
"Belum sempet pulang ke rumah?" tanya Aksa begitu menemui Cinta yang masih mengenakan seragam putih abunya dan tengah duduk seorang diri di bangku taman kompleks.
"Kalau pulang dulu Cinta nggak akan bisa keluar lagi," jawab Cinta sambil tersenyum pahit.
Kondisi taman yang sepi, serta lampu-lampu rumah dan jalanan yang sudah mulai menyala, membuat situasi semakin terasa sunyi. Ditambah harus duduk berdampingan seperti ini. Kalau saja usia mereka tidak terpaut terlalu jauh, mungkin saat ini Aksa sudah mendekap erat gadis mungil di sebelahnya. Ia tak perlu menyembunyikan perasaannya seperti sekarang.
"Jadi, apa alasan kamu pengin ketemu saya?" Kedua telapak tangan Aksa saling meremas. Dalam hati ia berharap agar Cinta tak mengatakan sesuatu yang bisa membuat hati dan pikirannya kembali goyah.
"Soal kemarin belum selesai, Om," ucap Cinta tanpa berbasa-basi. "Cinta udah denger semua obrolan Om sama Mama kemarin. Harusnya Cinta nggak terlalu kaget. Toh, dulu Cinta juga sempet ngira kalau Om dan Mama bakalan nikah. Tapi ternyata Cinta tetep kaget waktu tahu Om bener-bener suka sama Mama." Ditatapnya Aksa disertai seulas senyum tipis.
Aksa membuang napas ke angkasa. Langit yang tak berbintang seolah ikut merasakan hatinya yang tengah diliputi kegelapan. "Yah, saya emang pernah suka sama mama kamu. Dari dulu banget, sih. Saya mulai kenal Safira waktu di SMA. Dia kakak kelas yang paling diidolain di sekolah. Cantik, lembut, dan sikapnya yang anggun bikin hampir semua laki-laki terpesona. Tapi walaupun suka sama dia, saya nggak pernah berani nyatain cinta. Sampe akhirnya, dia lulus dan ninggalin kami semua."
Saat itu, dibilang dekat juga tidak terlalu. Namun, selalu ada kesempatan bagi Aksa dan Safira untuk bertemu dan sekadar berbincang. Meski agak tertutup, Safira tak pernah menolak siapa pun yang datang padanya. Dia akan meladeninya dengan senang hati. Baik untuk mengobrol tentang hal-hal seputar pelajaran, maupun tentang hal-hal lain yang sama sekali tak ada hubungannya dengan sekolah. Pribadinya yang ramah itulah yang membuatnya banyak disukai orang, terutama dari kalangan pria.
"Saya sengaja masuk ke universitas yang sama kayak mama kamu. Walaupun beda jurusan, saya dan Safira masih bisa sering ketemu karena satu fakultas," lanjut Aksa masih dengan tatapan menerawang ke angkasa. "Saya berniat buat bener-bener nyatain perasaan saya ke dia. Tapi, yah, lagi-lagi saya ngelewatin banyak kesempatan. Tapi saya nggak pernah putus asa. Saya nggak pernah menyerah. Lagi pula saya pikir masih banyak kesempatan yang saya punya buat nyatain perasaan saya ke dia. Sampe akhirnya kesempatan itu bener-bener ilang. Mama kamu tiba-tiba berhenti kuliah. Dia menghilang. Saya nggak tahu dia ke mana.
"Belakangan saya tahu kalau ternyata dia mutusin buat menikah." Aksa menatap gadis mungil di sebelahnya, lalu tersenyum. Kemudian kembali melanjutkan, "Selama saya nggak ketemu sama mama kamu, saya udah berniat buat nyerah. Saya nyoba berkali-kali ngejalanin hubungan sama wanita. Tapi selalu berakhir nggak sesuai dengan yang saya mau. Saya nggak bisa sama wanita lain sementara hati dan pikiran saya belum bisa lepas dari mama kamu. Saya sendiri heran, kok, bisa saya segitunya sama perempuan yang jelas-jelas nggak pernah 'ngeliat' saya. Padahal, banyak banget yang mau sama saya." Kalimat terakhir Aksa ucapkan diakhiri dengus tawa mencibir.
