
Suara pintu dibuka membuyarkan lamunan Safira akan masa lalu. Gadis kesayangannya sudah kembali dengan wajah berseri. Safira tak ingin langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Oleh sebab itu, Safira lebih memilih untuk tetap di tempatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Cinta melompat ke sebelahnya. Senyum di wajahnya masih tampak jelas terlihat. Sayang rasanya jika harus menghapus senyum itu hanya karena Safira mengutarakan semua kecemasannya. Apalagi dengan gadisnya yang sudah menggamit lengannya dengan manja. Setidaknya meski dibuat cemas sampai seperti ini, Safira bisa merasa lega karena gadisnya pulang dalam keadaan selamat.
Cinta membuka tasnya dan mengambil ponsel pintarnya dari dalam sana. Setelah menyadari ada beberapa panggilan masuk dari mamanya, seketika Cinta merasa bersalah. Ditinggalkannya ponsel itu kembali ke dalam tas, kemudian Cinta berbalik menatap mamanya dengan wajah merengut.
"Maafin Cinta, ya, Ma," rengeknya sambil kembali menggamit lengan Safira dengan manja. "Cinta lupa bilang kalau hari ini ada janji nonton. Cinta juga nggak angkat telepon soalnya lupa kalau hapenya masih di-silent. Niatnya, sih, mau nonton yang rada siangan. Tapi nggak keburu. Makanya jadi ngambil yang tayangnya sore. Habis keluar dari bioskop, Cinta lupa buat ngecek hape," cerocosnya.
Safira mengembuskan napas lega. Ia sudah kehilangan minat untuk menegur anak semata wayangnya. Setidaknya, gadisnya tahu dan paham bahwa apa yang dilakukannya hari ini telah membuat Safira khawatir.
"Pulang sama siapa tadi?" tanya Safira. Lamunan akan masa lalunya tadi membuat Safira tak mendengar suara decit mobil yang mengiringi kepulangan gadisnya.
"Om Aksa," jawab Cinta sambil mengembangkan senyum.
Safira menatap gadisnya sambil mengernyit. "Aksa? Kok, bisa bareng?"
Memang sudah lama sekali Safira tidak berhubungan langsung dengan Aksa, tapi Safira tidak akan lupa jadwal kerja pria itu. Sabtu adalah harinya Aksa istirahat di rumah. Jarang sekali pria itu mau repot-repot keluar dan melewatkan hari liburnya begitu saja.
Cinta mengangguk. "Janjian ketemuan, kok."
Salahnya Cinta tak menjelaskan secara rinci bagaimana bisa ia membuat janji bertemu dengan Aksa hari ini. Tentu saja hal itu menimbulkan rasa curiga di diri Safira. Safira tahu kalau jadwal mereka bertemu hanya di hari Minggu untuk berlatih panahan. Juga di hari-hari biasa saat Cinta berangkat ke sekolah. Namun tidak di hari Sabtu seperti ini.
"Ah!" Cinta paham bahwa mamanya masih menunggunya bicara. Kernyitan di dahi mamanya masih belum hilang dan tatapan penuh tanya masih terarah kepadanya. Maka, Cinta melanjutkan, "Hari ini Cinta, Ara, Om Aksa, sama Kak Aleta—kakaknya Ara, janjian nonton. Makanya, Cinta tadi pulang bareng Om Aksa. Habis nganterin Ara sama kakaknya."
Jawaban Cinta sangat melegakan, tapi Safira masih juga mengerutkan kening. Lantas ia kembali bertanya, "Kok, bisa janjian juga sama kakaknya Ara?"
Cinta melepaskan gamitan tangannya di lengan Safira. Tatapannya kini beralih ke televisi berlayar gelap di hadapannya. "Rencananya Cinta sama Ara mau ngejodohin Om Aksa sama Kak Aleta," jawab Cinta lesu. "Berhubung Kak Aleta orangnya pendiem dan pemalu banget, Om Aksa ngajakin Cinta sama Ara buat nemenin mereka nonton. Katanya, sih, biar nggak canggung-canggung banget," lanjutnya diakhiri senyum pahit.
Safira mengangguk paham. Kerutan di keningnya hilang sudah. Semua pertanyaan yang bersarang di dalam kepalanya pun ikut lesap. Dalam hatinya Safira mengucap syukur, karena kecurigaan yang sempat menguasai hati dan pikirannya ternyata tidak benar.
Cinta mengangkat tubuhnya dari sisi Safira. Diambil tas miliknya sambil berucap, "Cinta ke kamar dulu, ya."
Safira melenggut, kemudian memberikan senyuman. "Mandi, terus kita makan malem."
"Oke." Senyum pahit Cinta masih terlukis di wajahnya yang kini berubah mendung. Tak ingin Safira menyadarinya, buru-buru Cinta berbalik dan melangkah masuk ke kamar. Meninggalkan Safira yang masih setia menunggui televisi berlayar gelap di ruang keluarga.
