
Berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk boneka panda berukuran besar kesayangannya dan membiarkan lamunannya melambung tinggi ke angkasa, itulah yang Dafira lakukan saat ini. Berkali-kali ia mencium kedua telapak tangannya, yang dianggapnya masih mengeluarkan wangi parfum dari baju yang dikenakan Ezra tadi.
Bukan kali pertama Dafira duduk di boncengan motor Ezra seperti hari ini. Sebelumnya pun Ezra pernah mengantarnya pulang ke rumah. Hari itu, kalau bukan karena kakinya yang cedera, mungkin Dafira tidak akan merasakan cinta seperti sekarang. Khususnya pada lelaki jangkung beralis tebal yang memiliki nama lengkap Ezra Syahreza.
——————————————————————
Terpincang-pincang Dafira berjalan menuju ruang UKS. Niatnya untuk bertemu Bu Rumi—dokter kesehatan sekolah, sekaligus meminta salep atau pereda nyeri atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk kaki kirinya yang terkilir akibat berlatih voli tadi. Dibanding Cinta yang suka menggunakan konsentrasi sebagai aktivitas olahraga, Dafira lebih menyukai olahraga yang mengeluarkan keringat, yang melatih semua saraf motoriknya. Oleh sebab itu, sejak awal masuk SMA Dafira sudah memantapkan diri untuk menjadi bagian dari klub voli sekolahnya.
Namun bukannya Bu Rumi yang didapati Dafira, malah seorang cowok jangkung yang sedang mengacak-acak lemari kaca berisi obat-obatan di sisi meja. Sebenarnya bukan mengacak-acak, tetapi lelaki itu sepertinya sedang mencari sesuatu. Entah apa dan untuk siapa. Namun yang jelas bukan untuk dirinya sendiri, karena lelaki itu terlihat baik-baik saja.
"Hm ... Bu Rumi-nya mana?" tanya Dafira sambil berjalan terseok-seok mendekati ranjang.
Lelaki itu berbalik. Baik lelaki itu dan Dafira sama-sama melongo. Meskipun tak pernah saling bicara, keduanya sama-sama mengenal satu sama lain. Dafira mengenal lelaki itu sebagai teman seanggotanya Cinta di klub panahan. Sementara lelaki itu mengenal Dafira sebagai sahabat dari perempuan yang ditaksirnya.
"Kamu, kan ...." Keduanya saling mengarahkan telunjuk.
"Ezra," kata lelaki itu sambil tersenyum tipis.
"Dafira, biasa dipanggil Ara." Dafira menundukkan sedikit kepalanya ketika memperkenalkan diri.
Keduanya saling melontarkan senyuman. Canggung, karena sebelumnya tak pernah diberi kesempatan berduaan seperti sekarang.
"Oh, ya! Aku juga nggak tahu Bu Rumi ke mana." Ezra baru ingat kalau harus menjawab pertanyaan Dafira. "Kayaknya, sih, lagi keluar. Aku juga lagi nyari dia," imbuhnya.
"Ooh ...." Dafira mengangguk-angguk. Kaki kanan yang sedari tadi ia pakai untuk menopang seluruh berat badannya mulai terasa pegal. Karena itu, ia langsung naik ke atas ranjang; duduk di tepinya sambil menatap punggung Ezra yang kini tengah kembali mencari sesuatu di dalam lemari.
Hening memenuhi seluruh sudut ruangan. Tapi tak lama, karena setelah mencari tanpa hasil Ezra memutuskan untuk menyerah dan kembali menatap gadis yang kini sudah berada di atas ranjang. "Kaki kamu kenapa?" tanyanya.
"Kayaknya kaki kiri aku terkilir. Tadi jatuh pas lagi latihan voli. Makanya ke sini mau minta salep," jawab Dafira sambil sesekali meringis karena kaki kirinya berdenyut-denyut.
Padahal salep untuk terkilir kelihatan jelas di dalam lemari kaca di dekat Ezra, tapi untuk melangkah ke sana rasanya Dafira tidak sanggup. Kakinya begitu nyeri. Kalau dipaksakan terus bergerak, bisa-bisa malah membengkak. Mau minta tolong pada Ezra, Dafira tidak enak. Lelaki itu, kan, baru saja dikenalnya.
Lelaki beralis tebal itu tak memberi respons. Ezra malah terlihat melangkah ke dekat kulkas mini di dekat meja. Entah apa yang hendak dilakukannya. Namun, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Dafira enggan memedulikannya. Biarkan saja Ezra dan kegiatannya. Satu-satunya yang harus Dafira pikirkan adalah bagaimana caranya ia pulang. Dengan kakinya seperti ini, untuk berjalan menuju gerbang sekolah saja rasanya mustahil.
"Ka-kamu ngapain?" tanya Dafira panik.