Cinta mendengarkan dengan saksama. Perasaan iri tak bisa dihindari tatkala Aksa menyebut nama mamanya dengan penuh cinta. Meski di awal kalimat tadi Aksa mengatakan 'pernah'—yang berarti rasa suka itu telah menjadi bagian dari masa lalu, Cinta tahu kalau cintanya Aksa pada Safira sangatlah besar.
"Jujur, saya kaget waktu tahu kamu anaknya Safira. Safira nggak pernah nyerita kalau dia punya anak. Dia cuma bilang pernah menikah. Awalnya saya sempet mikir jahat. Saya mau deketin kamu biar bisa deket juga sama Safira. Biar saya punya celah buat masuk ke kehidupannya. Tapi belum sempet bilang apa-apa, mama kamu udah salah paham sama saya. Dua tahun lalu, Safira nuduh saya mau ngapa-ngapain kamu ...."
Kening Cinta berkerut dalam. Ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dua tahun lalu. Kemarin Cinta sempat dengar mamanya bilang kalau Aksa punya kelainan seksual. Suka wanita yang lebih muda. Cinta tak mengerti.
"Saya dianggap pedofil," lanjut Aksa sambil terkekeh. "Mau tahu kenapa sampe ada gosip begitu?" Cinta mengangguk samar; Aksa kembali melayangkan tatapannya ke angkasa. "Kamu pasti tahu kalau Azkia punya otak genius. Dari SMA aja dia udah sering jadi tutor. Nah, karena dimintain tolong sama wali kelasnya dulu di SMP, Azkia mau nggak mau harus jadi tutor beberapa adik kelas yang nilainya cukup anjlok. Tapi karena males ngedatengin rumah adik-adik kelasnya satu per satu, Azkia mutusin buat ngajarin mereka di rumah. Kadang-kadang sampe malem, lho!
"Waktu itu, ada satu cewek yang arah pulangnya beda sama temen-temennya yang lain. Karena kasian dan takut terjadi apa-apa di jalan, saya mutusin buat nganter dia sampe rumah. Nggak cuma sekali, tapi cukup sering. Sekali waktu, saya papasan sama salah satu tetangga di sini. Dia ngeliatin saya dengan tatapan aneh gitu. Saya, sih, nggak mau mikir macem-macem. Tapi beberapa hari kemudian, saya mulai denger gosip nggak enak. Gosip tentang saya yang suka berduaan sama anak SMP, yang ujungnya mengarah kalau saya itu pedofil.
"Umur saya waktu itu udah ...," Aksa menghitung dengan jari jemari tangannya, "dua puluh sembilan tahun kalau nggak salah. Yah, hampir tiga puluhan. Makanya wajar kalau jadi gosip yang enggak-enggak. Kalau aja saya sama Azkia cuma beda beberapa tahun, nggak akan ada, tuh, gosip begitu. Dan ternyata, gosip itu sampe ke telinga Safira. Dia pikir, saya ngedeketin kamu karena kelainan seksual kayak yang orang-orang bilang. Saya udah coba jelasin. Bahkan saya juga bilang kalau selama ini saya suka sama dia. Tapi Safira nggak percaya. Akhirnya, yah, kita nggak pernah berkomunikasi lagi selama dua tahun, 'kan?"
Begitu rupanya, pikir Cinta. Ia baru benar-benar mengerti sekarang. Alasan mereka tak lagi saling berkomunikasi ataupun bertatap muka, karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh gosip dari orang-orang tak bertanggung jawab di luar sana. Alasan Aksa memanggil mamanya dengan sebutan "mama kamu" pun kini dipahami Cinta dengan sangat. Selama dua tahun ini, Aksa pasti menyimpan luka hati yang mendalam sehingga membuatnya tak bisa menyebut nama Safira dengan wajar.
Seketika Cinta merasa geram. Kejam sekali menganggap Om Aksa-nya sebagai pria berkelainan seksual. Dan tega sekali mamanya bisa salah paham hingga percaya pada gosip murahan seperti itu.
