Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH EMPAT (Pertengkaran hebat)



"Jadi, kapan kencan selanjutnya?"


Lagi-lagi Dafira masuk ke kamar Aleta tanpa izin. Aleta tak pernah keberatan dengan kelakuan adiknya yang selalu seenaknya, tapi kali ini berbeda. Ada hal yang membuat Aleta kesal dengan kedatangannya. Pertanyaan yang dibawa Dafira ... Aleta sangat tidak menyukainya. Pertanyaan sensitif yang sedang tak ingin Aleta dengar dan membuatnya ingin segera menghindar hingga keluar dari ruangan.


"Kalau sekarang udah bisa nge-chat sendiri, dong?" Dafira masih menggoda kakaknya.


Aleta membuang napas. Lalu meninggalkan tempat tidurnya dan beralih ke sofa panjang di dekat jendela dengan tirai terbuka. "Kakak nggak akan lagi ketemu sama dia, Ra."


"Hah?" Seketika Dafira tercengang. Diikuti langkah kakaknya menuju jendela. "Maksudnya gimana? Kok, nggak akan ketemu lagi? Om Aksa yang nggak mau? Kenapa?" cecarnya.


"Bukan dia yang nggak mau, tapi Kakak." Tatapan Aleta masih terpaku erat ke langit gelap tak berbintang di hadapannya.


"Bentar, bentar! Ini ada apaan, sih, Kak? Bukannya Kakak suka sama Om Aksa?" Dafira berusaha sekuat tenaga untuk mendapat perhatian penuh kakaknya. Namun Aleta masih saja menghindari kontak mata dengannya.


"Kakak suka sama dia, Ra!" tegas Aleta yang kini sudah berbalik menatap adik perempuannya. "Tapi dia yang nggak suka sama Kakak!"


Dafira tak langsung menyerang kembali kakaknya. Ia kini terdiam sejenak. Mencoba berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara kakaknya dan Aksa.


"Om Aksa ... punya gebetan lain?" terka Dafira disertai kening berkerut. "Siapa?"


Aleta membuang muka. Rasanya tak sanggup memberi tahu Dafira tentang perempuan yang ada di hati Aksa. Apalagi perempuan itu adalah orang yang sangat dekat dengan Dafira.


"Pokoknya, Kakak nggak mau terlibat lebih jauh lagi. Kakak nggak mau terluka, Ra." Padahal hati Aleta jelas-jelas sudah tergores dan meninggalkan luka yang cukup dalam.


"Kakak harus kasih tahu aku dulu alesannya apa?" desak Dafira tak sabar. "Om Aksa suka siapa? Kenapa Kakak nggak mau nyoba berusaha?"


"Ra!" Aleta menatap tegas adik perempuannya. "Berusaha buat sesuatu yang akhirnya bakal jadi sia-sia itu buang-buang waktu. Umur Kakak udah segini, Kakak udah nggak punya banyak waktu buat main-main. Apalagi main-main dengan cinta."


Kedua netra Aleta kembali menatap ke luar jendela. Memandangi langit hitam yang Aleta harap bisa memunculkan sebuah bintang bersinar terang untuk menghibur hatinya yang tengah lara. Kemudian Aleta lanjut berkata, "Mungkin dengan deket sama Aksa Kakak emang bisa berubah. Bisa nggak lagi takut sama cowok. Tapi bakal nimbulin sesuatu yang lebih parah, Ra." Aleta menarik napas panjang sebelum menambahkan, "Kakak mungkin jadi takut buat jatuh cinta. Dan sebelum itu terjadi, Kakak lebih milih buat berhenti."


Aleta bersungguh-sungguh. Dafira tahu itu. Dafira bisa melihat dari caranya bicara, juga sorot matanya yang begitu menyedihkan. Namun Dafira tidak terima kakaknya seperti dipermainkan. Kalau memang Aksa menyukai orang lain, kenapa tidak sejak awal saja dia menolak untuk diperkenalkan dengan Aleta? Dafira bukan gadis bodoh. Ia tahu meski belum terjadi apa-apa di antara Aksa dan kakaknya, bukan berarti kakaknya tidak terluka. Jelas sekali terlihat bahwa kakaknya sangat putus asa sekarang. Kehilangan cahaya. Meski sejak awal sudah redup, cahaya itu masih ada sebelum akhirnya padam karena seorang pria bernama Aksa.


"Kalau Kakak nggak mau ngasih tahu aku siapa orangnya, biar aku yang cari tahu sendiri," ucap Dafira sambil beranjak dari sofa. "Kalau perlu, aku bakal datengin Om Aksa terus buat perhitungan sama dia."