"Cuma mau ngompres kaki kamu," kata Ezra sembari menunjukkan buntalan handuk berisi es batu yang tadi diambilnya dari dalam lemari es. "Daripada dikasih salep, mending dikompres. Habis itu diperban pake ini," katanya yang kini menunjukkan gulungan perban elastis yang kemudian ditaruhnya di sisi Dafira.
"Ng-nggak usah! Sama aku aja!" tolak Dafira. Tentu saja ia merasa sungkan, apalagi ketika Ezra harus menyentuh kakinya. Bagaimana kalau kakinya bau? Bagaimana kalau ada kulit-kulit mati di telapak kakinya? Ezra pasti jijik!
"Nggak apa-apa. Jangan banyak gerak dulu. Nanti malah bengkak," ujar Ezra yang kini tinggal membuka kaus kaki Dafira.
Dafira menggigiti bibir. Wajahnya memanas karena malu. Kedua netranya tak berani menatap Ezra yang kini tengah bersimpuh di hadapannya. Namun begitu Ezra meletakkan kompres di kaki kirinya, Dafira melenguh.
"Sakit, ya?" Ezra mendongak; menatap Dafira yang wajahnya memucat. Gadis itu tak memberi jawaban, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat kesakitan. "Gimana pulangnya? Cinta pulang duluan, 'kan?"
Ezra tahu kalau hampir setiap hari Dafira pulang bersama Cinta—teman satu klub sekaligus gadis yang ditaksirnya. Namun hari ini, Cinta izin tidak berlatih dan pulang duluan. Katanya ada keperluan keluarga yang mendesak dan tak bisa gadis itu tinggalkan.
"Aku pulang sendiri juga bisa," kata Dafira sambil menahan sakit.
"Kalau kaki kamu kayak gini, aku nggak yakin kamu bisa pulang sendiri. Ada orang rumah yang bisa dimintain jemput?"
Dafira menggeleng. "Orang tua aku dua-duanya kerja. Kakak perempuan aku juga. Jadi jam segini mereka belum pada di rumah."
"Hm ...."
Ezra kembali menunduk dan menatap kaki Dafira yang sudah memerah. Kemudian ia mengambil gulungan perban elastis dari sisi Dafira dan mulai membalutkannya pada kaki kiri gadis itu secara perlahan. Setelah selesai, bukannya bangkit, Ezra malah membalikkan tubuhnya—membelakangi Dafira—dan masih dalam posisi jongkok.
"Saya anter kamu pulang," kata Ezra sambil menoleh ke belakang.
"Hah??" Dafira memekik.
"Saya gendong kamu sampe parkiran," kata Ezra lagi.
"Tapi—"
"Ayo! Keburu malem," Ezra semakin memaksa.
—————————————————————
Akhirnya, saat itu Ezra benar-benar menggendong Dafira di punggungnya sampai pelataran parkir. Lalu dengan motornya mengantar Dafira sampai ke rumah. Setelah peristiwa itu, setiap kali Dafira bertemu Ezra jantungnya selalu mendadak berdebar tak keruan. Perasaan senang pun tak terbantahkan tatkala Ezra sekadar menyapa atau mengajaknya bicara. Salah satu alasan mengapa Dafira setia menemani Cinta berlatih di hari Sabtu karena hal itu akan membawanya pada sosok Ezra. Selain untuk Cinta, Dafira pun bisa melihat Ezra berlatih panahan sepuasnya tanpa tedeng aling-aling.
Seandainya saja perasaan Ezra pada Cinta bisa digantikan olehnya. Dafira tahu itu tidak mungkin. Memaksakan perasaan orang lain adalah hal yang mustahil. Meskipun bisa, hanya akan membuat kedua belah pihak terluka.
Dafira melepas boneka pandanya. Merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit. Siapa yang mau dengan cewek tomboi seperti dirinya? pikirnya. Kalau saja ia memiliki tubuh semungil dan penampilan semanis Cinta, tidak perlu susah-susah menggaet lelaki incarannya. Mungkin, akan mudah baginya untuk mendapat "satu-dua" Ezra. Untuk mengubah penampilan pun Dafira rasa tidak mungkin. Biar bagaimanapun, Dafira tidak ingin memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Dafira mengibas-ngibaskan tangan ke udara. Berusaha mengenyahkan semua pikiran-pikiran tak masuk akal dari dalam kepalanya. Dafira merasa sudah cukup puas menikmati cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dia tak berani meminta lebih, apalagi berharap agar suatu hari nanti Ezra bisa berpaling kepadanya. Untuk saat ini, biarkan Dafira menjaga "cinta kecil"-nya. Cinta pertama yang Dafira anggap tak lebih dari sekadar cinta monyet, yang tak akan bertahan lama mengisi seluruh ruang di hatinya.
***