Lovarchery

Lovarchery
TUJUH BELAS (Keraguan)



Waktu magrib sudah lewat, tapi Cinta belum juga pulang. Safira mulai khawatir. Ia tahu kalau mungkin Cinta akan pulang diantar oleh Aksa seperti yang sudah-sudah. Jadi seharusnya, Safira tak perlu secemas ini. Kendati demikian, pikiran-pikiran seperti "apa tidak apa-apa mereka terlalu dekat?" selalu muncul di kepala Safira. Apalagi setelah Aksa meminta izin padanya membawa Cinta setiap hari Minggu untuk berlatih panahan. Safira masih menyimpan pesan itu sampai sekarang.


        


[Hari ini mungkin Cinta bakal minta izin buat latihan tiap Minggu sama aku. Aku, kok, yang nawarin. Masih di tempat yang sama. Tempat punya temen aku. Aku nggak ada niat macem-macem. Cuma pengin bantu dia latihan. Akhir-akhir ini kayaknya dia lagi kesulitan konsentrasi. Makanya, aku pengin ngusahain sesuatu supaya dia bisa fokus lagi. Tapi semuanya terserah kamu. Kamu yang punya hak buat ngasih izin apa enggak.]


         


Saat mendapat pesan itu, Safira sempat merasa bimbang. Ia ragu akan memberi izin atau tidak pada anak gadis semata wayangnya. Safira tahu meskipun sudah berkata ingin memulai semuanya dari awal lagi, ia tetap belum bisa memercayai Aksa seratus persen. Masih ada keragu-raguan yang dirasakannya terhadap pria itu. Namun setelah dipikir-pikir lagi, bukahkah Safira sendiri yang telah memutuskan untuk melupakan peristiwa dua tahun lalu? Bukankah ia juga sudah meyakinkan diri bahwa apa yang terjadi waktu itu hanyalah sebuah kesalahpahaman? Karena itu, setelah berpikir matang-matang, di saat yang sama Safira membalas pesan dari Aksa.


[Aku percaya sama kamu. Makanya, aku pasti ngasih izin buat Cinta. Belakangan ini aku sering lihat Cinta murung. Tapi kamu tahu sendiri kalau kadang dia lebih milih buat nggak nyerita apa-apa sama aku. Kayaknya sampe sekarang pun, Cinta masih lebih gampang berkeluh kesah sama kamu ketimbang aku. Jadi, yah, aku titip dia sama kamu.]


         


Pesan yang dikirim Safira saat itu menjadi pesan tak berbalas. Tanda dari pesan itu memang sudah dibaca, tapi Aksa memutuskan untuk tidak membalasnya. Mungkin Aksa masih belum bisa memaafkannya. Safira mengerti. Tidak semudah itu bagi seseorang memaafkan orang lain. Apalagi yang dilakukan oleh orang itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan hati. Setidaknya, Safira sudah berniat untuk memperbaiki semua ini. Ia tak ingin bermusuhan dengan tetangganya sendiri.


           


Suara decit mobil di depan rumahnya membuat Safira sontak beranjak dari kursi ruang tamu. Dibukanya pintu, dan sedan hitam itu sudah berada di depan rumahnya yang tak berpagar. Cinta keluar dari dalam sana. Menunjukkan senyum singkat, kemudian kembali melayangkan tatapannya ke dalam mobil. Safira bisa melihat sosok Aksa duduk di balik kemudi. Tatapan mereka bertemu, meski sebentar. Setelah Cinta bergerak mundur menjauh dari mobil, Safira meneriakkan ucapan terima kasih. Aksa tak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia sedikit menganggukkan kepala sebagai tanda ucapan terima kasihnya ia terima.


"Latihan sampe sore lagi, ya?" tanya Safira sambil menggiring Cinta masuk ke rumah.


           


Cinta mengangguk lesu. Raut wajah sendu yang ditunjukkannya membuat Safira khawatir.


"Kenapa?" Safira menyentuh pundak Cinta lembut.


           


Cinta menoleh, kemudian tersenyum. "Nggak apa-apa, kok, Ma. Cuma capek," jawabnya.


           


Safira tahu di balik "nggak apa-apa"-nya Cinta itu ada sesuatu. Sesuatu yang sudah pasti menjadi penyebab murungnya gadis itu. Safira tak ingin memaksa Cinta untuk bercerita, karena pasti membuatnya merasa tak nyaman. Safira tak ingin ada kecanggungan di antara mereka. Oleh sebab itu, Safira mencoba bersikap biasa. Seolah tak ada apa-apa.


"Mau langsung makan apa mandi dulu?" tanya Safira.


"Hm ... Cinta mandi dulu, deh."


           


Safira tersenyum. Kemudian mencium puncak kepala Cinta dan berkata, "Iya. Mending mandi dulu. Rambut kamu aja bau gini. Ih!"