"Saya minta maaf. Apa yang terjadi kemarin ... seratus persen kesalahan saya," sambung Aksa yang kini menatap gadis mungil di sebelahnya penuh sesal. "Saya kebawa suasana. Kalau aja Safira nggak dateng di saat yang tepat, mungkin saya udah berlaku kurang ajar sama kamu," jelasnya.
"Cuma itu?" Tanggapan Cinta membuat Aksa mengernyit. "Cuma kebawa suasana?" Kali ini Cinta balas menatap pria di sebelahnya. "Setelah Cinta ngungkapin perasaan Cinta ke Om Aksa, Om Aksa cuma bilang kebawa suasana?"
Aksa terdiam. Dipalingkan wajahnya ke sisi lain. Ia tak tahu harus menjawab apa. Memang, Aksa sudah mendengar pernyataan cinta dari gadis mungil di sebelahnya kemarin. Ia bahkan masih ingat setiap kata yang diucapkan Cinta, bahwa Cinta menyayanginya sebagai perempuan. Bukan kerabat, tetangga, ataupun sayang keponakan kepada omnya. Kendati demikian, Aksa tak bisa memberikan jawaban. Perasaannya jelas sama seperti perasaan Cinta. Namun, tidak mungkin bagi Aksa untuk membalas perasaan itu. Tidak mungkin baginya untuk mengiakan pernyataan Cinta kemarin.
"Salah mengartikan? Cinta bukan anak kecil, Om. Cinta udah bisa ngebedain mana yang cuma tertarik dan mana yang betul-betul cinta," tukas Cinta.
Aksa menghela napas panjang sebelum kembali berkata, "Itu cuma cinta monyet."
"Kalaupun iya cinta monyet, emangnya cinta monyet itu bukan cinta, Om? Siapa yang mutusin kalau cinta monyet itu cuma buat sementara? Siapa yang nentuin kalau cinta monyet itu nggak bakal berubah jadi cinta yang sesungguhnya?" Perkataan Cinta membuat Aksa terdiam seribu bahasa. Aksa tak bisa melawan. "Apa Om bisa ngasih Cinta jaminan kalau apa yang Cinta rasain sekarang nggak akan bertahan lama?"
Aksa kembali menghela napas. Sesekali ditatapnya Cinta yang tengah menatapnya penuh harap. Kedua manik hitam kecokelatan milik gadis itu seolah menegaskan bahwa perasaannya memanglah sungguh-sungguh. Perasaan cintanya pada Aksa bukanlah sekadar main-main. Bukanlah cinta monyet seperti yang dikatakannya.
Cinta membuang tatapannya ke bawah; ke tanah yang kini tengah dimainkan oleh kedua sepatunya. Kemudian Cinta lanjut berkata, "Dulu, Cinta emang sering mikir kalau suatu hari nanti Om bakal nikah sama Mama. Om bakal jadi papa Cinta. Tapi di saat Cinta tahu kalau itu nggak mungkin, nggak tahu kenapa di dalem hati Cinta, Cinta ngerasa lega."
Hati Aksa berdenyut nyeri. Tak sekali pun ia pernah berpikir untuk menyaput mendung di wajah Cinta seperti sekarang. Sekali pun, ia tak pernah memiliki niat untuk membuat hati gadis mungil di sebelahnya itu terluka. Namun siapa yang mengira bahwa gadis itu akan mencintainya dan Aksa pun merasakan hal yang sama. Cinta yang seharusnya tak pernah ada. Cinta yang hanya akan membuat keduanya mengecap luka.
"Cinta nggak ngerti, Om. Awalnya Cinta ngerasa kalau perasaan Cinta ke Om itu salah. Nggak seharusnya Cinta punya perasaan ini ke Om. Tapi setelah dipikir lagi, apa sebenernya yang salah? Cinta perempuan. Umur Cinta udah lebih dari tujuh belas tahun. Apa salah Cinta punya rasa ini ke Om? Apa salah Cinta sayang sama laki-laki yang jauh lebih tua dari Cinta? Sementara di luar sana, banyak, kok, pasangan yang umurnya beda jauh. Bahkan, ada juga kakek-kakek yang nikah sama anak di bawah umur. Jadi, apa salah Cinta?"
