
Waktu terus berlalu. Meski tak ada lagi Aksa di sisi Cinta, Cinta semakin gigih berlatih. Meski tak lagi pergi ke tempat latihan memanah milik teman Aksa, Cinta masih bisa berlatih di sekolah. Cinta menghabiskan sisa waktu yang ia punya setiap harinya hanya untuk memanah.
"Seorang pemanah tahu kapan waktu yang tepat untuk melepaskan anak panahnya. Waktu untuk menembakkan satu anak panah memang sempit. Tapi dalam waktu yang sempit itu, pemanah tahu di detik berapa ia harus menancapkan anak panahnya ke papan target. Dengan ketepatan waktu, akurasi yang baik, dan konsentrasi yang tinggi, pemanah bisa dengan mudahnya meraih poin tertinggi."
"Rilis!"
Cinta melesatkan anak panahnya dengan penuh percaya diri. Hasilnya, poin tertinggi yang Cinta raih. Cincin emas bernilai 10 berhasil Cinta taklukan. Jarak 30 meter sudah bukan lagi tandingannya. Cinta sudah berhasil menaklukannya beberapa hari yang lalu.
Secara mengejutkan, beberapa tepukan tangan terdengar di belakang Cinta. Otomatis Cinta menoleh, dan mendapati ketua klub beserta rombongannya berada di sana. Mereka tersenyum penuh rasa bangga.
Cinta berjalan ke arah mereka sambil membawa busur panahnya. Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi partner ketua klubnya di turnamen panahan bulan depan. Sepertinya, tanpa perlu diadakan pemberitahuan, sudah dapat dipastikan siapa yang akan menjadi partner Puji. Tentu saja Cinta, yang beberapa kali berhasil mencetak angka sempurna tanpa gagal.
"Aku nggak nyangka kamu bisa berkembang secepat ini," kata Puji diiringi senyum lebar. "Apa rahasianya?"
Cinta balas tersenyum penuh rahasia. "Motivasi baru, Kak. Aku baru dapet itu. Dan aku yakin, buat seterusnya, motivasi itu bakalan bisa bawa aku ke kemenangan," ujar Cinta penuh percaya diri.
Puji mengangguk-angguk sambil terus melontarkan senyuman. "Percaya diri tinggi," ucapnya dengan kedua alis terangkat. "Kamu ikut aku ke turnamen bulan depan," katanya.
"Serius?!" Cinta melompat-lompat kegirangan.
Puji memberi anggukan mantap. "Kalau permainan kamu nanti kayak sekarang, aku yakin kita pasti menang."
Kali ini Cinta yang mengangguk penuh keyakinan. "Aku nggak bakal ngecewain Kakak dan sekolah ini," ucapnya.
"Jangan capek-capek latihan, ya!"
"Pasti!" Cinta memberi hormat.
Begitu Puji meninggalkan Cinta, gantian Ezra yang menghampirinya. Meski sudah ditolak Cinta, Ezra tetap mencoba berhubungan baik dengan gadis mungil itu.
"Selamat, ya, Ta." Ezra mengulurkan sebelah tangan.
"Makasih, Zra." Cinta meraih tangan itu hangat.
Cinta tersenyum.
"Oh, iya! Tadi aku liat Ara, lho!"
"Masa?" Cinta tak percaya. Hubungannya dengan Dafira belum juga membaik sejak saat itu. Jadi rasanya mustahil melihat Dafira ada di sekitar sini dan membayangkannya tengah menonton Cinta berkompetisi.
"Sori, ya. Gara-gara aku hubungan kalian jadi—"
Cinta mengibaskan tangannya ke udara. "Bukan karena siapa-siapa, kok. Hubungan aku ama Ara emang lagi nggak baik aja. Aku juga yang salah."
Ezra mendengkus kasar. "Yah, aku cuma bisa berharap kalian bakal baikan lagi. Aneh lihat kalian saling menghindar. Padahal kalian, kan, deket banget," ujarnya penuh penyesalan.
Cinta mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian kembali menampilkan senyuman hangat pada teman seklub di hadapannya. "Pasti bakal ada saatnya, kok. Kalau emang tadi Ara ada di sini, itu artinya bukan cuma aku yang pengin baikan. Tapi dia juga. Kita cuma tinggal nunggu waktu yang tepat buat nyelesain semuanya."
Ezra ikut tersenyum. "Yah, aku juga ngerasain hal yang sama. Ara itu orangnya cukup nyenengin. Gampang diajak ngobrol juga. Makanya, aku juga lagi nyari waktu yang tepat buat bisa negur dia lagi kayak biasa," jelasnya.
Senyum Cinta merekah. Kali ini sedikit berbeda dengan senyumannya barusan. Ada sedikit "nakal" dalam senyuman itu. Mungkin, Cinta memang telah gagal menyatukan Ezra dengan sahabatnya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa bersatu. Akan ada waktu yang pas dan cara yang tepat untuk menyatukan keduanya. Meski bukan dengan tangannya sendiri, Cinta yakin bahwa Ezra dan Dafira adalah pasangan yang tepat.
"Sekarang mau ke mana?" tanya Ezra.
Cinta tersenyum kemudian menjawab, "Latihan."
"Lagi?"
"Perjalanan masih panjang, Zra. Masih banyak yang harus aku laluin buat ngedapetin apa yang aku mau."
"Atlet panahan profesional?"
"Itu salah satunya," jawab Cinta penuh misteri.
***