerobos masuk kamar kakaknya tanpa mengetuk ataupun memberi aba-aba terlebih dahulu. Ia melakukannya tanpa sopan santun. Tanpa peduli kakaknya keberatan atau tidak. Satu hal dalam benaknya saat ini adalah, Dafira ingin segera menemui kakaknya dan memberinya kabar baik. Ya, ini mengenai Aksa. Pria yang tadi dikenalkan Cinta padanya. Pria yang hendak Dafira jodohkan dengan kakak tercintanya.


Di sofa panjang tepat di depan jendela kamarnya yang besar, Aleta menghentikan aktivitasnya—membaca novel—dan menoleh. Sudah sering adiknya masuk tanpa permisi seperti sekarang. Jadi, tak ada alasan baginya untuk merasa terkejut ataupun terheran-heran. Paling mau membicarakan hal tak penting lagi, pikirnya.


"Kak, denger, deh!" Dafira duduk menyamping di sebelah kakaknya. Netranya yang membulat juga senyum merekah ia tunjukkan pada sang kakak yang berkulit pucat. "Aku udah nemuin cowok yang cocok buat Kakak."


Seketika Aleta membuang napas ringan. Seperti dugaannya, Dafira datang dengan membawa berita yang sama sekali tak penting. Berita yang sama sekali tak membuatnya tertarik.


"Dia tetangganya Cinta, Kak. Orangnya ganteng banget! Baik lagi!" Dafira masih mengoceh.


Ditaruh novel yang sejak tadi dibacanya ke atas nakas di sebelahnya. Kemudian, Aleta memusatkan perhatian penuh ke gadis—yang merupakan "darah dagingnya”—di hadapannya. Rambut panjangnya terembus angin yang masuk melalui jendela. Aleta memang sengaja membiarkan jendela itu terbuka cukup lebar. Ia selalu melakukannya ketika ingin benar-benar fokus membaca novel kesukaannya; novel tentang cinta.


"Aku yakin kalau Kakak bakalan suka sama dia," kata Dafira penuh percaya diri.


Aleta menaikkan kedua lututnya.; memeluknya, kemudian berkata, "Percuma, Ra. Kakak nggak bisa deket sama cowok. Kamu sendiri tahu, 'kan?" desahnya pasrah.


"Makanya belajar, Kak. Kakak harus bisa ngelangkah maju." Dafira meletakkan tangannya di atas lengan Aleta. "Pelan-pelan aja. Yang penting, Kakak mau dulu. Jangan langsung nolak. Gimana?"


Aleta tak yakin. Ketakutannya pada pria sudah tak bisa ditawar lagi. Berkomunikasi saja sudah membuatnya kewalahan, apalagi jika harus berdekatan dan menjalin hubungan. Saking parahnya, setiap pergi dan pulang kerja, Aleta lebih memilih menaiki taksi ketimbang harus berdesak-desakan dengan banyak orang—khususnya pria—di angkutan umum. Setengah dari gaji bulanannya habis hanya untuk kendaraan berprivasi tinggi tersebut. Beruntung, teman-teman di kantornya mau mengerti dan membantunya. Jadi, setiap kali ia harus berinteraksi dengan teman kantor prianya, salah satu dari teman wanitanyalah yang menggantikan.


Dafira tak ingin memaksa. Ia tak ingin menyakiti kakak satu-satunya. Namun jika Aleta masih saja bersembunyi di dalam "cangkang", Aleta tidak akan pernah bisa mengubah apa-apa. Hidupnya akan selalu dihantui ketakutan. Hidupnya akan selalu sendirian. Hidupnya akan terus berkutat pada rekaan fiksi berbentuk novel tentang cinta. Memikirkannya saja sudah membuat Dafira cemas. Oleh karena itu, Dafira ingin mencoba membantu Aleta sebisa mungkin. Dafira yakin bahwa Aksa adalah kandidat yang tepat bagi kakaknya. Meski usia mereka terpaut cukup jauh. Ya, 8 tahun.


"Aku udah minta tolong sama Cinta. Mudah-mudahan nggak ada hambatan. Jadi Kakak bisa kenalan sama dia lebih cepet," imbuh Dafira penuh harap.


Aleta tak merespons. Pandangannya kini beralih ke luar jendela. Ke langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang saling berarak. Hatinya merasa tenang setiap kali menatap langit cerah di atasnya. Seolah pemandangan di atas sana bisa melenyapkan semua kegundahan yang menyelimuti hati dan pikirannya.


Bukan tanpa sebab Aleta sangat takut terhadap pria. Ketakutannya itu berasal dari masa lalunya. Tidak. Aleta bukannya pernah disakiti pria atau sampai diperkosa. Tidak seekstrem itu. Ketakutannya itu berasal dari kedua orang tuanya.


Jauh sebelum Dafira lahir, mama dan papanya lebih sering bertengkar. Bukan bertengkar biasa yang hanya beradu mulut, tapi bertengkar hebat hingga tak jarang papanya melayangkan pukulan kepada sang mama. Aleta kecil yang sering menyaksikan pertengkaran mengerikan itu, mulai menanamkan dalam kepalanya bahwa laki-laki atau pria sangatlah menakutkan; kasar dan tak segan-segan menghantamkan pukulan. Sejak saat itu, Aleta mulai antipati dengan yang namanya pria.


Tepatnya setelah Dafira lahir, pertengkaran orang tuanya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Sang papa juga tak lagi sering "main tangan". Mama dan papanya sama-sama belajar supaya lebih sabar menghadapi satu sama lain. Keputusan untuk cerai pun akhirnya dibatalkan. Meski begitu, tak lantas membuat ketakutan Aleta pada pria hilang begitu saja. Bayang-bayang papanya ketika memukuli sang mama masih terus mengisi ruang kepalanya. Aleta sendiri tak pernah mengira bahwa apa yang terjadi di masa kecilnya akan berdampak besar pada kehidupannya sekarang.


"Kakak nggak usah kuatir. Ada aku sama Cinta yang bakalan terus ngedampingin Kakak," tegas Dafira.


Aleta membuang pandangannya dari langit ke adik perempuan satu-satunya. Ia tahu bahwa tak sedikit pun niat Dafira untuk menjerumuskannya. Dafira hanya ingin membantunya. Menuntunnya pada sebuah jalan yang akan membawanya pada "kenormalan". Di usia 28 tahun, belum menikah sekaligus belum pernah menjalin hubungan dengan pria, itulah yang membuat Aleta merasa diri tidak normal. Malu, tapi harus bagaimana lagi? Traumanya memang sulit sekali disingkirkan.


Dafira tersenyum. Kemudian setelah mendengkus kasar ia berkata, "Jangan kebanyakan mikir, Kak. Pokoknya, Kak Aleta tenang aja. Serahin semuanya sama adikmu ini," katanya sambil menepuk dada dengan bangga.


Akhirnya, Dafira berhasil membuat Aleta tersenyum. Meski tak memberi balasan apa pun, garis bibir ke atas itu sudah cukup menunjukkan bahwa kakaknya tidak menolak usulannya. Yang penting mau dulu. Selanjutnya kayak gimana, itu urusan nanti.


***