
"Lho, Ta? Kok, udah ganti baju? Latihannya, kan, belum selesai?" Dafira segera menghampiri Cinta yang baru saja keluar dari toilet.
"Udah nggak mood. Lagian aku udah ijin, kok, sama Kak Puji," ketus Cinta dengan wajah ditekuk.
Dafira menatap sahabatnya sendu. Sejak tadi ia berdiri di pinggir lapangan untuk melihat permainan panahan Cinta, tapi sesuai dugaannya bahwa lagi-lagi Cinta bermain dengan sangat buruk. Bahkan, jauh di bawah standar. Meski Dafira bukan bagian dari klub panahan, sedikit banyak ia tahu tentang olahraga itu. Intinya, cukup melesatkan anak panah di cincin paling tengah, maka itu artinya kau sudah menang. Sesederhana itulah panahan bagi Dafira. Mengenai teknik dan lain sebagainya, Dafira benar-benar "buta".
Ketika Puji menyuruh Cinta mengikutinya ke ruang klub pun Dafira melihatnya. Meski tak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Namun sepertinya, cukup membuat sahabatnya naik pitam dan tak ingin lagi melanjutkan sesi latihan.
"Kita langsung pulang aja," kata Dafira sambil merangkul bahu sahabatnya. "Kita masih bisa nonton lagi nanti. Kalau mood kamu udah balik," tambahnya.
Sabtu ini setelah latihan, Cinta dan Dafira memang berencana menonton film horor keluaran terbaru di salah satu bioskop yang letaknya tak jauh dari sekolah. Sehabis itu, mereka akan makan es krim di kedai favorit Dafira. Katanya, sedang ada diskon sampai 30% di kedai es krim tersebut. Namun dengan perasaan Cinta yang sedang tak keruan, juga masam yang sejak tadi terpampang jelas di wajahnya, membuat Dafira merasa tak enak. Apalagi mengingat dia sendiri yang mencetuskan ide nonton film dan makan es krim hari ini.
"Serius?" Cinta menatap sahabatnya dengan tatapan yang sama; sendu.
Dafira mengangguk. Senyum lebar menghiasi wajahnya ketika menatap Cinta. "Masih ada hari lain. Lagian, aku ogah bawa-bawa 'mangga peyot'," candanya.
Wajah Cinta mengerut. "Apaan, tuh, mangga peyot?"
"Ya kamu ini. Muka udah kayak mangga peyot. Nggak enak banget dilihat," sindir Dafira sambil mencubit salah satu pipi sahabatnya.
"Ish!"
"Cinta!" Ezra berlari menghampiri Cinta dan sahabatnya masih masih mengenakan setelan lengkap memanah. Bahkan, pelindung dada dan tangan pun masih melekat di tubuhnya. Melihat ketua klubnya kembali ke lapangan seorang diri membuat Ezra bertanya-tanya, mana gadis yang di bawanya tadi?
Cinta dan Dafira sama-sama menoleh.
"Kamu nggak lanjut latihan?" tanya Ezra sambil menatap pakaian olahraga Cinta yang sudah berganti dengan pakaian biasa.
"Enggak," Cinta menjawab sekenanya. Perdebatan dengan Puji di ruang klub tadi kembali melintasi kepalanya.
"Terus, kamu mau ke mana?"
"Pulang."
Ezra melirik sekilas Dafira yang tak bersuara di sebelah gadis "berbuntut kuda" di hadapannya. Lalu setengah berbisik dia menawarkan, "Mau pulang sama aku?"
Tak perlu menajamkan telinga hanya untuk mendengar kalimat penuh harap yang dilontarkan Ezra pada Cinta, karena koridor yang kosong melompong membuat Dafira bisa mendengarnya.
Cinta tak lantas menjawab tawaran Ezra. Ia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Bisikan Dafira yang menyuruhnya menerima ajakan itulah yang membuat Cinta kembali pada kesadarannya.
"Aku pulang sendiri aja, ya, Zra," kata Cinta mantap. "Tapi sebagai gantinya, boleh nggak aku minta tolong sesuatu sama kamu?"
Penolakan Cinta memang membuat Ezra kecewa, tapi sekaligus senang karena Cinta tiba-tiba meminta bantuannya.
"Apa, Ta? Aku pasti bakal bantu, kok." Ezra tersenyum semringah.
"Tolong anterin Ara pulang, ya," pinta Cinta disertai tatapan memelas.
Telinga Dafira sepertinya tersumbat. Ya, dia pasti salah dengar. Cinta memohon pada Ezra agar mengantarnya pulang? Sudah pasti itu tidak benar.
