Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH DELAPAN (Kabar burung)



"Hati-hati sama Aksa, lho, Bu. Banyak yang bilang alasannya belum nikah sampe sekarang karena dia punya kelainan seksual. Dia nggak suka sama wanita dewasa. Sukanya sama anak-anak yang masih di bawah umur. Saya lihat, dia deket sama anak Ibu. Cinta masih SMP, kan, Bu? Hati-hati! Takutnya malah jadi inceran Aksa."


Saat mendengar kabar itu Safira tak lantas memercayainya. Ia mengenal Aksa cukup lama. Meski belum menikah, bukan berarti juniornya itu punya kelainan seksual. Safira yakin Aksa hanya belum menemukan jodoh yang tepat. Namun satu hari, Cinta pulang terlambat. Sudah pukul setengah delapan lewat, tapi anak gadisnya itu belum juga pulang. Di saat yang sama, Safira mendengar suara mesin mobil berada tepat di muka rumahnya. Safira tak langsung keluar, ia mengintip dari balik tirai untuk melihat keadaan di luar sana.


Saat itulah Safira melihat Aksa yang hendak mendekati Cinta. Kepalanya merunduk mendekati tubuh Cinta. Tak ingin terjadi sesuatu pada anak gadisnya, Safira langsung menghambur keluar dan berlari menuju sedan hitam itu. Diketuknya kaca bagian depan mobil dengan tatapan tajam. Kepalanya bergerak mengisyaratkan Aksa agar keluar dari mobilnya. Beruntung Cinta sedang tertidur pulas di dalam mobil Aksa saat itu. Jika tidak, Cinta akan mendengar semua cacian yang Safira lancarkan pada pria itu.


"Saya cuma bermaksud melepaskan sabuk pengamannya saja," kata Aksa saat itu.


Tentu saja Safira tidak percaya. Baginya, kedua netranya lebih bisa dipercaya ketimbang apa yang keluar dari mulut Aksa. 


"Saya belum menikah karena saya suka sama kamu! Saya nggak bisa ngelupain kamu!" aku Aksa.


Namun lagi-lagi Safira tak percaya. Bahkan ketika Azkia datang untuk menjelaskan semuanya pun Safira tidak mau dengar. Pertengkaran antara Safira dan Aksa memancing tetangga sekitar untuk sekadar memuaskan rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, sebelum petugas keamanan kompleks datang, Safira buru-buru membangunkan Cinta dan membawanya masuk ke dalam rumah. Cinta yang saat itu masih setengah sadar tak tahu-menahu tentang apa yang telah terjadi di sekitar rumahnya. Yang Cinta tahu, bahwa keesokan hari dan seterusnya Cinta tak boleh lagi menemui Aksa.


"Ma ...." Cinta menatap mamanya penuh air mata.


"Apa aja yang udah dia lakuin ke kamu?" tanya Safira geram.


"Nggak ada, Ma. Om Aksa nggak pernah berbuat macem-macem sama Cinta," jelas Cinta dengan mata memerah.


"Nggak macem-macem? Terus tadi apa?!" bentak Safira sambil menatap gadisnya tajam. "Mama nggak buta, Cinta! Harusnya Mama tahu kalau selama ini emang ada yang nggak beres sama dia."


"Om Aksa nggak begitu, Ma! Kalo emang Om Aksa berniat ngapa-ngapain Cinta, Om Aksa pasti udah ngelakuin itu dari dulu."


"Ma!" protes Cinta.


"Apa? Kamu keberatan? Ini semua demi kamu, Cinta! Demi masa depan kamu!"


"Cinta sayang Om Aksa, Ma! Kalaupun ciuman tadi terjadi, Cinta nggak akan nyesel!"


Untuk pertama kalinya sebuah tamparan dilayangkan Safira ke pipi anak gadis semata wayangnya. Keduanya sama-sama tersentak; sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Cinta memegangi pipinya yang mulai memerah. Rasanya perih, tapi kalah perih dengan apa yang dirasakan hatinya. Cinta tak pernah mengira bahwa mamanya akan tega menamparnya seperti ini. Cinta juga tak pernah mengira bahwa wanita selembut mamanya bisa seberang ini.


"Cinta pada pria seperti dia hanya akan menghambatmu meraih cita-cita, Cinta," ucap Safira dengan kepala tertunduk; menyesal karena tak bisa menahan telapak tangannya untuk tidak mendarat di tempat yang tak seharusnya.


Masih memegangi pipinya Cinta membalas, "Mama nggak pernah tahu seberapa besar pentingnya Om Aksa buat Cinta. Mama juga nggak pernah tahu kalau Om Aksa-lah satu-satunya orang yang bener-bener ngedukung Cinta buat meraih cita-cita. Cinta bakal ngebuktiin ke Mama kalau Cinta nggak salah milih orang."


Tak ingin berdebat lagi, Cinta pun memasuki kamarnya. Niatnya untuk melepas Aksa sirna. Apalagi setelah mengetahui bahwa setidaknya Aksa memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Cinta tidak akan menyerah begitu saja. Cinta akan memperjuangkan perasaannya. Cintanya pada Aksa sangatlah pantas untuk dipertahankan. Oleh sebab itu, Cinta pun mengirim sebuah pesan pada Aksa.


[Cinta pengin ketemu Om besok.] 


***