"Ra." Aleta memegang tangan adik perempuannya. Dengan netranya yang sayu ia berkata, "Jangan cari masalah. Kakak ngakhirin ini semua dengan baik-baik. Jangan karena satu alasan bikin semuanya jadi berantakan. Kakak nggak mau nama Kakak jadi buruk di depannya," jelasnya.


Dafira balas menatap kakaknya. "Kalau gitu, Kakak kasih tahu aku siapa cewek itu. Setelah itu aku janji, nggak bakal cari masalah sama Om Aksa."


Genggaman tangan Aleta di tangan Dafira seketika mengendur. Apa tidak apa-apa mengatakannya pada Dafira? Apa harus ia menyebut satu nama agar membuat adiknya merasa tenang? Tidak. Bukan ketenangan yang akan Dafira rasakan setelah mendapat nama itu. Bisa jadi, kemarahan yang akan meluap. Lalu, Dafira akan membuat perhitungan dengan si pemilik nama.


"Namanya ...."


***


Cinta sedikit terkejut ketika mendapati Dafira sudah berada di dalam kelas sepagi ini dan seorang diri. Setelah satu hari tidak masuk dan tanpa kabar sama sekali, mustahil bagi Cinta untuk tidak merasa khawatir. Namun melihat sahabatnya hadir hari ini dan kelihatan baik-baik saja,  Cinta pun kembali merasa tenang.


"Kamu baik-baik aja, kan, Ra? Kemarin kamu ke mana? Line aku, kok, nggak dibales-bales, sih? Kamu sakit?" Cinta terus saja melontarkan pertanyaan, tanpa menyadari kalau sejak tadi sahabatnya itu memasang tampang kesal.


Ini kali pertama bagi Dafira merasa muak melihat sahabatnya sendiri. Sejak hari di mana ia mengetahui segalanya, rasa simpati Dafira terhadap Cinta seketika musnah. Rasa sayangnya sebagai sahabat pun Dafira rasa kian memudar. Saat ini, Dafira hanya bisa memandang Cinta sebagai musuh; sebagai seorang penghianat hina yang tak tahu malu.


"Ra, kamu kenapa?" Cinta mendekati Dafira dan menyentuh pundaknya. Alangkah terkejutnya Cinta begitu Dafira langsung menepis tangannya diiringi raut wajah tak suka.


"Kamu yang kenapa?!" Dafira menyentak. Dadanya sudah terasa panas sejak tadi. Meski Dafira coba tahan, amarahnya tetap saja tak bisa terlalu lama ia sembunyikan. 


Dafira semakin kesal melihat Cinta yang hanya bisa memasang "wajah tanpa dosa". Padahal apa yang sudah diperbuatnya adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dimaafkan. Mempermainkan perasaan orang, berpura-pura menawarkan bantuan, melibatkannya pada sesuatu yang tak seharusnya, dan sekarang ... bersikap seolah tak ada apa-apa? Jangan dipikir karena sudah bersahabat cukup lama Dafira tidak akan tega menggertak atau menegur Cinta.  


"Ra, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba marah sama aku?"


Dafira bangkit dari tempat duduk, kemudian berdiri menyamping agar dapat berhadapan langsung dengan teman semejanya. "Apa maksud kamu jadiin aku sebagai alesan buat nolak Ezra? Kamu bilang ke Ezra, kalau kamu nggak bisa nerima dia karena aku suka sama dia. Apa maksudnya itu?"


Malam setelah Dafira mengetahui semuanya dari Aleta, di saat yang sama ia mendapat pesan singkat dari Ezra. Isinya sangat sederhana, [Kamu suka sama aku, Ra?] hanya itu. Namun butuh waktu yang sangat lama bagi Dafira untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu. Maka, Dafira pun tak lantas menjawab. Ia malah balik melontarkan pertanyaan. Akhirnya, diketahuilah alasan di balik Ezra mempertanyakan hal itu pada Dafira. Ezra bilang kalau dirinya sudah ditolak Cinta. Alasan yang diberikan Cinta pada Ezra adalah, karena sahabatnya menyukai Ezra. 


Dua hari yang lalu, sehabis Cinta memesan makanan untuk Ezra dan kembali ke mejanya, Cinta tak bisa menemukan Dafira. Sahabatnya itu tiba-tiba pergi meninggalkannya berdua saja dengan Ezra. Belakangan Cinta ketahui bahwasanya itu adalah trik yang sengaja Dafira buat. Dafira sengaja pergi agar Ezra bisa mengutarakan isi hatinya pada Cinta. Mungkin Dafira memang tidak pernah mengatakan apa pun tentang perasaannya terhadap. Namun bukan berarti selama ini Cinta tak tahu apa-apa. Cinta sudah bersahabat dengan Dafira lebih dari satu tahun, mustahil ia tak mengenal baik sahabatnya sendiri. Cinta tahu dengan pasti bahwa Dafira suka pada Ezra. Lelaki yang ternyata malah menyatakan cinta padanya.