"Ish, Mama ...." Cinta senderut.


"Ya udah," Safira mendorong punggung Cinta, "sana mandi! Habis itu kita makan malem."


           


Cinta mengangguk, kemudian membawa dirinya ke kamar dengan langkah gontai.


***


           


Lantunan musik milik Beethoven mengudara di ruang pribadi Cinta. Rekomendasi dari sang papa. Katanya, bisa meningkatkan konsentrasi belajar. Selain panahan, masih ada belajar yang harus Cinta prioritaskan. Karena itu, Cinta memutar musik-musik milik komponis musik klasik legendaris itu untuk membantunya memecahkan rumus-rumus Matematika yang menjadi tugas sekolahnya hari ini.


           


Akan tetapi, berkonsentrasi untuk belajar? Ayolah! Pikiran Cinta sedang tidak ada di kamar tidur sempit dengan dekorasi minimalisnya itu sekarang. Isi kepalanya malah tengah dipenuhi oleh apa yang dibicarakannya dengan Aksa di mobil tadi. Tentang keputusan Aksa yang menyetujui tanpa pikir panjang untuk menonton film Sabtu nanti bersama Aleta. Bukan hanya itu. Aksa juga menyarankan agar Cinta dan Dafira ikut serta. Alasannya, agar membuat Aleta merasa nyaman.


           


Cinta paham betul maksud Aksa. Aleta pasti belum siap jika harus berduaan dengan Aksa. Apalagi harus duduk berdampingan, baik di dalam mobil maupun saat menonton film di bioskop nanti. Yang ada, Aleta akan terus-terusan diam karena tertekan oleh rasa canggung. Menurut Aksa, untuk menyembuhkan Aleta dari ketakutan terhadap pria tidak bisa dilakukan dengan cara terburu-buru. Harus pelan-pelan hingga membuat Aleta merasa terbiasa. Harus dengan cara lembut yang akan membuatnya merasa nyaman. Setelah itu, ketakutannya perlahan-lahan akan memudar. 


           


Cinta sepakat dengan cara pandang Aksa. Namun di saat Aksa bersikap seolah sangat mengerti Aleta, entah kenapa Cinta merasa tidak suka. Cinta takut membayangkan bahwa sikap pengertian Aksa itu akan membuatnya berhasil menjalin hubungan dengan Aleta. Picik memang, tapi Cinta tak bisa memungkiri bahwa ada sebuah perasaan "tidak rela" yang kini timbul dalam dirinya.


           


Line!


           


Ponsel pintar Cinta berbunyi; menandakan sebuah pesan masuk dari aplikasi Line-nya. Dari Dafira.


           


[Gimana, Ta? Kamu udah bilang sama Om Aksa?]        


         


Ponselnya berbunyi lagi.


[Ta? Heloow! Jangan cuma di-read doang, dong!]


[Sorry, lagi fokus ngerjain tugas ini.]


           


Terpaksa Cinta berbohong. Ia tak ingin Dafira menyadari keengganan Cinta dalam mengurusi Aleta dan Om Aksa-nya.


           


[Oke. Jadi gimana?]


         


[Ya. Om Aksa mau, kok.]


         


[Beneran, nih?!]


         


[Bener.]


           


Sebuah stiker kelinci bergerak yang sedang kegirangan menjadi balasan Dafira.


           


[Makasih banget, ya, Ta! Kamu, tuh, emang sahabat aku yang paling the best!]


         


[Iya.]


         


[Aku kasih tahu Kak Aleta dulu.]


         


[Tunggu, Ra. Om Aksa kepengin kita ikut.]


         


[Eh? Kok?]


         


[Katanya supaya bikin nyaman Kak Aleta. Jadi jangan dulu pergi berduaan.]


         


[Duuh, so sweet banget, sih, Om Aksa. Coba kalau umurnya nggak beda jauh sama aku. Daripada buat Kak Aleta, mending buat aku aja.]


           


Sebelum sama kamu, mending sama aku dulu kali!


           


Cinta segera menggeleng-gelengkan kepala. Dikibaskannya pula tangan ke udara. Mengusir kalimat memalukan yang baru saja melintasi kepalanya. Ngaco! makinya pada diri sendiri.


           


[Oke, deh. Aku nggak masalah. Lagian, kan, awalnya emang sekalian kita nonton film yang kemaren. Ya udah. Ketemu besok di sekolah, ya. Aku mau ngasih tahu Kak Aleta dulu. Dia pasti seneng banget!]


         


Cinta meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Kemudian, ditinggalkannya meja belajar dan beralih ke atas tempat tidur. Mood-nya untuk belajar sudah benar-benar hilang. Biar saja besok ia menyalin tugasnya Dafira. Itung-itung tanda terima kasih karena sudah membantunya menjodohkan Aleta dan Aksa. Meski pada akhirnya, perasaan tidak rela merajalela.


***