Lovarchery

Lovarchery
ENAM (Impian atau keharusan?)



Subuh tadi suara sirene meraung di sekeliling kompleks. Membangunkan Cinta yang semula sedang tidur nyenyak. Entah sirene yang berasal dari mobil patroli, ambulans, atau bahkan mobil jenazah. Cinta tak tertarik. Suara itu tak mampu membangunkan rasa keingintahuannya. Meskipun demikian, Cinta tak bisa mengabaikan suara itu begitu saja. Suara itu tak hanya mengganggu tidurnya, tapi sekaligus membuatnya teringat akan hal terpahit yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu. Suara itu mengingatkannya pada kematian sang papa.


——————————————————————


Sebuah mobil putih memasuki halaman depan rumahnya yang luas nan megah. Beberapa mobil lain menyertai di belakangnya. Cinta sudah cukup besar untuk tahu mobil apa yang berada di deretan kedua dari depan setelah mobil milik kepolisian. Mobil itu mobil ambulans. Mobil pengangkut orang sakit, kecelakaan, bahkan yang meninggal dunia. Mobil yang menurut Cinta tak seharusnya ada di pekarangan rumahnya.


Di deretan mobil-mobil itu, terselip mobil berkelas tinggi milik kakek dan neneknya. Kedua orang tua papanya yang dalam benak Cinta tak pernah sekali pun menunjukkan sikap ramah terhadapnya. Kedua orang tua yang bisa diitung dengan jari berapa kali mereka menginjakkan kaki di rumahnya. Cinta penasaran. Apa yang membuat kakek dan neneknya datang? Kenapa pula mereka harus datang berbarengan dengan mobil putih dan mobil polisi di depannya?


Cinta sudah siap berlari; ingin segera memuaskan rasa ingin tahunya, tapi Mama di sisinya mencegah. Mamanya mencekal tangan Cinta sambil menggelengkan kepala. Air mata mamanya turun. Bibirnya tak berhenti bergetar. Bahkan tangan yang kini memegangi tangan Cinta pun ikut gemetaran. Dalam hati Cinta bertanya, apa yang membuat mamanya menangis seperti ini?


Sesuatu diangkut keluar dari mobil ambulans; ditutupi kain bermotif batik berwarna cokelat. Sesuatu itu ditandu dengan sangat hati-hati oleh sejumlah orang. Nenek dan kakeknya mengikuti dari belakang sambil menunjukkan raut wajah pilu. Bahkan, sesekali neneknya menyeka air matanya menggunakan saputangan berwarna kelabu.


           


Usia Cinta genap 12 tahun saat itu. Sudah cukup mengerti akan duka yang menggiring rombongan di hadapannya masuk ke rumah. Cinta sudah bisa menerka apa yang terjadi; apa yang berada di balik kain bermotif batik berwarna cokelat itu. Apalagi di tambah pemandangan yang sangat jarang sekali ia lihat; Nenek dan Kakek bertandang ke rumahnya diliputi nestapa.


           


Prosesi kematian bukanlah hal yang asing bagi Cinta. Setidaknya, satu kali ia pernah menghadriri prosesi semacam itu; ketika ibu dari salah satu sahabatnya meninggal dunia. Cinta mengikuti prosesi itu dari awal sampai akhir dengan ditemani mamanya. Padahal Cinta adalah orang luar, tapi rasa sedih dan sakit yang ditanggung sahabatnya dirasakan pula oleh Cinta. Hati Cinta begitu nyeri ketika melihat sahabatnya menangis meraung-raung sambil meminta mamanya untuk membuka mata. Cinta tak bisa melakukan apa pun saat itu; hanya merangkul pundak sahabatnya sambil ikut menangis. Ketika sahabatnya menjerit-jerit saat ibunya dimasukkan ke liang lahat pun, Cinta tak bisa berbuat banyak selain berdiri di sisinya sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Di situlah Cinta mengenal bahwa prosesi kematian adalah hal yang sangat menyedihkan, sekaligus menyakitkan. Bukan hanya untuk orang dalam, melainkan juga untuk orang luar seperti dirinya.


           


Begitu melihat dengan jelas lekuk tubuh yang tertupi kain bermotif batik berwarna cokelat itu, Cinta semakin yakin bahwa kali ini bukan hanya sekadar menghadiri, tapi ia juga harus ikut terjun langsung dalam prosesi kematian itu sendiri.


           


Adiknya beruntung. Masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Selesai Papa dimandikan pun, adiknya hanya bertanya seputar "kenapa"; "Kenapa Papa nggak bangun-bangun?", "Kenapa Papa dimandiin?", "Kenapa banyak orang di rumah?", yah ... benar-benar hanya seputar "kenapa". Tanpa air mata, tanpa rasa duka, adiknya terus saja melontarkan pertanyaan. Meski pada akhirnya, tak ada satu pun dari mereka yang bisa memberikan jawaban.