Lalu, apa salah Cinta memberi tahu Ezra kalau Dafira menyukainya? Apa salah Cinta menjadikan Dafira sebagai alasan? Padahal dari semua alasan yang ada, hanya itulah alasan yang paling tepat. Lagi pula, Cinta ingin menyadarkan Ezra. Cinta ingin Ezra tahu bahwa selama ini ada gadis yang selalu memperhatikannya. Gadis yang benar-benar menyukainya. Bukan gadis seperti Cinta yang selalu lari ketika didekati olehnya.


"Walaupun kamu nggak pernah bilang, aku tahu, Ra! Aku sahabat kamu. Kamu nggak bisa bohong dari aku," tegas Cinta.


Dafira mendenguskan tawa sinis. "Kalaupun iya, kamu nggak punya hak buat bilang ke dia."


"Oke, aku nggak punya hak. Tapi aku nggak punya maksud apa-apa, Ra. Aku cuma pengin Ezra tahu kalau selama ini kamu suka sama dia. Aku kepengin Ezra mulai mikirin perasaan kamu."


"Habis itu apa?! Setelah kamu bilang aku suka sama dia, apa dia bisa langsung nerima aku, terus ngajak aku jadian? Enggak, Ta! Yang ada, kamu cuma nyiptain jarak di antara aku sama dia. Tadinya aku baik-baik aja sama Ezra. Bahkan sekarang aku sama dia bisa ngobrol deket kayak sahabat. Dan aku udah ngerasa cukup puas. Tapi apa yang udah kamu lakuin? Kamu ngancurin semuanya. Sekarang aja aku nggak tahu harus ngadepin Ezra kayak gimana."


Cinta membisu. Sungguh, ia tak bermaksud untuk menciptakan jarak di antara Ezra dan sahabatnya. Keinginannya murni hanya satu, ingin mendekatkan mereka berdua. Namun Cinta sama sekali tak berpikir bahwa apa yang dilakukannya malah akan membuat semuanya menjadi runyam.


"Kenapa kamu nggak bilang langsung aja sama Ezra kalau kamu yang lagi suka sama seseorang?" Dafira masih belum puas.


"Aku enggak—"


"Oh, ya? Enggak lagi suka sama siapa-siapa? Atau ... takut ketahuan suka sama seseorang yang nggak seharusnya?" sindir Dafira.


"Maksud kamu?" Cinta mengernyit.


"Kamu jadiin aku alesan buat nolak Ezra karena nggak mau ketahuan suka sama orang yang ....” Dafira sengaja membuat jeda. “... Nggak seharusnya kamu suka, 'kan?"


Cinta mulai kehilangan kesabaran. Pembicaraannya dengan Dafira kali ini sungguh tak masuk akal, pikirnya. Jika terus diladeni, Dafira tak akan berhenti mendebat. Karena itu, Cinta lebih memilih keluar dari meja.


"Kamu mau ke mana? Ngehindar?" Dafira masih menantang.


Langkah Cinta terhenti, lalu berbalik. "Kamu lagi ngaco, Ra."


"Aku? Ngaco? Nggak kebalik?" Dafira ikut keluar dari mejanya. Lalu berjalan menghampiri Cinta. "Kayak yang kamu bilang tadi, kita ini sahabat. Jadi kamu nggak mungkin bisa bohong dari aku, Ta. Aku tahu kamu. Dan aku yakin, kamu tahu siapa yang aku maksud. Orang yang sekarang ada di hati kamu." Ditunjuknya dada Cinta hingga terdorong cukup keras ke belakang.


Wajah Cinta berubah berang. Ia benci diperlakukan layaknya seorang penghianat. Ia benci ketika dituduh atas hal yang sama sekali tidak benar. Di atas itu semua, yang paling ia benci adalah ketika sahabatnya mulai menyerangnya layaknya musuh. Seolah waktu-waktu yang telah dihabiskannya bersama sama sekali tak ada artinya.


"Om Aksa, Ta!"


Netra Cinta membeliak seketika.


"Kamu suka sama dia, 'kan? Di saat kamu bilang mau ngebantu aku buat ngejodohin Om Aksa sama Kak Aleta, kamu malah suka sama dia?!"


Cinta menggelengkan kepala. Membuang muka, lalu menutup kedua telinganya. Untuk saat ini, Cinta tak ingin mendengar nama itu. Ia tak ingin perasaannya diketahui orang lain, apalagi oleh sahabatnya sendiri. Cinta tak ingin Dafira tahu kalau dirinya menyimpan perasaan memalukan ini. Di luar itu, Cinta tak ingin seorang pun menyadarkannya bahwa perasaan yang kini bersemayam di hatinya adalah benar perasaan cinta.


