
Kalau saja bukan syarat dari Aksa, Cinta akan lebih memilih untuk tidak ikut serta. Siapa yang sangka kalau Aksa menjemput Cinta dan Dafira ke sekolah bersama dengan Aleta. Aksa bilang, lebih praktis menjemput Aleta dulu ke rumah baru menjemput Cinta dan Dafira ke sekolah, setelah itu pergi sama-sama ke bioskop. Kenapa Aksa tidak langsung pergi berdua saja dengan Aleta ke sana? Apalagi sepertinya Aleta juga tidak secanggung Senin kemarin. Tampaknya, dia baik-baik saja meski ditinggal berdua saja dengan Aksa.
"Jadi, udah mutusin mau nonton film apa?" Pertanyaan Aksa memecah keheningan di dalam mobil. Pertanyaan itu tak Aksa khususnya untuk siapa. Ketiga perempuan di mobilnya bebas memberikan jawaban.
"Aku sama Cinta kepengin nonton film horor, Om. Kemaren-kemaren belum sempet, sih." Dafira mewakili dua perempuan lainnya menjawab.
"Horor? Masih seneng kamu nonton film begituan?" Pertanyaan Aksa kali ini dikhususkan untuk Cinta yang sejak tadi diam dan memandang ke luar jendela.
"Daripada film cinta-cintaan," sahut Cinta tanpa memandang ke depan.
"Padahal nama kamu Cinta, tapi nggak suka sama cinta-cintaan," timpal Aksa sambil tersenyum.
"Terus, Cinta harus ganti nama gitu? Yang sesuai sama film yang Cinta suka?" ketus Cinta.
"Ide bagus, tuh." Aksa masih senang menggoda gadis di belakangnya. "Mau genderuwo, kuntilanak, pocong, atau apa?"
Cinta mendesis. Netranya kini mendelik tajam ke arah Aksa. Aksa bisa melihatnya dengan jelas melalui kaca spion dalam. Lalu Aksa terkekeh, merasa telah memenangkan pertarungan. "Tuh, tuh! Muka jeleknya keluar," godanya masih belum puas.
"Oom!" pekik Cinta yang mulai kesal.
Aksa semakin tergelak. Sementara kedua perempuan yang tak diajaknya berkelakar hanya bisa terdiam merasakan kecanggungan. Baik Dafira maupun Aleta tak pernah mengira kalau akan setidak enak ini berada di antara Aksa dan Cinta. Meskipun demikian, keduanya mencoba tetap maklum. Biar bagaimanapun, Aksa dan Cinta adalah tetangga yang hubungannya sudah seerat kerabat dekat.
***
"Boleh Cinta duduk di deket tangga, Om? Soalnya di tengah-tengah film, kan—"
"Nih!" Aksa menyerahkan selembar tiket sesuai dengan permintaan Cinta. "Di tengah-tengah film biasanya kamu suka kepengin pipis, 'kan? Saya nggak akan lupa. Dulu kita sering nonton berempat. Kamu, saya, mama kamu, sama Azkia juga. Kadang nggak cuma sekali kamu ke toilet pas filmnya lagi main," jelasnya sambil diakhiri senyum.
Cinta mengangguk dan membalas senyuman Om Aksa-nya. Semburat merah muda di wajahnya muncul tatkala Cinta tahu omnya masih mengingat betul kebiasaan-kebiasaannya yang dulu hingga sekarang.
"Mau pada minum apa, nih? Biar saya beliin." Aksa mengedarkan pandangannya ke dua perempuan yang lain.
"Aku sama Kak Aleta soft drink aja, Om," jawab Dafira.
"Oke." Aksa hendak langsung pergi, tapi Cinta memanggilnya.
"Kok, Cinta nggak ditanya, sih?"
Aksa tersenyum jail. "Kalau kamu apa aja diminum," katanya.
"Awas aja kalau Om beliin aku susu cokelat," ancam Cinta seketika.
Aksa terkekeh. "Jangan suka pilih-pilih minuman gitu," candanya sebelum benar-benar pergi ke bagian penjualan makanan dan minuman.
"Oh, oke."
Aleta memang sengaja meminta Dafira untuk menemaninya ke toilet, tapi alasan sebenarnya karena Aleta ingin menanyakan sesuatu pada adiknya tersebut. Apa yang ada di benak Aleta kini mungkin sangat memalukan, dan dia juga sadar bahwa tak seharusnya ia berpikir "begitu". Namun sebelum melangkah lebih jauh, Aleta ingin memastikan terlebih dahulu. Aleta ingin meyakinkan diri bahwa dirinya benar-benar tak salah mengambil langkah.
"Ra." Aleta menyebut nama adiknya ragu.
"Hm?"
"Eum ... Aksa sama Cinta beneran nggak ada apa-apa, kan?"
