Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH LIMA (Rahasia Aksa)



"Es krimnya enak, kan, Ta?" Aksa menoleh sambil tersenyum. Namun begitu menyadari siapa yang berada di sisinya sekarang, senyum itu seketika memudar.


Meski Aksa mengulang senyumnya, Aleta tahu bahwa panggilan "Ta"-nya tadi bukan ditujukan untuknya. Panggilan itu ditujukan untuk seseorang yang lain. Seseorang yang memiliki panggilan belakang yang sama sepertinya.


"Makasih udah nganterin saya pulang," ucap Aleta setelah keluar dari mobil ditemani Aksa di sisinya.


"Sama-sama," jawab Aksa. "Besok mau saya jemput lagi?"


Aleta menggeleng pelan. "Nggak usah, Mas. Makasih."


"Nggak apa-apa, kok. Saya seneng jadi ada temen pulang."


Aleta terdiam sejenak sebelum kembali berkata, "Saya ... nggak akan ngehubungin Mas Aksa lagi."


"Lho, kenapa? Saya bikin salah sama kamu?" Aksa terkejut.


Aleta menggelengkan kepala sambil mengulas senyum pahit. "Mas Aksa tahu, kan, alesan Ara sama Cinta ngenalin kita berdua?"


Aksa mengangguk.


"Saya cuma nggak mau ngejalanin sesuatu yang nggak seharusnya."


"Maksud kamu? Saya nggak bohong, lho, waktu bilang masih single." Aksa masih mencoba bercanda.


Aleta tersenyum lagi. "Saya tahu Mas Aksa masih single. Tapi saya juga tahu kalau saya nggak punya kesempatan. Mungkin Mas Aksa bisa bilang ke saya kalau Mas Aksa nggak lagi suka sama siapa-siapa. Tapi apa yang saya lihat ... nggak begitu. Hati dan pikiran Mas Aksa nggak kosong. Udah penuh sama seseorang. Jadi udah nggak ada tempat buat saya. Makanya, sebelum terlambat saya putusin buat ngakhirin semuanya."


"Tunggu. Kayaknya kamu salah paham, deh. Saya beneran nggak lagi mikirin siapa-siapa," bantah Aksa.


"Saya sama Mas Aksa mungkin emang baru kenal. Baru beberapa kali ketemu juga. Tapi di setiap kali kita ketemu, ada satu nama yang nggak pernah Mas Aksa tinggalin. Ada satu nama yang selalu Mas Aksa sebut. Dan satu nama itu yang nggak bisa saya kalahin. Mas Aksa pasti tahu betul siapa nama itu."


————————————————————


Cinta. Nama itu Cinta, dan hari itu Aksa baru menyadarinya. Hari di mana Aleta memutuskan untuk tidak ingin lagi bertemu dengannya. Bagaimana Aksa bisa tidak menyadarinya? Pembicaraannya dengan Aleta selalu seputar Cinta. Tempat yang didatangi Aksa dan Aleta selalu tempat yang pernah didatangi pula oleh Aksa dengan Cinta. Ketika berhadapan dengan Aleta, yang selalu muncul di kepala Aksa adalah Cinta. Kenapa harus Cinta? Bahkan di saat menikmati secangkir kopi di taman belakang seperti ini pun bayangan Cinta seolah menari-nari. Aksa tak bisa melepaskan diri dari Cinta.


Kalau diingat-ingat kembali, alasan Aksa berhenti merokok karena Cinta. Awal-awal mereka dekat—sebelum peristiwa dua tahun lalu, Cinta sempat memprotes Aksa karena merokok di dekatnya. Bau, katanya. Setelah itu, Aksa mengurangi kebiasaan merokoknya hingga benar-benar berhenti sampai sekarang. Lalu untuk olahraga pun, Cinta yang awalnya menyarankan. Cinta bilang, sayang punya wajah tampan kalau tubuhnya tidak bagus dan berbentuk. Tidak menarik, katanya. Alhasil, Aksa jadi kecanduan berolahraga. Lalu susu cokelat, Aksa jadi gemar meminumnya karena tertular oleh kebiasaan Cinta sewaktu masih mengenakan seragam putih biru. Meski sekarang Cinta selalu menolak mentah-mentah jika diberi minuman itu. 