"Tapi pasangan-pasangan itu tetep nggak bisa keluar dari bahan gunjingan orang-orang sekitar, 'kan?" Aksa mulai angkat bicara.
Cinta mendelik, kemudian mendesah. "Orang sekitar, ya ...? Om lebih peduli sama orang-orang sekitar ketimbang perasaan Cinta."
"Ta," Aksa menggenggam sebelah tangan Cinta di sisinya, "kita hidup di tengah-tengah masyarakat luas. Kita nggak bisa mengabaikan mereka begitu aja. Mama kamu pun pasti khawatir tentang itu," jelasnya.
Cinta tersenyum, kemudian melepaskan tangannya dari tangan Aksa. Sambil beranjak, Cinta kembali berucap, "Lupain aja semua yang Cinta omongin hari ini."
"Hei!" Aksa ikut beranjak; menahan kaki gadis mungil di depannya yang hendak melangkah. "Kalau kamu pikir yang galau cuma kamu, itu salah. Dilema saya lebih besar dari itu. Saya dewasa. Usia saya lebih pantes buat jadi papa kamu. Kamu anak dari senior saya, sekaligus perempuan pertama yang sampe dua taun lalu mengisi hati saya. Apa kata orang kalau saya ngejalanin hubungan sama kamu? Gimana pandangan orang-orang pas lihat kamu jalan di sisi saya? Apa yang bakal dipikirin mama kamu kalau anak satu-satunya malah direbut sama saya?
"Oke, kamu bisa bilang agama ataupun negara tidak melarang. Tapi apa dengan begitu bisa menghilangkan pandangan buruk orang sekitar? Kamu masih muda, punya cita-cita, dan punya kesempatan lebih banyak buat jatuh cinta. Tapi saya? Saya nggak punya apa pun, kecuali sisa umur saya dan kehidupan saya yang udah bisa dipastiin monoton sampe akhir. Saya nggak bisa ngasih masa depan buat kamu. Saya cuma bakal jadi penghambat buat kamu," jelas Aksa lirih.
Cinta berbalik; menatap pria di hadapannya dengan penuh kasih. "Kenapa Om Aksa mutusin semuanya sendiri? Kenapa Om Aksa nggak mau ngasih Cinta kesempatan? Om Aksa bilang, Cinta punya kesempatan lebih banyak buat jatuh cinta. Sementara, untuk saat ini—dan Cinta nggak tahy sampe kapan, hati Cinta cuma buat Om Aksa. Kenapa Om Aksa nggak bisa percaya kalau perasaan Cinta nggak akan berubah? Kenapa Om Aksa seolah nentuin apa yang terbaik buat Cinta. Padahal sedikit pun Cinta nggak ngerasa baik-baik aja dengan apa yang Om Aksa tentuin."
"Suatu hari nanti, di saat kamu udah nemuin pengganti saya, kamu pasti berterima kasih sama saya karena udah mutusin hal ini," ucap Aksa dengan hati tersayat.
Cinta menyeka sudut matanya yang mulai berair. Kemudian kembali berucap, "Dan kalau ternyata suatu hari nanti Cinta masih sendiri dan perasaan Cinta masih sama ke Om, apa yang bakal Om lakuin?"
Aksa mematung. Menatap gadis mungilnya yang masih berdiri dengan kukuh di hadapannya. Gadis yang tak pernah kenal takut. Gadis yang selalu bertindak sesuai kemauannya sendiri. Gadis yang penuh rasa percaya diri. Gadis yang ternyata bisa membuatnya jatuh hati.
Cinta tersenyum seraya melanjutkan, "Di saat itu terjadi ... nggak ada alesan buat Om nolak Cinta." Cinta kembali berbalik; membelakangi pria yang dicintainya. "Cinta bakal buktiin ke semua orang kalau perasaan Cinta ke Om nggak akan menghambat Cinta buat ngeraih cita-cita Cinta selama ini. Cinta bakal jadi atlet panahan. Dan itu, karena perasaan tulus Cinta ke Om Aksa," jelasnya sebelum benar-benar melangkah dan berlalu dari hadapan pria berusia 36 tahun di belakangnya.
***