"Kamu tega, Ta! Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku dan Kak Aleta?!” Dafira menarik kedua tangan Cinta diiringi tatapan tajam. "Kalau kamu emang suka sama dia, nggak seharusnya kamu setuju sama rencana aku buat ngejodohin mereka!"


"Perasaan aku nggak ada hubungannya sama rencana perjodohan ini!" tukas Cinta dengan bola mata berkaca-kaca. "Tanpa ngelibatin perasaan aku, rencana perjodohan ini masih tetep bisa lanjut!"


Sejak Cinta menyadari bahwa perasaannya pada Aksa bukan hanya sekadar sayang terhadap kerabat, Cinta tahu bahwa perasaannya ini tak akan pernah terbalaskan. Cintanya akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Aksa tak akan pernah memandangnya sebagai seorang perempuan. Om-om berusia 36 tahun itu hanya akan tetap menganggapnya sebagai anak kecil. Meski sakit, yang bisa Cinta lakukan hanyalah menerima. Oleh sebab itu, Cinta memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Menguburnya dalam-dalam di dasar hatinya yang terdalam. Lalu, berpura-pura tidak keberatan setiap kali Dafira mengusulkan sebuah ide untuk mendekatkan Aksa dengan Aleta.


Namun, mengapa perasaan Cinta yang tersembunyi itu malah dijadikan permasalahan? Selama perasaan ini tidak diketahui oleh siapa pun bukankah semuanya akan tetap berjalan lancar? Semua akan baik-baik saja, bukan? Kalaupun Aksa tahu perasaan Cinta, itu tak akan mengubah apa pun. Aksa tak akan lantas menjauhkan Aleta dari sisinya hanya karena perasaan seorang anak kecil. Jadi, kenapa Dafira harus semarah ini?


Kedua tangan Dafira melemas. Kepalanya tertunduk dalam sebelum berucap, "Kalau rencana perjodohan ini masih bisa tetep jalan, aku nggak mungkin bersikap kayak gini, Ta."


"Apa maksud kamu?"


Dafira enggan menjawab. Ia tak ingin membuka celah bagi Cinta dan Aksa untuk saling menyadari perasaan satu sama lain. Dafira tak ingin membuat kesempatan bagi mereka untuk bisa bersama. Apalagi setelah mengetahui betapa hancurnya hati Aleta. Biarkan mereka hidup dalam ketidaktahuan dan saling tersiksa. Diamnya Dafira saat ini akan dijadikannya sebagai sebuah bentuk pembalasan.   


Sebenarnya Cinta tidak salah. Dafira mengerti itu. Satu-satunya orang yang bisa disalahkan atas kejadian ini mungkin hanya Dafira sendiri. Ia tak menyadari sejak awal kedekatan Cinta dan Aksa. Ia juga pura-pura tak melihat betapa asyiknya mereka ketika bersama. Bahkan, ia menolak untuk berpikir lebih jauh kalau perasaan di antara mereka bisa berubah menjadi cinta. Meski begitu, Dafira tidak bisa memendam kemarahannya terhadap Cinta. Biar bagaimana pun, tak dapat dimungkiri kalau hati kakaknya terluka karena Cinta. Juga Aksa. Lain halnya jika perempuan yang disukai Aksa adalah perempuan lain yang tak dikenalnya. Mungkin Dafira hanya bisa pasrah dan menghibur kakaknya agar tak terlalu bersedih. 


Dafira kembali mengangkat wajah. Ditatapnya Cinta seraya berkata, "Selama ini aku pikir aku bisa terus ngebela dan berdiri di samping kamu sekalipun kamu bikin kesalahan. Tapi lain ceritanya kalau udah berkaitan dengan Kak Aleta. Sekalipun kamu bener, di saat kamu ngelukain Kak Aleta, di mata aku kamu tetep orang yang paling salah, Ta."


Air mata Cinta jatuh. Perasaan ini memang salah, tapi Cinta tak mengerti kenapa harus dirinya yang disalahkan. Apa yang diperbuatnya hingga melukai Aleta? Karena rasa cintanya yang diam-diam? Memang tidak boleh memendam cinta meski cinta itu salah?


Cinta membalikkan tubuhnya. Berlari menerjang beberapa orang yang hendak memasuki kelas. Pikirannya kalut sekarang, jadi tidak mungkin baginya masih bisa mengikuti pelajaran. Namun untuk pergi ke mana, Cinta tak punya tempat tujuan. Satu hal yang bisa Cinta lakukan sekarang adalah berlari, meski tak tentu arah.


***