***
Cinta menutup pintu di belakangnya. Lalu melemparkan begitu saja tasnya ke atas tempat tidur. Begitu mengejutkan mengetahui suasana hatinya bisa berubah hanya dalam waktu sekejap; hanya karena sebuah kalimat yang meluncur dari mulutnya sendiri. Sesaat Cinta lupa bahwa tujuannya hari ini hanya untuk mendekatkan Aksa dengan Aleta. Bukan untuk menikmati momen kebersamaannya dengan Aksa. Momen sederhana yang terjadi di bioskop tadilah yang membuat angannya melambung tinggi hingga melupakan tujuan yang sebenarnya.
Kalau saja Cinta tak mengingat motif sebenarnya pertemuan dengan Aksa hari ini, mungkin keceriaannya yang sampai tadi mengantarnya masuk ke rumah masih akan tetap terasa. Kesedihan yang kini menyelimutinya tidak akan pernah ada. Cinta masih bisa tersenyum sambil mengingat kelakuan konyol Aksa di bioskop tadi.
——————————————————————
Semua lampu telah dimatikan. Pesan pengingat agar mematikan ponsel dan dilarang berbicara saat film dimulai, satu per satu mulai ditampilkan di atas layar lebar. Cinta yang duduk di dekat tangga sudah bersiap menyambut film horor yang sudah dinantikannya sejak lama. Akan tetapi, om-om di sebelah Cinta malah merendahkan posisi duduknya hingga kaki terbentur ke sandaran kursi yang berada tepat di depannya.
Cinta menoleh, kemudian setengah berbisik ia bertanya, "Ngapain, sih, Om?"
Aksa ikut menoleh; menatap gadis yang mengajaknya bicara. Sambil menggaruk pelipisnya ia berkata, "Sebenernya saya harus ngakuin sesuatu."
"Ngakuin apa?" Cinta mengernyit bingung.
Aksa tersenyum malu. "Sini, deh." Jari telunjuknya mengisyaratkan Cinta untuk semakin mendekatkan telinga ke bibirnya. Kemudian Aksa berbisik, "Sebenernya saya nggak bisa nonton horor."
Pengakuan Aksa hampir saja membuat Cinta menjerit. Untung Cinta sadar diri di mana tempatnya berada sekarang. Cinta tak ingin diteriaki semua orang karena meninggikan suara. Namun ia tetap terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Aksa. Pasalnya, bukan pertama kali mereka nonton film horor bersama. Dulu, bersama Mama dan Azkia, mereka sering menonton film bergenre horor. Dan sepertinya, Aksa baik-baik saja. Ia tak pernah mengeluhkan apa-apa.
"Dulu, kan, kita sering nonton beginian, Om."
Aksa kembali menunjukkan senyum malu. "Iya. Tapi saya selalu duduk di sebelah Azkia dan jauh dari kamu sama mama kamu, 'kan? Makanya setiap nonton horor, saya selalu sembunyi di belakang Azkia."
Sontak Cinta menjauhkan telinganya dari Aksa. Kemudian menatap om-om itu dengan tatapan tak percaya. Tak lupa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Makanya," Aksa mendekatkan wajahnya ke wajah Cinta, "kamu yang harus jadi 'pelindung' saya sekarang," katanya sambil menyeringai.
Cinta berdeham; mengusir hawa panas yang mulai menyerang wajahnya. Kemudian, dibuang tatapannya ke layar lebar. Meski jantungnya berdetak kencang dan bibir yang sekuat tenaga ia tahan agar tak melengkung ke atas, Cinta berusaha tetap tenang.
—————————————————————
Netra Cinta masih menatap pemandangan sepi di depannya. Namun perlahan, senyum itu kembali. Tepat setelah mengingat bagaimana Aksa berusaha menyembunyikan wajah di balik pundak Cinta di setiap kali adegan mengejutkan muncul dari film yang ditontonnya. Bahkan ada satu waktu ketika Aksa sengaja menarik kedua tangan Cinta untuk menutupi wajahnya. Sangat konyol, tapi begitu menghangatkan hati Cinta. Sampai-sampai Cinta berharap, waktu akan berhenti sebentar untuknya menikmati momen kebersamaan dengan Om Aksa-nya. Meskipun Cinta tahu hal semacam itu mustahil terjadi.
Sekarang, saatnya Cinta kembali menghadapi kenyataan. Perasaan hangat dan nyaman ini harus segera Cinta enyahkan sebelum terlambat. Meski ternyata memang sudah sangat terlambat, apalagi setelah Cinta menyadari bahwa perasaan yang dirasakannya ini memanglah cinta.
***
Suka sama ceritanya? Jangan lupa like dan follow ya. Kritik dan saran juga dipersilakan. ^^