           


Saat itu, sesakit apa pun hati Cinta, sebesar apa pun rasa kehilangannya, air matanya tidak mau keluar. Ia terlalu syok. Terkejut akan apa yang baru saja menimpa papanya. Padahal sebelum berangkat ke luar kota Papa baik-baik saja. Padahal sebelum ini pun Papa sering ke luar kota dan pulang dalam keadaan selamat. Padahal Papa telah berjanji akan memperkenalkan Cinta ke tempat latihan panahan yang baru. Masih banyak "padahal-padahal" lain yang memenuhi ruang di kepalanya.


           


Seperti tak nyata, tapi jelas-jelas ada. Sepeti mimpi, tapi jelas-jelas dia sedang terjaga. Peristiwa yang terjadi kali ini, tak akan bisa Cinta cerna dalam satu hari, minggu, bulan, bahkan satu tahun ke depan. Meski begitu, ia tetap harus menerima kenyataan pahit bahwa papanya memang benar-benar telah tiada. 


——————————————————————


"Fokus, Ta!" Puji, ketua klub panahan menegur. Sudah hampir lima menit Cinta mematung dalam posisi siap menembak. Tak perlu diberi tahu pun Puji sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tengah memenuhi kepala salah satu anggota klubnya itu. Bukannya tidak bisa memaklumi, tapi tidak bisa fokus dan kehilangan konsentrasi adalah musuh terbesar panahan. Pemanah tidak akan berhasil menaklukkan target jika tidak dengan hati dan pikirannya yang jernih.


           


Anak panah Cinta meleset; menancap di cincin berwarna hitam bernilai 3 poin. Benar-benar memalukan untuk seseorang yang sudah bisa menaklukkan permainan indoor. Amatir, makinya pada diri sendiri. Kalau saja sesaat tadi pikirannya tak kembali ke masa lalu, permainan Cinta tak akan sejelek ini. Ditambah, kegagalannya kali ini disaksikan banyak orang.


           


Bener-bener malu-maluin!


"Ikut aku bentar, Ta." Puji menepuk bahu Cinta sambil memberi isyarat untuk mengikutinya.


           


Dipindahtangankan busur panah yang dipakai Cinta ke salah satu anggota panahannya yang lain. Lalu dengan langkah gontai dan garukan frustrasi di kepala, Cinta mengekori Puji sampai ke ruang klub.  


              


Ruang klub sedang kosong. Semua anggota sedang berlatih baik di lapangan indoor maupun outdoor. Cinta agak waswas menyadari hanya dirinya dan Puji yang mengisi ruangan tersebut. Dada Cinta berdebar tak keruan. Takut pada apa yang hendak Puji lontarkan. Apalagi setelah Puji berbalik dan menatapnya tajam.


           


Puji selaku ketua klub merasa kecewa dengan permainan Cinta belakangan ini. Padahal di awal-awal Cinta bergabung, permainan panahannya tidak seburuk ini. Bahkan bisa dibilang, Cinta adalah salah satu anggotanya yang sangat cepat berkembang. Kegigihannya pun lebih dari patut diacungi jempol. Mungkin tak ada satu pun dari anggotanya yang lain, yang memiliki tekad dan semangat sekuat Cinta. Namun, ada apa dengan gadis itu akhir-akhir ini?


           


Baiklah, secara teknik Cinta memang sudah mendekati sempurna. Stance atau sikap berdirinya sangat bagus. Drawing atau caranya menarik tali busur pun sudah setingkat dengan para atlet profesional. Namun mengapa saat aiming—membidik, konsentrasinya mudah sekali pecah? Tingkat kefokusannya bahkan lebih rendah dari para pemula yang baru memegang busur panah. Puji sama sekali tak mengerti.


"Tahu berapa waktu yang dibutuhin kamu buat nembakin satu anak panah?" Puji masih melemparkan pertanyaan pada gadis mungil dengan kepala tertunduk di hadapannya. "Lima menit, Ta." Dia menjawab pertanyaannya sendiri. "Kamu bisa itung sendiri berapa anak panah yang harusnya bisa ditembakin dalam waktu yang kamu pake tadi."


"Maaf, Ka—"


"Kamu nggak usah minta maaf," sela Puji. Tak peduli akan kedua manik hitam kecokelatan di hadapannya yang sudah mulai berair. "Minta maaf nggak akan ngubah hasil latihan kamu di lapangan tadi. Lagian, ketidakmampuan bukan bagian dari kesalahan."


Kalimat terakhir Puji benar- benar menusuk hati Cinta. Cinta seolah dihakimi oleh kata-kata itu.


Puji mendengkus kasar. Sadar akan kata-katanya yang terlalu keras. Sebagai ketua klub, dia sudah terbawa emosi. Wajar, itu karena Puji benar-benar mengagumi Cinta. Dia memiliki harapan yang besar terhadap gadis mungil di hadapannya. Bahkan, ia juga sudah berencana untuk menjadikan Cinta sebagai ketua klub selanjutnya; menggantikan dirinya. Selain teknik dasar dalam memanah, Cinta memiliki hal-hal penting yang sudah sepatutnya dimiliki oleh seorang pemimpin: disiplin, tepat waktu, punya semangat tinggi, dan pantang menyerah. Hal-hal itulah yang memantapkan Puji untuk menjadikan Cinta sebagai pengganti dirinya.