Memalukan sekali, jatuh cinta pada seorang gadis yang masih berusia 18 tahun. Gadis yang usianya juga berbeda dengannya 18 tahun. Apa kata orang nanti? Apa yang dipikirkan orang-orang jika perasaannya diketahui? Mungkin tak akan ada bedanya dengan peristiwa dua tahun lalu. Namun bisa jadi lebih parah, karena kali ini Aksa benar-benar mencintai gadis itu.


Pikiran Aksa kembali melambung. Teringat pada hari pertama ia mulai menemukan sosok Cinta. Empat tahun lalu ....


————————————————————


Sepanjang perjalanan pulang, Aksa tak berhenti merutuk di dalam mobil. Hari ini adalah hari yang begitu sial baginya. Sudah dimarahi Bos, harus masuk di hari Sabtu, lalu pulang dan terjebak macet di setiap lampu merah yang dilewatinya. Perutnya sudah kelaparan, dan dia tak sempat membeli sesuatu untuk dimakan. Ingin berhenti untuk singgah di penjaja makanan kaki lima, Aksa takut akan semakin lama sampai ke rumah. Takut dicemberuti Azkia karena pulang kemalaman. Namun begitu memasuki kompleks, Azkia menghubungi dan memberitahunya akan menginap di rumah Nenek. Hal itu malah semakin menambah daftar kekesalan Aksa.


Aksa sedikit tersentak ketika lampu mobilnya menyoroti taman dan mendapati seorang gadis tengah duduk seorang diri di sana. Di samping gadis itu terletak sebuah koper berukuran cukup besar. Jangan-jangan mau kabur dari rumah? pikirnya. Merasa khawatir, Aksa pun menghentikan mobil. Dihampirinya gadis itu secara perlahan.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Aksa sambil berdiri di hadapannya.


Gadis itu mendongak. Mata dan hidungnya merah, seperti habis menangis.


"Cinta diusir dari rumah. Cinta nggak tahu ini di mana. Cinta dianter ke sini buat tinggal sama orang yang nggak Cinta kenal. Cinta nggak tahu harus gimana sekarang."


Gadis itu bicara tanpa memandang Aksa. Tatapannya lurus ke depan. Wajahnya terlihat pucat. Entah sudah berapa lama gadis itu berdiam diri di taman dalam kondisi udara yang cukup dingin seperti sekarang.


"Nama kamu Cinta?" Gadis itu mengangguk lemah. "Mau nemenin saya makan?"


Gadis itu menoleh seketika. Bibirnya cemberut. Bukankah gadis itu baru saja mengatakan apa yang baru saja terjadi padanya? Bukannya menghibur atau menawarkan bantuan, om-om di sebelahnya malah mengajaknya makan?


Aksa terkekeh. "Saya belum makan apa-apa, jadi kelaperan. Kita bisa lanjut ngobrol sambil makan, 'kan?" tanyanya.


Cemberut di wajah gadis itu belum hilang, tapi ia setuju dengan om-om bernama Aksa itu. Hampir seharian ia duduk di taman tanpa mengisi perut dengan apa pun. Tentu saja ia juga lapar. Namun tak tahu harus membeli makanan di mana. Kompleks ini adalah tempat baru baginya, jadi ia tak tahu ada apa saja. Kalau memutuskan untuk nekat dan terus berjalan, ia takut tersasar. Sudah terusir, tersasar, lalu jadi gelandangan. Menyedihkan.


Aksa beranjak. Lalu dengan sebelah tangan terulur ia berkata, "Biar saya masukin koper kamu." 


—————————————————————


Hari itu Aksa tak mengira bahwa Cinta adalah anak dari Safira. Anak dari wanita yang sudah lama dicintainya. Wanita yang ketika berusia 20 tahun memutuskan untuk berhenti kuliah dan menghilang entah ke mana. Saat itu timbullah rencana licik dari dalam kepala Aksa. Ia bisa kembali mendekati Safira melalui kedekatannya dengan Cinta.