"Maksudnya?" Dafira mengernyit, menatap kakaknya yang tampak kebingungan.
"Maksud Kakak ... hubungan mereka beneran cuma sebatas tetangga, 'kan?"
Aleta ingin menghindari percakapan semacam ini. Akan tetapi, ia harus melakukan sesuatu pada hatinya yang merasa tak tenang. Ia harus melepas ganjalan yang kini mulai bersemayam dalam pikirannya. Prasangka-prasangka buruk itu harus segera dimusnahkan.
"Maksud Kakak, Cinta sama Om Aksa itu ...." Dafira tak meneruskan kalimatnya. Ia sendiri ragu untuk memastikan bahwa apa yang kini dipikirkan kakaknya sama seperti yang sedang dipikirkannya sekarang atau tidak. Ketakutan bahwa baik Cinta maupun Aksa memiliki perasaan lebih untuk satu sama lain. Apalagi setelah melihat tingkah keduanya yang begitu kentara sekaligus mencurigakan.
Aleta melenggut lemah. "Kakak cuma pengin mastiin aja."
Dafira balas mengangguk paham. Ketidaktenangan Aleta juga dirasakan olehnya. Dafira juga merasa ada yang aneh dengan sikap mereka berdua. Kendati demikian, Dafira tak ingin berburuk sangka. Jika memang Cinta dan Aksa memiliki perasaan sejenis cinta untuk satu sama lain, maka keduanya tidak akan setuju menjalankan rencana perjodohan ini. Mereka juga pasti akan menolak rencana hari ini untuk menonton film bersama.
"Aku yakin hubungan mereka, tuh, cuma sebatas tetangga. Kalaupun lebih, paling kayak om sama keponakan. Lagian nggak mungkin, kan, mereka ... ya gitulah. Umur mereka, kan, jauh banget. Aku yakin Cinta nggak mungkin suka sama Om Aksa. Om Aksa juga nggak mungkin lah ngelirik anak SMA. Iya nggak?" ujar Dafira menekankan.
Beban yang menekan dada Aleta sedikit demi sedikit mulai terangkat. Apa yang dikatakan Dafira sangat masuk akal. Mungkin dirinya sendirilah yang terlalu curiga. Wajar. Toh, Aleta tak ingin memulai sesuatu di jalan yang salah. Ia tak ingin merebut sesuatu yang ternyata sudah dimiliki orang. Pikir Aleta, sebelum terlambat ia harus memastikannya terlebih dahulu. Ia tak ingin ketika dirinya semakin tenggelam dalam arus cinta yang dibawa Aksa, tiba-tiba harus kecewa karena arus cinta itu ternyata Aksa bawa bukan untuknya.
"Kakak suka sama Om Aksa?" Pertanyaan Dafira mengejutkan Aleta. Inginnya Aleta langsung mengelak, berkata tegas dengan memberikan jawaban tidak. Akan tetapi, Aleta tak bisa. Ia tak bisa berbohong bahwa sejak awal sampai sekarang sosok Aksa terus menari dalam pikirannya. Aleta telah jatuh cinta pada Aksa pada pandangan pertama.
Dafira tersenyum. Kakaknya memang tak memberikan jawaban apa pun, tapi raut wajah dan gestur tubuhnya seolah menegaskan bahwa jawaban dari pertanyaan Dafira adalah "ya".
"Nanti kita cari waktu lain supaya Kakak bisa kencan bedua sama Om Aksa. Jangan protes dulu!" sela Dafira begitu Aleta hendak memotong kalimatnya. "Kalau kencan ditemenin terus nggak bakalan ada kemajuan. Aku yang coba, deh, minta langsung nomornya. Oke?"
Aleta tak bisa membantah. Bukan tak mau berjalan berdua dengan Aksa. Hanya saja, Aleta takut mengacaukannya. Aleta takut membuat Aksa bosan. Apalagi, mengingat dirinya yang begitu pemalu dan tak pandai bercakap-cakap.
"Jangan kuatir, Kak. Aku sama Cinta tetep bakalan ngebantuin Kakak, kok," ucap Dafira diiringi senyum lebar.
Aleta ikut tersenyum. Meski masih sedikit khawatir, Aleta percaya adiknya. Aleta juga percaya bahwa kali ini dirinya bisa berubah. Aleta akan berusaha keras untuk tidak mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Aleta ingin menunjukkan pada semua bahwa dirinya pun bisa menjadi wanita normal; bisa jatuh cinta, menjalin hubungan dengan pria, hingga akhirnya membina rumah tangga, kemudian memiliki buah hati yang akan melengkapi hidupnya. Semua kisah fiksi di setiap novel yang sering dibacanya akan berubah menjadi kenyataan, dan tentu saja lebih indah dari sebuah rekaan.
***