Namun ternyata itu saja memang tidak cukup. Cinta tetap harus memiliki kemampuan yang mumpuni. Jika tidak, bagaimana ia akan menjadi contoh bagi anggota-anggotanya yang lain? Akan jadi apa klubnya jika pemimpinnya saja tidak becus memanah?


Puji mengambil napas panjang. Sebelum akhirnya kembali bertanya, "Aku nggak ada maksud, tapi ... apa bener passion kamu di panahan, Ta?"


Netra Cinta membeliak. Ia yang sedari tadi hanya menundukkan kepala, kini mendongak dan menatap ketua klubnya tak percaya. Bagaimana bisa Puji meragukan kecintaannya terhadap panahan? Memangnya Puji pikir untuk apa selama ini dirinya mati-matian latihan? Untuk apa setiap hari Cinta menyiksa diri dengan busur dan panah? Kalau passion-nya bukan di panahan, Cinta tidak akan segigih sekarang.


"Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud—"


"Aku bakalan latihan lebih keras lagi, Kak," Cinta menyela. Napasnya memburu karena menahan emosi yang hendak meluap.


"Masalahnya bukan cuma di latihan, Ta. Tapi—"


"Aku tahu!" potong Cinta tak sabar. "Bukan cuma latihan. Karena latihan tanpa bisa ngendaliin konsentrasi itu percuma. Cuma bakal jadi latihan yang sia-sia." Berusaha agar emosinya tetap terkendali adalah hal yang paling sulit Cinta lakukan. Sekarang saja, suaranya sudah terdengar bergetar. Dadanya sudah naik-turun dengan cepat. Warna merah pun sudah menguasai hampir seluruh tubuhnya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga ia benar-benar meledak.


Seketika Puji merasa telah gagal menjadi ketua klub. Bukannya meredam, ia malah menyiramkan seluruh bensin di tangannya hingga membuat api menyambar dan semakin besar.


"Ta," Puji meletakkan kedua tangannya di pundak Cinta, "aku emang pengin lihat kemampuan memanah kamu meningkat. Tapi aku nggak mau kamu maksain diri. Aku nggak akan bosen-bosennya ngingetin kamu, kalau porsi latihan, tuh, harus seimbang. Aku nggak pengin kamu malah terluka gara-gara panahan."


Kesalahan Cinta hanya satu, konsentrasi. Jika saja Cinta bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatnya berpikir jernih dan berkonsentrasi penuh, mungkin ia tidak akan sampai di titik terendah seperti sekarang. Puji yakin, kalau Cinta hanya sedang dalam kondisi terpuruk. Karena jika panahan bukan passion-nya, Cinta tidak akan bisa bertahan sampai di sini.


Cinta mengedikkan bahunya; menepis secara tak langsung kedua tangan yang berada di sana. Kata-kata Puji menyakiti dirinya, tapi sekaligus mencambuknya agar tak lantas menyerah. Cinta malah semakin ingin membuktikan bahwa dirinya bisa bangkit dari keterpurukan. Akan Cinta tunjukkan pada ketua klubnya bahwa dia bisa keluar dari dasar jurang. Cinta hanya perlu mencari celah yang akan menuntunnya pada jalan keluar.


"Aku nggak akan nyerah, Kak," tekad Cinta.


Panahan adalah satu-satunya yang Cinta punya. Satu-satunya hal yang bisa Cinta jadikan sebagai masa depan. Kalau sampai direnggut, Cinta tak akan lagi memiliki pegangan. Dia akan kehilangan tujuan. Karena itu, tak pernah sekali pun Cinta berpikir untuk menyerah akan panahan.


           


Tekad kuat, kesungguhan, dan semangat yang tinggi terpantul dari kedua bola mata Cinta. Itulah yang selama ini membuat Puji tak pernah meragukannya. Akan tetapi, puji takut. Takut bahwa selama ini Cinta merasa panahan adalah suatu kewajiban yang harus dijalaninya. Bukan lagi mimpi, impian, harapan, atau cita-cita. Melainkan "keharusan". Jika mimpi telah berubah menjadi sebuah keharusan, si pemimpi akan lebih dulu hancur sebelum menggapai mimpi itu sendiri.     


"Aku ijin pulang duluan, Kak." Cinta mengambil tasnya dari atas meja, lalu segera menghambur keluar.


           


Tepat setelah Cinta memelesat meninggalkan ruangan, Puji terduduk lemas sambil membuang napas berat ke udara. Sebenarnya apa yang mau dikatakannya belum selesai, tapi sepertinya Cinta sudah tidak mood diajak bicara. Oleh sebab itu, Puji membiarkannya begitu saja. Tentang turnamen yang akan diadakan 3 bulan lagi, akan coba Puji bicarakan lagi dengan gadis itu lain kali.


***