Awalnya Aksa memang berpikir begitu, tapi siapa yang mengira bahwa tanpa menyusun rencana pun Aksa bisa dekat dengan Safira tanpa dibuat-buat. Semua berkat Cinta yang mudah bergaul juga mudah dekat dengan siapa saja. Tak butuh waktu lama untuk Cinta menjadi bagian dari keluarga kecil Aksa. Kedekatan Cinta dan Azkia membuat hubungan mereka layaknya saudara. Lalu secara otomatis, mendekatkan Aksa dan Safira. Mereka berempat sudah sama seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis. Keluarga bahagia yang sering menghabiskan waktu bersama; berlibur bersama; makan bersama; dan masih banyak hal lain yang bisa mereka lakukan bersama-sama. Jika orang awam melihat kedekatan mereka, orang itu tak akan mengira bahwa mereka adalah dua keluarga kecil yang sebenarnya tidak terikat antara satu sama lain.


Sebelum kedatangan Cinta, Aksa telah memutuskan untuk menyerah. Aksa tak akan lagi mencari cara untuk mendapatkan Safira. Ia sudah terlalu lelah. Lagi pula, tampak dengan jelas bahwa Safira tak punya niatan untuk menikah lagi. Aksa memang tidak pernah tahu kapan dan dengan siapa Safira menikah. Setelah meninggalkan kampus, Aksa tak pernah lagi mendengar kabar tentang Safira. Ia tak tahu apa alasan Safira putus kuliah, juga tak tahu apa yang dilakukan wanita itu setelahnya. Namun setelah 2 tahun menghilang tanpa jejak, Aksa kembali menemukan sosoknya. Sangat mengejutkan ketika mengetahui bahwa seseorang yang baru saja pindah ke dekat rumahnya adalah Safira. Safira pindah seorang diri. Tanpa ditemani siapa pun dan tanpa membawa apa pun.


Aksa mulai mendekati Safira. Menanyakan ini-itu seputar dirinya. Lalu diketahuilah oleh Aksa bahwa Safira sudah menikah sekaligus bercerai. Wanita itu tinggal seorang diri dan hendak membuka usaha. Menjajakan brownies buatan sendiri adalah usaha yang dipilihnya. Karena Aksa sudah lama tinggal di kompleks perumahannya, Aksa pun turut membantu Safira untuk memasarkan browniesnya ke satu per satu tetangga terdekat. Alhasil, usaha brownies milik Safira bisa berjalan dengan lancar sampai sekarang.


Meski kedekatannya dengan Safira sudah dirasa cukup bagi Aksa untuk mengutarakan isi hatinya, entah kenapa Aksa tak pernah memiliki keberanian yang cukup untuk mengubah hubungan senior-junior di antara dirinya dan Safira. Ia tak pernah bisa mengungkapkan pada Safira bahwa sejatinya Aksa ingin mempersuntingnya. Setiap kali ada kesempatan, Aksa selalu melewatkannya begitu saja. Aksa tak pernah bisa membawa percakapan penting itu ke dalam pembicaraannya bersama Safira. Hingga akhirnya peristiwa dua tahun lalu menyebabkannya harus berkata jujur. Meski akhirnya berkata jujur pun tak mengubah apa pun. Pernyataan cinta Aksa pada Safira hanya berlalu begitu saja. Tanpa penjelasan, tanpa jawaban, dan tanpa penyelesaian. Seolah pernyataan cinta itu tak pernah ada.


Lalu sekarang, Aksa malah jatuh cinta pada anak gadisnya? Pada gadis yang lebih pantas menjadi anak ketimbang pasangan hidupnya?


Aksa membuang napas kasar. Menggelikan!


"Udah ngelamunnya?"


Seketika Aksa terkesiap. Ia menoleh ke belakang, dan Azkia sudah berada di sana sambil melipat kedua lengan di dada.


"Ada yang nyariin, tuh, di depan," kata Azkia bernada sebal.


Aksa mengernyit kebingungan. "Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan anak emasnya Abang."


Cinta?


Segera, Aksa bangkit dari kursinya. Diabaikannya begitu saja kopi yang yang masih penuh dan sudah dingin di atas meja. Entah baru berapa tegukan Aksa menikmatinya, yang jelas masih kalah jumlah dengan apa yang sejak tadi dilamunkannya.


***