"Ya?" desak Cinta karena Ezra tak kunjung menyetujui permohonannya. "Hari ini harusnya aku nonton sama Ara. Tapi suasana hati aku lagi nggak enak. Aku nggak tega kalau Ara pulang sendirian. Padahal dia udah bela-belain dateng ke sekolah cuma buat liat aku latihan."
Sepertinya telinganya baik-baik saja. Dafira memang tidak salah dengar; Cinta benar-benar ingin Ezra mengantarnya pulang. Tapi ... kenapa Cinta minta yang aneh-aneh begitu, sih?!
"Ta, aku bisa pulang sendiri." Dafira menarik-narik lengan Cinta.
Cinta beralih menatap sahabatnya. "Iya, tapi aku nggak enak sama kamu. Udah jauh-jauh ke sini nontonnya nggak jadi."
"Iya, tapi kan—"
"Nggak apa-apa. Aku mau kok, nganter kamu, Ra," potong Ezra menengahi perdebatan antarsahabat di depannya.
"Eh, tapi ...." Dafira sungkan.
"Beneran. Lagian latihan aku udah selesai, kok. Kamu tunggu bentar, ya. Aku mau ganti baju dulu," kata Ezra sebelum kembali berlari ke arah ruang klub. Ia sudah merasa cukup puas dengan teriakan "terima kasih" Cinta di belakangnya.
"Taa ...." Dafira merengek sambil terus menarik tangan Cinta. "Aku nggak enak sama dia."
"Aku juga nggak enak ama kamu," timpal Cinta dengan bibir mengerucut.
"Ezra, tuh, orangnya baik tahu. Kalau dia emang nggak mau nganter kamu pulang, dia pasti bilang."
"Dia mau nganter aku pulang karena kamu yang minta. Jadi nggak akan mungkin bisa nolak."
Dafira berkali-kali mendengus. Ia benar-benar tak enak pada Ezra. Padahal jelas sekali kalau Ezra ingin mengantar Cinta pulang. Namun akibat ide konyol Cinta, Ezra harus membuang harapannya dan terpaksa menerima Dafira sebagai gantinya.
Entah Cinta yang tidak peka atau gadis itu memang benar-benar tak tahu perasaan Ezra terhadapnya. Jelas sekali Ezra menyukai Cinta. Lebih dari sekadar teman, juga sesama anggota klub panahan. Dafira saja bisa melihatnya. Netra milik Ezra selalu mengejar sosok Cinta. Perhatian yang ditunjukkannya pun sangat kentara. Dan lagi, sepertinya Ezra memang tak berniat menutup-nutupi perasaannya. Bisa Dafira bayangkan bagaimana kecewanya Ezra ketika Cinta menyuruhnya mengantar perempuan lain. Ditambah, dengan sikap Cinta yang seolah tak peduli sama sekali dengan siapa Ezra akan pergi. Miris, pikirnya.
Jika diperbolehkan memilih, Dafira lebih ingin lari dari situasi sekarang. Berboncengan dengan lelaki yang menyukai sahabatnya sendiri sudah pasti hanya akan membuatnya merasakan canggung. Terlebih lagi, lelaki itu adalah lelaki yang disukai dirinya sendiri. Dafira memang menyukai Ezra. Belum cukup lama, tapi cukup untuk bisa membuatnya cemburu ketika melihat lelaki yang disukainya lebih memilih mengejar perempuan lain ketimbang dirinya. Meski begitu, meski ingin lari dan menghindar, Dafira tidak tega meninggalkan Ezra begitu saja. Apalagi setelah Ezra menyatakan dengan tegas akan mengantarnya pulang.
"Kalau gitu aku duluan." Cinta sudah bersiap kembali melangkah menuju gerbang.
"Aku temenin sampe kamu dapet angkot. Lagian malu juga nungguin dia di sini," kata Dafira yang kemudian mengikuti langkah Cinta.
Tepat setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah sebuah sedan hitam muncul dan berhenti di depan keduanya. Kaca jendela mobil itu sengaja diturunkan; memperlihatkan seorang pria berhidung mancung dengan senyum tipis manis yang menghiasi wajahnya yang runcing. Tak lupa, dua lesung pipi yang ikut timbul ketika senyumnya tampil.
"Hai, Ladies!" sapa Aksa dari dalam mobil sambil melambaikan tangan.
"Kok, Om bisa di sini?" Cinta mendekati mobil Om Aksa-nya, lalu menyejajarkan wajah dengan garis jendela yang sudah turun seluruhnya; Dafira tertegun di belakangnya.
"Habis ke kampus Azkia. Kebetulan lewat sini," jawab Aksa masih sambil tersenyum.
"Nganterin Kak Azkia ngampus?"
"Bukan," Aksa langsung membantah. "Habis beliin dia soto di deket kampusnya. Kalah main catur saya. Jadi, ya, hukumannya ini, nih." Aksa mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik putih berisi soto yang ditaruh di kursi penumpang di sebelahnya.
Cinta terkekeh. "Kak Azkia masih seneng main catur?"
Cinta masih ingat, Azkia memang sangat suka permainan catur. Dulu, Cinta juga sering menyaksikan permainan caturnya Azkia yang melawan Aksa dan mendapat kemenangan telak. Setiap kali Azkia menang, Aksa akan mengabulkan satu permintaannya. Namun alih-alih meminta hal yang biasa, Azkia malah meminta Aksa melakukan hal-hal tak lazim dan tak jarang menyusahkan. Misalnya, membuatkannya syal rajutan tangan sendiri—padahal jelas-jelas Aksa tidak bisa sama sekali, berbicara dengan mengganti semua berbagai huruf vokal dengan satu huruf vokal saja selama beberapa jam—sampai lidah Aksa pegal, mengharuskan Aksa memakai pakaian bernuansa merah muda selama seminggu ke depan—sampai Aksa dikira memiliki kelainan seksual, dan masih banyak lagi hal-hal tidak masuk akal lainnya yang terpaksa harus Aksa lakukan.
"Masih," dengus Aksa.
"Nggak kapok juga, Om?" Cinta mencoba menahan tawa.
"Mau kapok, dianya maksa terus. Sampe susah saya nolaknya," kata Aksa pasrah.
Tak disadari keberadaannya, Dafira berdeham cukup keras; membuat sahabatnya menoleh. Wajah Cinta yang seolah berkata "sampe lupa kalau ada Ara" membuat rasa iba Dafira akibat kegagalan Cinta saat latihan lenyap.
"Ah, iya!" Cinta menegakkan tubuhnya dan menarik tangan Dafira ke sisinya. "Kenalin, Om. Ini Ara, sahabat Cinta."
"Hai!" sapa Aksa ramah. "Aksa," katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"A ... ra." Dafira meraih tangan Aksa ragu-ragu. Namun secepat kilat, Dafira kembali menarik tangannya, kemudian menatap Cinta dengan bola mata membesar. "Di-dia ... O-om yang waktu itu ...."
"Iya, ini Om Aksa tetangga aku," jawab Cinta tanpa mendengar keseluruhan kalimat Dafira yang terbata-bata.
Nggak mungkin! Dafira memekik dalam hati.
Dilihat sekali lagi Aksa yang masih menatapnya sambil tersenyum ramah. Pria itu tak terlihat seperti om-om sama sekali. Bahkan, Dafira seketika merasa malu karena telah menyamakan Aksa dengan om-om yang selalu ada dalam bayangannya. Pria di balik kemudi itu benar-benar sempurna. Ganteng, ramah, sopan, dan tubuhnya pun sangat ideal. Bahkan otot-otot tangannya menonjol dari balik kaus berlengan pendek berwarna hitam yang membalut tubuhnya. Seksi! Dafira memekik lagi.
"Kamu mau ke mana?" Aksa kembali bersuara. Netranya sudah beralih pada Cinta.
"Pulang, Om. Latihan Cinta udah beres."
"Kalau gitu bareng saya aja," Aksa menawarkan.
"Serius, nih?"
"Ya, serius. Rumah kita kan deketan. Sekalian aja ajak temen kamu."
Cinta melirik Dafira yang masih tertegun di sebelahnya. Kemudian kembali pada Aksa seraya berkata, "Nggak usah. Dia udah ada yang mau nganterin."
Aksa memasang senyum jail. "Pa-car-nya yaa?" godanya dengan netra lurus menatap Dafira.
"Hah? Eh, enggak-enggak!" Kesadaran Dafira kembali. "Bukan pacar, Om. Cuma temen," bantahnya.
Aksa terkekeh. "Pacar juga nggak apa-apa. Udah masanya, 'kan?"
Ingin kembali membantah, keberadaan Ezra bersama motor besarnya menarik perhatian Dafira.
"Ya udah, deh, Ra. Tuh, Ezra udah dateng. Aku juga pulang bareng Om Aksa," kata Cinta sambil melirik Ezra dan tersenyum. "Aku duluan, ya."
Dafira mengangguk samar. Setelah menerima pamit dari Aksa, keduanya—beserta sedan hitam di hadapannya—pun berlalu. Pertemuan sekaligus perkenalannya dengan Aksa membuat Dafira semakin tidak sabar; ingin cepat-cepat menjodohkan kakak perempuannya dengan pria sempurna yang baru saja ditemuinya itu.
***